
Adakah cinta itu selamanya manis bagaikan gula? Bisakah cinta sejati abadi mulus sepanjang masa?
Tapi mengapa cinta terasa pahit bagiku seperti empedu.
Mengapa?
Grep.
Tiba-tiba tangan Jordan meraih kedua tanganku.
"Liana!... Adakah sedikit saja cintamu untukku? Adakah? Atau mungkin, ungkapkanlah kalau kau lebih mencintaiku dari pada Gege! Ungkapkan, Liana! Lantas apa artinya kedekatan kita selama hampir tiga bulan ini, Lian? Please, beri aku harapan... Kali ini kumohon!"
"Jordan! Hik hik hiks..."
"Aku mencintaimu sedari kita masih kecil! Aku sangat mencintaimu sampai merubah tubuh gendut dan penampilan cupu-ku menjadi seperti sekarang ini! Berharap suatu saat kita ketemu dan kau bisa jadi milikku! Untuk kuyakini kalau aku mampu mendapatkanmu!!!"
Teriakan demi teriakan Jordan bagaikan hukuman yang membuat nyeri ulu hatiku.
Aku salah.
Aku sangat bersalah, ya Tuhan!
Alih-alih ingin mendapatkan cinta sejati, tetapi justru aku menancapkan belati tajam di relung hati Jordan dan mungkin saja juga Jonathan.
Lalu, aku harus apa? Harus bagaimana?
Baru saja aku terlepas dari cengkeraman seorang Irsyad yang benar-benar membuat hidupku hancur luluh lantah. Kini aku dihadapkan pada cinta yang dahsyat dari seorang Jordan Ardian.
Ya Allah Gusti!!!
Aku ingin cinta yang besar. Tapi takut dengan cinta yang membara sampai-sampai api cintanya membakar seluruh jiwa raga.
Aku ingin bahagia yang banyak. Tapi ngeri juga jika bahagia ini tampak sangat berlebihan hinggaku tak tahu lagi bagaimana untuk menyikapinya.
__ADS_1
Jordan melepaskan tanganku.
Ia menangis sesegukan di atas setir mobil. Sesekali meninju-ninju dashboard hingga buku jari-jari kanannya luka dan berdarah.
"Jordan!..."
"Kenapa kita dihadapkan Tuhan seperti ini, Liana? Apa doa kita salah? Apa cinta kita yang salah? Tapi aku tulus mencintaimu. Aku menyayangimu sepenuh hati seluruh jiwa raga! Bahkan jika kau minta aku tabrakan mobil ini dengan kendaraan lain pun aku mau Liana!"
"Jordan! Hik hik hiks... Jordan, maaf!"
Aku dan Jordan menangis kian larut. Terseret ombak ganas dilautan cinta yang dahsyat.
Cinta yang membabi buta bagaikan angin kencang menyapu apapun yang ada di sekitar.
Aku, Liana Wulandari. Berumur 32 tahun mau 33 tahun akhir tahun nanti. Tapi baru kali ini aku merasakan gejolak cinta yang luar biasa. Cinta yang teramat besar dari seorang pria.
Ya Allah ya Tuhanku...
Dulu, dulu dan dulu kepercayaan diriku nyaris sangatlah tipis.
Menjelang remaja, Tuhan memberiku banyak cobaan. Bertubi-tubi bahkan sangat menyakitkan.
Kami jatuh miskin. Mama dan Papa bercerai. Aku dan Genta bahkan harus tinggal di rumah kerabat demi untuk melangsungkan hidup kedepan.
Aku... Pontang-panting sampai jatuhkan harga diri. Sekolah dari TK, Sekolah Dasar belajar di sekolah elit. Lantas sempat SMP pun di tempat pendidikan khusus yang SPP-nya ratusan ribu perbulan. Tapi di kelas tiga harus pindah ke sekolah sederhana yang jauh di pelosok. Dan menghilangkan semua jati diri serta kenangan kecil masa lalu yang teramat manis legit bagaikan madu.
Lanjutkan sekolah menengah atas pun dengan terseok-seok. Bahkan sampai sekolah pun aku masih berusaha cari uang tambahan dengan bekerja di kantin sekolah sebagai tukang cuci piring setiap jam istirahat demi sejumlah uang yang waktu kecil kuanggap mainan.
Tamat SMA berharap cepat dapat kerja. Karena malu terus-terusan menumpang saudara Mama.
Aku tanpa sadar menjadi pribadi yang dingin dan tak pedulian. Tak butuh cinta karena merasa semua telah dirampas paksa dariku tanpa bertanya siapkah aku memikul bebannya.
Mama, Papa bisa dengan mudah memulai hidup mereka yang baru. Bagiku itu sangat menyakitkan. Juga bagi Genta. Itu sebabnya kami kakak beradik selalu berusaha melindungi satu sama lain.
__ADS_1
Hingga akhirnya aku bisa mandiri berdikari hidup sendiri. Bekerja di pabrik dan tinggal di kostan. Itu lebih baik daripada terus-terusan menjadi benalu di rumah Uwak Darmawan, kakak Mama.
Irsyad datang. Aku jatuh cinta.
Aku merasa, Allah tidak mungkin terus mengujiku dengan kesedihan.
Aku baru tersadar. Kala itu aku yang lebih sering mencari perhatian Irsyad. Aku terpesona pada pandang pertama karena dia adalah pahlawanku. Itu anggapanku padanya dahulu.
Hingga seringnya aku merapat mulai dari pertemanan lalu menjadi persahabatan, kami makin akrab.
Irsyad mengatakan cinta juga padaku setelah proses yang lumayan panjang.
Kami, sama-sama bertekad ingin hidup lebih baik lagi. Dari orang biasa, menjadi manusia yang luar biasa. From zero to hero.
Perlahan kami satukan kekuatan cinta. Dua anak manusia berusaha merubah takdir menjadi orang yang semakin baik, membawa kami sampai ke titik yang orang menyebutnya bahagia.
Tapi..., perjalanan panjang tak serta merta membuat Irsyad berfikir beribu-ribu kali untuk tidak merespon godaan wanita lain.
Katliya datang, menjadi duri dalam rumah tanggaku yang kuanggap sempurna. Gadis itu, musuh dalam selimut bahkan bagaikan pagar makan tanaman.
"Kakak! Kakak!!! Kak Liana!!!"
Samar-samar kubuka mata. Genta memanggil-manggilku sembari menggedor jendela pintu mobil.
Ada apa? Ada apa ini?
Ramai orang berkerumun mencoba membantuku membukakan pintu mobil mewah yang dikendarai Jordan.
Kutengok ke arah pria yang tadi menangis bersamaku.
"Jordan? Jordan!!! Jordan kita kenapa?" teriakku histeris sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya yang diam sementara dahinya bercucuran mengalir darah segar.
Ternyata, kami mengalami kecelakaan.
__ADS_1
BERSAMBUNG