DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 15 - KETIKA UJIAN DATANG BERTUBI-TUBI


__ADS_3

Sesak dadaku, hancur batinku. Ujian datang dengan bertubi-tubi.


Padahal aku sudah cukup percaya diri, setelah berhasil melewati ujian hidup di masa remaja. Menjadi anak broken home yang hampir hancur lebur ketika Papa Mama bercerai dan tak bersedia membawa kami padahal mereka telsh move on sama-sama punya pasangan baru.


Hidup terlunta-lunta menumpang pada saudara. Kupikir itu adalah ujian terberat dalam hidupku.


Tuhan kemudian kirimkan aku lelaki baik budi. Yang kukira adalah persinggahan terakhir abadi sampai mati. Nyatanya...


Ternyata ujian hidupku masih terus dan terus. Bahkan kini semakin lebih berat lagi.


Rumah tangga hancur, adik satu-satunya tempatku berbagi curahan hati rupanya juga sedang mengalami banyak masalah.


Tempat terakhirku hanyalah Tuhan semata.


Sujud mengadu kenapa ujianku datang bertubi-tubi. Silih berganti bahkan tanpa bisa kuselesaikan satu persatu, masalah baru sudah datang lagi.


Aku mengajak Genta bicara setelah selesai sholat. Kupukuli bahunya sambil menangis tersedu.


"Genta, sadarlah! Kau dapat uang sebanyak itu pinjam dari siapa? Hah?"


Aku histeris, semakin tak terkendali. Membuat adikku satu-satunya itu kewalahan juga.


"Kakak, kau yang harusnya sadar!" ujarnya mencoba menenangkan.


"Genta, jangan terlalu menghamba uang, Gen! Kita sudah terbiasa hidup susah. Kita sudah melewati fase tak bisa makan apalagi jajan! Kita sudah pernah mengalami itu, Genta! Untuk apa kamu pinjam uang sebanyak itu? Untuk modal usaha? Atau untuk gaya? Jangan kamu lanjutkan jalan yang sia-sia, justru akan membuat langkahmu semakin sulit karena akar bunga pinjaman yang membengkak jika sehari kau telat bayar. Jangan Genta!!!"


Aku berusaha membuka mata hati adikku. Dia seorang saja saudara yang kuandalkan walaupun dari Mama Papa kami juga memiliki saudara lain.


Genta menangis tergugu di lantai.


"Kakak... Aku bingung! Aku tak tahu harus bagaimana lagi! Hik hiks..."


Kurangkul bahunya. Aku ingin Genta sadar, aku adalah saudaranya. Kesedihannya adalah kesedihanku. Duka laranya juga deritaku. Airmatanya menjadi kegundahan hatiku juga.


"Berapa hutang totalmu?"


"Empat puluh lima juta berikut bunga! Tadinya seratus juta, tapi sudah kubayarkan setelah Bang Irsyad memberiku uang selama dua bulan belakangan ini. Total dari Bang Irsyad adalah 35 juta, Kak! Hik hik hiks... Jadi, aku berhutang dari Bang Irsyad sekarang!"


Terkejut sekali mendengar penuturan Genta yang mengagetkan. Jantungku berdetak kencang.


"Seratus juta? Untuk apa kau pinjam uang sebanyak itu?"


"Aku awalnya pinjam tiga juta, pembayaran aman. Lalu top up lagi naik dua kali lipat, masih sanggup kubayar bulanannya. Lalu naik lagi jadi sepuluh juta. Aku mulai pusing dan kadang seminggu aku molor bayar hutang. Tetapi bunganya tetap berjalan!"


"Itu sudah pasti! Kau khan tahu itu sejak dahulu?" bentakku kesal.


"Hik hiks..., aku sampai terbelit bayar hutang. Aku, pusing... Mesin printer di gudang kantor terpaksa kubawa untuk kujual. Boss marah mengetahui perbuatanku. Aku dipecat secara tidak hormat dari perusahaan tempatku kerja, Kak! Aku hancur, Kak! Aku juga ingin terbebas dari jerat hutang ini! Itu sebabnya aku mengambil keuntungan darimu, dengan menerima tawaran sejumlah uang dan mendiamkan perlakuan kejamnya padamu. Bamg Irsyad juga mengajakku ke villa Eyang Subur. Dia bilang, Eyang bisa membantu permasalahanku setelah mandi kembang tujuh rupa setiap malam jum'at kliwon. Aku sudah menjalani ritual itu satu kali. Tinggal dua jum'at kliwon lagi."


Plak


Terang saja aku marah pada Genta.


Tamparan pedas ini kuharap bisa membangunkan adikku dari kesalahan terbesarnya bersekutu dengan setan.


"Kau jadi pengikut Eyang itu? Mengikuti semua anjurannya bahkan walau lama kelamaan otakmu jadi miring dan kosong? Hanya menuruti perintah dia? Begitu?"


Aku tertohok sekali.


Kami memang dibesarkan kurang dari kasih sayang dan didikan yang benar dari orangtua.


Tetapi sejak kecil kami juga sudah sering mengaji pada salah satu ustad sesepuh di daerah tempat tinggal kami. Setidaknya, ada dasar dan pegangan hidup yang menguatkan karena kami sedikit faham perintah Allah, Tuhan kami.


"Kita ini manusia hina, Genta! Kita jarang bersyukur pada-Nya! Tapi jangan sampai kita juga jadi manusia kufur! Apalagi percaya dukun cabul seperti Eyang Subur itu! Percaya pada Kebesaran Allah! Bukan dengan aki-aki peyot bau tanah itu!!!"

__ADS_1


"Kak! Eyang itu bukan orang sembarangan! Dia punya ilmu tinggi! Banyak orang hebat yang ternyata juga suka datang dan minta pengasihan padanya. Terutama untuk mempermulus jalan usaha dan jabatan."


"Aku tidak peduli! Dia manusia, Genta! Sama seperti kita! Makannya nasi. Bahkan mungkin bubur nasi karena sudah tak punya gigi!"


Aku kesal tingkat tinggi memarahi Genta. Otaknya sudah separuh terkontaminasi ilmu sihir yang aki-aki peyot itu gunakan.


Kini aku semakin sadar. Lingkaran setan itu sudah sangat menguasai kehidupan sekitarku.


...........


Langkah kakiku semakin mantap seiring pagar rumah tempat kami dulu tinggal bersama sudah terlihat setelah turun dari ojek online.


Usahaku sepertinya tak ada masalah meskipun pemiliknya kini sedang ada guncangan.


Orang tak dikenal silih berganti keluar masuk pagar untuk urusan jual beli di toko online-ku. Hari yang sibuk dan mendatangkan keberkahan bagi pemasukan toko online.


"Ratih!" sapaku tatkala melihat seseorang yang familiar keluar rumah sebelah. Toko onlineku memang berada tepat di samping rumah kami.


"Ibu Liana!?"


Kami saling menghampiri. Berpegangan tangan setelah cipika-cipiki.


"Apa kabar Ratih?" tanyaku dengan perasaan kangen yang meluap.


"Baik. Ibu apa kabar?" tanyanya sembari mengusap lembut pipiku.


"Bu Liana?" Wisnu, karyawanku juga langsung menghampiriku.


"I_ibu?"


Aku semakin dikenali para karyawanku.


"Liana! Mau apa kau kemari?"


Pertanyaan aneh tentunya yang membuat dahiku mengernyit bingung. Bang Irsyad, seolah membenci kedatanganku. Tentu saja aku marah tak terima begitu saja ketidak sukaannya yang jujur.


Tentu saja aku tak terima penghinaannya di depan para karyawan kami.


Dia yang bersalah, tetapi mengapa dia menganggap seolah aku tersangka utamanya.


Kuterjang punggung tubuhnya.


"Pergilah! Aku sudah menyelesaikan semua urusanmu dengan Genta, Liana!"


"Kamu jahat, Bang! Kamu memanfaatkan keadaan Genta! Kamu,"


"Kakak!"


Aku tercekat.


Wajah polos nan lugu dan kukira baik hati kini ada dihadapanku. Di depan pintu rumahku sendiri. Yang kubangun bersama Bang Irsyad dengan ide-ide serta diskusi panjang kami setiap malam menjelang tidur.


Katliya, berdiri di depan dengan tatapan yang misterius. Sulit sekali kuartikan apa maksud tatapan anehnya. Ada kesenduan, kilatan juga, seolah cupu padahal suhu. Dia menatapku tak bergeming.


............


Kini kami duduk di sofa rumah. Rumahku, lebih tepatnya.


Sayangnya karena kepolosanku yang naif, yang mungkin sebagian orang menyebut aku adalah perempuan bodoh.


Seluruh aset harta berharga rumah tangga kami, semua diurus dengan nama Bang Irsyad sebagai pemilik dan penanggung jawabnya.


Tak terpikir olehku bahwa dihari ini semua menjadi penyesalan yang teramat dalam dihatiku.

__ADS_1


Tanah, rumah, bangunan toko, mobil, beberapa sepeda motor dan juga beberapa sertifikat tanah yang kami punya, semua tertuliskan nama Irsyad sebagai pemilik sahnya. Bukan aku. Bodohnya diri ini!


Dulu, kupikir, rumah tangga kami akan aman sampai akhir masa. Tak akan ada kasus menyakitkan yang membuat kami harus membagi harta.


Terlebih anganku, jikalau kami memiliki anak, sudah pasti akan jadi aset warisan untuk anak kami nantinya. Jadi semua harta itu tak akan jadi masalah meski atas nama dirinya.


Tapi ternyata, aku terlalu polos menjalani hidup ini.


Aku lupa karena merasa sudah cukup bahagia selama hidup bersama dengan dirinya.


Aku lupa, cinta tak selamanya indah. Aku lupa, aku juga pernah mengalami masa-masa menakutkan untuk mengenal cinta dan berumah tangga.


Seorang Irsyad telah mengubah ketakutanku menjadi seorang budak cinta yang percaya penuh pada janji manis serta cinta palsunya selama ini.


Katanya, aku ibarat bintang paling bersinar yang selalu menerangi hidupnya.


Katanya, aku adalah bulan satu-satunya yang menerangi malamnya.


Mana ada bulan satu, dua, tiga... Kecuali bulan dalam setahun yang ada dua belas. Begitu rayu dan pujanya dahulu.


Aku seringkali mengeluhkan kelemahanku. Tak bisa masak, tak pandai mengurus rumah. Tapi katanya, Dia mencari istri yang bisa diandalkan untuk membantunya sebagai navigator bukan mencari koki dan juga tukang cuci.


Tak penting bisa masak atau tidak. Tak harus pintar mengurus rumah. Baginya, pasangan itu adalah orang yang setia, sejalan dan seirama. Tempat berbagi suka duka, canda tangis serta diskusi. Itu katanya. Itu kata Irsyad sepuluh tahun lalu.


"Kak Liana!"


Katliya membuka omongan lebih dahulu. Membuatku tersentak sadar dari lamunan masa laluku.


"Liya! Teganya dirimu berbuat begini padaku!" selaku membuat perempuan setan itu menelan salivanya.


Sejujurnya dimataku dia tak berubah sama sekali. Tak jadi lebih menakutkan karena punya backing dukun yang hebat.


Aku justru melihat ketidak percayaan dirinya yang semakin besar menutup rasa ketakutannya kepadaku.


"Kakak! Aku... Tidak tahu, ternyata jodohku adalah Bang Irsyad!" katanya sambil menunduk.


Aku mendengus. Tertawa geli pada tingkahnya yang menjijikkan pura-pura lemah padahal berbisa.


"Jangan mengintimidasi Katliya, Lian!"


Aku kini tak lagi kaget. Hardikan Irsyad justru membuatku tersenyum sinis.


Kau telah jadi anjing peliharaannya, Bang! Kasihannya kau! Sadarlah! Lekas sadar, jika kau tak ingin selamanya jadi budak perempuan ular ini!


"Kami... Sudah menikah siri!" tambah Katliya dengan kembali mengangkat wajahnya. Kini tatapan matanya kembali menguat.


Cih! Sepertinya dia sudah merafal ajian-ajian dari Eyang peyotnya itu!


"Uhuk uhuk!"


Lagi-lagi aku terbatuk. Dadaku seketika sesak, dan...


Aku kembali muntah darah.


Rupanya setan-setan peliharaan dukun cabulnya juga sudah menguasai rumah ini!


"Ibu!!!"


Ratih memekik tapi tak berani menghampiriku.


Irsyad bodoh justru hanya diam bagaikan patung lilin yang membatu tak punya lagi hati.


Katliya sendiri pucat pasi melihatku langsung muntah darah segar dihadapannya. Bahkan sampai mengenai meja kursi tamu rumah kami yang kupilih setahun lalu di KIA.

__ADS_1


Hhh...


BERSAMBUNG


__ADS_2