DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 130 - Sesion 2 (Kegundahan Jonathan)


__ADS_3

"Kamu siapa?" tanya Liana.


"Aku Jordan Ardian. Teman SD mu yang dulunya cupu dan gendut. Yang biasanya kamu ledek bahkan setiap hari. Ingat?"


Liana memicingkan matanya.


"Jordan!?"


Jordan tersenyum penuh kemenangan. Ekor matanya melirik Sang Kakak yang pura-pura cuek dan fokus pada tangan kanan Liana yang sedang dilapnya.


"Didi! Apakah kamu sudah lupakan sopan santun dan adab sampai dengan cueknya masuk ke kamar Kakak iparmu yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit?"


"Hehehe! Aku khan tadi tidak slonong boy, Ge! Aku mengucapkan salam!"


"Kalian... muslim?"


"Yassalam... Hahaha tentu saja Liana! Kita ini saudara seiman. Bagaimana bisa aku menikahimu jika kita beda iman?" jawab Jonathan segera sebelum Sang adik mendahului lebih dulu.


"Jadi, Mas Jonathan masuk Islam untuk menikahiku?"


"Tidak, Sayang! Jauh sebelum mengenalmu, kami sudah mualaf!"


"Tepatnya sih ketika Gege Jonathan sedang masa pacaran dengan Bianca. Betulkan?"


Jonathan pucat pasi mendengar tambahan cerita Jordan.


"Di! Please keep silent, Ok?"


"Untuk apa? Toh itu memang kebenaran yang nyata!"


Jonathan dan Jordan saling bertatapan.


"Assalamualaikum!"


Aprillia tiba-tiba masuk dan langsung disambut dengan bahagia oleh Jonathan.


"Sayangnya Ayah, sudah pulang sekolah?" seru Jonathan sembari berlutut dan memeluk erat tubuh mungil buah hatinya yang langsung mencium punggung tangannya.


"Sudah, Ayah! Daddy kenapa ga jemput Aku?" semprot Aprillia pada Jordan.


"Daddy?" gumam Liana mulai bingung.


"Ya, Ibu! Beby panggil Om Didi sekarang itu 'Daddy'!"


Liana tersenyum kecil.


Ia senang melihat wajah cantik gadis cilik yang katanya adalah buah hatinya.


Aprillia menarik tangan ibunya lalu melakukan hal yang sama seperti kepada Jonathan dan Jordan. Mencium punggung tangan.


"Ibu!"

__ADS_1


"Iya, Sayang?!"


Cup.


Aprillia mencium pipi Liana yang seketika merona bahagia.


"Terima kasih, Sayang!"


Kini ia melakukan hal yang sama, mengecup pipi kiri dan kanan Aprillia karena pada dasarnya Liana memang menyukai anak perempuan dan selalu berkhayal memiliki juga melahirkan.


Rasanya seperti mimpi.


Terbayang kenangan ketika Mama Irsyad menyindirnya sebagai perempuan mandul karena belum juga hamil padahal sudah berumah tangga mau sepuluh tahun.


Belum lagi adik perempuan Irsyad yang juga mencibirnya dan berani mengatakan sebaiknya belajar mengurus dua ponakan dulu sebelum benar-benar punya anak. Membuat Liana merasakan kesedihan dihatinya yang masih labil.


Kemana mereka semua? Semoga mereka dalam keadaan baik-baik saja. Jika benar dulu mereka begitu jahat dan tega menyakitku, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan memberiku kebaikan dari hujatan itu semua.


"Sayang?!"


"Ah iya?"


Liana menatap wajah Aprilia dan Jonathan bergantian. Kemudian menoleh ke Jordan juga yang sedang menatap wajah Liana penuh makna.


"Ibu... kapan pulang ke rumah, Ayah?" tanya Aprillia pada Jonathan.


"Segera, Sayang! Ibu akan segera pulang dalam waktu dekat ini!"


"Yeaaay... asiiiik! Beby juga akan pulang ke rumah. Boleh ya Daddy?"


Liana yang belum mengingat masa lalunya berumah tangga dengan Jonathan hanya tersenyum tipis. Ada keraguan serta ketakutan besar dalam hatinya.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam!"


Liana kembali berdebar karena Mama Tiur dan Citra juga datang dengan membawa banyak buah tangan.


"Sayang! Sudah jauh lebih baik sepertinya!"


Tiur mencium pipi Liana kanan dan kiri. Begitu juga Citra.


Perut buncit Citra membuat Liana ingin mengelusnya.


"Mbak, bolehkah aku mengelus perutmu?" tanya Liana dengan suara tertahan.


"Tentu saja. Ini adalah keponakan Kak Liana!" jawab Citra tampak senang sekali.


"Iya. Genta sudah menceritakan semalam. Maaf ya, Aku... tidak bisa mengingat sama sekali. Maaf... Hik hik hiks..."


"Sudah, sudah. Mama yakin, nanti suatu hari pasti Liana akan ingat kami semua! Hehehe... Oiya, Mama masak sayur asem kesukaan Liana!"

__ADS_1


Sayur asem? Kenapa Ibu cantik ini begitu baik bahkan tahu makanan favoritku? Padahal dulu mertuaku tidak pernah mau tahu a**kan makanan favorit menantunya. Justru menantu-lah yang harus ingat terus apa kesukaannya. Kalau tidak, siap-siap di sindir kena mental dighibah ke tetangga kiri kanan.


"Makan dulu, Lian! Bismillah, ayo 'aaa'!"


Menetes air mata Liana. Mama Tiur membuat hatinya menghangat karena perhatian yang begitu tulus.


Liana menggapai tangan sang mertua dan mendekapnya di dada.


"Alhamdulillah, semakin banyak kemajuan!" seru Tiur bahagia melihat tangan Liana mulai bisa bergerak dan memegang jemarinya.


Semua yang ada di ruangan kamar inap Liana terharu bahagia.


Jonathan menarik tangan Jordan dan mengajaknya berbincang ke luar kamar.


"Ada apa, Gege?"


"Apa maksud perkataanmu pada istriku, Didi?"


"Aku berkata berdasarkan fakta bukan?" timpal sang adik membuat Jonathan kesal.


"Bukankah kita sudah sepakati ini sebelumnya? Kenapa sekarang kau,"


"Gege sudah mengucapkan talak secara tidak langsung pada Liana!"


"Hei! Tidak ada kata talak dariku!"


"Mama sendiri yang bercerita padaku setelah aku tersadar dan menanyakan kenapa Liana bisa sampai seperti itu!"


"Jordan!"


"Aku tahu Gege marah padaku. Tapi aku memegang omonganmu sendiri!"


"Ya Allah ya Tuhan! Apa yang sedang terjadi pada keluargaku ini! Ujian apa lagi ini?"


"Itu karena ucapanmu sendiri, Ge! Dan sudah sewajarnya aku menagih ucapan yang kau katakan saat itu!"


"Itu semua diluar fikiran normalku!"


"Jadi saat kau mengatakan itu, kondisimu dalam keadaan tidak waras? Dalam pengaruh alkohol?"


"Jordan Ardian!"


"Jonathan Harvest! Saat ini posisi kita sejajar. Mari kita bersaing secara sehat untuk merebut hati istrimu. Biarkan dia memilih sendiri. Kau atau aku!"


"Didi? Apakah ini Didi adik kandungku?"


Jonathan mendelik marah.


"Sudahlah, Ge! Kita tidak usah banyak drama. Sebagai lelaki perkasa, apakah kau tidak mau memulai kembali kisah cintamu dengan Liana? Begitu juga aku. Ini adalah kesempatanku memperkenalkan diriku yang Liana kenal di masa lalu. Kau bukan masa lalunya. Bahkan si Irsyad bangs*at itu pun masih Liana ingat dengan kenangan baiknya. Bukan kenangan buruknya."


Jonathan menatap punggung Jordan yang berlalu meninggalkannya sendirian.

__ADS_1


Cobaan apalagi ini? Ada apa dengan Jordan adikku? Ya Allah... Jika memang aku harus bersaing dengan adikku sendiri untuk mendapatkan cinta tulus Liana, aku akan berjuang. Sungguh-sungguh akan kuperjuangkan istriku terlebih Liana jadi begini karena ucapan bodohku yang tanpa pikir panjang ke depannya.


BERSAMBUNG


__ADS_2