DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 71 - INI GILA! INI MEMBUATKU GILA


__ADS_3

Katliya pingsan, semua orang yang sedang berduka semakin bersedih.


Aku dan Mama jadi bingung juga. Jika kami meninggalkan tempat duka, sepertinya terlalu jahat.


Alhasil kami menunggu Katliya sadar dan para kerabat almarhumah Bu Marina datang satu persatu.


Mama kaget sekali, Irsyad juga datang ke rumah Katliya.


Mama mengenal Katliya karena almarhum Ibunya dulu adalah asisten rumah tangga Papa Bambang di rumah istri pertamanya. Itu cerita Mama.


Tapi Mama tidak tahu kalau Katliya adalah Duri Yang Merusak Rumah Tanggaku. Hm... Dunia ini terasa sempit bagiku.


Tentu saja keadaan menyakitkan ini tertular dan menusuk sanubari Mama setelah tahu sendiri siapa itu Katliya.


Kisah sedih yang kututup rapat-rapat agar tidak terdengar Mama, kini menguak. Mama hanya tahu kalau aku bercerai dengan Irsyad karena pria itu punya yang baru. Aku tidak bercerita detail, siapa selingkuhannya dan bagaimana kisah lengkapnya.


Mamaku punya masalah sendiri. Selain kami kurang akrab sejak Mama memilih menitipkan kami pada Kakak pertamanya, aku jadi sungkan untuk berbagi cerita apapun.


Kini Mama mengetahuinya sendiri.


"Liana...! Liana, aku rindu padamu!" kata Irsyad dengan pandangan seperti orang yang mendamba.


Aku tak meresponnya. Hanya menarik tangan Mama dan berpamitan pulang pada kerabat Katliya.


Ketika Mama mengajakku pergi dari rumah duka, tiba-tiba di depan pintu kami berpapasan dengan pria tua yang sedang menerorku akhir-akhir ini.


Eyang Subur!


Wajahku pucat pasi tatkala mata ini melihat sosok aki-aki tua yang berjalan agak tertatih-tatih.


"Nyai Ratu...! Akhirnya kita bertemu!"


Aku tak ingin memperlihatkan kegugupanku. Secara ini di ruang umum. Dia tak akan berani macam-macam apalagi menyakitiku ditengah keramaian orang lalu lalang ta'ziah.


Tetapi dia itu adalah praktisi ilmu supranatural. Otomatis memanipulasi pandangan orang untuk tidak terlihat adalah keahliannya.


Mamaku mengapit lenganku. Mata Mama memancarkan cahaya penuh kekaguman melihat aki-aki gila itu.


Rupanya dia memakai susuk pemikat agar siapapun yang melihat dirinya, langsung terpesona.


"Eyang!"


Rupanya Mama mengenalnya secara pribadi.


Beliau langsung mencium lengan si dukun mesum yang sedang menyeringai itu. Kini giginya terlihat. Gigi palsu. Sebab terakhir aku melihatnya, giginya telah tanggal alias ompong semua.


"Nyai Ratu cantik sekali!" kata Eyang Subur padaku. Sontak mataku memicing.


"Ini putri saya, Eyang!" sela Mama.


"Saya tahu, Farida!"


"Eyang... Saya kemari tadinya niatan menitipkan sesuatu pada Bu Marina dari Mas Bambang! Tetapi...ternyata Bu Marina...,"


Mama tak melanjutkan perkataannya. Beliau terdiam ketika tangan kiri aki-aki itu terangkat pertanda lawan bicaranya harus diam.

__ADS_1


"Liana...! Jadilah istriku. Kamu akan mendapatkan kedigjayaan, kekayaan, serta sanjungan nama besar di antara orang-orang besar!"


Aku diam tak menjawab.


"Liana..."


Tiba-tiba tangan kanannya menarik jemariku dan berusaha menggenggamnya. Tentu saja aku tersentak. Apalagi setelah kuku jarinya yang usil mengusap-usap telapak tanganku.


Aku menepisnya.


Astaghfirullahal'adziim


Astaghfirullahal'adziim


Aku tidak boleh lengah! Aku tidak boleh kosong fikiran!


Ya Allah, tolong jaga aku! Tolong lindungi aku dari godaan syetan yang terkutuk.


"Percayalah, Nyai Ratu! Kau akan bahagia hidup bersamaku! Aku...akan menjadikanmu wanita paling mulia di atas bumi ini, Liana! Kita bisa buat keturunan yang sakti mandraguna! Kita akan punya anak yang dimasa depan akan di elu-elukan masyarakat luas. Kau tidak percaya, Cantikku? Bidadariku?"


Aku menghela nafas. Tak ingin hembusan nafas busuknya yang tepat berada kurang dari dua puluh sentimeter terhirup indera penciumanku.


Aku tetap diam tak bergeming. Menahan semua gejolak hati yang menggelegak. Sengaja membuat lawan bicaraku makin panas karena tiada respon dariku.


"Liana Sayang! Pria-pria itu tidak ada yang bisa menandingiku. Aku lebih unggul. Aku bahkan paling unggul diantara yang terunggul. Kau dan aku, sudah ditakdirkan berjodoh! Ini adalah titisan Takdir. Kau...akan jadi milikku!"


Astaghfirullahal'adziiim...


Kukuatkan hati dengan bacaan-bacaan kalam Illahi meskipun bibir ini tetap bungkam dihadapan dukun edan itu.


Tetapi aku terus fokus. Tak kubiarkan sedetikpun jiwa ini kosong dalam lamunan. Tidak.


Aku punya Allah. Allah yang telah menciptakanku. Takdirku tertulis oleh ridho Allah. Bukan oleh khayalan dan mimpi-mimpi kosongnya.


Aku tahu, laki-laki tua itu bukan orang sembarangan. Jin peliharaannya pun bahkan puluhan jumlahnya. tapi aku tidak gentar. Tidak boleh takut. Takutku hanyalah pada Allah saja.


"Nyai..., bicaralah! Nyai... Kumohon! Jangan diamkan aku seperti ini! Nyai..."


Aku semakin kuatkan hati, semakin fokus dan fokus.


"Nyai Ratu! Aku akan ceraikan semua istriku! Aku juga akan memberikan apapun yang kamu mau, asalkan kau menerima pinanganku! Kau mau kita pergi kemanapun, akan aku turuti. Hartaku, semuanya...akan kuberikan padamu. Akan kuganti semuanya atas namamu, Ratuku sayang!..."


Pria tua itu terus mengoceh dengan raut mata menatapku tanpa berkedip.


"Liana?" Mama bahkan sampai mengusap punggungku. Memintaku untuk merespon ucapan aki-aki tua dukun sakti keluarga suaminya yang telah mereka sanjung dan puja sejak lama.


"Ratu..."


Aku menoleh pada Katliya yang sudah tersadar dari pingsannya.


Ia menghampiriku dengan tergesa-gesa.


"Kakak...! Kakak Liana!"


Tangannya menggenggam jemariku. Air matanya kembali merebak.

__ADS_1


Aku mulai merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Hingga menarik Mama untuk segera pergi dari rumah yang terasa panas.


"Liana! Liana, jangan tinggalkan aku!"


Ini gila! Ini benar-benar membuatku gila.


Katliya, Irsyad dan juga Si Dukun Mesum itu mengejarku.


"Mama ayo!"


Mamaku sendiri terlihat bingung. Matanya menoleh kesana kemari. Mengikuti langkahku yang terus berjalan cepat meninggalkan kediaman orangtua Katliya yang semakin banyak orang ta'ziah.


Menurut penglihatanku, Ibu Marina meninggal dunia karena dijadikan tumbal pesugihan oleh putri dan suaminya sendiri.


Pantas saja, sedari awal aku melihatnya. Auranya sudah berbeda. Tubuhnya juga kurus kering dengan pandangan mata kosong bagaikan orang yang agak kurang.


Ternyata... Suaminya pemuja setan. Kini putrinya sendiri mengikuti jejak ayahnya demi tercapai segala yang diinginkan.


Naudzubillahi min dzalik.


Semoga Allah melindungi kita dari sifat-sifat iri hati, dengki dan ingin menang sendiri.


"Mama istighfar!"


Pintaku pada Mama kandungku yang terbengong-bengong bahkan melamun tak jelas ketika kami sudah duduk di kursi mobil.


"Pak Saleh, ayo kita jalan!"


Tetapi sebelum kami kembali mengantar Mama pulang, kuminta Pak Saleh untuk mampir sholat dzuhur di masjid sekitar jalan raya.


Niatku adalah untuk berwudhu dan membersihkan seluruh tubuh dari aura jampi-jampi si dukun mesum tadi.


"Mama... Kita sholat dzuhur di sini!"


"Kenapa tidak di rumah saja, Lian?"


"Di sini, Ma! Supaya aura negatif di tubuh kita segera hilang seiring luruhnya air wudhu di wajah kita!"


"Ya sudah, kita sholat dulu!"


Mamaku sepertinya masih terpengaruh. Karena masih terlihat sedikit linglung dan juga mudah melamun.


Aku sengaja mencubit tulang walikat Mama sampai beliau berteriak kesakitan.


"Aauw! Liana, sakit!" teriaknya mengaduh.


"Alhamdulillah!"


Kami bergegas wudhu di kamar mandi masjid agung. Menunaikan ibadah shalat Dzuhur disana dan keluar setelah selesai dengan hati lapang.


Akhirnya aku lega. Kami kembali normal seperti biasa. Dan bahkan Mama seperti lupa kejadian di rumah Katliya tadi.


Subhanallah. Maha Suci Allah dengan segala firman-Nya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2