
"Assalamualaikum, selamat pagi, Sayang!"
"Wa waalaikum salam..."
Memerah wajah Liana mendapati kunjungan dipukul enam pagi di kamar opname nya.
Jonathan seperti biasa. Merawat istrinya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan walaupun kini keadaan mereka tidak seperti dahulu.
Liana menundukkan kepalanya. Ia masih terlihat kikuk meski kini telah mengetahui kalau pria tampan yang ada di hadapannya itu adalah suaminya.
Semalam Genta yang menemaninya tidur dan bercerita panjang lebar tentang kisah hidupnya setelah Irsyad melakukan hal gila.
Bahkan Liana masih merasakan kantung matanya yang bengkak karena semalaman menangisi kisah hidupnya yang tragis selama beberapa tahun ke belakang.
Semalam Liana bahkan juga menghardik Airlangga yang mencoba mengunjungi dan mengajaknya bicara.
Liana masih mengingat kesedihan di masa lalunya karena sang Papa yang menikah lagi dengan Mamanya Airlangga.
Padahal masa-masa menyakitkan itu sudah hilang dari ingatannya berganti rasa syukur tiada terhingga karena memiliki keluarga yang solid dari Mama yang berbeda.
Liana berusaha memahami masa transisi ingatannya yang telah hilang separuh.
Kedua mata mereka saling bertemu pandang.
Jonathan langsung menunduk merasakan debaran jantungnya yang berdegup kencang.
Ya Allah... Kenapa perasaanku jadi tak karuan seperti ini. Gumam hati kecilnya.
Sementara Liana tak kalah gugup dan juga bergetar hati melihat dua bola mata Jonathan yang coklat pekat.
Ada riak gelombang yang membuat hatinya penasaran saat melihat.
Liana kembali curi-curi pandang Jonathan yang pura-pura sibuk menyiapkan campuran air panas dari termos ke dalam bejana aluminium yang sudah berisi setengah air bersih dari kran di wastafel kamar mandi.
"Sayang,... maaf... Aku, aku ingin melap tubuhmu!" kata Jonathan dengan suara terbata-bata.
Ya Tuhan! Kenapa Aku gugup sekali setiap berbicara dengan Liana? Kenapa Aku jadi seperti remaja yang berumur dua puluh tahunan yang grogi dan gemetar dihadapan gadis cantik yang dicintainya.
Liana baru tersadar dengan ucapan Jonathan yang membuat wajah bersemu merah jambu.
Melap tubuhku? Dia... dia mau melap tubuhku? Ya Allah... Cobaan macam apa ini!
__ADS_1
Bibir Liana membisu ketika jemari Jonathan mulai membuka selimutnya. Kaki jenjangnya terlihat putih mulus karena sudah setahun lebih tidak kena sinar matahari. Hampir membuat Liana berseru kaget.
"Ke kenapa? Maaf. Apa... Aku mmm Aku membuatmu jadi semakin tidak nyaman?" tanya Jonathan semakin grogi.
Liana memalingkan wajah yang memerah. Andai saja gerak motoriknya sudah normal lagi seperti biasa, ingin rasanya untuk segera menarik selimut dan menutup lagi.
Malu sekali hatinya. Pria tampan yang sama sekali tak dikenalnya kini berada berduaan saja dengannya.
"Mm... Mmm... Maaf, maaf jika aku selalu menyusahkanmu!"
Liana memejamkan matanya. Bergetar seluruh tubuhnya mendapati sentuhan lembut jemari Jonathan yang mengusap ujung kakinya dengan kain handuk basah.
Jonathan tersenyum kikuk.
"Maaf ya... Hmm... Geli tapi mohon ditahan ya, Sayang? Aku, akan melapnya segera agar kamu tidak merasa risih lagi!"
Ya Tuhan! Kenapa suaranya terdengar seksi sekali? Inikah suamiku yang menikahiku enam tahun lebih yang lalu? Mengapa tampan dan manis sekali perlakuannya padaku? Bang Irsyad sendiri pun tidak pernah semanis ini meskipun dia sedang merayuku diatas ranjang.
Liana menahan nafasnya.
Jemari Jonathan menuntun lap handuknya hingga lutut dan nyaris naik ke atas paha Liana.
Ya Tuhan! Tolonglah hamba-Mu ini!
Apakah pria tampan ini juga sedang gugup, sama seperti aku?
Liana menunduk malu tatkala Jonathan menoleh dan kedua bola mata mereka kembali bertubrukan.
"Sayang..."
"I iya?"
"Maaf ya, aku... Akan melap tanganmu!"
Liana mengerjap. Gerakannya memang baru sebatas bibir dan mata. Tangan serta kakinya masih harus dirangs*ng lewat terapi ahli medis secara intens agar kembali normal seperti sedia kala.
Liana memejamkan mata.
Sentuhan Jonathan membuat libido perlahan menaik hingga tubuhnya mengejat.
"Maaf..."
__ADS_1
Wanita yang dua bulan lagi akan berusia 38 tahun itu membuka kelopak matanya.
Deg deg deg deg
Ternyata wajah Jonathan sudah ada di depan mata. Tatapannya sayu tapi tajam, seolah menyimpan kerinduan yang dalam.
"Liana..." bisiknya dengan suara serak menggetarkan kalbu.
Deg deg deg deg
Apakah itu suara detak jantungnya juga? Apakah pria ini sama gugupnya dengan aku? Apakah kita memang benar pasangan suami istri dan sudah biasa melakukan hubungan intim sampai membuahkan seorang anak perempuan yang cantik jelita yang memanggilku 'Ibu'?
Liana bertarung dengan hatinya sendiri.
Jonathan mengecup keningnya, lembut sekali.
"Maaf..., aku tidak bisa menahan perasaan ini. Aku..., aku merindukanmu Liana! Aku sangat bahagia, kamu sudah kembali dan kini bersamaku lagi!"
Hati Liana bergetar. Jonathan menitikkan air mata saking terharunya. Dan Liana segera tersadar, kalau pria dihadapannya ini tidak sedang berakting apalagi berpura-pura cinta.
"Mas..."
"Ya, Sayang?"
"Assalamualaikum..."
Jordan berdiri gagah di depan pintu kamar lengkap dengan pakaian dinas terbangnya. Membuat sepasang suami istri yang sedang perkenalan kembali menoleh berbarengan ke arahnya.
Jordan kini memang berprofesi sebagai pilot tetap sebuah perusahaan penerbangan pribadi helikopter.
"Liana! Apakah kamu mengenali si cowok cupu gendut ini di masa Sekolah Dasar?"
Liana memicingkan mata. Menatap Jordan dengan tatapan penuh tanya namun tak mampu menutupi rasa terpukaunya.
Kenapa hidupku dikelilingi pria-pria blasteran yang tampan-tampan kini?
Jonathan berdecak. Dia cemburu. Istrinya kini dalam kondisi sedang masa pemulihan dan lupa akan pernikahan keduanya. Tiba-tiba adiknya yang ia tahu juga begitu mencintai istrinya datang tanpa pemberitahuan.
Semoga Liana tidak ingat Didi! Ya Allah, tolong hamba-Mu ini ya Allah!
"Ada apa, Gege? Kau cemas? Bukankah kata Mami kau pernah mengatakan sesuatu yang sangat bijak sebelum Liana jatuh pingsan dan koma selama setahun?" bisik Jordan tepat di daun telinga kakaknya sebelah kiri.
__ADS_1
Jonathan merasakan aura perang dingin yang dikobarkan Jordan. Tentu saja jantungnya berdentum kencang.
BERSAMBUNG