
Apakah hatiku terlalu peka hingga menjadi kecewa hanya karena ucapan Mas Jonathan yang barusan? Mengapa rasanya sedih sekali? Seperti ada silet kecil yang tak sengaja menoreh relung hatiku meski hanya segaris?
Semua yang tadi suamiku kata, seratus persen benar. Tetapi mengapa aku terluka? Apakah aku terlalu perasa? Padahal niatannya baik juga. Demi untuk kesehatan kami semua. Tapi...
Hhh...
Malam berlalu dan pagi menjelang.
Rutinitas yang membuat kami sibuk dengan urusan masing-masing.
Pabrik sedang membangun produktifitasnya karena pesanan yang membludak.
Ada kebahagiaan, walaupun banyak kesedihan.
Sesuatu yang hilang, pasti akan tergantikan.
Tuhan ambil satu kebahagiaan, Tuhan pula yang memberi kenikmatan. Ada satu pelajaran penting dalam hidup yang kuambil hikmahnya. Bahwa roda kehidupan akan terus berputar. Tak perlu gelisah dan galau berkepanjangan. Karena garis nasib juga takdir hidup sudah Allah tentukan untuk semua umat-Nya tanpa terkecuali.
..............
Ini malam ketujuh kepergian Mama dan dua adikku. Juga malam kedelapan pernikahan kami.
Masih sama seperti yang kemarin. Tahlilan terakhir untuk Minggu ini kami laksanakan di masjid dekat pabrik. Kasihan juga kalau aku egois dan terus menerus membuat Mama dan Citra lelah berhari-hari.
Setelah perkataan Mas Jonathan tempo hari, aku memang kini mulai memikirkan serta keadaan semua orang di dalam rumah besarnya termasuk keluarga pihak suami.
Ucapan suamiku benar adanya.
Mamanya pernah divonis dokter kanker otak. Walaupun kini keadaan kesehatan beliau cukup stabil, tapi aku juga harus memikirkan usianya yang sudah tak lagi muda.
Selain Mama Tiur, tak ada lagi yang bisa ku'tua'kan di sini.
Ada Wak Hardi dan Wak Wati, tetapi mereka jauh di kota Banten sana. Hanya lewat sambungan telepon baru kita bisa berbincang. Itupun dalam kondisi terbatas karena kadang signal tidak bisa diajak kompromi.
Treeet... treeet... treeet...
Pukul delapan malam ponselku berdering.
Nomor tak dikenal menghubungi.
Aku ragu untuk mengangkatnya. Mas Jonathan masih dimasjid. Masih berbincang dengan jamaah yang ikutan tahlil setelah sholat Isya.
Hm... Siapa tahu orang yang kukenal. Takutnya kabar penting juga.
Sejak aku berubah, ketenangan jiwa memang agak terganggu. Sering paranoid jika ada sesuatu yang diluar kebiasaan. Aku sampai menutup diri dan tidak berani membuka pertemanan pada siapapun.
Bobot tubuhku hingga menyusut drastis. Pipiku terlihat begitu tirus. Sangat bertolak belakang dengan diriku lima bulan yang lalu.
"Hallo? Assalamualaikum... Dengan siapa ya?"
...[Assalamualaikum, Liana...]...
Suara seseorang yang dulu begitu kukenal.
__ADS_1
Bang Irsyad!!!
Aku tidak menjawab. Hanya berdiam diri menunggu ucapan selanjutnya. Dadaku bergemuruh. Kesal, benci walau ada sedikit rindu. Semua bercampur menjadi satu.
...[Liana..., aku kangen kamu! Hik hik hik...]...
Setelah sekian lama nomornya kublokir, ternyata masih bisa pula dia menghubungiku dengan nomor baru.
Kemana saja kau, Bang selama ini? Asyik dengan istri barumu pastinya. Dan setelah Kau terus terusan dirundung masalah, baru kau ingat aku. Cih! Kasihannya kau, Irsyad!
Aku malas meladeninya.
Selain suamiku tidak ada di rumah, Aku juga sedang berkaca pada perlakuanku tempo hari.
Jangan mencoba mencari kesempatan berhubungan dengan lawan jenis ketika kita memiliki pasangan. Fatal akibatnya. Merusak hubungan serta pandangan pasangan kita dan juga orang lain. Salah faham, kehancuran siap-siap kita tuai.
Klik'
Kumatikan ponselku.
Tapi baru saja helaan nafas panjang selesai, tiba-tiba ponselku kembali berdering.
Hampir kena cacian emosi, seketika mataku membulat. Wak Hardi yang menelpon.
Alhamdulillah.
"Assalamualaikum, Wak! Wak Hardi bagaimana kabar semuanya?"
...[Waalaikum salam, Liana... disini semua sehat, Alhamdulillah! Bagaimana kabar di sana?]...
...[Kuatkan fisik dan psikis mu, Nak! Kamu bisa. Wak yakin kamu bisa]...
"Wak..., suamiku... kurang bisa menerima keadaanku. Mas Jonathan... sepertinya tidak menginginkan Liana melakukan ritual tirakat berlebihan. Padahal..., Liana ingin lakukan untuk menjaga keluarga ini dari kekacauan. Dukun jahat itu selalu meneror Liana lewat mimpi, Wak! Liana lelah! Liana ingin jadi orang biasa saja."
...[Apa kamu sudah menyampaikannya dengan benar kepada suamimu? Sepertinya kalian masih belum bisa berkomunikasi dengan baik. Liana..., itu wajar. Secara kalian kenal belum begitu lama. Langsung menikah dan belum bisa saling memahami satu sama lain. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kemanapun kau cari pasangan yang paling sempurna, bahkan ke ujung dunia sekalipun,... tidak akan kau temukan. Berusahalah menjadi diri sendiri. Katakan dengan lemah lembut pada suami. Bicarakan semua dengan hati tenang dan juga fikiran terbuka. Wak yakin, kalian bisa saling mengerti satu sama lain!]...
"Wak...! Banyak kejadian yang membuat Liana depresi. Semuanya... seperti mimpi. Tidak masuk akal. Dan wajar saja jika Mas Jonathan kurang mendukung. Liana memang harus melepaskan semua beban ini. Pernikahan kami, kematian Mama Farida yang tidak pernah Lian bayangkan. Semua... sepertinya adalah imbas dari ilmu gaib supranatural yang Liana miliki. Liana takut, Wak! Liana butuh seseorang yang bisa mengerti Liana!"
Aku menangis sesegukan.
Tanpa sadar kalau ada sepasang mata besar menatapku dan...
Seperti nyawa yang tercabut dari raga, fikiranku tiba-tiba oleng. Dan...
"Aaarrrggghhh... Ggggrrrrrrr!"
Hilang akal sehatku.
Tiba-tiba tubuh ini sangat ringan hingga melesat menerjang makhluk jelek tak kasat mata yang sedari tadi mengintai.
Seketika suasana gaduh karena aku yang berjungkir balik, salto seperti makhluk yang sedang menerkam.
"Aaarrrggghhh Rrrrrr... Grrrr..."
__ADS_1
Pandanganku masih sangat jelas.
Tubuh makhluk aneh yang buruk rupa itu terdorong dengan wajah makin gelap menghitam.
"Ssss... sssss..."
Dia mendesis bagaikan ular.
Lidah panjangnya terjulur membuat emosiku menaik.
"Aaaarrrrr...Grrrr... Aaarrrggghhh!"
Kami kembali bergelut. Bergulat saling rangkul dan bergelindingan di lantai. Suara ribut gedebag-gedebug tidak lagi kuhiraukan.
Kutarik lidah panjangnya hingga ia menguik beberapa kali. Berhasil!
Jemariku mencongkel kedua bola matanya, dan....
"Aaarrrggghhh...."
Baru saja dua benda bulat yang besar berurat dan berlumuran darah itu hendak masuk ke dalam mulut, pekikan seseorang membuatku tersadar.
"Lianaaa!!!"
Suamiku duduk lemas dipojokan daun pintu kamar kami dengan wajah sangat pias.
Tubuhnya gemetar dan kedua tangannya menutupi mulutnya yang menganga lebar.
"Astaghfirullahal'adziiim...!"
"Astaghfirullahal'adziiim..."
Aku tersadar... Dan, tanganku yang tadi berlumuran darah tiba-tiba kembali seperti semula.
"Mas Jonathan..."
Dia menutup matanya dengan tubuh bergetar.
"Jangan mendekat! Jangan mendekat! Siapa kamu! Kamu bukan istriku! Kamu bukan Liana-ku!!!"
Teriakannya membuat air mataku jatuh perlahan. Berderai penuh kesakitan.
Penolakannya membuat aku hilang akal dan mengaum seperti macan putih leluhurku, Ki Jalu dan Ki Maung.
Tiba-tiba aku pergi keluar dengan kekuatan luar biasa.
Menabrak pintu dan berlari dengan kedua tangan serta kedua kaki ini.
Astaghfirullahal'adziiim...
Astaghfirullahal'adziiim...
Astaghfirullahal'adziiim...
__ADS_1
Maha Benar Allah Dengan Segala Firman-Nya.
BERSAMBUNG