
Padahal ini adalah pernikahanku yang kedua. Tetapi rasanya seperti baru pertama kali bagiku.
Perutku mulas sekali setelah berbuka puasa. Sempat panic attack hingga menangis takut kalau-kalau pernikahanku ini akan gagal dan membuat malu keluarga.
Tetapi Wak Wati, Mamaku serta Mama Tiur memberiku sugesti kalau aku hanya terlalu panik sampai jadi stres sendiri.
Mereka tidak tahu, kalau Wak Hardi sempat mewanti-wantiku untuk lebih berhati-hati.
Tetapi aku tetaplah manusia biasa. Yang memiliki jiwa rapuh karena pernah mengalami sakit hati hingga ketakutan berlebihan.
Sholat Maghribku agak sedikit lebih cepat. Selain perut sakit, dada juga terasa sesak.
Wak Hardi meminta Jonathan untuk tetap hati-hati. Karena kemungkinan besar, serangan gaib akan datang juga padanya selain mencoba menyakiti diriku.
Pukul delapan malam, perutku semakin sakit tak tertahankan.
Belum lagi diluar pun cuaca sangat mencemaskan. Ada angin besar hingga merobohkan satu tenda. Untungnya bukan tenda utama atau tenda pelaminan. Hanya tenda tambahan
Semua orang ikutan panik. Apalagi wajahku juga terlihat begitu pucat hingga...
__ADS_1
Darah segar muncrat dari mulut. Aku muntah darah seperti waktu itu di kediaman Katliya.
Jonathan berteriak histeris tetapi Wak segera menghandle kami semua untuk tetap tenang.
"Wak, apa tidak sebaiknya Liana dibawa ke rumah sakit?" kata Jordan ikut cemas.
"Duduklah. Kita berkumpul semua. Ada yang mau Wak sampaikan pada kalian juga!"
Mama Farida, Intan, Nadia, Wak Wati dan Mama Tiur mengapitku. Sementara Jonathan, Jordan, Genta juga Pak Saleh duduk menghadap Wak Hardi.
Citra sedang di depan gedung pabrik. Mengurus para pekerja MUA yang masih menghias pelaminan.
"Iya, Wak! Kami bertiga sudah terbiasa mengalami hal aneh sejak dahulu, Wak!" jawab Jonathan dengan suara pelan.
"Suami saya...sepertinya sakit pun bukan penyakit biasa, Pak Hardi!" tambah Mama Tiur dengan mata merebak dan basah.
"Saat ini pun..., kalian akan kembali diguncang. Kuatkan iman, mohon kekuatan pada Allah. Karena Allah-lah sebaik-baik tempat meminta. Bukan gunung, kuburan yang bisa menyelamatkan kita dunia akhirat!"
Kami semua menunduk.
__ADS_1
"Ada misteri Illahi yang kita sendiri tidak bisa menguaknya. Misteri itu tetap tidak akan terjawab dan tetap jadi misteri. Entah mungkin karena dosa serta kesalahan leluhur kita di masa lalu, wallahu a'lam...hingga kini kita harus menjalaninya."
Betul, Wak! Aku sendiri tidak tahu, apakah ini dosa kelalaian kedua orangtuaku hingga harus menanggung beban hidup derita seperti ini. Entah.
"Walau begitu, saling menyalahkan apalagi menyalahkan Tuhan adalah perbuatan yang teramat salah. Bisa jadi cobaan-cobaan ini Tuhan beri untuk meningkatkan kualitas hidup kita dimata Sang Pencipta. Harta, tahta, juga keindahan duniawi, semua hanya sebentar saja kita cicipi! Jadikan pelajaran bagi kita ke depannya, untuk berfikir seribu kali bersekutu dengan setan. Karena tujuh turunan kita yang juga berimbas jadi korban. Padahal niat awal pasti demi menjadikan anak keturunan bahagia dan tidak lagi dipandang rendah orang. Tetapi... Kadang setan sudah kadung menutup mata, telinga dan hati orang yang tersakiti! Hhh..."
Disinilah aku mulai mengerti.
Semua rentetan kejadian mengerikan dan memilukan berawal dari nenek moyang yang salah mengambil jalan. Wallahu. Tapi aku bisa menarik benang merahnya.
Perlahan dadaku lega. Nafas kembali lancar seiring Wak Hardi melantunkan surat An-Nas dan surat Al-Ikhlas terus menerus. Dan kami perlahan mengikutinya. Membaca ayat suci Al-Qur'an dengan suara pelan tapi jelas hingga semakin bergema di ruangan rumah besar keluarga Mas Jonathan.
Tiba-tiba petir menyambar. Dan hujan turun dengan derasnya. Perlahan hujan mereda. Sepertinya Allah telah menetralisir kembali bumi yang penuh noda juga dosa.
"Alhamdulillah! Malam ini kita bisa beristirahat. Besok subuh kembali bangun dan bersiap-siap! Ayo, kembali ke kamar masing-masing!"
"Terima kasih, Wak! Terima kasih banyak!" kata Mas Jo mewakili kami semua yang mulai tampak wajah lelahnya.
Malam ini, aku harus tidur. Besok kami ijab kabul. Semoga Allah meridhoi pernikahan ini. Aamiin...
__ADS_1
BERSAMBUNG