DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 41 - GALAU


__ADS_3

Malam ini mataku sulit terpejam.


Ada banyak fikiran berkutat di kepala. Rasanya penat dan bikin mumet.


Ada dua pria, satu diantaranya malah lebih dulu bilang serius ingin menikahiku setelah habis masa iddah-ku. Yaitu Mas Jonathan, boss sekaligus malaikat tak bersayap pelindungku.


Sedang satunya lagi adalah Jordan. Teman Sekolah Dasar juga teman pria-ku satu-satunya yang bersamanya aku bisa bicara apapun tanpa takut dihakimi.


Tapi, apakah aku boleh serakah jika memilih Mas Jonathan tetapi tetap ingin bersahabat murni dan tetap bisa chatting setiap malam dengan Jordan?


Tentu saja itu sangat serakah, Liana! Mana ada hubungan yang seperti itu? Kau justru menyakiti dua hati jika tetap tidak mau melepas salah satu. Apa bedanya kau dan Irsyad meskipun pada kenyataan kau belum memberi keputusan pada Jonathan juga Jordan! Fikir pakai otak sehat dan juga layak kepantasan seorang wanita. Apa itu diperbolehkan agama serta masyarakat umum lainnya? Tidak, Liana!


Aku teringat pada podcast seorang artis wanita terkenal. Nagita Slavina tepatnya. Katanya, tidak ada murni pertemanan tulus sejati antara pria dan wanita. Pasti salah satu diantaranya ada yang menyimpan rasa. Baper dan ada gejolak dalam dadanya setiap kali mereka bersama.


Aku pun mengiyakan.


Dulu ketika baru menikah dengan Irsyad, semua pertemananku dengan teman lawan jenis perlahan berangsur-angsur ditiadakan.


Karena aku ingin menjaga rumah tanggaku serta perasaan suami juga. Setidaknya, aku juga tidak mau dituduh istri yang suka mengobrol dengan pria lain padahal sudah bersuami. Takut dibilang gatel.


Tetapi sepuluh tahun berumah tangga tak menjamin pasangan semakin cinta karena sikap, sifat serta attitude kita sudah terjaga dengan baik.


Tetap saja duri dan onak menghantam hingga perahu koyak serta karam di lautan luas.

__ADS_1


Aku tenggelam dalam kekecewaan pernikahan.


Kini, ada seorang pria yang selalu siaga membantuku dari segala kesusahan. Menjagaku dari penderitaan kemiskinan. Juga terlihat mampu mengayomi. Kurasa, tiada salah jika aku move on dan memulai hidup baru.


Aku sebenarnya takut sakit hati lagi, takut gagal lagi. Apalagi riwayat hidupku yang orangtua juga bercerai dan mereka sama-sama menikah lagi.


Tetapi aku melihat hidup harus terus berjalan. Usiaku masih 32 tahun. Masih merasa butuh kasih sayang serta bimbingan.


Satu hal rahasia yang belum kuberitahukan pada Mas Jonathan serta Jordan, temanku. Aku...pernah memiliki riwayat terserang kista di ovarium-ku hingga harus segera diangkat lewat jalan operasi.


Dokter memang tidak memvonisku tidak akan punya anak. Tetapi ada sedikit ganjalan karena kantung rahimku kemungkinan ada sedikit masalah sehingga cukup sulit untuk bisa hamil dan melahirkan.


Mungkinkah seumur hidup aku tidak akan punya anak? Ya Allah ya Tuhanku... Sebagai seorang wanita, aku ingin sempurna. Ingin hamil, melahirkan dan menyusui darah dagingku sendiri. Tapi semua Kuasa-Nya. Hanya bisa berdoa dan pasrahkan diri.


Aku tidak ingin, siapapun pria yang nanti menjadi pendampingku kecewa karena rumah tangga yang hambar dan belum diberi keturunan.


Kisah cintaku dengan Irsyad menjadikanku pelajaran.


Anak adalah pengikat.


Anak juga bukti adanya regenerasi pada suatu pernikahan. Tidak bisa dipungkiri dan aku tidak mau takabur karena mengalaminya sendiri.


Dulu Irsyad pernah bilang, tidak punya anak bukan berarti kiamat. Yang penting kita selalu bersama dalam suka maupun duka. Saling berangkulan dan eratkan pegangan tangan. Saling dukung, support satu sama lain dan saling memberi kekuatan. Itulah rumah tangga. Begitu katanya.

__ADS_1


Nyatanya, lidah tak bertulang. Hati orang tak bisa diselami. Niatan serta cita-cita awal kami membangun rumah tangga kecil bahagia justru porak-poranda. Seorang perempuan datang menjadi perebut suamiku. Membiarkan tubuhnya digerayangi dan dielus pria beristri. Bahkan hingga rahimnya mampu memenuhi hasrat keinginan kuat seorang pria memiliki keturunan. Yaitu benih kehamilan.


Perempuan dajjal, memang!


Bruk


Tanpa sadar aku membanting gelas kaca hingga pecah berhamburan menjadi beling.


Tok tok tok


"Liana! Liana!!! Ada apa?"


Suara mas Jonathan sayup-sayup memanggil namaku.


Aduh! Bodohnya aku telah buat keributan!


"Tidak ada apa-apa, Mas! Hanya gelas jatuh dari meja!"


"Buka pintu kamarmu! Biar kubersihkan pecahan belingnya!"


Ya ampun... So sweetnya pria ini!


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2