DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 46 - MINGGU TEGANG


__ADS_3

Aku terbangun mencium aroma khas menyengat. Bau rumah sakit. Bau aroma obat-obatan yang begitu kuat.


"Liana! Kamu sudah sadar?"


Mas Jonathan menatapku lekat penuh perhatian.


"Mas!"


"Kenapa kamu membiarkan perutmu kosong disaat bepergian?" tanyanya membuatku tersadar kalau aku memang belum makan dari pagi demi mengejar waktu.


"Makanlah dahulu! Biar kusuapi!"


Aku malu. Sudah besar tapi makan disuapi. Apalagi ditatap sedemikian lekatnya membuat panas dingin gemetar seluruh jiwaku.


"Genta kemana, Mas?" tanyaku malu-malu. Berusaha mengalihkan perhatian agar hatiku yang deg-geg plus ini tidak sampai terdengar telinga Mas Jonathan.


"Genta mengambil surat ceraimu di rumah Irsyad!"


Deg.


"Dia mau juga memberikannya?"


"Tentu saja dengan imbalan!"


Aku menghela nafas. Sampai akhirpun buaya gila itu tetap mempersulit.


"Dia mendapatkan sendiri balasan dari perbuatannya!" tutur Mas Jo singkat.


Aku tak menjawab. Hanya mengunyah sembari menatap jendela rumah sakit.


Seketika aku sadar. Aku ada di ruang rawat inap karena pingsan di tempat tukang bakso tadi.


"Apa...aku harus dirawat, Mas?"


Mas Jo tersenyum. Melap bibirku sambil menggelengkan kepala.


"Setelah habis separuh cairan infus itu, kita pergi ke rumah Mama. Aku sudah menelpon kalau kita akan menginap malam ini di sana!"


"Mas?"


"Hm? Mau protes? Bagaimana caramu membela diri karena ceroboh dan menutupi kepergianmu menemui Irsyad?"


Aku tercekat. Senjata makan tuan ini namanya.


"Aku...pergi bersama Genta, Mas! Kupikir ini adalah permasalahan pribadiku yang harus kuurus tuntas!"


"Tapi kamu bohong padaku. Katamu mau menjenguk kerabat! Bahkan menolak di antar karena belum mau mereka tahu kalau kau sudah punya calon suami lagi. Hm... Ternyata!"


Aku menunduk. Malu dengan semua kebohonganku pada Mas Jonathan.


"Liana... Bukankah aku sudah bilang? Dalam hubungan kita, usahakan komunikasi lancar. Komunikasi itu utama. Pahit ataupun buruk, kita diskusikan bersama. Cari jalan keluar yang terbaik. Bukan menyembunyikan dan main rahasia meskipun niatmu baik, tak ingin menyusahkan aku. Please..., lain kali tolong kita diskusikan! Okey?"


Aku menatap kedua netra Mas Jo yang indah dan menyejukkan. Kedua tangannya menempel lembut di pipi chubby-ku.

__ADS_1


Treeet... Treeet... Treeet


Mas Jonathan mengambil ponselnya dari saku jasnya.


"Aku angkat telepon dulu, ya?" katanya seolah minta izin. Aku mengangguk.


Mas... Kenapa kamu begitu manis? Perlakuanmu yang istimewa membuatku sangat bahagia walaupun baru saja mengalami kejadian yang tak mengenakkan. Irsyad menggila dengan mengakui perbuatan salahnya dan ingin kembali padaku setelah apa yang terjadi.


Kugelengkan kepala, tak ingin mengingat lagi pria bajingan itu. Karena muak sekali rasanya.


Agak lama Mas Jo menerima panggilan telepon dari seseorang. Aku bisa saja menguping, tetapi tak mengerti pembicaraannya karena Mas Jo lebih banyak diam dan menyimak saja.


"Hhh..."


Ia menghela nafas setelah panggilan berakhir.


"Kamu tahu, siapa yang menelponku barusan?"


Aku termangu bengong. Tak tahu dan tak bisa menebak siapa.


"Pak Jacky!"


"Pak Jacky?"


Aku memang memiliki IQ standar saja. Memori ingatanku juga tidak begitu tajam sehingga mudah lupa meskipun pernah kenal atau tahu sebelumnya.


"Pemilik CV Abadi Nugraha, suaminya Bianca!"


Aku mulai mengerti. Sel otakku baru berfungsi dengan benar.


Bianca mantan pacarnya!


"Mereka bercerai."


Aku melongo menatap mata Mas Jo.


"Pak Jacky dan Bu Bianca bercerai?"


"Tapi pak Jacky tidak memutuskan kerja sama perusahaannya dengan perusahaanku. Jangan khawatir, Liana!" katanya sembari mengelus anak rambutku pelan. Senyum manisnya kembali mengembang.


Yang aku khawatirkan justru perasaanmu pada Bianca, Mas! Apakah masih ada sisa-sisa cinta? Bolehkah aku menanyakan isi hatimu? Apa...itu tidak membuatku terlihat cemburu buta berlebihan?


"Boss Gege, Kak Liana!"


"Ucapkan salam jika masuk ruangan, Genta!"


Aku tersenyum tipis. Genta kena tegur meskipun dengan nada halus.


"Maaf, Boss! Hehehe... Assalamualaikum!"


"Wa'alaikum salam!"


"Ini surat cerainya, sudah berhasil kudapatkan!"

__ADS_1


"Alhamdulillah!"


Kami sama-sama mengucap syukur pada Allah karena satu masalah telah terselesaikan.


............


Pukul enam sore, kami baru bisa keluar dari rumah sakit setelah cairan infusan habis.


Seperti yang tadi Mas Jonathan bilang, kami akan mampir dan menginap di rumah orangtuanya.


Tentu saja aku gugup dan ded-degan.


Bibirku terkatup rapat dan mulutku terkunci hingga tak sepatahpun kalimat keluar meskipun hanya berbincang santai.


"Gugup ya?" tebak mas Jo, benar.


Seperti biasa, ia akan menyalurkan hawa hangatnya lewat genggaman erat jemari kokohnya. Walau sedang menyetir mobil melaju di jalanan raya Ibukota.


"Jangan takut, Liana! Mamaku bukan seorang yang pemarah, koq! Beliau malah begitu antusias ingin cepat mengenalmu. Aku juga sudah mengatakan statusmu yang sebenarnya. Mama bilang, janda atau perawan tidak masalah. Yang penting tulus menyayangiku. Itu katanya. Keren khan?"


Mataku menyipit.


Agak familiar pada perumahan elit ibukota yang satu ini. Kawasan perumahan elit Sunter Podomoro, kompleks Mediterania.


Sepertinya...searah dengan rumah Jordan!


Aku kian yakin kalau jalan yang kami lewati ini adalah jalan ke arah perumahan Ibu Tiur Maminya Jordan.


Andaikan dekat, aku bisa mampir nanti menengok Bu Tiur yang baik hati karena pernah memberiku amplop berisi uang.


Hei, hei?...


Aku makin terkejut. Ternyata... Mobil Mas Jonathan berhenti tepat di pintu gerbang rumah Jordan.


Lalu...


Tin tin tiiin...


Ia membunyikan klakson mobilnya dan, tak lama kemudian pintu gerbang dibuka seseorang.


Deg deg deg deg


Deg deg deg deg


"Mas... Ini...rumah Mamamu?" tanyaku agak gemetar.


"Iya, Liana! Ayo, kita turun! Genta, ayo..."


Wajahku pucat, lututku lemas.


Ini...rumah Jordan!


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2