
Aku masuk kamar setelah pukul setengah sembilan malam. Makan malam dan berbincang bersama Boss Gege membuat fikiranku semakin terbuka akan kerasnya kehidupan.
Siapa bilang orang kaya tidak punya masalah karena banyak uang.
Tidak juga, ternyata.
Bahkan orang kaya pusingnya bukan lagi tujuh keliling. Mereka lebih pening bolak-balik memikirkan cara memutar cuan mereka menjadi lebih dan lebih lagi.
Belum lagi perusahaan kiri kanan yang selevel mengguncang sikut menyikut dalam urusan tender proyek mega besar.
Seperti tadi, ketika kami sedang bercengkerama. Handphone Boss Jo yang lebih familiar dipanggil Boss Gege berdering.
Dia mengangkatnya dan setelah agak lama melipir untuk menyambungkan panggilannya, Boss kembali dengan wajah sumringah.
"Alhamdulillah, tenderku kali ini berhasil! Ternyata dengan adanya kalian, membawa keberuntungan juga pada perusahaanku setelah beberapa bulan gagal terus melobi kerja sama dengan para perusahaan produsen!"
"Alhamdulillah!" tambah Citra membuat mataku berbinar senang dengar kabar berita baik itu.
"Liana, Genta! Kalian tinggal saja di rumahku ini! Tak usah tinggal di mess! Setidaknya Citra tidak akan sering-sering komplein karena takut tinggal sendirian! Aku percaya kalian berdua orang baik walaupun sedang dalam pelarian!"
"Terima kasih, Boss! Saya akan bekerja sebaik-baiknya. Mohon bimbingannya selalu!"
Genta memang pandai bermulut manis. Tapi aku pun meniru gayanya berterima kasih secara formal pada Boss Gege.
............
Pesan masuk dari Jordan Ardian di kotak pesan hapeku. Rupanya dia sudah menchat setengah jam lalu.
...Jordan, maaf aku baru masuk kamar dan pegang hape...
Seketika terlihat chat-ku langsung diread Jordan dan langsung dibalas emoji senyum.
Hm. Jordan. Kenapa kamu manis sekali? Persis cowok umur 17 tahun yang sedang PDKT. Upss, kege'eran banget aku hanya karena Jordan suka berteman denganku. Hiks! Sadar dirilah, Liana. Siapa dirimu, siapa Jordan. Berkacalah, cari cermin besar untukmu menatap dirimu sendiri yang banyak kekurangan. Kau bodoh, PENTIUM 1 kata Irsyad. Kau gendut, tubuhmu mirip babi potong. Dan sadarlah kau baru saja ditalak cerai suamimu! Jangan besar kepala dan langsung mengira Jordan suka padamu!
Seketika lemas tubuhku mengingat kembali kegetiran hidup.
__ADS_1
...Boleh aku vc?...
Aku termenung. Jordan ingin VC an denganku. Entah, kenapa aku merasa sangat tidak percaya diri. Apalagi mengingat tubuh ini yang bulat bagaikan bola.
Kenapa dia suka melihat diriku secara langsung? Apakah untuk menyenangkan hatinya karena kini tubuhku bulat seperti dirinya dimasa kecil dulu? Apakah Ia merasa ada kepuasan tersendiri setelah bisa melihat takdir buruk seolah berbalik padaku?
...Liana? Kenapa tak menjawab? Liana? Aku... Aku suka mengobrol secara langsung denganmu. Kamu tahu? Aku...selalu memimpikan bisa berteman dan akrab sejak kita kecil dulu. Tidak ada maksud lain, sungguh aku senang berteman denganmu. Aku... Tidak punya teman selain Mami dan Gege-ku. Sekarang Kakakku juga sepertinya sibuk dan benci aku juga. Jadi..., temanku hanya kanvas, kuas dan cat minyak seperti kata Mami....
Chat Jordan sangat panjang.
Sampai tanpa sadar lelehan airmataku terasa hangat di pipi.
Sendirian itu sangat menyakitkan ya, Jordan?!
Tiada salah jika aku merespon pertemanan dengan Jordan. Tidak ada niat jahat diantara kami. Aku juga merasa ketulusan Jordan yang ingin berteman denganku. Apa salahnya jika kami mendekat akrab satu sama lain? Toh hanya berteman. Hanya saling support satu sama lain. Tuhan tidak akan marah pastinya khan?
Aku yang berinisiatif menelponnya duluan.
"Hallo, Jordan? Assalamualaikum!"
Aku tertegun mendengar suara lembut Jordan.
Seperti mendapat siraman embun pagi yang menyejukkan hati.
Suara Jordan mengalahkan lantunan indah penyanyi kesukaanku.
"Aku baik-baik saja, Jordan! Sudah makan koq, kamu juga sudah makan belum? Bagaimana harimu hari ini? Moga sedang bahagia!"
...[Hehehe... Aku bahagia, kamu merespon pertemananku. Aku baru makan. Sengaja makan cepat setelah sholat Isya, biar bisa mengobrol lama sama kamu! Boleh khan?]...
Kenapa Jordan membuat dadaku berdebar-debar?
Seperti ada sekumpulan kupu-kupu menggelitiki ruang kosong di hati ini.
Ada apa? Mengapa jadi seperti ini? Apa karena perhatian Jordan yang terkesan lebay dan berlebihan padaku? Sehingga aku jadi merasa begitu senang ia istimewakan?
__ADS_1
...[Liana? Hallo, Liana?]...
"Ya Jordan. Tentu saja. Hanya...aku sedang berfikir kalau ini seperti mimpi. Kamu, terlihat membuatku takut jadi ge'er. Aku ini apalah sekarang. Sementara kamu, pria tampan, kaya raya, tapi baik hati dan tidak sombong dan mau berteman sampai segitunya sama aku. Aku takut kamu hanya permainkan aku. Hehehe...! Jahatnya aku su'udzon sama kamu! Maaf, Jordan!"
...[Aku rasa penilaianmu padaku tidak salah, Liana! Kita baru bertemu lagi setelah dua puluh tahun tidak ketemu. Wajar saja kalau kamu punya fikiran buruk tentang aku. Tapi, apakah aku pantas jadi orang jahat sedangkan kakiku ini cacat dan tidak seperti pria lain yang gagah perkasa di luar sana. Aku tidak punya apa-apa. Aku miskin dan melarat karena tak punya harta. Semua adalah milik orangtuaku dan juga kerja keras Kakakku, Liana!]...
Lagi-lagi aku tertegun. Lelehan ini terus menetes. Betapa aku bisa merasakan kesedihan Jordan sampai masuk ke sanubari.
Jadi orang yang tidak sempurna seperti orang lain di luar sana memanglah tidak menyenangkan. Terlebih mendapatkan kebencian dari seseorang membuat hati kita sedih dan sakit bukan kepalang.
Aku kini berada di fase itu, Jordan!
Aku... Bisa merasakan perasaannya. Betapa hidup dalam kungkungan kesedihan, ketidak percayaan diri karena merasa punya kekurangan dan kelemahan itu sangatlah tidak enak. Malu dan takut bergaul. Tak berani membuka diri untuk memulai pertemanan dengan banyak orang. Aku saat ini sedang merasa seperti itu.
"Kamu pria baik hati. Hebat, bisa menjaga kestabilan hidup serta kewarasan jiwa sampai saat ini, Jordan! Aku...ingin sekali belajar banyak sama kamu!"
...[Hahaha belajar apa, Liana? Matematika? Bahasa Indonesia? Itu semua pelajaran yang nilainya pas-pasan! Hehehe...]...
Tawa renyah Jordan bagaikan virus yang menular. Aku ikut terkekeh mendengar gurauannya. Agak receh memang, tapi aku suka. Aku suka mendengar Jordan bercanda dan tertawa. Aku suka kalau pria tampan yang sekarang sedang menelponku itu seperti sedang memepet cari perhatian.
Tok tok tok
"Liana! Bisakah kita mengobrol? Aku... belum bisa tidur!" Terdengar suara Boss Gege memanggil di depan pintu kamarku.
"Iya, Boss! Sebentar!"
...[Siapa itu, Liana?]...
"Maaf, Jordan! Boss-ku memanggil! Aku tutup dulu ya teleponnya!"
...[Hei, ini sudah mau jam sembilan malam! Mau apa Boss-mu memanggilmu malam-malam begini? Kamu khan baru besok bekerja? Liana...]...
Klik.
Maaf, Jordan. Panggilan teleponmu kumatikan dahulu.
__ADS_1
BERSAMBUNG