DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 45 - KERIBUTAN DENGAN 'ORANG GILA'


__ADS_3

Kami memilih sebuah warung bakso yang terletak agak menjolok kepinggir. Tempatnya juga sepi, memungkinkan kami untuk berbicara lebih tenang.


"Bang! Kami kemari dengan tujuan meminta akta surat cerai Kak Liana!" kata Genta memulai pembicaraan.


"Untuk apa?"


Untuk apa katanya? Untuk apa? Untuk menyumpal mulutmu yang beracun dan penuh bisa!


Kesal aku dibuat Irsyad.


Pria ini makin kesini makin menjadi tingkahnya. Sepertinya sifat baiknya telah pupus setelah perjanjian bersekutu dengan setan jadi pilihannya. Ck ck ck...


Genta berusaha menenangkanku yang mulai kembali naik darah.


"Aku minta lima puluh jutaku, baru surat ceraimu keberikan!"


"Apa? Kau sekarang memerasku? Ya Allah ya Karim! Kamu ini sinting ya? Kamu sadar gak sih pada apa yang kau lakukan padaku? Kamu sama sekali tidak punya malu apalagi perasaan bersalah padaku!"


"Kenapa aku harus malu dan merasa bersalah padamu? Hah?"


Ya Allah ya Tuhanku! Siapa pria biadab dihadapanku ini? Inikah pria yang dulu begitu manis membuatku mau menikah dengannya bahkan sampai sepuluh tahun?


Aku gemas sekali melihat tingkah konyolnya yang menyebalkan. Irsyad benar-benar bukan Irsyad yang kukenal dahulu. Ia sudah berbeda.


"Bang!"


"Hei! Kakakmu ini sekarang banyak uang! Dia jual diri kepada Om-Om ! Apa kau tahu, Genta!"


"Astaghfirullahal'adziim! Bang! Istighfar, Bang! Abang yang menceraikan kakakku. Tapi abang pula yang merusak nama baiknya padahal kakakku tak pernah sekalipun menyerangmu meski kenyataannya kau-lah yang salah!"


Aku terkejut. Kali ini Genta terpancing amarah.


"Atau jangan-jangan kau-lah mucikari kakakmu, Genta?"


Kata-kata Irsyad semakin membabi buta. Aku berdiri dari kursi kayu panjang. Bersiap pada kemungkinan untuk menerjangnya. Memukul wajahnya bila perlu karena bara api yang keluar terus dari corong mulutnya.

__ADS_1


Genta menahan dengan memegangi tanganku.


"Abang sudah menceraikan Kak Liana. Surat talak ceraipun sudah keluar setelah aku membayar uang pengurusannya!"


"Genta?" Aku terkejut baru tahu kalau biaya untuk mengurus surat cerai di pengadilan itu dikeluarkan Genta.


"Kenapa jadi diungkit? Bukankah kau yang ingin aku mengurus surat cerai supaya kakakmu dengan bangga mengakui diri sebagai janda di khalayak umum?"


Plak


Tanganku panas melayang bebas diatas pipi kirinya yang berkulit tebal.


Tapi tangan besarnya juga seperti siap melayang ke pipiku. Ia membalasku.


Namun,


"Jangan kasar sama perempuan!"


Mas Jonathan?


"Siapa kau, selalu ikut campur urusanku dengan Liana?"


Irsyad seperti mengenali pria tampan yang kini ada disampingku.


"Aku? Mau kenalan denganku? Kenalkan, namaku Jonathan Harvest. Aku adalah teman dekat Liana. Lebih tepatnya, calon suaminya. Kamu sendiri siapa? Mantan tukang kebunnya? Atau... Benalu yang selalu mengintil dan mengekor sampai jadi tumbuhan besar yang bagus dan merasa punya harga tinggi?"


Aku senang dan bersorak dalam hati.


Kerennya bahasa calon suamiku ini!


"Kau..."


"Ingat, Boss! Bagaimana dulu kau menyakiti Liana dan menginjak-injak harga dirinya? Juga bagaimana caramu memperoleh uang penghasilan hingga kini kau sedang berurusan dengan pihak berwajib terkait usaha bersama judi online-mu yang meresahkan? Hm... Kurasa banyak bukti yang tak perlu kubeberkan karena sebentar lagi kau akan terkenal dan masuk televisi dengan seragam warna oranye bersama delapan bestie-mu. Ingat! Satu bestie-mu sudah menikmati hotel prodeo dan kini sedang di interogasi pihak kepolisian."


Kulihat wajah Irsyad pucat. Bahkan kurasa ia lebih pantas begitu bagaikan mayat. Karena telah berubah seperti zombie yang tak lagi tahu mana kawan mana lawan.

__ADS_1


"Istrimu ada di ruang inap kamar Melati 2A, bukan? Dia pendarahan hebat dan kalian sedang kebingungan harus memilih dikuret atau lanjut kehamilan dengan resiko bayi lahir dalam keadaan cacat nantinya. Kau butuh uang, Irsyad?"


Boom


Kata-kata Mas Jo semakin membuat bunga-bunga dihatiku bermekaran. Dia sangat hebat bermanuver kata-kata. Seharusnya Arjuna-ku itu jadi pengacara handal yang bisa menjedorkan semua lawannya di pengadilan.


Irsyad tertegun.


Matanya memerah, bibirnya bergetar.


"Jangan jadi orang jahat, jika tak mau hidupmu melarat! Jangan kira Allah tidur dan bisa kau bodohi dengan tingkah laku yang tidak manusiawi!"


Kini airmata pria bajingan itu luruh satu persatu.


"Irsyad! Hidupmu masih diberi kenikmatan. Kau, punya istri...yang mendampingimu dengan segala keadaanmu kini. Liana sudah kau lepas demi perempuan yang jadi istrimu itu. Lalu untuk apa lagi kau menahan surat cerai Liana bahkan kini lebih menyakiti hati serta perasaannya?"


Aku menoleh ke arah lain. Emosiku campur aduk. Perkataan demi perkataan Mas Jo membuatku ikut terhanyut hingga jatuh air mata ini.


"Liana berhak bahagia. Walaupun kau sudah melepasnya. Karena itu adalah pilihanmu, bukan? Apalagi yang kau inginkan? Jangan jadi manusia serakah!"


"Aku..., aku akan menceraikan Katliya, Liana! Aku..., aku mengaku bersalah. Hik hik hiks..."


Ya Tuhan, manusia ini! Setelah terbuka semua kartu dan kebodohan yang ia lakukan padaku, baru ia mengaku bersalah? Hei, manusia gila. Kenapa baru sekarang mengaku salah? Dan kau bilang, akan menceraikan Katliya setelah perempuan itu kini terbaring lemah tanpa daya dan divonis dokter harus memilih nyawanya atau anak dalam kandungannya.


Aku tersenyum sinis menatap wajah Irsyad.


Bersyukur sekali akhirnya ia menceraikanku padahal waktu itu aku bersikukuh ingin mempertahankannya sampai kapanpun karena tak ingin kisah perceraian yang dialami orangtuaku juga turut kualami.


Ya Tuhan Yang Maha Kuasa! Tolong hapuskan airmata kesedihan ini dan angkat penderitaannya! Aku... Aku lelah menghadapi si biadab Irsyad hingga...


"Liana! Liana!!!"


Aku jatuh pingsan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2