DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 53 - KETIKA PULANG KE KAMPUNG HALAMAN


__ADS_3

Berbekal uang gaji yang kuambil dari ATM sehari yang lalu sebesar dua juta rupiah, aku pergi meninggalkan Ibukota menuju kota Banten.


Meninggalkan semua beban fikiran yang baru kusadari kalau aku adalah seorang pecundang. Aku lari dari kenyataan. Meninggalkan adik kandung serta dua pria yang saat ini sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Tapi niatku bukanlah untuk melarikan diri tanpa berbuat apa-apa.


Aku justru ingin menemui Wak-ku demi meminta nasehat serta bantuannya karena keadaan hidupku yang makin carut marut.


.............


"Akhirnya, aku melihatmu kembali ke tanah leluhurmu, Liana!"


Jantungku berdebar. Terkejut bukan kepalang melihat Wak Hardi yang sudah berdiri tegak dengan bibir tersenyum lebar.


Semburat jingga mentari yang turun perlahan karena hari telah senja, menampakkan lembayungnya yang indah di atas bumi Banten tanah kelahiran Papa kandungku.


Apa maksud Wak Hardi? Mengapa beliau seperti telah mengetahui kedatanganku bahkan seolah seperti menungguku di depan pintu rumah biliknya yang asri?


Suara tonggeret, serangga langka yang tak pernah terdengar di kota Jakarta dan sekitarnya seolah memainkan musik klasiknya menyambut kedatanganku.


Pukul lima tiga puluh menit lebih. Mendekati waktu Maghrib tepat aku berjalan menuju rumah Wak Hardi yang agak terpencil, jauh dari tetangga.


"Wak! Assalamualaikum..."


"Wa'alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh!"


Kucium punggung tangannya yang masih terlihat kekar walaupun usianya sudah lebih dari delapan puluh tahun.


Senyumnya memamerkan deretan gigi yang masih tampak utuh walaupun sedikit kuning bahkan kehitaman berkarang.


"Wak..." ucapku lemah.


"Masuklah! Hari mulai gelap. Terima kasih telah menuntun keturunanku hingga tepat di depan rumah. Kembalilah ke tempatmu!"


Bulu kudukku merinding seketika tatkala mendengar perkataan Wak Hardi seolah ada seseorang yang juga berada di antara aku dan dia.

__ADS_1


Bluwerrr sss...


Suara angin berdesis semakin memuncahkan rasa takut di hatiku. Dan agak melompat cepat berjalan masuk rumah mendekat ke badan Wak Hardi.


"Sepi, Wak! Pada kemana?"


"Wak Wati sedang menengok Bi Munah yang sakit. Anak-anak sudah kembali ke pondok. Begini Wak-mu ini setiap harinya. Sepi sendiri kalau tidak ada tamu yang datang!"


"Tamu?"


"Hehehe... Dulu-dulu, tamu yang datang ke gubuk ini nyaris setiap hari. Apalagi setiap malam Jum'at, sampai keluar penuh. Sepertinya kamu tidak tahu siapa Wak-mu ini!"


Aku hanya termangu memikirkan ucapan Beliau yang terdengar agak pongah.


Suara tonggeret perlahan menghilang dan suasana tenang berganti hening seketika.


Otakku memikirkan ucapan Beliau barusan.


Banyak tamu setiap hari? Tamu? Sepertinya... Wak-ku ini memang bukan orang sembarangan!


Aku diam. Menunduk dan mencoba menelaah dengan mencari ujung benang ucapannya. Agar bisa kumengerti.


"Liana! Apa kamu ingin mendengar kisah garis keturunan leluhur kita?"


Aku mendongak. Menatap kedua bola mata Wak Hardi yang bersinar memancarkan hawa yang begitu kuat auranya. Aku mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata. Menunggu cerita meluncur dari bibirnya yang perlahan menghembuskan udara.


"Kita, adalah keturunan terakhir dari raja Banten Abah Kyai Abul Fath Abdul Fattah yang lebih dikenal orang dengan sebutan Sultan Ageng Tirtayasa. Setelah itu, status keturunan menjadi rata sama seperti masyarakat Banten pada umumnya. Kakek buyut kita adalah Kyai Haji Tubagus Wetan. Beliaulah yang menjadikan darah keturunannya ibarat darah suci di tanah Banten ini."


Aku tercengang. Ternyata silsilah keluargaku bukanlah orang sembarangan. Pantas saja di pemakaman Papa tempo hari, aku merasakan aura mistis yang luar biasa. Terlebih setelah Jonathan yang kerasukan beberapa setan yang mendiami tubuhnya atas perintah seseorang.


"Liana! Aku tak menyangka kalau ternyata penantianku lumayan cukup lama untuk membuatmu kembali ke sini setelah Papamu tiada. Aku kira, aku hanya butuh waktu seminggu dan kau kembali pulang dan menetap disini."


"Maksud Wak Hardi?" tanyaku tak mengerti.


"Semula aku tidak berfikir jauh untuk menarikmu pulang dan melanjutkan tongkat estafet yang leluhur kita junjung tinggi!"

__ADS_1


"Liana sama sekali tak faham, Wak!"


"Sudah lama aku mengamati putra-putri keturunan Abah Haji yang berjumlah tiga puluh orang baik yang lelaki maupun perempuan. Ternyata, kamu adalah cucu yang terpilih itu. Dan kamu, mau tidak mau, suka tidak suka, menerima tanggung jawab meneruskan kemampuan serta menjaga kejayaan leluhur kita sebagai penerus."


"Maksud Wak?..."


"Kamu adalah penerima gelar keturunan pamungkas atau keturunan terakhir yang menerima warisan ilmu-ilmu serta mengamalkannya untuk membantu masyarakat yang membutuhkan!"


"Wak?..."


Tentu saja jantungku berdenyut kencang. Urat nadiku menegang dan batinku berkecambuk tak karuan.


"Kamu... Harus menerima kehormatan ini, Liana!"


"Wak...! Niatku datang kemari memiliki tujuan lain. Yaitu minta nasehat darimu soal keadaan yang sedang kualami saat ini! Bukan untuk hal-hal lain apalagi yang sama sekali tak kumengerti, Wak!"


"Aku sudah tahu permasalahanmu, Liana! Sudah tahu. Untuk itu, kau tak perlu khawatir. Semua akan baik-baik saja. Kamu hanya harus menjalani ritual penerimaan gelar kehormatan. Dan ini hari rabu wage, besok kamis kliwon. Waktu yang sangat pas yang sudah Allah Ta'ala gariskan untuk kehidupanmu selanjutnya!"


Aku hanya bisa menganga. Ucapan Wak Hardi makin tak kumengerti.


"Liana! Kamu harus sadar dan tahu diri. Kamu adalah putri dari Tubagus Arya Wardana. Putra bungsu Bapak Kyai Haji Tubagus Acang. Seharusnya Papamu memberimu nama Ratu di depannya, tetapi almarhum tidak mau. Bahkan almarhum seolah sengaja menghilangkan jejak bahwa dia adalah keturunan Tubagus Banten yang terakhir dari Kyai Tubagus Wetan karena merasa itu adalah beban."


Aku terdiam. Dalam hati menyetujui pendapat almarhum Papa. Hidup ini cukup Allah Ta'ala saja yang menjadi tempat tujuan. Masalah bibit, bebet, bobot dan asal usul dari mana kita berasal, itu hanyalah sekedar stempel formalitas saja. Agar orang memandang siapa nama besar yang ada di belakang kita.


"Hari lahirmu adalah Rabu Pahing. Hari yang paling dianggap baik diantara hari lain karena dinaungi khodam-khodam para leluhur hebat. Salah satunya Raden Kian Santang dan Nyai Ratu Mustika Kencana!"


"Wallahu!"


"Iya. Wallahu a'lam! Tapi kamu memiliki garis keturunan yang jelas sebagai penerus ilmu leluhur yang harus diwariskan dan jangan putus sampai disini, Liana!"


Aku menjilat bibirku yang terasa kering. Jantung berdegub semakin kencang. Merasakan tengkukku yang semriwing seperti ada yang meniup perlahan.


"Kamu harus tahu, karuhun leluhur kita banyak, Liana! Salah satunya adalah dua makhluk yang berada di samping kiri dan kananmu saat ini. Ki Jalu dan Ki Maung. Mereka, sebangsa harimau putih bertubuh tinggi besar!"


A apa???

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2