
Aku berlari dan terus berlari. Melewati jalan aspal dingin nan gelap tanpa berhenti. Menerobos semua halangan juga rintangan. Bahkan lolongan anjing menggonggong silih berganti, melenguh dan merintih bagaikan hewan yang kesakitan.
Malam kian larut.
Sesekali kuusap tetesan air mata di pipi mengingat tatapan mata Mas Jonathan yang terlihat begitu ketakutan.
Ya Allah ya Gusti! Siapa aku ini? Bagaimana mungkin aku jadi berubah seperti ini? Aku ini manusia! Bukan hewan buas yang menakutkan! Aku ingin kembali menjadi diriku sendiri! Ya Allah..., mengapa aku jadi seperti ini?
"Auuuuu..."
"Aouuuuuuu..."
"Arrrr... Rrrrrr..."
"Auuuuu..."
Anjing-anjing yang ada di rumah tuan-tuan mereka seperti merasakan ketakutan yang begitu besar.
Ya Allah... Tolong aku!
Wak Hardi...! Wak Hardi!!!
Aku terus berlari dan berlari. Hingga tiba-tiba tubuh ini seperti ada yang menarik dan mendekap erat.
Pelukan hangat itu aku kenali bau khasnya.
"Wak Hardi!!!" pekikku mulai merasa lega.
Kupeluk erat tubuhnya. Tangisanku pecah dalam peluknya.
"Wak!!! Wak...!!! Suamiku melihat keadaanku yang menjijikkan ini, Wak! Wak..., aku berhasil melawan si Dukun mesum itu! Dua matanya sudah kucabik, lidahnya juga sudah kubuat berdarah-darah. Tapi suamiku...! Suamiku, Wak! Mengapa aku jadi seperti hewan laknat, Wak! Aku tidak ingin menjadi seperti itu!!! Hik hiks..."
Wak Hardi seperti memiliki ilmu terbang. Disitu aku termangu dengan mata tak percaya. Kami terbang di angkasa malam yang gelap pekat.
"Wak..."
"Ini adalah roh kita, Liana! Bukan jasad yang sebenarnya. Tetapi hanyalah rohani kita yang melanglang buana."
Malam itu, aku semakin tahu... bahwa ilmu gaib itu nyata adanya.
"Manusia diciptakan Allah Ta'ala dengan segala kelebihannya. Otak kecerdasan dan juga hati yang bisa dibolak-balikkan. Itu yang membuat manusia jadi lebih mulia di banding makhluk ciptaan Allah yang lainnya. Namun sayangnya, manusia tidak pernah percaya diri dan lebih menganggap iblis jauh lebih baik karena terbuat dari api sedangkan dia dari tanah liat. Sehingga seringkali terkecoh dan ikuti ajakan para syetan untuk bergabung melakukan kemaksiatan. Iblis berhasil menjalankan misinya membuat manusia yang paling mulia menjadi sebangsa dengan mereka. Iblis tertawa bahagia jika ada umat manusia yang menjadi pengikutnya. Nauzubillah tsumma nauzubillah."
Aku merinding mendengar perkataan Wak Hardi.
Diantara dinginnya udara malam yang berhembus kencang, roh-roh kami seolah melayang terbang melintasi partikel-partikel lapisan bumi.
"Laa ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah. Aku bersaksi Tiada Tuhan selain Allah. Dan Muhammad adalah rasul Allah!"
Wusss...
Malam itu pandangan mata kami melihat seorang lelaki tua renta yang meraung-raung di pukul dua belas malam karena kedua matanya yang buta juga lidah rusak menjulur mengeluarkan cairan liur yang menjijikkan.
"Liana, lihatlah! Allah pada akhirnya memberinya azab lewat perkelahiannya denganmu tadi ba'da Isya! Maha Besar Allah Dengan Segala Kekuasaan-Nya!"
Wak Hardi malam itu membawa tubuhku terbang kembali.
Kali ini kami melintasi jalan kota.
"Wak, apakah kita ini sudah mati?" gumamku dengan hati was-was.
"Kenapa? Kamu takut mati, Liana? Jangan takut. Semua makhluk hidup pasti akan mati. Cepat atau lambat, satu persatu malaikat Izrail datang menjemput kita kembali ke haribaan Sang Kholiq."
__ADS_1
Air mataku menetes. Meleleh di pipi.
"Lihat wanita itu, Liana! Lihatlah... Dia sudah menjadi budak setan dan menjadi pemujanya. Apa yang ia dapatkan dari perjanjian gaib dengan makhluk bernama iblis laknatullah? Jiwanya menjadi pembantu seumur hidup bahkan terus sampai kiamat datang dan menghisap semua amalan-amalan kita nanti."
Aku membulatkan kedua bola mata.
Tante Mirna!
Tante Mirna, tampak tertawa-tawa. Sesekali menggeleng dan mengangguk. Seolah sedang asyik mengobrol padahal ia sendiri yang belum tidur diantara para penghuni lapas lainnya.
Sesekali hardikan teman satu sel-nya membuat Tante Mirna kaget dan memekik ketakutan. Namun hanya sebentar. Dia kembali tertawa, terkekeh lalu juga murung kembali menangis.
Begitulah keadaannya sekarang.
Indikasi gangguan kejiwaan mulai nampak jelas.
Dimana Bianca?
"Kamu pasti sedang mencari-cari anaknya, bukan?"
Hebat! Wak Hardi bisa tahu isi hatiku!
Aku mengangguk.
"Lihat!"
Aku tercekat. Ludah di kerongkonganku seperti mengering.
Pipi Bianca, gosong sebelah. Bahkan kini noda hitam seperti hangus terbakar itu semakin meluas menyebar di pipi putihnya yang mulus. Apakah efek dari tamparanku tempo hari itu?
Ngeri sendiri pada kekuatan tanganku yang bisa membuat pipi Bianca menjadi hangus.
"Ya Allah ya Tuhanku!"
Karma benar-benar dibayar kontan.
Subhanallah, Maha Suci Allah Dengan segala Kekuatan-Nya.
"Wak! Pipinya jadi begitu karena kena tamparanku. Apa... Aku juga nantinya akan menuai hasil taburanku sendiri?"
"Wallahu, Liana! Jika Allah sudah berkehendak, tidak ada seorangpun mampu melawan takdir-Nya."
Perkataan Wak-ku benar.
Tiba-tiba tubuh kami kembali melesat. Dan kali ini dorongannya begitu kuat.
Seperti ada hempasan besar membawa kami memasuki lorong putaran yang membuat pusing kepala.
Warna zig-zag hitam putihnya membuat mataku sakit.
"Astaghfirullahal'adziiim... Astaghfirullahal'adziiim...!!!"
Lafadz Asmaul Husna terus terdengar dari bibir Wak juga aku.
Entah setelah itu, semua menjadi samar dan gelap gulita.
Fikiranku perlahan memudar dan... tak tahu lagi apa yang terjadi.
............
Kubuka kelopak mata. Betapa terkejutnya ketika ada sosok pria tampan duduk di hadapanku dengan wajah sendu.
__ADS_1
Dia adalah Suamiku.
"Mas Jonathan..." seruku dengan suara agak serak.
Jemari tangannya menggenggam erat jemariku.
"Alhamdulillah..., kamu akhirnya sadar, Yang!"
Apa yang terjadi kepadaku? Mana Wak Hardi?
"Mas..., dimana Wak Hardi?" tanyaku penuh rasa ingin tahu.
"Liana...!"
Aku makin penasaran.
Mas Jonathan menundukkan wajahnya.
"Mas? Ada apa?"
"Ada kabar dari Banten,... Wak Hardi meninggal dunia pukul sepuluh malam," kata suamiku dengan suara yang sedih.
"Mas???"
Tentu saja aku tidak percaya.
Bagaimana mungkin, bagaimana bisa? Semalam pukul dua belas malam kami bersama. Terbang di langit gelap tanpa bintang.
Melesat mengitari alam semesta yang luas membentang.
"Mas Jonathan?"
"Wak Wati sendiri yang mengabarkannya pukul dua malam, Sayang!"
"Ke_kenapa aku ada di rumah sakit, Mas?"
"Kamu pingsan di tangga, Liana. Maaf..., Aku pulang pukul sembilan lebih. Tidak tahu kalau kamu turun ke lantai bawah dan jatuh tergelincir. Kata Dokter, tekanan darahmu rendah sekali."
"Wak Hardi... Semalam aku bersama Wak Hardi, Mas! Sungguh! Kami... berjalan bersama sampai pukul satu dini hari!"
Suamiku merangkul bahuku. Dia mengusap pucuk kepalaku dengan lembut.
Tanpa suara, tanpa kata-kata. Hanya usapan kasih sayangnya yang begitu besar kurasa.
Helaan nafasnya membuatku mendongak dan menatap dalam-dalam bola matanya yang indah.
"Apa... aku sedang bermimpi, Mas?" tanyaku lirih.
Dia menunduk. Lalu menggeleng pelan.
"Genta, Jordan dan Mama sudah berangkat ke sana untuk penghormatan terakhir pada beliau."
"Mas ini beneran?"
"Liana..."
"Bagaimana mungkin cobaan ini datang bertubi-tubi kepadaku? Bagaimana mungkin??? Ditengah kebahagiaanku, kenapa cobaan ini seolah tiada henti???"
Aku berteriak histeris. Tak percaya pada apa yang sedang terjadi padaku saat ini.
Tuhanku Allah Azza Wajalla, ada apa denganku? Apa salahku dan juga leluhurku??? ya Allah ya Robbi!!! Kuatkan aku menerima cobaan ini...
__ADS_1
BERSAMBUNG