
Aku bersyukur, Talitha ikut Airlangga. Karena tidak lama kemudian, rasa sakit di perutku kembali terasa.
Kali ini lumayan hebat kontraksi yang putriku berikan. Sepertinya si cantik sudah mulai tidak sabar untuk melihat indahnya dunia.
"Hik hik hiks..."
"Sayang...! Sayangku, Liana?! Kita on the way rumah sakit ya? Biar kamu lebih tenang disana. Atau..., bagaimana kalau langsung jadwalkan masuk ruang operasi saja dengan dokter Karin? Biar rasa sakitnya bisa diminimalisir! Bagaimana?"
Aku menggeleng cepat.
"Ga mau operasi, Mas! Aku mau melahirkan normal. Memang sakit. Tapi kata orang lebih cepat pemulihannya ketimbang melahirkan Caesar! Kamu harusnya kasih semangat aku, bukannya matahin kemauanku untuk melahirkan normal!"
"Oke, oke. Maaf ya Sayang, maaf please..."
Suamiku terlihat tegang dan tertekan melihat aku yang mondar-mandir seperti setrikaan.
Aku masih belum mau untuk pergi ke rumah sakit.
Masih terngiang ucapan Dokter Karin tentang prediksi waktuku untuk melahirkan. Kemungkinan besok pagi.
Jadi kalau aku pergi ke dokter sekarang, otomatis lama juga untuk menunggu saat-saat tiba waktunya melahirkan.
Kupikir, lebih baik menunggu di rumah sendiri daripada di rumah sakit. Waktu pasti berjalan teramat lambat jika aku menunggu di ruang inap rumah sakit yang bersekat.
Lebih enak di rumah. Ada keluarga yang mendampingi. Ada support dari semua penghuni rumah termasuk Mama Mertua dan Adik Ipar.
Pukul enam tepat azan Maghrib, perutku semakin sakit.
Rasanya seperti cucian yang diperas. Bahkan kali ini jarak rasa sakitnya menjadi lebih cepat hingga keringat dingin sekujur tubuh membasahi tubuh.
"Sayang, kerumah sakit yuk?" ajak Mama penuh kelembutan.
"Ma, bukannya dokter Karin bilang kemungkinan lahiran besok pagi ya?" jawabku ditengah-tengah ringisan kesakitan.
"Dokter juga manusia, Sayang! Ada kalanya prediksi dokter meleset. Lagipula, Dokter Karin bilangnya kemungkinan besar, kemungkinan. Allah Yang Maha Berkehendak. Allah Pengatur Hidup semua ummat ciptaan-Nya. Yuk ke dokter? Gege khawatir melihatmu seperti ini. Setidaknya, kalau di rumah sakit ada dokter yang stand by bersiap melakukan yang terbaik!"
Aku meringis lagi sambil melirik mas Jonathan yang sedari tadi hanya terdengar menghela nafas.
Aku memang perempuan yang keras kepala. Suamiku sudah memahami karakter diriku yang buruk itu.
Maaf, Mas... Maafkan istrimu yang terkesan egois tidak mau menuruti perkataanmu. Jujur, aku takut di rumah sakit. Makhluk halusnya banyak. Wajahnya juga beraneka ragam. Bahkan ada yang tubuhnya bau hanyir alias amis yang bikin perutku mual. Belum lagi kadang mereka iseng, jahil dan suka sekali mendekat. Aku khawatir sekali disaat tubuh dan kesadaran diri sedang kurang baik, ada makhluk jahat yang bisa menguasai tubuh ini. Itu yang aku takutkan, Mas! Sungguh!
Tapi..., semakin lama rasa sakit semakin tak terkendali.
Aku mengangguk.
Melenggang perlahan dituntun Mama Tiur dan Citra masuk ke dalam mobil. Selepas sholat Isya, kami berempat berangkat. Disusul Jordan dan Genta di mobil yang lain.
Semua tegang melihat wajahku yang bersimbah peluh.
Suamiku juga sesekali melirik wajahku di kaca spion sembari bibirnya tak henti mendawamkan doa-doa kalam Illahi.
Aku sendiri melakukan hal yang sama.
Hanya Allah tempat meminta.
Kumohon kebaikan-Nya untuk memudahkan proses kelahiran putri pertama kami. Dilancarkan serta dijauhkan dari hal-hal yang negatif. Itu doaku.
Di mobil aku sempat tertidur sejenak. Citra yang dan Mama Tiur yang mengapitku duduk di jok belakang awalnya kaget melihatku terkulai. Tapi Mama yang jauh lebih berpengalaman melahirkan dua anak, mengatakan kalau aku tertidur.
Mas Jo sendiri sempat panik sampai membawa kendaraan dengan kecepatan tinggi.
Mama mengingatkan untuk hati-hati menjalankan mobilnya.
Tangisku meledak. Panik, takut bercampur dengan rasa sakit diperut yang kian menjadi.
Cairan ketubanku tiba-tiba pecah membasahi pakaian bagian belakang. Bahkan sampai tembus ke jok mobil Mas Jonathan.
"Aduuuh, astaghfirullaaah, ya Allah! Ya Allah, sakiiit! Aduuuh!"
Sontak wajah Mas Jonathan pucat pias sambil mengencangkan doanya.
__ADS_1
"Yang, sabar ya Yang! Ini macet di depan ini! Aduuuh!"
Citra menoleh ke wajah Mama.
"Bu, rembes dari bagian bawah Kak Liana!" kata Citra pelan.
"Iya. Cairan ketuban sudah pecah!" timpal Mama dengan wajah mulai pucat.
"Sayang, sebentar ya Sayang!"
Tin tin tiiin
Tin tin tiiin
"Woooi!!! Jalan coba!!? Istriku mau melahirkan ini!!!"
Tin tin tiiiin
Tin tin tiiiin
"Mas, sabar Mas! Hik hik hiks..."
"Jo, istighfar!!! Jangan bikin situasi tambah panik. Itu di depan sedang lampu merah! Sabar, sabar!"
Mas Jonathan menoleh ke belakang. Ia berusaha menggapai jemariku yang terkulai.
Berkali-kali dikecupnya tangan ini sambil berdawam kalimah doa.
Mobil kembali berjalan. Hingga akhirnya kami sampai setelah melalui drama.
"Suster, tolong istri saya!" teriak suamiku sambil menarik kereta dorong yang tersedia di samping pintu IGD.
Dua orang suster perawat dengan sigap membantuku. Tapi Mas Jonathan jauh lebih sigap karena tangan kekarnya langsung meraih pinggulku dan menaruhku pelan di atas kereta dorong.
"Cepat, Suster! Istriku mau melahirkan!"
"Dengan dokter siapa, Pak?"
"Baik, Pak!"
Suasana makin memanas karena ternyata Dokter Karin masih di perjalanan. Terjebak macet sama seperti kami tadi.
"Ya Allah Gusti!!!" pekik Mas Jonathan mulai panik setengah depresi.
"Tahan ya bu Liana! Jangan dulu mengejan ya, sampai dokter Karin tiba!" kata seorang suster perawat.
"Orang mau melahirkan koq disuruh tahan! Gimana suster ini!? Apa tidak bisa ditolong dokter kandungan lain yang stand by di rumah sakit ini?" sentak Mama Tiur.
Jujur, saat ini aku sama sekali blenk. Otakku tak mampu berfikir. Hanya bisa menahan rasa nyeri yang begitu hebat hingga air mata dan rintihan sudah tak lagi kuhiraukan.
Sayup-sayup mataku melihat wajah Mama, Papa...
Mama..., Mama! Maafkan Liana, Ma! Maaf karena pernah jadi anak durhaka dan menyalahkan sepenuhnya kepahitan hidup Liana pada Mama. Ternyata, melahirkan bukanlah hal yang mudah. Kini Allah memberi Liana kesempatan merasakan sakitnya jadi seorang Ibu. Melahirkan memang benar-benar mempertaruhkan jiwa dan raga.
Papa... Maafkan semua kesalahan Liana, Pa! Maaf. Liana pernah tidak pedulikan Papa karena memendam rasa benci. Liana pernah sangat kecewa pada Papa yang telah gagal sebagai kepala keluarga, yang harusnya bisa mengayomi anak istri hingga tak tercerai berai. Maaf, Pa! Kini Liana sudah dewasa. Bahkan kini merasakan jadi seorang Ibu yang pastinya ingin yang terbaik untuk anaknya.
Maafkan Liana, Ma, Pa!
Tiba-tiba sosok Talitha datang memelukku sambil menangis.
"Nyai, Nyai, Nyai Ratu! Hik hik hiks..."
Aku hanya bisa memejamkan mata sambil meringis menahan sakit yang kian mendera.
Air mata terus menetes.
Di dunia nyata suamiku, Mama Tiur masih mencoba membantu dengan doa sambil terus mengelus-elus punggungku yang terbaring miring.
Seorang dokter kandungan yang lain datang memeriksa keadaanku.
"Sabar ya, Bu! Sudah pembukaan lima. InshaAllah persalinan akan lancar. Ibu Liana dibantu cairan infusan ya Pak!?"
__ADS_1
"Iya. Lakukan saja yang terbaik untuk istri saya!"
"Baik, Pa! Semangat ya, dede bayinya akan lahir sebentar lagi!"
Sementara aku masih menahan sakit. Ditambah Talitha yang menangis dan menubruk perutku serta. Sampai tiba-tiba Wak Hardi mengangkat tubuh mungil itu perlahan membuatku terbelalak.
"Wak? Wak Hardi?" gumamku tanpa sadar.
"Ya Allah, Liana! Wak Hardi sudah meninggal dunia! Kumohon jangan melihat hal-hal yang aneh, Sayang! Fokus pada kelahiran bayi kita!" pekik suamiku semakin panik.
"Liana! Semangat, ya!? Wak hanya memantaumu saja! Anak ini mengganggu proses persalinanmu dengan caranya!"
"Talitha! Talitha kenapa kamu menangis?Bukankah kamu sudah Kak Angga bawa pulang menemui Ayah dan Bundamu? Harusnya kamu senang bertemu mereka!"
"Hik hik hiks... Nyai Ratu!"
Tangis Talitha pecah didepanku. Ia ingin memelukku tapi Wak Hardi menahan tubuhnya.
"Ternyata Bunda orang jahat, Nyai! Bunda menjual Talitha tujuh puluh juta untuk jadi tumbal jembatan layang! Bunda hanya bohong kalau Bunda sayang Talitha! Hik hik hiks..."
Aku merasa kasihan sekali pada gadis cilik itu. Kucoba gapai jemarinya agar bisa kusalurkan kasih sayang supaya Talitha tegar.
"Jangan, Liana! Jangan sentuh dia!" suara Wak Hardi menyadarkanku.
"Kita beda alam. Kau dalam keadaan setengah sadar dan sudah separuh memasuki alam kami. Ingat putrimu yang ada dalam kandungan! Sebentar lagi ia akan lahir! Kalau kau memegang tangan gadis cilik ini dengan alasan kasihan, harusnya kau juga lebih kasihan pada anakmu sendiri! Kalau kau memilih tinggal bersama kami, anakmu akan menjadi piatu!"
"Astaghfirullahal'adziiim... Astaghfirullahal'adziiim... Ya Allah ya Rohman ya Rohim ya Karim... Astaghfirullahal'adziiim..."
Seketika aku tersadar dan menyebut kalimat istighfar.
Ya Allah, tolong aku ya Allah! Aku tidak ingin meninggalkan putriku. Tidak, ya Allah! Walaupun dia akan dikelilingi kasih sayang berlimpah, tapi aku masih ingin hidup lebih lama. Aku ingin melihatnya tumbuh besar, dewasa dan bahagia. Aku ingin mengurusnya dengan baik dan benar. Aku ingin menjadi Mama yang selalu bisa putriku andalkan. Ya Allah ya Tuhan, panjangkanlah umur kami!
Aku yang sempat tersekat seketika tersadar. Wajah Mas Jonathan begitu dekat dihadapan. Air matanya turut menetes meski berkali-kali ia susut.
"Liana, please... Liana! Kamu kuat, kamu kuat! Ayo Sayang, kamu adalah wanita yang tangguh yang selama ini selalu kukagumi kekuatanmu menjalani hidup. Ayo Sayang! Bangkitlah! Astaghfirullahal'adziiim... Laa ilaaha illallah Muhammadarrosulullah!"
Tangannya basah keringat.
"Mas,..."
"Ya Sayang? Ya... panggil aku terus seperti itu! Lagi, Sayang! Lagi... Hik hiks..."
"Mas..."
"Ya. Liana, jangan tinggalkan aku! Jangan pernah pergi dariku! Hik hik hiks... Anak kita akan lahir, istighfar Sayang!"
"Astaghfirullahal'adziiim..."
"Kakak, minum dulu! Baca bismillah tiga kali!"
Airlangga tiba-tiba menerobos masuk ruang isolasi persalinan sembari menyodorkan sebotol air mineral padaku.
Suamiku membantu dengan meluruskan sedotan plastik yang sudah ada di dalam botol air.
"Bismillahirrohmanirrohiim... Bismillahirrohmanirrohiim... Bismillahirrohmanirrohiim..."
"Ibu Liana Wulandari, Saya periksa ya? Mohon maaf, pasien hanya boleh ditunggui seorang saja ya!? Maaf..."
Dokter Karin sudah datang. Hatiku kini jauh lebih tenang.
"Sayang, Mama bantu doa di luar ya, Sayang? Semangat!" bisik Mama Tiur membuatku tersenyum dan mengerjapkan mata.
Dokter Karin langsung memeriksa bagian vitalku dan mengatakan, "Waaah, keren ibu cantik ini! Pembukaan sempurna. Adek bayi siap launching. Suster, mohon bantuannya siapkan semua alat!"
"Siap, Dokter!"
Aku bersiap menyambut status baruku, sebagai seorang Ibu dan juga Istri.
Bismillah... Semoga aku menjadi Ibu yang baik untuk anakku dan juga Istri yang sempurna bagi suamiku. Aamiin...
BERSAMBUNG
__ADS_1