DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 101 - KEJADIAN MENCEKAM


__ADS_3

Ternyata, bukan Angga yang keluar dari rumah. Melainkan Genta yang diam-diam kabur tanpa izin serta pamitan padaku juga keluarga besar Mas Jonathan.


Semuanya baru kuketahui pagi hari setelah azan subuh berkumandang.


Citra yang panik karena panggilan telepon serta ketukan pintu ke kamar Genta tak direspon akhirnya mencoba mendobrak pintu kamar yang memang di kunci Genta.


Ternyata, kamar Genta telah kosong. Sebuah tas ransel besar dan separuh pakaiannya raib dibawa pergi.


"Hik hik hiks...! Kakaaak! Genta tidak ada di kamarnya!!!' pekiknya membuat heboh seisi rumah.


Aku yang belum sepenuhnya berfikir jernih hanya bisa terdiam terpaku tanpa suara. Sementara Angga berlinang air mata sambil memukul-mukul tembok dinding karena penyesalan yang besar.


"Jangan panik dulu! Biar kuhubungi dulu ponselnya yang satu lagi!"


Mas Jonathan menenangkan seraya mencoba melakukan tindakan.


Suamiku masih mencoba menelpon Genta. Berdering, tapi tidak diangkat.


Tiba-tiba Mas Jonathan seperti mendengar sesuatu di bawah bantal kamar Genta.


Ternyata hapenya ditinggalkan begitu saja dibawah bantal.


Genta! Kamu pergi kemana, adikku?


Mentalku seketika down. Aku menangis sesegukan di pelukan Mas Jonathan.


Citra jauh lebih rapuh lagi.


Tangisannya berubah menjadi raungan yang menyesakkan dada.


Genta... kau salah faham, Genta! Kenapa kamu harus tinggalkan rumah ini tanpa pamit kepada kami semua? Meskipun usiamu sudah cukup matang, tapi melihat sikap serta tabiat kekanak-kanakan seperti ini hatiku semakin galau. Kamu pergi ke mana Genta?


Hari seketika berubah jadi tidak berwarna. Bahkan putih berubah menjadi abu-abu dan aura rumah terlihat kelabu.


"Genta kemana ya, Mas?! Hik hik hiks... Ini salahku, tidak menceritakan semuanya jujur pada Genta. Bukannya aku kini lebih sayang Angga, tapi... aku butuh Angga sebagai penjaga kelemahanku dari kelebihan yang diturunkan Wak Hardi."


Suamiku tak banyak bicara. Hanya tangan dan tindakan sigapnya yang terus memelukku agar tenang hati ini.


"Doakan Genta yang terbaik, Sayang!"


"Hik hik hiks... Aku bingung. Aku tidak bisa menempatkan diri dengan baik ditengah-tengah kesimpangsiuran emosi Genta juga kesulitan Angga dalam mendekatinya."


"Iya aku mengerti! Aku juga pernah punya perasaan tidak enak pada adikku sendiri, Liana! Sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi hasilnya justru malah bertambah kacau!"

__ADS_1


"Itu maksudnya, Mas! Hik hik hiks..."


Aku lebih tenang karena suamiku bisa menangkap maksud hati ini.


Tetapi kembali merapuh melihat Citra yang tampak lemah di tinggalkan Genta begitu saja.


"Ini memang awalnya seperti apa, sampai kalian bisa jadi salah faham begini?"


Suamiku mencoba mencari ujung pangkalnya, namun Angga seperti biasa... agak sulit menceritakan apa yang terjadi. Hingga kami juga jadi tidak memahami masalah keduanya.


Hhh...


Kuharap Genta segera kembali pulang.


Kudawamkam doa-doa pemanggil jiwa Genta agar tidak tenang di manapun berada.


Malam ini malam Selasa.


Entah mengapa hawa udaranya terasa dingin sekaligus panas gerah. Mungkin juga akibat hati yang resah karena Genta kabur dari rumah.


Seketika aku sadar begini rupanya perasaan semua orang ketika aku kabur dari rumah tanpa pemberitahuan.


Ya' Allah ya Gusti! Ternyata karmaku Kau balas kontan. Kini aku merasakan semua rasa campur aduk tak enak segalanya karena Genta pergi tanpa pamit dan pesan. Maafkan semua kesalahanku di masa lalu, Ya Allah!


Aku membenamkan wajahku ke dada bidang Mas Jonathan. Istirahat, semoga besok Genta pulang dan keadaan tenteram kembali seperti sediakala. Aamiin... Itu harapanku.


Malam ini angin berhembus kencang.


Aku tersentak mendengar suara tawa cekikikan di luar jendela kamar.


Siapa lagi itu? Bukankah Stella sudah tenang di alam nya?


...Nyai Ratu! Nyai...!!! Nyai cepat bangun!!!...


Aku kaget mendengar suara...


Pletek...pletek...


Cetrak... cetrak


Seperti... suara sesuatu yang terbakar!!!


Dan bau karet serta hangus yang menyengat!!!

__ADS_1


"Mas! Mas!! Mas bangun!"


"A apa? Ada apa? Perutmu sakit?"


"Mas, seperti terjadi sesuatu di pabrik!!!"


Seketika kami loncat dari tempat tidur dan berlarian menuju lantai bawah.


Aku dan Mas Jonathan panik berteriak sembari mengetuk-ngetuk setiap pintu kamar yang berpenghuni.


"Kebakaran! Kebakaran!!!"


Tiga orang sekuriti yang tertidur pulas di pos jaga langsung terbangun dan berlarian mencari air serta alat pemadam kebakaran.


"Ada dua puluh karyawan yang terjebak di dalam!!! Malam ini mereka lembur menunggu masuk bahan pokok dari pelabuhan!!!"


Ya Allah Gustiiii...


"Dua puluh orang?" teriak Mas Jonathan panik.


Kami semua merasakan ketegangan luar biasa.


Hingga tiba-tiba sirene mobil pemadam kebakaran yang datang membuat semuanya berteriak senang.


"Seseorang menelpon pos pengaduan. Kami datang semoga masih bisa terselamatkan!"


Seketika suasana riuh hiruk pikuk.


Para relawan pemadam kebakaran berjibaku dengan beberapa belas orang penduduk sekitar bahu membahu memadamkan api.


Lututku lemas. Jantungku berdetak sangat cepat. Bahkan Aku, Mama dan Citra sudah tidak bisa bergerak selain duduk berdeprok lesehan di trotoar jalan depan pabrik.


Kaget dan sangat tidak menyangka akan kejadian ini.


Padahal Angga pernah mengungkapkan penglihatannya pada kami sebulan yang lalu. Tepatnya di saat dia baru bekerja sehari di pabrik ini.


Angga! Airlangga!!! Sedari tadi aku tidak melihatnya!!! Dimana dia?


Aku berusaha bangkit dari duduk. Mencoba memperhatikan satu persatu pria yang sedang sibuk memadamkan api di dalam pabrik.


"Angga! Angga!!!" panggilku terus menerus.


Dimana anak itu? Apa dia juga kabur seperti Genta??? Ya Allah ya Tuhanku!!! Ada apa lagi dengan kehidupanku ini???

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2