DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 16 - APAKAH KAU PUAS, KATLIYA?


__ADS_3

"Apa aku ini punya salah padamu, Katliya? Sebegitu bencinya kah padaku sampai kau tega menghancurkanku? Apa kaukah kau puas, Katliya?"


Tatapan mataku yang tajam menembus kedalaman binaran matanya yang terlihat berpendar dan pecah. Air matanya jatuh juga. Katliya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menutupi mulutnya yang terlihat menahan isak.


"Jangan menangis, Katliya! Semoga kau puas dengan semua pencapaianmu! Aku, serah terimakan semua yang pernah jadi milikku kepadamu! Semoga kau bisa menjaganya dengan baik. Apalagi setelah begitu banyak usahamu untuk mendapatkan semua milikku. Jaga baik-baik!"


Uhuk uhuk...


Aku kembali batuk dan menghamburkan gumpalan-gumpalan darah segar ke lantai.


"Kau membuat kotor lantai!"


Aku menoleh pada pemilik suara yang menghardikku tanpa perasaan.


Tatapan kami bertemu. Sangat menyakitkan dada. Seperti potongan film masa lalu yang diputar ulang, semua memori itu membuatku banjir lagi air mata ditengah sesak yang menyerang.


Teringat tawa renyah kami yang begitu lepas ketika anniversary tujuh tahun pernikahan kami yang dirayakan cukup meriah. Aku mengundang beberapa teman Bang Irsyad, saudara-saudara serta kerabat dekat kami berdua.


Bahkan Mama kandungku datang bersama adikku beda Ayah. Mereka makan bersama keluarga Bang Irsyad. Kami tertawa, bersenda gurau bersama. Sungguh masa yang indah yang tak kan bisa kulupa.


Tangan kekarnya yang panjang tak lepas dari bahuku. Kala itu memang tubuhku belum terlalu melar seperti ini. Masih sekitar 65 kilogram kalau tak salah. Masih cukup seksi dengan gaun mini dress berwarna merah hati. Dengan high heel yang baru kudapat dari Bunda Agis kala itu. Dan Suamiku menyanjungku setinggi langit. Kalau aku sangatlah cantik dan seksi ditambah rambut panjangku yang sengaja digerai lepas. Hanya dicurly sendiri ujungnya dibantu Riska adiknya.


Aku benci mengingat betapa bahagianya diri ini saat itu. Benci. Sangat benci sekali.


Sampai tanpa sadar kutarik leher kerah kemeja Irsyad hingga tubuhnya tertarik mendekat ke arahku.


"Abang! Sekali lagi aku tanyakan, apa kau tidak akan menyesal menceraikanku demi perempuan ini?"


Dia hanya diam. Menatapku seolah sengaja menantang.


"Tentu saja, aku pilih dia, bukan kamu! Katliya saat ini sedang mengandung anakku! Darah dagingku! Sudah dua bulan kandungannya!"


Jelegerrr


Bagaikan petir menggelegar di atas kepala. Aku akhirnya mendengar sendiri penuturan pria yang selama ini begitu kuhormati dan kuhargai setinggi langit.


Rupanya, diam-diam mereka sudah melakukan hubungan badan tanpa sepengetahuanku.

__ADS_1


Entah prianya yang celamitan, atau wanitanya yang gatal. Yang pasti mereka berdua sudah main gila dibelakangku bahkan sampai berani melakukan hal-hal tak senonoh.


Kujambak rambut Katliya dengan cepat hingga dia berteriak.


"Dasar kau wanita murahan! Kupikir kau intan permata, ternyata hanya imitasi plastik yang pasaran dan sering dijual bebas bahkan diobral harganya serendah mungkin! Cuih!!!"


Aku ludahi wajah Katliya saking panas membara dada ini.


Pantas. Pantas saja Irsyad dan kedua orangtuanya lebih memilih gadis murahan ini. Ternyata..., selain memang otaknya sudah dicuci, gadis iblis ini juga sudah memberikan kenikmatan sekaligus bisa menyimpan saham haram suamiku. Ck ck ck!


Plak


Aku tersenyum walau pipi ini panas kena tamparan Irsyad, mantan suamiku.


"Selamat merayakan kebahagiaan kalian menjadi arang api di dasar neraka! Selamat menikmati kesengsaraanmu, dunia dan akhirat!" kutukku dengan suara lantang pada mereka berdua.


Sungguh jahatnya mereka. Raja dan Ratu Super Tega yang teramat jahat. Hingga mungkin Tuhan sampai menyatukan keduanya karena memang sama-sama laknat.


Aki berjalan agak sempoyongan keluar rumahku sendiri.


"Ambil semua! Silakan! Aku tak akan mengambil satu kepal pun harta yang kupunya di rumah ini! Ambillah! Kuhibahkan semuanya pada Kau, Irsyad! Semoga kau bisa membawanya. Semoga tidak menjadikanmu beban yang harus kau tanggung dunia akhirat, Irsyad!"


"Hei, gendut! Aku sudah mengeluarkan hakmu lewat adik kandungmu, Genta! Aku sudah memberinya beberapa puluh juta! Jangan ngomong sembarang seolah aku memang ingin menguasai harta keseluruhannya!"


"Kau memanfaatkan keadaan Genta yang sedang ada masalah! Ternyata semuanya memang sudah kalian rencanakan dengan cukup matang! Hebatnya kalian! Hebat! Semoga saja anak kalian nanti bisa menjadi pengingat betapa jahatnya kelakuan kalian semua padaku!" isakku dengan mulut terus meracau makin tak jelas ocehan. Bahkan tanpa sadar aku juga mengutuk calon anak mereka yang sebenarnya tiada salah.


"Kau yang akan hancur tanpaku, Liana! Kau!!! Bukan aku apalagi Katliya dan anak yang sedang dikandungnya! Kau! Selalu merasa dirimu sempurna. Mengatur hidupku selama ini, mengubah diriku menjadi pria yang harus seperti yang kau inginkan. Sepuluh tahun aku bertahan dari tingkah kekanak-kanakkanmu! Sepuluh tahun aku hidup dalam kungkungan aturanmu! Katliya, berkali-kali lipat lebih baik darimu yang hanyalah perempuan sok hebat! Kau lihat, siapa diantara kita yang akan hancur! Kau, atau aku! Karena sekarang pun sudah terlihat, siapa yang memanfaatkan siapa! Adikmu memanfaatkan aku dengan meminta uang setiap bulannya!"


Oho...! Pria tak punya perasaan itu tersinggung juga dengan sumpah serapahku. Dia sok-sokan membela diri! Aku tahu, dia malu karena banyak pasang mata yang melihat keributan kami dan hanya diam menjadi pengamat serta pendengar setia. Tetapi tak ada yang berani kasak-kusuk membela salah satu diantara kami. Hanya diam dan sibuk dengan fikiran masing-masing.


"Jangan pernah menyesali langkah yang kini kau ambil, Bang! Jangan salahkan aku, ketika kau tersadar. Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk memperjuangkan cinta yang pernah ada diantara kita. Tapi..., kau justru semakin menghina dan melemparku bagaikan kain keset yang sudah usang robek! Semoga kalian bahagia diatas penderitaanku!"


"Pergilah! Diantara kita sudah tak ada lagi hubungan apa-apa! Kau adalah perempuan paling egois dimuka bumi ini! Kau tidak akan pernah bahagia, Liana! Tidak akan pernah dapatkan laki-laki lain lagi!"


Dia yang berselingkuh, tapi dia yang menyumpahiku. Dia yang membuangku, tapi dia pula yang melecehkanku dengan membuka aibku di depan banyak orang.


Adakah pria seburuk itu? Hanya kau seorang pria itu, Wahai Mantan Suamiku! Aku tahu, otakmu sudah dirasuki setan nafsu. Aku yakin, fikiranmu kotor terkontaminasi buhul-buhul perawan tua yang sudah sangat ingin menikah itu! Sayang seribu sayang... Tetap saja pernikahan kalian masih harus dibawah tangan. Karena Irsyad harus menunggu dulu masa iddahku, baru kalian bisa menikah resmi di KUA setempat.

__ADS_1


............


Sedih, sakit, perih karena luka parah.


Jalanku timpang. Bahkan serasa melayang.


Kehidupanku yang kukira telah melewati jalam terjal berbatu penuh liku, ternyata harus kuhentikan di tengah perjalanan.


Suamiku, lebih memilih perempuan pengabdi setan itu.


Entah mungkin orang menganggap aku jadi gila. Tanpa sadar langkahku oleng di atas jalanan ibukota yang mulai padat merayap.


Tin tin tiiiin


Suara klakson berkali-kali dari mobil yang berjalan dibelakangku tak kuhiraukan.


Tin tin tiiiiiiiin


"Hei, ini bukan trotoar, Mbak!"


Terdengar suara seorang pria mengingatkanku. Tapi otakku seerti beku hingga tak berfikir dengan benar.


"Mbak! Eling, Mbak! Kau mau mati? Mau bunuh diri? Atau sedang coba ilmu kebalmu, hah?"


Sebuah genggaman kekar menarik pergelangan tanganku hingga terangkat ke atas trotoar.


"Aku buru-buru, mau meeting! Malah ketemu perempuan yang ga jelas macam, Mbak!"


Dia menjinjing tubuhku yang besar dengan entengnya ke pinggir trotoar. Lalu kembali masuk ke dalam mobil yang dikendarainya dan melaju dengan tatapan agak kesal padaku.


Aku tak peduli. Beberapa orang pengendara sepeda motor menyorakiku. Aku sudah buat keonaran di jam sore pulang kerja.


Benar-benar aku sudah gila. Sepertinya urat maluku juga sudah putus. Bahkan air mata ini pun seperti telah kering sumber alirannya. Hanya melamun, diam dan kosong. Sampai kakiku berhenti si sebuah halte bis. Dan duduk di tembok tempat duduknya.


Hhh...


Tuhan! Tuhanku Yang Maha Agung! Tolonglah hamba-Mu ini, Tuhan!

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2