DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 125 - Sesion 2 (Mengatasi Masalah?)


__ADS_3

Semua orang melakukan doa bersama untuk kesadaran Jordan dan kesehatannya.


Bahkan Jonathan meminta secara langsung kepada tiga pesantren dan tujuh masjid untuk tiga malam berturut-turut melakukan pengajian khusus Jordan yang belum juga siuman.


Ini adalah hari kelima adik satu-satunya itu koma.


Mama Tiur, Jonathan dan Liana ternyata menemukan tombol rahasia hingga melihat sendiri ruang rahasia milik Jordan hingga ketiganya tak dapat berkata-kata.


Jonathan paling terpukul.


Ia lebih banyak menunduk dengan wajah suram membuat Liana ikut merasa tidak nyaman.


"Mama..."


"Ada apa, Ge?"


"Apa... tidak sebaiknya Aku menceraikan Liana agar Jordan bisa menikah dan hidup bahagia jika Jordan sadar dari komanya?"


"Apa???" pekik Liana dan Tiur berbarengan.


Liana, bola matanya membulat. Tak percaya kalau suaminya akan berkata seperti itu.


"Mas?"


"Maaf. Maafkan Aku yang berotak sempit hingga melontarkan perkataan itu!"


"Ini gila! Ini pemikiran gila!!! Bisa-bisanya kamu ingin menceraikan Aku dan memberikannya pada adik kandungmu! Bagaimana mi kamu berfikir segila itu, Mas?"


"Maaf..."


Jonathan menunduk. Air matanya jatuh setitik. Tubuhnya bergetar hingga Ia terduduk untuk menjaga keseimbangan badannya yang mulai oleng karena masalah lama yang belum juga kelar.


"Gege...! Jangan pernah punya fikiran seperti itu!"

__ADS_1


"Ma! Bukankah dulu Papa dan Papi bahkan pernah saling berbagi cinta dengan Mama?"


Plak.


Tiur menampar pipi anak sulungnya dengan keras.


"Aku menikah dengan Papinya Jordan setelah tiga tahun Papamu meninggal dunia!!! Bukan berbagi cinta seperti yang kau kata!!!"


Tiur marah besar sampai matanya melotot menatap Jonathan.


"Apa kau fikir Aku mau dengan mudah melakukan pernikahan itu tanpa banyak kisah dibaliknya???"


Tiur mulai tidak bisa mengontrol emosinya.


Kini Liana yang merangkul Ibu mertuanya dan berusaha memberi ketenangan dengan sentuhan lembut tangannya dipunggung Tiur.


"Mas,... please silent! Kita cuma sedang bingung! Kita hanya sedang dalam kondisi tidak berfikir panjang! Jangan berkata yang aneh-aneh!" tukas Liana dengan berlinang air mata.


Jonathan semakin merasa bersalah dengan perkataan yang keluar dari mulutnya tanpa pikir panjang.


"Ma, maafkan Aku, Ma! Hik hiks...Aku bicara tanpa filter. Aku minta maaf, Ma! Please forgive me! Please..."


"Aku juga memendam rasa bersalah, Gege! Padamu juga pada almarhum! Tapi dengan tegas Aku katakan,... Aku tidak membagi cintaku pada Harvest dan juga pada Lee yang adalah dua sahabat karib sejak masih muda. Tidak!"


Jonathan merangkul Mamanya. Tubuhnya jatuh bersimpuh di bawah kaki Sang Mama dengan penyesalan yang bertumpuk-tumpuk.


"Tiga tahun. Tiga tahun Aku berfikir untuk menikah lagi dengan Lee yang memang mengajakku menikah setahun setelah Harvest wafat! Tiga tahun baru kami menikah setelah nyaris sepuluh kali Aku menolaknya dengan jawaban 'tidak'. Tidak!!! Aku tidak terima jika putraku sendiri mengatakan kalau aku berbagi cinta!!! Aku tidak terima!!! Hik hik hiks..."


Tiur histeris. Tangisnya meledak memberikan Liana ikut terhanyut dengan deraian airmata mengingat kehidupan pahitnya di masa lalu.


Cinta, membutakan mata dan hati.


Cinta, membuat pemujanya menjadi terpuruk bahkan nyaris gila.

__ADS_1


Itu adalah macam-macam hasil cinta.


Ternyata, kisah hidup Tiur yang selama ini orang lain lihat sangat enak dan lancar saja urusan percintaannya, rupanya ada banyak kisah pahit untuk mendapatkan itu semua.


"Kau masih kecil saat itu! Masih delapan tahun dan Aku tidak bisa berbagi cerita yang sesungguhnya karena Aku ingin kau hidup normal bahagia seperti anak lain, Gege! Hik hik hiks..."


"Mama, maaf, Ma! Huhuhu... Maaf! Maafkan Aku yang telah durhaka pada Mama. Tapi Aku mengatakan itu karena Aku sayang sekali Didi, Ma! Didi belum pernah merasakan bahagia! Didi menjadi anak yatim jauh lebih muda dariku. Didi adalah adik terbaik yang pernah ada dalam hidupku. Aku sayang adikku, Ma! Hik hik hiks..."


"Sayang katamu? Sampai kau tega melepaskan istri yang kau cinta agar bisa dinikahi oleh adikmu juga? Sayang kah seperti itu? Kalau kau sayang, buat dia sadar dan ajarkan dia arti hidup yang sesungguhnya. Dan kau, mau melepas istrimu begitu saja demi untuk kebahagiaan adikmu tapi melupakan kebahagiaan istrimu sendiri? Bagaimana perasaannya jika itu sampai terjadi? Apa kata anakmu nanti jika Aprillia besar dan berfikir jauh lebih matang sama seperti dirimu saat ini? Apa kau akan terima dihari tuamu putrimu mengatakan hal yang sangat menyakitkan seperti ini?"


Liana dan Jonathan merangkul Tiur sembari menangis keras.


Hidup mereka terasa berat, beban kali ini memang jauh lebih berat. Hingga meskipun mereka adalah tiga orang dewasa yang sudah berumur banyak, tetap kolaps karena masalah yang Allah beri.


Adzan Dzuhur berkumandang.


Tuhan tempat meminta. Tuhan saja tempat mengadu.


Dan sholat Dzuhur bersama di musholla rumah mereka menghapuskan kembali kesalahpahaman yang terjadi tadi diantara mereka.


Jonathan menangis dengan wajah tenggelam dipangkuan sang Mama setelah selesai sholat.


"Mama, maafkan Aku Ma! Maaf, maaf...! Pukul aku! Tampar Aku lagi karena telah menyakiti Mama! Maki Aku, marahi Aku seperti saat Aku kecil dulu. Aku sudah tua, tapi masih seringkali menyakiti hati Mama! Hik hik hiks..."


"Maafkan Mama juga, Nak! Kesalahan Mama, tidak pernah mengajakmu kompromi apalagi diskusi. Kesalahan Mama, selalu menganggap kamu tidak perlu tahu dan tidak berhak mengetahui kesedihan hati ini karena semua adalah tanggung jawab Mama. Minta maaf pada istrimu! Minta maaf karena pemikiranmu yang tadi dengan hati tulus karena wanita akan selalu mengingat kesalahan pasangannya sekecil apapun itu! Istrimu kurang lebih sama seperti Mamamu. Apalagi dia sudah melahirkan putrimu, darah dagingmu!"


Liana mengusap air matanya.


Jonathan kini menangis dipangkuannya.


"Sayang, maafkan Aku, Sayang! Maafkan Aku yang lemah ini! Pukul Aku, maki Aku! Marahi Aku sepuasnya agar hilang rasa sakit dihatimu! Hik hik hiks..."


"Aku tahu, rasa cinta dan sayangmu pada adikmu jauh lebih besar dibandingkan kepadaku. Aku tahu, darah lebih kental daripada air. Aku tahu, kamu mengalami tekanan batin yang begitu dahsyat karena ternyata adikmu tidak bahagia. Aku tahu itu, Mas!... Tapi..., tolong jangan usir Aku dari hatimu padahal Aku tidak berbuat kesalahan. Jangan lakukan itu lagi padaku, Mas! Kau tahu, kau mengenalku lebih banyak meskipun Jordan adalah teman sekolah dasarku dahulu. Aku,... pernah diusir dan dibuang oleh suami terdahuluku! Aku pernah mengalami sakit hati yang rasanya dunia seperti berada tepat di atas kepalaku! Aku pernah menganggap Tuhan itu tidak adil padaku! Aku,"

__ADS_1


Tiba-tiba Liana jatuh pingsan dan terkulai membuat Tiur dan Jonathan panik seketika.


BERSAMBUNG


__ADS_2