
Saking tak percayanya aku pada kemampuan medis serta peralatan canggih dokter spesialis tersebut, aku rela mengeluarkan kocek lebih besar karena takut kabar gembira berubah menjadi kabar sedih hanya karena salah diagnosa.
Tak mengapa molor waktu bahkan sampai akhirnya menginap di ruang rawat pun walau bau obat begitu menyiksa. Aku dan suami mengikuti kembali prosedur pemeriksaan lengkap. Dari tes urine, tes darah sampai USG 5 dimensi. Hasilnya...
Lagi-lagi kabar gembira itu berhasil membuat tangisanku pecah dalam pelukan Mas Jonathan.
Bagaimana tidak, aku yang sudah pupus harapan sebagai wanita sempurna yang menikah, hamil dan melahirkan kini diberi anugerah itu di saat yang tak pernah kuimpikan lagi.
Pernikahan kedua, di usia 33 tahun kini dan suami 41 tahun. Allah benar-benar membuatku laksana terbang ke nirwana saking bahagianya.
Mas Jo tak kalah bahagia. Bahkan lelehan airmatanya tak bisa berhenti meskipun ia berusaha tersenyum dan mengecup pipi kiri serta kanan juga keningku berkali-kali.
"Terima kasih Sayang! Terima kasih!" bisiknya berulang di telingaku.
Aku yang masih shock juga gamang, bahagia tapi takut terlalu berlebih. Sampai...
Nyaris copot jantungku ketika sesosok wajah menjuntai tepat di depan mataku.
"Kyaaa!!!" jeritku seketika saking kagetnya.
"Yang!!!"
Mas Jonathan mulai was-was.
Ia mengusap wajahku dan cukup lama menahannya tepat di atas kedua mataku sambil mendawamkan ayat Kursi lamat-lamat.
Suamiku segera merengkuh bahuku hingga tenggelam dalam dada bidangnya.
"Astaghfirullahal'adziim... Astaghfirullahal'adziiim!!!"
Aku turut membaca ayat-ayat suci guna menenangkan kembali hati yang bergetar karena kejutan yang menakutkan.
"Ya. Istighfar terus, Yang!" tutur Mas Jonathan.
Sepertinya suamiku memiliki perasaan yang sama denganku. Kehamilan ini cukup berisiko ketika bertabrakan dengan kemampuanku dalam melihat makhluk-makhluk yang tak kasat mata.
Saat ini keadaan fisikku lemah. Aku tengah mengandung si buah hati.
Sepengetahuanku, konon para makhluk halus paling suka dengan perempuan hamil, perempuan yang habis melahirkan dan belum selesai nifasnya, juga perempuan yang sedang menstruasi. Wallahu.
Tapi seingatku memang mereka menyukai orang-orang yang sedang dalam keadaan lemah terutama wanita.
............
Aku dan Mas Jonathan pulang ke rumah dengan perasaan senang yang membuncah. Senyuman terus tersungging di bibir manis pria tampan kesayanganku itu.
Jemari kokohnya bahkan seolah tak ingin melepas genggaman di jari jemariku yang tampak mungil jika disandingkan dengan tangannya.
__ADS_1
Cup.
Dia mengecup punggung tanganku sembari mengedip mesra.
"Hati-hati, Sayang! Kamu sedang bawa kendaraan!" kataku mengingatkannya agar tetap fokus melihat jalan di depan. Mas Jonathan memang nyaris selalu membawa mobil tanpa sopir. Ia merasa lebih percaya diri jika duduk di balik kemudi ketimbang di jok samping apalagi jok belakang.
"Iya, Sayang! Aku bawanya pelan-pelan!" timpalnya membuatku tersenyum kecil.
Rumah tempat tinggal kami yang sekarang tidak dipagari seperti rumah lama. Sehingga mata batinku seringkali menangkap sosok-sosok asing yang kebetulan lewat atau sedang bermain di sekitar walaupun masih tengah hari.
Seperti saat ini.
Padahal baru saja pukul satu siang. Tetapi ada perempuan berambut panjang berdiri di balik pohon dengan tubuh membelakangi kami.
"Ck. Masih siang, Bu!" gerutuku pelan seolah mengomel pada diri sendiri.
Mas Jonathan mulai tegang. Tapi kali ini ia hanya bisa menepak dahinya sembari berkata, "O my gosh!"
Aku hanya tertawa melihat tingkah senewennya yang lucu.
"Apa kamu akan selalu seperti ini, Liana? Apa... Mata batin bisa ditutup juga supaya tidak melihat hal-hal aneh apalagi di siang bolong begini?"
"Hehehe...! Mas, mas! Kamu mau tahu rasanya jadi aku sehari saja?"
"No no no! Tidak, terima kasih!"
"Ya ampun! Hhh... Tersiksa sekali!"
"Apalagi aku bukan terlahir indigo. Dan baru bisa seperti itu sejak kepergianku ke Banten saat Jordan...,"
"Stop. Jangan lanjutkan cerita yang itu!"
Aku tersenyum tipis. Suamiku tidak suka aku bercerita yang sedih. Juga tidak mau mendengar kicauanku soal Jordan, atau pria-pria lain selain dirinya.
Dia menarikku hingga tubuh ini menempel ke dadanya.
"Mulai detik ini, Kau adalah milikku seorang. Apalagi ada bayi imut-ku yang tumbuh di dalam rahimmu. Ingat itu! Tidak boleh genit-genit cerita soal cowok lain di depan mukaku!"
"Hahaha... Even itu Jordan?"
"Apalagi Jordan!" sungutnya membuatku tertawa terpingkal-pingkal.
"Jordan sudah punya pacar!" bisikku menggoda suami.
"Hatinya aku tahu. Dia seperti setengah hati pada gadis cantik itu!"
"Nah, nah! Mas sendiri malah memuji perempuan lain di depan mukaku! Apa itu namanya! Huh!"
__ADS_1
Aku mangkel dan berjalan lebih cepat mendahului langkah Mas Jonathan.
Terdengar suara tawa pria yang membuatku gelindingan jatuh hati itu.
"Maaf, Sayang! Spontanitas!"
"Halah, alasan!"
"Iya, iya. Maaf! Tidak ada perempuan yang lebih cantik dari istriku. Tidak ada satu pun di dunia ini. Bahkan bidadari dari kayangan pun tak kan mampu membuatku memalingkan wajah darimu, Sayang!"
Aku tertawa mendengar bualannya.
Aneh mendengar rayuan suami yang biasanya tegas tanpa menye'-menye'.
Mama Tiur menyambut kedatanganku.
"Melihat wajah sumringah kalian, Mama jadi penasaran. Ada kabar baik apa?"
Mata coklat Mama membulat. Seperti kode agar kami memberinya jawaban pertanyaannya segera.
Aku dan Mas Jonathan merengkuh bahunya pelan.
"Mama...! Doa Mama dikabulkan Allah!" bisikku tepat di telinganya.
"Apa? Apa, apa???" tanya beliau, makin tidak sabar.
"Mama..., akan punya cucu!" jawab Mas Jonathan membuatku terharu sampai menitikkan air mata.
"Iya kah?"
Air mata Mama berlinang meski bibirnya menganga dengan rona wajah girang tak terkira.
Beliau mengambil wajahku dengan lembut.
Kecupan bibirnya menempel mesra di pipi kanan kiri juga dahi ini.
"Terima kasih anakku! Terima kasih ya Allah! Terima kasih banyak! Hik hik hiks..."
Beliau berjalan cepat dengan senyum bulan sabitnya tak lepas dari bibir.
"Mama mau kemana?" tanyaku dan suami berbarengan.
"Mau sholat sunah dua rakaat! Sujud syukur pada Allah atas karunia-Nya pada Mama sebelum ajal menjemput!" serunya masih dengan langkah cepat menuju ruang mushola rumah kami.
Aku dan Mas Jonathan berangkulan. Tertawa sambil berurai air mata.
Ya Allah ya Tuhanku Yang Maha Agung. Tolong jagalah kandunganku ini sampai tiba waktunya melahirkan buah hati pemberi kebahagiaan rumah tangga kami ini. Aamiin...
__ADS_1
BERSAMBUNG