DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 99 - SYUKURLAH


__ADS_3

Gusrak gusrak...


Krosak...


Brak brak brak!!!


Terdengar suara berisik. Seperti kursi yang dibentur-benturkan ke lantai. Lalu...


"Aaarrrggghhh... Rrrrrr...!!!"


Srek srek srek...


Suara cakaran kuku hewan mencabik-cabik daun pintu dan...


Gubrak!!!


Ada cahaya terang sedikit setelah pintu kamar terbuka.


Airlangga berubah seperti sosok Ki Jalu dan Ki Maung. Itu dalam penglihatanku.


Terlihat jelas, adikku itu kini sedang bergelut dengan para makhluk halus piaraan pemilik rumah ini. Dan... rupanya mata batinku melihat juga mengenali jelas Karuhun-karuhun yang berada di belakangnya.


Ternyata... Ternyata Pak Guru Hari juga salah satu dari keturunan putera Banten!!! Pantas saja, aku tidak bisa memasuki dan membaca semua ini. Dia dan aku masih berkaitan!


Sayangnya jalan yang diambil Hadi adalah jalan yang salah.


Nafsu telah merasuk dan membuatnya menjadi orang yang tidak memiliki belas kasih lagi.


Astaghfirullahal'adziiim...


Astaghfirullahal'adziiim...


Aku membantu adikku lewat jalur doa. Jalur langsung tembus ke langit dengan minta kebaikan Allah Ta'ala.


Yang bathil pasti akan kalah oleh kebathilannya sendiri.


Tidak akan menang sampai kapanpun.


Allah Maha Bijaksana.


Allahu Akbar


Allahu Akbar


Allahu Akbar


Bledarrr!!!


Petir menyambar membuat bumi terasa berguncang.


Lamat-lamat suara lantunan azan terdengar dari luar. Meskipun suaranya jauh, tapi aku yakin ini adalah adzan Subuh. Karena ada kalimat tambahan yang dilantunkan muazzin-nya.


Kembali terdengar petir dan kilat yang saling bertautan. Sambar menyambar membuatku semakin kuatkan hati dan fokuskan jiwa.


Hujan terdengar turun dengan derasnya.


Kurulap... Jelegerrr.


Seperti ada benda yang tersambar petir.


Lampu bohlam yang tadi terang seketika padam.


Ya Allah!!!


Sunyi, sepi. Tiada lagi suara kecuali derasnya hujan dan angin kencang diluar sana.


Aku masih fokus dengan mengandalkan pendengaran.


Angga mana? Angga???


"Kakak...! Kakak!!!"


Angga!!!

__ADS_1


"Mmmh... Mmmh..."


Aku berusaha memberi kode karena keadaan yang gelap gulita membuat kami susah melihat.


Cetrik.


Sebuah cahaya dari korek api gas yang Airlangga pantikkan.


"Kak Liana!!!"


Alhamdulillah! Terima kasih ya Allah!!!


Angga segera membuka ikatan sumpal mulutku. Lalu tangan dan kakiku juga.


"Angga!!! Hiks hiks..."


Kami saling berangkulan. Kuku tangannya berdarah.


"Angga! Tanganmu..."


"Tidak apa-apa. Kakak, kamu baik-baik saja kan? Ayo, ayo kugendong keluar!" katanya sembari membantuku berdiri.


"Tasku di ambil orang itu! Mas Jonathan pasti menelponku!"


"Sudah, biarkan saja. Yang penting kita keluar dulu dari sini!"


"Iya."


Ternyata kami disekap di ruang bawah tanah. Pantas saja gelap dan pengap rasanya.


Angga membantuku menaiki anak tangga yang terbuat dari kayu. Ukurannya sangat kecil. Sehingga kami harus hati-hati memijaknya, agar tidak terpeleset dan jatuh lagi ke bawah.


"Hati-hati!"


Angga memapah ku naik ke lantai atas. Kakiku kram kelamaan duduk dalam keadaan terikat kencang.


"Aku tadi sore minta tolong pada Mas tukang bakso di depan sana. Tapi sepertinya,... entah kenapa tidak terdengar sesuatu."


"Bangs*t itu memiliki jampi pengasih, Kak! Dia sudah menyihir orang-orang disekitarnya hingga aktivitas biadabnya tidak terendus dan dia bebas melakukan apapun tanpa gangguan."


Kami sama-sama menoleh lagi ke bawah.


Ada orang lain lagi selain kami!


"Angga! Sepertinya..."


"Kakak tunggu di sini! Aku turun lagi!"


"Hati-hati!"


"Iya."


Aku mengikuti perintahnya. Dan berdiri diam di ujung atas tangga sambil melihat ke sekeliling yang gelap gulita karena listrik padam.


Korek gas yang Airlangga bawa hanya satu. Sehingga tempatku berpijak menjadi gelap setelah Angga turun berlalu.


"Kakak!!! Ternyata ada dua korban di ruangan lain!!!" teriak Angga dari dalam. Suaranya menggema membuatku dengan jelas bisa mendengarnya.


Kutelan saliva. Ternyata tidak salah jika Stella terus-terusan menggangguku juga Airlangga. Dia khawatir korban semakin banyak. Bahkan ada yang sampai harus jadi pesakitan di rumah sakit jiwa.


Astaghfirullah...


Manusia terkadang bisa menjadi lebih jahat dari iblis. Itu karena nafsu sesat yang menguasai jiwa. Terutama ketika manusia itu merasa memiliki kemampuan lebih dari manusia lain.


Nauzubillah tsumma nauzubillah.


"Bagaimana keadaan mereka?" tanyaku juga dengan suara keras.


"Tolong...! Tolong!!!"


Aku tersentak kaget. Suara rintihan minta tolong dari arah ruang tengah rumah.


Suaranya seperti suara Hari.

__ADS_1


Kukepalkan jemariku. Bersiap pada kemungkinan terburuk.


Bersyukur juga karena lampu padam. Sehingga penerangan tidak ada otomatis membuat semua orang susah gerak.


Angga sepertinya sudah membawa salah seorang dan sedang menuju tangga. Cahaya dari korek api gas yang dibawanya mulai memberi penerangan.


"Angga!"


"Satu orang lagi,... kondisinya pingsan dan dalam keadaan,... bugil."


"Astaghfirullah...! Ya Allah Gusti!!!"


Aku berusaha membantu seorang gadis muda yang dipapah Angga. Kami kemudian menyenderkan tubuhnya di lantai.


"Aku turun lagi, Kak!"


"Iya."


"Adek, adek? Kamu sekarang baik-baik saja! Tenanglah, Kakak ada di sini! Kita akan keluar sama-sama!"


"Hiks hiks... hiks..."


Gadis muda itu terlihat masih sangat shock. Tubuhnya lemah dan berkeringat dingin. Bahkan bibirnya gemetar ketakutan. Hanya isak tangis yang tertahan yang bisa dia ucapkan.


Aku memeluknya erat. Mencoba menenangkan ketakutannya yang luar biasa besar.


Psikisnya sepertinya terguncang hebat. Dan aku tidak boleh mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.


Angga kembali dengan seorang korban lagi. Dia menggendong pelan ketika menaiki anak tangga. Nyala api korek gas tidak membantunya karena Angga harus membawa gadis itu dengan dua tangan.


"Hati-hati, Ngga!"


"Iya, Kak!"


Kini Angga sudah kembali menyalakan korek gas nya. Cahaya api yang kecil tapi mampu membuat kami semua bisa meraba jalan keluar.


"Kakak, pegang koreknya. Aku gendong lagi gadis ini!"


"Iya. Eh tunggu, sepertinya si Hadi ada di ruangan depan! Dia seperti mengerang kesakitan! Periksa dulu, Ngga! Khawatir kalau nanti dia menyerang kita!"


Angga mengangguk. Ia keluar sebentar untuk melihat situasi dan kondisi.


Sementara Aku berdiri dengan tangan kiri menggandeng gadis muda dan tangan kanan memantik korek gas.


Panas korek membuatku sesekali mematikan apinya.


"Dia kualat kesambar petir!"


"Alhamdulillah!"


Baru seumur-umur kali ini Aku malah ucapkan Alhamdulillah ketika ada orang yang kena musibah. Hhh...


Cahaya di luar jauh lebih terang. Pukul lima pagi semburat sinar matahari mulai terlihat.


Aku lega karena kita berempat sudah bisa keluar dari rumah laknat itu.


Sementara di tengah ruangan ada sesosok tubuh tergeletak dengan kondisi separuh tubuhnya terbakar.


Pagi yang diawali dengan keributan yang menggegerkan.


Ternyata di depan gedung sekolah, pasukan polisi sedang melakukan pemeriksaan. Ada suamiku juga di sana beserta pak Kodir, sopir pribadi yang mengantarku ke rumah Stella kemarin siang.


"Liana!!!"


"Mas Jonathan!!!"


Aku berhambur ke pelukannya.


Wajah suamiku yang tadi pucat tegang kini jauh lebih berwarna.


"Alhamdulillah, Alhamdulillah!!! Ya Allah Alhamdulillah istriku selamat!"


Kami semakin eratkan dekapan. Sampai seorang polisi wanita memberikan selimut tebal dan mempersilakanku untuk ikut ke markas kepolisian.

__ADS_1


Kenapa aku jadi sering sekali berurusan dengan pihak berwajib?! Belum lama sewaktu Mama, Intan dan Nadya jadi korban pembunuhan yang dilakukan Papa Bambang, aku pula jadi saksi. Sekarang, harus jadi saksi pula. Hhh...


BERSAMBUNG


__ADS_2