DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 43 - MAKIN GALAU


__ADS_3

Ini bulan kedua aku melewati hari sebagai seorang janda.


Hidupku berubah, begitu juga warnanya. Tak lagi suram dan gelap seperti sebulan yang lalu.


Mas Jonathan memang benar-benar pria idaman bagi para gadis.


Selain dia tampan, kaya juga religius, 'pacar'ku itu orang yang loyal dan sangat boros demi membahagiakan orang yang disayangnya. Aku salah satunya.


Setelah memberiku fasilitas alat-alat olah raga di rumah besarnya dan menjamin seluruh biaya hidupku serta Genta adikku, dia juga menghadiahiku sepetak tanah di wilayah barat tempat tinggalnya.


Tanah seluas 500 meter, kini sedang diurus sertifikat kepemilikannya akan menjadi hakku karena nama yang tertera adalah namaku.


Sungguh makin membuatku besar kepala atas semua kasih sayang cinta dan harta yang ia limpahkan.


"Mas... Ini terlalu berlebihan!" kataku merasa tak enak hati.


"Jangan bilang begitu, Liana! Aku justru selalu menahan diri untuk tidak membelikanmu pakaian, make up atau pergi jalan-jalan layaknya pasangan lain. Aku faham dirimu, yang lebih suka menyimpan uang dan dipakai untuk keperluan yang lebih krusial."


Aku hanya bisa menatapnya. Ada rasa malu, tak enak hati, juga rasa senang.


Seumur-umur aku hidup, ada seseorang yang begitu mencintai dan menghargaiku. Membuaiku dengan kenyamanan demi kenyamanan. Itu membuatku kikuk hingga takut sekali jika melakukan kesalahan.


Aku masih jahat padanya, karena tidak jujur soal pertemananku dengan lawan jenis.


Pernah memang, aku memberi pertanyaan standar apakah aku boleh berteman dengan lawan jenis?


"Kamu tentu saja boleh berteman, Liana! Dengan siapa saja baik perempuan maupun laki-laki. Asalkan teman yang baik, bukan teman yang suka makan teman. Teman yang saling mengingatkan jika salah satu diantaranya melakukan kesalahan. Teman support yang tidak mendikte atau membuatmu jadi kehilangan jati diri, itu harus kamu hindarkan!"


Itu jawaban supernya kala itu.


Aku, berteman murni dengan Jordan. Obrolan kami pun tidak nyeleneh walaupun kadang ada candaan juga.


Jordan memang sering memberiku kode-kode kalau ia suka padaku dan itu sangat jelas meski lewat suara ataupun chattan saja.


Tapi..., aku menghela nafas. Gegana dengan diriku sendiri.


Tok tok tok


Genta ternyata yang menyambangiku selepas sholat Maghrib. Wajahnya tampak datar dan terlihat kesal.


"Ada apa? Apa kamu buat masalah lagi?" tebakku. Karena biasanya Genta akan seperti itu jika sedang memiliki problematika.

__ADS_1


"Pinjam hapemu, Kak!" katanya singkat.


"Buat apa? Kamu khan sudah punya hape?"


"Aku mau hubungi bang Irsyad!"


Jawaban Genta membuatku terdiam dan menyerahkan handphoneku padanya. Aku memang masih menyimpan nomor Irsyad meski memblok-nya.


"Kenapa tidak pakai nomor pribadimu saja?" tanyaku.


"Aku tidak mau berurusan lagi dengan dia! Kau tahu, Kak? Kabarnya dia sedang dalam pengawasan pihak kepolisian karena usaha judi onlinenya terendus!"


"Usaha judi online? Sejak kapan? Khan dia meneruskan usaha jual beli online-ku bersama gundiknya itu?"


"Kamu itu bodoh. Terlalu cuek sehingga bisa dia kadali. Dia ikutan jadi salah satu pelopor di aplikasi judi online bersama sepuluh temannya. Mereka bahkan memiliki kantor trading."


"Kenapa baru kau bilang sekarang, Genta? Seandainya kau bilang dari sebelum kami cerai, mungkin semuanya tidak akan jadi begini!" bentakku pada adik semata wayangku.


"Aku terjebak Bang Irsyad! Awalnya, cuma iseng-iseng tergoda ceritanya soal judi online yang bisa melipat-gandakan uang banyak dalam sekejap. Aku, saat itu sedang giat cari uang modal buat usaha sendiri."


"Tapi bukan dengan judi! Tak ada orang yang kaya mendadak karena judi, lotre dan undian berhadiah. Mau kaya, banyak uang, itu harus kerja! Kau bilang aku bodoh, tapi kau jauh lebih bodoh dan tolol!" makiku begitu puas pada Genta.


"Untuk apa?"


"Untuk mengurus surat ceraimu! Dia bilang, dia tidak akan memberimu surat cerai kecuali kakak yang datang memintanya sendiri!"


Aku tersentak. Bola mataku membulat dan jantungku berdetak keras saking emosinya.


"Kapan kamu ketemu dia, Genta?"


"Tadi siang, di foodcourt Atrium ketika mengirim barang ke Senen!"


Aku menelan saliva. Mendengus dan menggelengkan kepala.


"Orang gila itu benar-benar ya?! Apa susahnya mengirimkan akta surat cerai ke alamat pabrik ini kalau memang sudah keluar. Toh dia bisa cepat mengurus pernikahannya dengan si Katliya di Kantor Urusan Agama. Dasar bajingan!!!"


Aku berang mengingat-ingat kembali kata-kata terakhirnya di gedung tempat seminar Mas Jonathan kala itu.


Dia sepertinya benar-benar kebakaran jenggot melihatku bisa hidup tanpa dia. Benar kata Jordan, dia itu sedang kesal karena melihatku berubah dan berbeda jadi lebih baik tanpa dirinya. Dan sekarang, dia sepertinya ingin memanfaatkanku lagi dengan menahan akta surai ceraiku.


"Genta! Kita harus bagaimana?"

__ADS_1


"Minta bantuan hukum lewat pengacara Boss Gege, Kak!"


"Jangan! Aku tak mau Mas Jonathan terlibat dengan si bangsat Irsyad! Jangan bilang padanya, Genta! Kita ini suah terlalu banyak mendapatkan kemudahan berkat kebaikannya!"


"Untuk itu, jadilah wanita yang baik Kak!"


"Maksudmu, apa?"


"Kenapa masih sering teleponan setiap malam dengan pria lain?"


Aku tercekat. Genta lagi-lagi membahas itu.


"Kamu menguping?"


"Bagaimana mungkin aku tidak degdegan setiap kamu teleponan? Aku khawatir Boss Gege memergokimu sedang tertawa-tawa menelpon lelaki lain!"


"Sudah kubilang Jordan hanyalah temanku, Genta!"


"Ya ampun! Teman lelaki? Menelpon setiap malam? Hellow...! Aku ini juga lelaki, Kak! Aku tahu mana yang berteman dan mana yang punya perasaan. Dan kurasa kau pun sebenarnya mengetahui tapi hanya pura-pura tidak tahu."


"Genta! Aku..., aku belum bisa memutuskan pertemananku dengan Jordan. Dia teman yang baik. Kami saling support dan mendukung kebaikan satu sama lain!"


"Apa kamu jujur sama pria itu kalau sedang PDKT dengan Boss Gege? Tidak khan? Kau hanya ingin menikmati kenyamanan dari kebersamaan kalian yang seharusnya dihentikan!"


Genta benar. Ucapan Genta 100 % benar.


"Kakak! Ayo kita bereskan masalah satu persatu! Jangan menggantung terus seperti ini! Kau, masih menggantung statusmu dengan Boss Gege! Kau juga menggantung temanmu itu dengan alasan pertemanan. Jangan sampai kau menyesal dikemudian hari, Kak!"


Aku menunduk. Hatiku terasa sakit, juga sedih. Tapi aku enggan mengobatinya dengan guyuran obat betadine karena menganggap akan lebih sakit. Padahal itu lebih baik karena luka jadi cepat sembuh. Itulah ibarat hatiku kini.


Aku tak mau memutuskan tali pertemananku dengan Jordan dan jujur mengatakan kalau saat ini aku sedang ada hubungan spesial dengan atasanku.


Aku merasa...dulu aku jahat pada Jordan. Aku sering membullynya. Mencemooh penampilannya yang gendut, cupu dan aneh.


Jika sekarang aku mengatakan kalau sedang menjalin kasih dengan pria lain, itu sama artinya aku kembali membuatnya kecewa. Aku lagi-lagi akan menyakitinya. Itu pemikiranku.


Lalu kalau aku tetap memberi Jordan ruang dan waktu untuk intens meneleponku setiap malam, aku jadi sangat jahat pada Mas Jonathan.


Ya Tuhan... Tolonglah aku dari kegalauan ini!


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2