DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 59 - DUNIA PENUH CERITA


__ADS_3

"Kang dua piring nasi uduknya ya? Teh manis hangatnya juga dua gelas!"


"Siap, Neng Geulis! Meni geulis pisan euy si Eneng! Tos aya nu ngagaduhan teu acan, Neng? (Cantik sekali si Eneng! Sudah ada yang punya belum, Neng?)"


Aku tersenyum simpul. Hanya mengangguk dengan ekor mata sedikit melirik pada Mamang tukang dagang nasi uduk yang kuperkirakan seusia Mas Jonathan.


Mas Jo! Maafkan aku, pergi dari rumah tanpa pamit! Aku akan kembali pulang. Dan kita bisa berdiskusi seperti kemarin-kemarin, menyelesaikan permasalahan cinta ini.


"Ini minumnya, Neng! Sebentar nasinya menyusul! Hehehe..."


"Terima kasih, Kang!"


"Neng darimana? Mau kemana?"


"Dari rumah mau naik bis, Kang!" jawabku ngasal. Spontanitas sang penjual tersipu malu dengan mata berbinar senang.


Dengan hati berdebar kuambil segelas. Lalu kudawamkan Qur'an Surat Al-Fatihah tiga balik dan surat An-Nas juga tiga balik. Lalu kuhembuskan perlahan pada gelas teh manis yang baru dibawa penjual tadi ke meja kami. Segera kuambil satu sendok dan memberikannya pada putra ibu muda yang duduk disampingku.


Alhamdulillah, anak itu mau membuka mulutnya dan...


"Mama... Makan!" pinta anak kecil itu dengan suara serak.


"Mau makan, Nak? Alhamdulillah, iya kita makan! Ini ada Teteh cantik baik hati yang belikan kita makanan! Ya, ya kita makan sebentar!"


Aku tersenyum bahagia, melihat rona cerah merubah wajah lelah ibu muda tadi.


"Kang, cepet ya Kang!?"


"Siap, Neng! Ini...sudah siap!"


"Haturnuhun, Kang! (Terima kasih, Kang!)"


"Sami-sami, Neng! Mangga'! (Sama-sama, Neng! Silakan!)"


Aku semakin senang melihat sesuap demi sesuap nasi uduk masuk ke dalam mulut anak lelaki berumur sekitar dua tahun itu dengan lahap.


"Teteh, anak saya mau makan ini! Ya Allah, Teh..., terima kasih banyak, ya?! Hilman mau makan banyak. Pintarnya anak Mama!"


"Alhamdulillah, puji syukur pada Allah!" ucapku turut senang dan terharu.


Kami menyelesaikan makan kami setelah menambah satu porsi nasi uduk untuk ibu muda itu. Karena nasi uduk yang pertama dimakan habis putranya.


"Teteh haturnuhun!"


"Sami-sami!"


"Teteh asli sini?"


"Saya lahir di Jakarta, tapi Bapak saya asli lahir di Banten! Hehehe..."


"Oh, kuat atuh ari kitu mah!"


"Apa maksudnya, Mbak? Maaf... Saya tidak begitu faham bahasa Sunda!"


"Maksudnya, Teteh keturunan kuat dari Banten! Hehehe..."

__ADS_1


"Oh begitu. Iya, Mbak!"


"Saya dari Subang. Suami Sukabumi. Tinggal di Serang. Ini lagi main ke rumah Kakak karena ada perlu! Biasalah, butuh pinjaman, hehehe..."


"Oh...semoga permasalahannya cepat selesai, Mbak!"


"Jangan Mbak, Teteh aja!"


"Iya, Teh! Hehehe maaf! Teh... Sebelumnya mohon maaf, ada yang mau saya sampaikan! Tapi maaf... Jangan salah faham ya?"


"Iya? Ada apa, Teh?"


"Teteh...! Apa Teteh pernah, maaf... Menggugurkan kandungan padahal sudah 6 bulan?"


Sontak kulihat wajah ibu muda itu berubah drastis. Ia menatapku dengan tatapan mata seolah bingung tak percaya.


"Teteh kenal saya?" tanyanya dengan suara berbisik. Lalu ia mendekatkan bibirnya ke daun telingaku seraya lanjut berkata, "Iya!"


"Saya... Melihat, almarhum putra Teteh mengganggu adik kecil ini!" bisikku juga membuat deru nafas ibu muda itu mengencang.


"Hah?!?"


"Putra pertama Teteh sedih, Teteh membuang dan melupakannya begitu saja. Dia hanyalah seorang anak yang tidak meminta untuk dilahirkan apalagi dibuang begitu saja!"


Ibu muda itu perlahan terisak. Ia menunduk dengan wajah merah padam. Tangan mungil putranya menggapai wajah Ibunya yang berlinang air mata.


"Mama..."


"Iya, Nak!"


"Saya dan suami, pacaran kebablasan. Saya hamil diluar nikah. Saya... Saya bingung. Saat itu suami, juga belum punya uang untuk melamar saya. Kami ambil keputusan..., menggugurkan kandungan di klinik. Dari baru menikah dua tahun kemudian setelah tabungan suami cukup untuk melamar pada orangtua saya."


Hhh... Ternyata seperti itu! Mirisnya... Dan aku tidak bisa berkata apalagi menghujat perlakuannya. Karena semua manusia pernah melakukan kesalahan.


"Teteh...! Maukah Teteh mendengar saran saya?"


"Apa itu, Teh?"


"Putra Teteh tidak ingin apa-apa. Hanya ingin Teteh ingat dia, pertanda Teteh juga menyayanginya. Dan kalau Teteh bisa, tolong belikan pakaian lengkap. Lalu sedekahkan pada anak yatim atau yang membutuhkan atas nama putra Teteh. Kirimkan doa untuknya setiap habis sholat. Minta maaf sama Allah atas apa yang Teteh pernah perbuat dengan anak Teteh itu!"


Deg.


Mata Ibu Muda itu menatapku tajam.


Ya Allah! Lancang sekali mulut ini berani menasehatinya. Padahal sekilas mungkin usia kami tak jauh beda. Duh, Liana! Bagaimana kalau dia marah? Bagaimana kalau dia tak terima kau ikut campur urusan pribadinya?


Grep.


Terkejut setengah mati, aku. Tangannya merangkul bahuku. Ia menangis di pelukanku.


"Terima kasih. Terima kasih banyak, Teteh! Ya Allah Gusti Nu Maha Agung! Hampura abdi, hampura! Hik hik hiks..."


Aku ikut terhanyut dan turut menitikkan air mata.


"Ini... Ada sedikit uang. Semoga bermanfaat untuk Teteh! Saya permisi, ya? Sepertinya bisnya sudah datang! Teteh hati-hati di jalan. Sampai jumpa adik tampan!"

__ADS_1


Aku menaruh uang kertas seratus ribu rupiah di tangan ibu muda itu. Lalu berdiri dan mencolek lembut pipi mulus anak tampan yang ada dalam pangkuannya. Aku harus pulang. Aku juga harus menyelesaikan masalahku segera.


"Teteh? Ya Allah, Gusti! Teteh terima kasih banyak!"


"Sama-sama! Kang, berapa semuanya?"


Aku ikut senang. Ternyata kemampuanku bisa membantu meringankan beban orang lain walaupun mungkin hanya sedikit.


Alhamdulillah.


Dengan bis yang sama ketika berangkat, aku menaiki tangganya dan mencari tempat duduk yang kosong. Aku masih sangat ingat dengan wajah supir dan kernetnya.


"Neng yang waktu itu ya?" tanya sang Kernet ketika melihat wajahku sepintas.


Aku hanya tersenyum. Pak sopir dan kernetnya juga ikutan senyum.


"Tidak usah bayar, Neng!" kata sang Kernet membuatku memicingkan mata.


"Lho? Koq gitu?"


"Rezeki jangan ditolak. Hari ini hari pernikahan perak Kang Daspin, sopir bis ini! Minta doanya saja, biar dilanggengkan rumah tangganya juga minta doa untuk istrinya yang sedang dirawat di rumah sakit!"


"Aamiin ya Allah! Tapi... Jangan digratiskan. Rugi solar khan, Pak Sopir!?" tuturku antara kagum, terharu juga kasihan.


"Hanya satu putaran ini. Tepat jam sepuluh saat ini, saya mengucap janji pernikahan dua puluh lima tahun lalu sama istri. Jadi, saya mau berbagi kebahagiaan. Semua penumpang berangkat dari Banten ini saya gratiskan!"


"Alhamdulillah!"


"Alhamdulillah, terima kasih Pak Sopir!"


"Yeay, gratis nih Kang? Nuhun pisan! Lumayan pisan buat ongkos ojek sampe rumah!"


"Terima kasih ya, Pak Sopir! Sing sehat istrinya. Langgeng rumah tangga, sakinah mawaddah warrohmah!"


"Aamiin! Terima kasih doanya juga semuanya!"


Berbagi kebahagiaan itu bisa lewat apa saja. Banyak cara. Baik dengan materiil maupun moriil.


Disini aku mendapat banyak pelajaran. Kota kelahiran Papa, memberiku bermacam pencerahan. Bahwa orang baik akan selalu ada, walaupun semakin banyak orang jahat.


Contohnya pak supir bis yang membawaku ke kota asal.


Beliau baik dan murah hati selain ternyata adalah suami yang setia pada pasangannya.


Jangan menilai buku dari sampul saja. Karena aku juga dulu seringkali salah mengartikan segala sesuatu di dunia ini hanya lewat tampilan mata saja.


Perjalanan hidup seseorang hanya Allah yang tahu. Seperti pak sopir itu.


Aku dulu sering menilai kalau sopir itu 'suka mampir'. Genit, dan kebanyakan pandai mengambil hati wanita hingga bisa menclok sana-sini beristri dimana-mana.


Slogan setia 'setiap gang ada' seolah tertanam dalam jiwa. Padahal kenyataannya, tak semua supir mata buaya. Ada juga supir baik dan setia. Itu hanyalah cobaan kehidupan yang harus bisa kita atasi dan selesaikan.



BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2