
Ini hari ketujuh aku di kampung kelahiran almarhum Papa. Tepatnya tempat tinggal Wak-ku, kakak pertama Papa.
Dan untuk pertama kalinya juga aku mandi di walungan atau sungai dekat rumah Wak Hardi setelah tujuh hari tidak mandi.
Rasanya tubuh ini teramat segar dan ringan.
Walau mandi hanya basahan atau memakai kain batik panjang yang dililitkan, tetapi rasanya luntur luruh seluruh kotoran di tubuh.
Wak Wati menatapku dengan binaran matanya yang terpancar indah.
"Kamu... Sangat cantik, Liana!" bisiknya membuat pipiku merona merah jambu.
"Uwak, jangan bikin Liana besar kepala!" gumamku malu.
"Sungguh! Kamu...begitu cantik! Tubuhmu juga kini langsing tapi padat. Benar-benar tubuh yang didamba semua wanita!"
Aku belum melihat cermin selama di rumah Wak Hardi. Bahkan selama tujuh hari penampilanku lusuh dengan wajah polos tanpa make-up. Terlebih ketika berada dalam bilik saat tirakat.
Wak Wati mengguyur tubuhku dengan gayung yang kami bawa dari rumah. Memandikanku layaknya gadis cilik berusia lima tahun dengan decak kekaguman.
Rambut hitam panjangku terurai basah kena guyuran.
"Bacalah doa-doa asihan yang Wak Hardi pernah tuliskan setiap kali kamu mandi besar. Jangan lupa setelah itu berwudhu-lah biar wajah cantikmu terjaga dari penyakit 'ain!"
"Aamiin! Iya, Wak! InshaaAllah, Liana akan berusaha menjaga mata, hati serta penampilan untuk tidak terlalu mencolok pandangan orang!"
"Kamu cantik, sangat mirip dengan nenek buyut yang seorang noni Belanda!"
Aku tersenyum menyeringai. Mentertawakan Wak Wati yang memujiku terlalu berlebihan.
"Eh beneran! Kamu tidak percaya? Jangan salah, Sultan Ageng itu seorang yang sakti mandraguna. Beliau juga punya ilmu pelet yang luar biasa kharismanya dan diakui oleh seluruh jagat raya nusantara. Istri beliau banyak. Salah satunya adalah putri Residen Belanda kala itu. Begitu sejarah yang nenek Wak pernah ceritakan!"
Aku tersenyum. Ternyata leluhurku memang sudah terkenal sejak zaman dahulu kala. Tentang ilmu-ilmunya yang tak boleh di pandang sebelah mata.
Pulang mandi, aku berganti pakaian yang di sediakan Wak Wati.
"Lian! Ini bajunya Lilis sebelum masuk pesantren ketika masih remaja! Mungkin bisa Liana pakai."
"Terima kasih, Wak!"
Satu buah kemeja bahan corduroy polos berwarna krem lengan pendek dan celana kulot warna coklat pekat. Membuat tampilanku sangat jauh berbeda.
Pertama kali kulihat stelan pakaian milik Teh Lilis, putri Wak Hardi nomor dua yang sudah menikah itu, aku merasa sedikit ragu. Kupikir tidak akan muat, ternyata... Di pakai di badan malah masih terlihat agak longgar.
__ADS_1
Waah, ternyata tubuhku bobotnya menyusut drastis!
Aku bersorak senang dalam hati. Tubuhku sepertinya kini tidak gendut lagi.
Detoksifikasi lewat tirakatku yang hanya lima hari itu ternyata berhasil. Tubuhku menyusut nyaris dua kali lipat.
"Ini, ada kaca cermin. Liana mungkin butuh untuk memakai bedak dan lipstik!"
Wak Wati memberiku cermin sedang dengan bingkai plastik.
Sepertinya bekas Teteh Lilis dimasa remaja juga.
Terkesima mata ini memandang pantulan wajah sendiri. Terlihat jauh lebih muda dan cantik.
Gadis yang ada di cermin itu...berbeda sekali. Bahkan luka bekas pecahan kaca jendela mobil akibat kecelakaan lalu lintas tempo hari pun menghilang tanpa bekas.
Subhanallah... Maha Suci Allah atas segala nikmat dan karunia-Nya padaku.
Aku termangu. Melamunkan wajah diri ini.
Apakah itu aku? Liana Wulandari yang tiga bulan lalu diceraikan suaminya karena bertubuh bulat dan berpipi chubby?
"Wak Hardi!"
"Wak, jangan panggil Liana seperti itu! Namaku Liana, Wak!"
"Kamu memang harus menyandang nama itu. Itu adalah nama gelar kebangsawanan tanah Banten. Kalau lelaki itu adalah Tubagus. Papamu khan namanya Tubagus Arya Wardana. Jadi memang seharusnya namamu itu Ratu Liana Wulandari. Itu sudah sewajarnya dan sepantasnya. Apa kamu tidak pernah dengar di pelajaran sejarah?"
Aku menggeleng dan tersenyum tipis.
"Wak! Apakah wajahku jadi berubah seperti ini juga dari hasil tirakatku seminggu yang lalu?"
"Kenapa? Kamu... Merasa lebih cantik, Liana?"
Wak Hardi tersenyum lebar.
"Kau memang cantik! Cantik dari lahir!"
"Tapi..., ini bukan Liana yang seminggu lalu kemari, Wak! Apakah ini asli, atau hanya illusi pandangan mata saja? Atau...Liana secara tidak langsung telah memasang susuk sehingga pancaran wajah Liana jauh lebih bercahaya?"
Aku mengajukan banyak pertanyaan. Tak mengerti dan butuh penjelasan.
__ADS_1
"Inilah karomah yang telah kamu dapatkan, Liana!"
"Maksud Wak Hardi?"
"Secara garis keturunan, kamu memang dilahirkan dengan pesona kecantikan luar biasa. Apakah kamu ingat, masa kecilmu penuh kebahagiaan. Semua begitu cerah bahkan kamu bisa mengingat setiap detilnya. Liana kecil yang cantik, ceria, bahkan disukai banyak orang pria dan wanita. Kamu pandai bergaul karena mudah berbaur. Itu juga dikarenakan hari kelahiranmu yang bagus, Liana!"
Aku masih menyimak penjelasan panjang dari Wak-ku soal pertanyaanku barusan.
"Kamu tidak menjadi lebih cantik karena susuk. Jangan khawatir. Tidak ada benda apapun yang masuk ke dalam tubuhmu sebagai perantara kemampuanmu kini dalam melihat dunia. Kamu murni memiliki kelebihan. Secara fisik juga mental dan kebatinanmu, Liana! Kamu... Sudah terbuka aura juga mata batin sehingga jauh lebih fresh dan cantik dari sebelumnya yang memang sudah cantik."
"Jadi, Liana memang asli. Bukan karena susuk atau ilusi dari ilmu kebatinan saja? Masalahnya, Liana tidak mau menipu orang-orang dengan menyamarkan penglihatan asli mereka. Padahal wajah Liana biasa, tetapi seolah cantik di mata mereka. Itu namanya penipuan publik, Wak!"
"Tidak, Liana! Penampilanmu bukan karena ajian guna-guna pemikat. Tetapi ini memang dirimu yang sebenarnya. Dan khodam pendampingmu adalah Nyai Ratu Mustika Kencana!"
Nyai Ratu Mustika Kencana? Siapa beliau ini?
"Kamu tidak perlu jampi-jampi pengasihan untuk memikat lawan jenis ataupun demi menarik rezekimu menjadi lebih baik lagi! Tidak perlu, Liana! Karena sedari lahir khodam itu sudah ada menemanimu dan kini menyatu dalam dirimu selamanya!"
Deg.
Jantungku berdetak kencang.
Menyatu selamanya dalam diriku? Apakah... Aku akan sulit mati seperti kata orang, jika kita memiliki ilmu kebatinan atau ilmu pemikat, susuk dan sejenisnya maka akan sulit proses kematiannya?
"Wak! Apa nanti Liana mati juga harus dilulur daun kelor seperti Papa tempo hari? Apa Liana harus memberitahukan sanak saudara lainnya khawatir umur sebentar lagi?"
Wak Hardi tersenyum.
"Tidak perlu. Tetapi jika Liana terus mengasah kemampuan telepati serta ilmu sihir menjadi lebih tajam lagi, kemungkinan dilulur daun kelor bisa juga!"
"Ilmu sihir? Liana tidak bisa sihir, Wak! Lihat, nih... Buka pintu! Lampu menyala! Tidak bisa, Wak!"
Aku seperti bocah yang sedang mempraktekkan ucapan Wak Hardi dengan menggunakan telunjuk dan mencoba mengatur ilmu sihir yang aku punya.
"Bukan seperti itu, Liana! Dan kemampuanmu itu juga tidak bisa sembarang diperlihatkan! Secara kasat mata, kamu sama seperti biasa. Tidak ada yang istimewa selain penampilan fisik dan aura yang lebih cerah luar biasa. Semua itu perlahan akan kamu ketahui seiring perjalanan hidupmu ke depannya!"
Aku menunduk terpekur. Menelaah setiap ucapan Wak.
"Wak, bagaimana kisah Ki Jalu dan Ki Maung yang belum sempat Liana dengar sampai tuntas kemarin?"
"Mau dilanjut cerita waktu itu?"
"Iya, Wak!"
__ADS_1
"Baiklah! Wak akan ceritakan kisah Ki Jalu dan Ki Maung!"
BERSAMBUNG