
"Suster, suster tolong kereta dorong!"
Seorang suster perawat dengan sigap berlari cepat mengambil kereta dorong untukku berbaring.
"Tolong! Sepertinya sudah waktunya melahirkan!" seru Jordan membuat situasi Unit Gawat Darurat rumah sakit menjadi sibuk.
Dokter jaga memerintahkan dua orang suster perawat untuk membawaku segera ke ruang persalinan di tempat terpisah.
Jordan mengusap rambutku sembari membisikkan kata, "Semangat!"
Menetes air mataku. Ada haru yang menyeruak di dada.
Apa suamiku akan segera mencariku?
Masih terselip rasa nyeri di dada, meskipun samar-samar kudengar suara Mas Jonathan yang bertanya pada seorang perawat yang ada di luar ruangan.
"Pasien Ibu Liana!"
"Sedang mendapatkan penanganan, Pak! Mohon ditunggu sebentar!"
"Saya mau masuk!" terdengar suara tegas Mas Jonathan.
"Tapi di dalam sudah ada keluarga yang mendampingi, Pak!"
"Saya suaminya!!!"
"Baik, silakan, Pak!"
Suara langkah sepatu pantofelnya berdetak menghentak lantai.
Walaupun dalam keadaan sakit luar biasa, tapi telingaku bisa mendengar langkah kakinya yang kian mendekat.
Aku tahu, Jordan pasti juga mendengar. Tapi seolah pura-pura tak meng-indahkan.
"Liana! Bagaimana keadaan istri saya, Dok?"
"Sebentar ya, Pak! Pasien sedang saya observasi dulu!" jawab Dokter yang masih fokus mengamati pergerakan janin dalam perutku.
Mas Jonathan kini sudah berada tepat di sampingku. Ia mengipas tangannya pelan. Memberi kode pada Jordan untuk keluar dari ruang pemeriksaan.
Jordan dengan wajah cueknya kemudian melenggang keluar dari kamar bersalin tempat pemeriksaan.
Pertanyaan standar, Mas! Tunggui saja dulu mantan kekasihmu! Keadaanku masih belum terlalu mengkhawatirkan, bukan?!
__ADS_1
"Agh...!" Sakit sekali. Mulutku mengerang menahan rasa sakit yang bagaikan cucian diremas-remas.
Papa, Mama..., Wak Hardi! Maafkan kesalahanku dimasa lalu. Telah menjadi anak yang kurang menuruti nasehat orang tua.
Seketika batinku menangis mengingat kedua orang tuaku yang tiada.
Dokter masih memeriksa intensif kondisi kandungan serta keadaanku. Mulai dari suhu tubuh, tekanan darah dan memeriksa jeda kontraksi yang sedang kurasakan saat ini.
Perlahan kram perut bagian bawahku mulai mengendur dan berangsur-angsur hilang.
Kemudian tak lama muncul lagi rasa sakitnya, tapi tidak terlalu kuat seperti tadi.
"Ibu Liana sepertinya mengalami Braxton Hicks atau kontraksi palsu!" kata Dokter yang memeriksa keadaanku.
"Maksudnya, Dok?"
"Belum ada tanda-tanda Ibu Liana hendak melahirkan. Ketubannya masih aman walaupun memang posisi sudah mulai turun. Belum ada pembukaan lahiran. Hehehe...! Jangan panik, Ibu cantik! Sepertinya ini anak pertama ya? Kontraksi palsu memang sering terjadi menjelang minggu persalinan. Jadi, rileks saja ya, Bu! Untuk Bapak, oiya, Bapak ini suaminya atau Bapak yang tadi?"
"Saya! Saya suami Ibu Liana. Tadi itu adik kandung saya!"
"Oh, maaf! Saya kira Mas yang tadi suaminya. Hehehe... Soalnya wajahnya sangat panik tadi pas masuk ruang pemeriksaan! Maaf, saya keliru!"
Mas! Dokter pun tahu, siapa yang terlihat lebih tulus mencintaiku!
Jujur hatiku sakit. Sedih dan ada rasa nyeletit yang jauh lebih pedih di relung hati ini.
"Sayang!" bisiknya.
Tapi aku kadung kesal. Sampai-sampai memalingkan wajah dan membalikkan tubuh ke arah belakang.
Kini aku memunggungi tubuh suamiku yang termangu.
"Sayang, maaf..."
Tangan kokohnya mengusap punggungku. Lembut sekali.
"Sayang..."
Aku tak bergeming. Hatiku belum luluh meski perlakuannya begitu manis dengan menarik selimut dan menutupi tubuh ini sampai bagian dada.
Mas Jonathan mencium keningku.
Hanya lelehan air mata tanpa serbuan kata.
__ADS_1
Aku marah dalam diam.
Aku kesal di antara kesunyian.
Jemarinya perlahan mengusap rambut dan air mataku.
"Sayang!... Andai kamu berteriak dan panggil namaku ketika rasa sakit menyerang,"
"Stop! Aku tak mau ribut, Mas! Ini rumah sakit! Sebaiknya kamu pergi dan temani Bianca!" tukasku.
Akhirnya amarahku meledak juga.
"Liana! Liana, Sayang! Bagaimana keadaanmu, Nak?"
Mama Tiur datang dengan tergopoh-gopoh. Beliau langsung memelukku yang terbaring di ranjang besi ruang IGD.
Mama! Temani saja mantan calon menantumu itu, Ma! Biarkan aku sendiri!
Entah, setan apa yang sedang merasuki hatiku. Rasanya..., ini pertama kalinya aku menanggapi suami dan Mama Mertuaku dengan dingin.
Rasa sakit di perutku sudah hilang. Walau belum hilang sepenuhnya, tapi kondisiku kini jauh lebih baik dari tadi.
"Liana! Mana yang sakit? Ini ya?" tanya Mama Tiur dengan suara lembut.
Jemarinya menelusur pinggangku perlahan sekali.
"Apa kata Dokter? Sudah pembukaan berapa?" tanya Mama beralih ke Mas Jonathan.
"Belum ada pembukaan, Ma! Kata Dokter, Liana mengalami kontraksi palsu!"
"Hm?"
"Memang prediksi persalinan HPL Liana masih tiga minggu lagi. Jadi memang belum waktunya."
Jonathan menerangkan semuanya sampai Mama Tiur faham. Sementara aku hanya terbaring miring dengan mata setengah terpejam.
Aku pura-pura tidur, padahal dokter tidak memberikan obat apalagi suntikan apapun.
"Perut Liana kram ya?" tanya Mama dengan suara berbisik. Tapi aku tak bergeming. Tetap memejamkan mata karena masih merasa kesal pada Mama dan juga Mas Jonathan.
"Mama..., biarkan Liana tidur sebentar ya? Mungkin tadi rasa sakitnya benar-benar dahsyat sampai kata Genta, Jordan langsung menggendong Liana sampai ke ruang persalinan!"
Kubiarkan Ibu dan Anak itu saling berbisik berinteraksi.
__ADS_1
Maaf, Mas! Maaf, Ma! Aku sedang egois tingkat tinggi. Aku hanya sedang ingin mengetahui sejauh mana kalian perhatian padaku. Apakah melebihi perhatian kalian pada perempuan cantik yang dulu begitu kalian elu-elukan? Walau kini wajahnya hitam separuh karena tamparanku waktu itu, tapi cinta sejati memang tak memandang fisik melainkan hati. Biarpun Bianca kini tidak lagi terlalu cantik, tapi sepertinya kenangan masa lalu di memori ingatan suamiku masih sangat jelas tergambar. Bahkan sampai tak melihat istri sendiri keluar pelan-pelan saking seriusnya mendengarkan curhatan mantan pacar. Hhh... Hik hik hiks...
BERSAMBUNG