DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 12 - MASIH PENUH KEBINGUNGAN


__ADS_3

Aku ditahan Genta di rumah kontrakan barunya.


Kisah hidup adikku ternyata jauh lebih menyedihkan. Bujangan, 27 tahun, awalnya bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan retail, kini resign karena dirinya sedang bermasalah dengan pinjaman online.


Sungguh hidup yang meresahkan.


Berpindah-pindah kostan, dari satu tempat ke tempat lain demi bersembunyi dari depkolektor. Karena kelalaiannya dalam meminjam uang secara sembarang dan kini terjerumus dalam lubang hina yang dicap buronan hutang pinjaman online.


Kejamnya dunia!


"Aku mau pulang!" isakku.


"Jangan, Kak! Jangan!"


"Kenapa? Kenapa aku tak boleh pulang ke rumahku sendiri? Rumah yang kubangun bersama Bang Irsyad suamiku?"


"Jangan! Kumohon, tetaplah ikuti perintah Bang Irsyad!"


"Kenapa? Kamu sudah disogok berapa oleh pria jahat itu, Genta? Hik hik hiks..."


Genta merangkul bahu lebarku. Aku menepisnya.


"Dia sudah mentalakmu, Kak! Secara hukum agama, kalian bukan suami istri lagi! Dia menceraikanmu dihadapanku dan kedua orangtuanya, Kak!"


"Gila! Ini gila, Genta!!! Dalam waktu kurang dari sebulan. Kenapa ini tidak masuk akal bagiku?"

__ADS_1


Aku tak terima. Aku marah dan berontak pada semua tingkah juga tindakan suamiku serta keluarganya, bahkan adikku juga.


"Dia sudah bukan suamimu lagi, Kak!" hardik Genta, membuat anak sungai di pipi chubby-ku yang mulai bergelambir berikut mata panda kembali mengalir deras.


"Bang Irsyad masih suamiku, Genta! Aku tidak menerima talaknya! Hik hik hiks..."


"Sadarlah, Kak! Sadar!... Dia sudah tidak menginginkan dirimu lagi. Dia..., dia mentalakmu bahkan sampai menyebut talak tiga dengan alasan sudah lelah berumah tangga bersamamu! Hik hik hiks... Maaf, Kak! Aku tidak bisa membelamu karena bukti-bukti kuat yang dia beberkan padaku!"


"Bukti apa, Genta? Bukti apa yang memberatkanku sampai kau tak bisa membelaku sebagai seorang saudara? Hah???"


Kutarik kerah baju Genta. Mengguncang-guncang tubuhnya hingga nyaris terjungkal.


Kami lagi-lagi hanya bisa menangis.


"Dia, sepertinya terpengaruh sesuatu! Mereka semua dalam pengaruh kuat! Aku yakin itu, Genta! Ini tidak normal! Bahkan Bang Irsyad seminggu lalu masih biasa saja padaku! Sampai..., aku baru ingat! Sampai gadis itu menyampaikan surat permohonan berhenti kerja padaku, dan mengatakan kalau dia punya kerjaan lain yaitu mengurus anak sepupunya yang meninggal dunia ibunya setelah melahirkan! Iya! Iya, aku ingat betul itu!"


Genta mengusap air mata di pipiku.


"Lupakan dia! Lupakan Bang Irsyad!"


"Apa? Apa katamu, Genta?"


Aku tak terima. Adikku bukannya marah mendengar suami kakaknya sudah main gila tetapi malah menasehatiku kalimat yang bikin aku muak.


Ini tidak masuk akal! Bahkan adikku sendiri, logikanya tak bisa kuterima! Ada apa? Ada ada dengan semua ini? Ada apa, Tuhan?

__ADS_1


Aku sedih, aku sakit hati.


Melihat betapa banyak saudara di luar sana yang bahkan rela baku hantam dengan orang yang sudah menyakiti raga serta batin saudaranya. Tapi Genta, justru seolah tak bergeming. Tak tampak amarah di raut wajahnya yang gundah. Tak ada sedikit gurat kekecewaan apalagi kekesalan melihatku jadi bulan-bulanan Bang Irsyad.


Teringat dulu,...


"Siapa yang berani membuat kakimu luka begitu?" tanya Genta dengan lantang padaku, saat usiaku 20 tahun dan jatuh dari motor ketika dibonceng Sabrina, teman satu pabrikku yang baru belajar mengendarai sepeda motor.


"Ini cuma kecelakaan, Genta!" leraiku panik. Wajah Genta merah padam dan giginya bergemerutuk kesal.


"Siapa? Perempuan apa laki-laki?" tanyanya lagi dengan lagak tengil, ciri khas anak ABG yang suka sekali kekerasan di masa pencarian jati diri.


"Hehehe... Tentu saja perempuan. Sabrina, teman satu pabrikku, Gen! Ga apa-apa! Kakiku cuma memar-memar dan keseleo sedikit! Jangan tegur apalagi marahi Sabrina, ya? Dia cuma mau mengajakku ke pabrik sama-sama, di tengah jalan ada anak kucing yang tiba-tiba melintas. Jadinya Sabrina kaget. Motornya oleng dan kami jatuh sama-sama. Bukan salahnya juga! Ini hanya kecelakaan biasa, Genta!"


Ya. Dulu Genta adalah pemuda gagah berani yang selalu ada dihadapanku. Jadi tamengku dan tak suka jika aku sakit apalagi terluka.


Teringat juga ketika Bang Irsyad mengatakan kalau ia serius menjalin hubungan denganku sebelas tahun yang lalu, Genta juga dengan tegas memberi seuntai kalimat yang membuatku terharu pada saat itu.


"Abang! Aku titip Kak Liana! Aku menyetujui Abang untuk jadi kekasihnya, tapi dengan syarat... Abang harus benar-benar mencintainya tulus, menjaganya dengan hati murni, melindunginya segenap hati. Aku, aku mendoakan kebahagiaan untuk kalian. Terutama untuk Kakakku, Liana Wulandari!"


Aku menangis sesegukan.


Apakah karena Genta juga sedang beban dengan permasalahan hidupnya, lantas kekuatan dirinya yang dulu begitu kubanggakan kini hilang, sirna entah kemana.


Genta! Dulu kamu pemuda dewasa, Adikku! Dulu kamu selalu melindungi Kakakmu ini. Tapi kini, kenapa? Ada apa? Kenapa semua terasa janggal bagiku? Sungguh demi Tuhan, aku sangat bingung dan tak bisa terima keadaanku yang jadi begini!

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2