DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 86 - Akhirnya, Malam Pertama


__ADS_3

"Wak..., apakah saudara kami satu lagi yang mendapat surat dari Wak Hardi belum datang?"


Wak Wati tersenyum semnari berkata.


"Wak kata..., simpan surat terakhir. Itu akan berikan kemudian. Bisa untuk waktu yang lama menunggu kehadirannya."


Aku, Teh Neyna, Jumanta dan Airlangga hanya bisa termangu.


Berarti saudara kami terakhir yang memiliki kemampuan lebih belum dapat ditemukan Wak Hardi! Hm...


Kami saling menukar kontak. Saling merapatkan tali silaturahmi satu sama lain walaupun berada di belahan tempat yang berbeda.


Mas Jonathan juga mulai mengenal pribadiku jauh lebih dalam. Ia tak banyak berkata, tak banyak bicara ketika aku ada dalam lingkungan keluarga.


Walau begitu suami tampanku itu tetap kuat menggenggam tanganku.


Dia pasti masih sangat mengingat pesan serta amanah Wak Hardi.


Tolong jaga putri kesayangan kami!


Suara tegas Wak yang berat dan nge-bass membuatku kangen dengannya.


Rasa rindu ini begitu membludak, padahal baru beberapa hari saja beliau pergi.


Pelukan hangat suamiku di malam hari dalam kamar membuat luruh lagi air mataku. Tatapannya dalam dan penuh arti.


"Mas...! Aku mencintaimu. Jiwa ragamu, lahir batinmu!" bisikku. Membuat pipinya bersemu merah jambu seketika.


"Kamu sedang merayuku, Liana? Ini masih di bumi Banten, bukan di rumah kita, Sayang!" timpalnya malu.


"Kenapa? Apa bedanya? Toh kita suami istri. Memberikan rayuan dan juga pujian tidak perlu melihat tempat bukan?" godaku dengan suara pelan.


Tawa mas Jonathan mendebarkan hati ini.


Aku...belum pernah bersama dengannya sejak malam pertama.


Apakah... Bolehkah... Aku ingin mencoba lagi.


Rupanya suamiku membaca jalan fikiranku.


Ini malam terakhir kami tidur di kamar rumah Wak Wati. Esok setelah sholat Subuh kami akan kembali ke ibukota. Tepatnya rumah pabrik karena rutinitas wajib sudah menanti.


Tangan Mas Jonathan pelan-pelan mengel*s pipiku. Telapaknya yang lembut dan hangat membuat senyumanku nampak.


"Mas..."


Naluri kami, secara alami timbul sedikit demi sedikit. Hasrat ingin bersatu perlahan mulai menggebu.

__ADS_1


Dua pasang mata yang saling menatap mesra. Sentuhannya, binar indah matanya dan semuanya...membuat jiwaku melayang terbang tinggi di atas khayalan.


Kini kami duduk berhadapan. Semakin dekat dan terus mendekat.


Pucuk hidungnya menyentuh hidungku. Bahkan sampai terasa hembusan nafasnya yang lebih dan wangi pasta gigi.


Dia mengecup bibirku. Lembut sekali.


Aku pun membalasnya. Melakukan hal yang sama seperti dia.


Sensasinya seperti menjilat es krim di tengah terik panas matahari. Hangat tapi menyejukkan.


Hawa hangat menjalari seluruh tubuh.


Getarannya halus, perlahan semakin cepat menyentuh kalbu.


Kami bercumbu mesra saling *******. Bibir ranum Mas Jonathan menggodaku untuk iseng menggigit kecil. Dia menahan pekik terkaget mendapati gigitan pelanku di bibirnya.


"Isss... Iseng ya?" bisiknya sembari menjilat daun telingaku. Rasanya merinding geli tapi enak.


Aku terkekeh pelan. Kemudian terpekik seketika tatkala kurasakan jemarinya yang lebih lihay ternyata telah berada di balik blusku. Masuk ke dalam buah kenyal yang berlindung dibalik cup XL ukuran 38 inci.


"Nakal!" umpatku manja dengan telunjuk menjentik hidung mancungnya. Kini Mas Jonathan yang tertawa kecil.


"Satu sama!"


"Hm..."


"Mas..."


"Hmm..."


"Ah..."


Aku melenguh, tatkala mulutnya menghis*p pucuk dadaku yang menyungsung. Sesekali Mas Jo berpindah ke gunung yang satunya. Masih tetap menyesap dengan lahap seakan sangat dahaga padahal tidak mengenyangkan juga. Dia semakin pintar rupanya.


Aku tersenyum dalam hati. Diam-diam berdoa agar malam ini penyatuan kami berhasil.


Satu persatu pakaian kami mulai ditanggalkan.


Malam ini, kami percaya diri untuk memulai kembali keintiman yang gagal tempo hari.


Dan...


"Mas..., sayang...! Ahhh..."


"Liana, istriku...ya ya... jangan berhenti sayang! ya, yaa... ah wow!"

__ADS_1


Des*han demi des*han makin memacu adrenalin kami untuk lakukan itu lagi.


Rasanya, malam ini adalah malam terindah dalam hidupku. Malam penuh keindahan bunga aneka warna. Lebih indah dari malam bulan purnama.


Peluh Mas Jonathan sampai menetes di atas tubuhku yang juga basah keringat.


Kami tertawa kecil, saling memagut bibir merah merona yang menggoda mata.


Si tampan ini benar-benar membuatku gila dengan gayanya yang gentleman.


Ya Allah... terimakasih banyak ya Allah! Kau beri kami bahagia. Kau sembuhkan semua luka. Alhamdulillah...


Malam yang indah.


Kami tertidur pukul satu malam dengan hati membuncah bahagia. Saling memandang dengan bibir tersenyum senang.


"Terima kasih, Sayang!... Aku sangat bahagia, aku akhirnya bisa memberikan nafkah batin setelah sepuluh hari kita menikah!"


Mas Jonathan mengecup keningku.


Tangan kekarnya merengkuh bahuku hingga masuk ke dalam dekapan hangatnya.


Dan mata terpejam setelah hati ini mendawamkan doa tidur.


Aku harus bangun sebelum azan subuh. Supaya bisa mandi junub di kali tanpa diketahui orang.


Rumah Wak memang tidak memiliki kamar mandi di dalam. Mereka terbiasa mandi di sungai. Kecuali kakus/ lubang WC yang dibuat di halaman belakang rumah untuk keadaan darurat saja.


...............


Mandi pagi-pagi buta dengan tangan saling berpegangan membuat kami seperti memiliki rasa salah. Wajah memerah menahan malu. Karena kami bangun kesiangan tidak sesuai harapan.


Otomatis orang-orang sudah banyak beranjak kali untuk mandi, berwudhu dan lain sebagainya.


"Duh... Apa ada yang memperhatikan kita ya, Yang!?" gumam suamiku pelan.


Walau kami memakai kain basahan, tetapi keramas di pagi buta rasanya orang akan sedikit curiga.


"Duh, Yang! Ga deh, yang penting kita mandinya agak mojok sedikit biar tak ada orang yang memperhatikan!" kataku berusaha menenangkan dia.


Secara kami kurang terbiasa mandi di tempat umum. Apalagi di tengah sungai yang luas tanpa sekatan kecuali batu-batu kali yang menjadi tempat bersembunyi.


Ini pengalaman pertama mandi junub di kali dan juga melakukan hubungan intim yang pertama kali.


Lagi-lagi aku dan mas Jonathan hanya bisa tersenyum malu-malu.


Subuh yang indah dan menyenangkan.

__ADS_1


Setelah itu kami kembali pulang ke rumah diiringi doa kebaikan dari Wak Wati dan para saudara yang lainnya.


BERSAMBUNG


__ADS_2