DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 21 - KEJADIAN YANG TAK TERDUGA


__ADS_3

Ternyata yang kukira mudah, sangatlah susah pada kenyataannya. Yang kusangka akan baik-baik saja, rupanya tidak begitu keadaannya.


Pagi hari dapat kerja, dan langsung masuk melakukan tugas dipukul enam pagi. Sibuk sampai lupa ternyata sudah pukul satu siang. Tetapi ternyata sang majikan termasuk orang yang tak berperasaan.


Aku dan Genta tidak boleh istirahat serta belum dikasih makan. Otomatis perut ini bernyanyi lagu keroncongan karena hanya sarapan sepotong roti harga dua ribuan tadi di warung depan.


Hingga lututku agak lemas dan tanganku sedikit gemetar. Nampan piring makanan yang kubawa ke meja tamu pesanan goyang dan tiba-tiba...


Prang!!!


Pecah berhamburan jatuh ke lantai semua. Aku hanya bisa menggigit bibir bawah sembari menelan ludah.


Ya Tuhan... Bagaimana ini?


"Dasar pelayan bodoh! Baru juga kerja berapa jam, tapi sudah bikin kerugian! Ish! Cepat-cepat bereskan semua! Kupotong gajimu hari ini buat ganti rugi semua piring dan makanan yang kau hancurkan!" hardik nyonya pemilik restoran dengan suara cemprengnya.


"Nyonya, bolehkah saya minta sepiring nasi dengan kuah sayur bening? Saya...belum makan jadi agak gemetar!"


"Eh? Berani sekali kau minta padaku! Siapa kamu? Kerjamu saja tak becus dan belum waktunya istirahat juga! Badanmu juga gendut! Pasti cadangan makanannya banyak. Aku yakin itu cuma alasan!"


Aku tertegun.


Ini... Seperti kerja budak belian! Bagaimana bisa di jaman sekarang ini waktu kerja manusia sampai diforsir seperti ini? Jahatnya!


"Nyonya, Saya minta keringanan untuk Kakak Saya!" Genta yang mendengar keributan menyela dan mencoba bernegosiasi meminta kebaikan nyonya pemilik untukku.


"Tidak bisa! Ayo kerja! Kerja, kerja! Tamu diluar makin banyak! Kerja yang benar!"


"Permisi Nyonya Besar! Ini sudah pukul satu siang! Dan saya rasa tidak salah kalau pegawai Anda meminta waktu rehatnya sesuai undang-undang yang dibuat pemerintah melalui Dinas Ketenagakerjaan. Apakah Anda tidak tahu peraturan yang tertera dalam kitab KUHP soal hak-hak tenaga kerja?"


Deg.


Seseorang berdiri di antara kami menceramahi Nyonya Besar. Seorang pria dewasa bertubuh tinggi besar, tegap dan tegas menatap serius wajah merah Nyonya. Aku hanya bisa menundukkan kepala. Malu dan membisu.


Beginilah ternyata jadi orang susah, tak berpunya.


"Ma_maaf, ini urusan Saya dan pegawai Saya! Tolong Anda jangan ikut campur!" kilah Sang Nyonya tak terima dan tak mau kalah.


"Tidak bisa! Saya pelanggan di resto ini! Saya sudah beberapa kali makan siang di sini. Semula saya respek dan suka dengan menu masakannya yang enak juga pelayanan pegawainya yang ramah. Tapi ternyata, pemiliknya sangat kejam dan tak punya perasaan pada karyawan sendiri!"


"Hei! Kalau Anda tidak suka, Anda boleh pergi! Atau kalau memang Anda membela pegawai baru yang sudah bikin resto Saya jadi kacau balau begini, silakan bawa saja dia pergi. Saya tidak butuh pekerja yang lelet dan tak becus kerjanya!"

__ADS_1


"Ow begitu? Boleh! Tapi sekali lagi saya lihat Nyonya melakukan tindakan kasar pada karyawan Anda, Saya tidak akan segan melaporkan Nyonya pada pihak berwajib. Khususnya pihak Depnaker."


Aku termangu. Pria yang berdiri memunggungiku dengan tubuh gagah dan berpakaian rapi itu mengiyakan perkataan Nyonya Besar. Tentu saja aku langsung memohon pengampunan pada majikan baruku itu.


"Tuan, maaf... Saya yang salah! Saya sudah menjatuhkan makanan pesanan pelanggan dan memecahkan piring. Saya salah! Saya tidak seharusnya meminta istirahat disaat saya lalai!"


Deg


Wajah tampan dari pria yang telah membelaku kini tampak jelas setelah menoleh ke arahku.


Ya Tuhan! Wajahnya tampan sekali! Kumis tipis dan cambangnya yang tak beraturan justru membuat kharismanya semakin mempesona. Maha Suci Allah yang telah menciptakan pria tampan nan sempurna dipandang mata ini!


Aku mengerjapkan mata. Malu karena ketahuan terpukau pada ketampanannya.


Kukira-kira usianya sekitar 35 lebih. Mungkin. Kharisma dan aura pesonanya benar-benar luar biasa istimewa.


Kulirik Nyonya Besar. Ternyata bukan mataku saja yang agak jelalatan disuguhkan wajah tampan rupawan. Rupanya majikanku pun melakukan hal yang nyaris denganku. Melalap habis wajah tampan pria dewasa yang berdiri di hadapan kami.


Mubazir juga jika tak dilihat. Mungkin seperti itu isi hatinya.


"Hei! Kamu mau bengong terus disitu?"


Aku tersentak dan tergagap.


"Tu_tunggu, Tuan! Adik saya bagaimana?" tanyaku gugup.


"Bawa serta adikmu!"


Aku dan Genta saling berpandangan. Lalu mengekor persis anak ayam yang takut kehilangan induknya.


Kami tiba di pelataran.


Aku terkejut ketika pria itu menatapku lagi dengan serius.


"Kamu? Perempuan yang bengong di tengah jalan Pramuka dua hari lalu khan? Yang seperti orang linglung itu khan? Apa kamu mengingatku?"


"Hah?!?"


Tentu saja aku bingung. Terkaannya tak konek dengan ingatanku.


Kapan ya aku ketemu pria tampan ini?

__ADS_1


"Ya ampun! Hhh... Rupanya kalian sudah dirasuki setan linglung!"


Aku tersentak kaget.


Kukira pria ini baik hati. Ternyata, kata-katanya ketus dan dingin juga.


"Tuan..."


"Jangan panggil aku Tuan, karena kau belum jadi bawahanku!"


"Kapan ya kita pernah bertemu, Pak?" tanyaku ingin memastikan.


Dia menepuk dahinya. Lalu tersenyum menyeringai.


"Ya sudahlah kalau kau lupa, Nona! Betewe apa kalian mau kerja di pabrikku? Mungkin kalian akan lebih diperlakukan manusiawi dibandingkan bekerja di resto ramai tadi!"


"Saya mau!" jawab Genta cepat.


"Saya mau, Pak!" tambahku mengikuti Genta.


"Apa aku terlihat tua sehingga kamu memanggilku 'Pak'?"


Aku makin bingung. Menelan saliva dan menunduk malu. Sementara Genta hanya tersenyum tipis tetapi juga tertunduk.


"Oh iya, siapa nama kalian? Namaku Jonathan Harvest!"


"Saya Liana, ini adik saya Genta!"


"Kalian tinggal berdua? Apa... Sudah berkeluarga?"


"Saya sudah, adiknya masih bujangan!" jawabku singkat.


"Hm! Lalu kalian tinggal dimana? Di pabrikku ada mes. Kalau rumah keluargamu jauh, sebaiknya tinggal di mes dan dihari libur kalian bisa pulang ke rumah. Pabrik libur setiap sabtu minggu. Bagaimana?"


"Saya mau, Mas!"


"Oke! Oiya, kalian belum makan siang? Ayo, kita ke rumah makan itu!"


Aku dan Genta sangat senang bertemu orang baik seperti Mas Jonathan yang berwajah indo dengan rambut coklat keemasan.


Kenapa menatap wajah Mas Jonathan membuatku ingat Jordan Ardian? Ada kemiripan karena keduanya sama-sama blasteran. Tapi satu hal, keduanya adalah pria baik. Tidak seperti Bang Irsyad. Pria bejad!

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2