
Aroma kedai seafood yang biasa kami datangi terasa begitu berbeda. Aroma amisnya laut seperti bercampur dengan aroma darah yang... mirip... darah manusia. Wallahu.
Aku sebenarnya sudah beberapa kali makan seafood di tempat ini.
Rasa masakannya enak dan olahan seafood- nya juga segar. Biasanya.
Tapi entah kenapa hari ini aku merasa kurang enak badan. Penciumanku agak kurang baik.
Sampai tiba-tiba...
"Kakak..."
Seseorang memanggilku.
Katliya?!? Mau apa dia sampai ada di sekitar sini?
Mas Jonathan jauh lebih kaget lagi dariku.
"Kakak... Tolong!"
Aku hanya menatapnya tanpa bicara. Tangan suami sudah siaga mengapitku kembali ke parkiran tempat kendaraan kami di parkir.
Kini kusadari, Mas Jonathan jauh lebih posesif dariku. Padahal hanya seorang Katliya, perempuan yang sedang hamil besar. Bukan seorang pria yang mengejar cinta. Hm.
Alhasil kami batal makan seafood di malam itu. Dan pergi menghindar jauh-jauh dari perempuan bernama Katliya.
Mas Jonathan malah mengajakku makan bakso setelah mobil yang dikendarainya meluncur sekitar satu atau dua kilometer dari restoran seafood tadi.
"Jangan bahas apapun yang tadi!"
Suamiku sepertinya sudah bisa menebak apa yang akan kukatakan. Tentu saja aku hanya tersenyum gemas. Mas Jonathan semakin mengenali aku luar dalam. Tentu saja ada senang tapi juga geli lucu.
Kami benar-benar melupakan kejadian pertemuan dengan Katliya barusan.
Selain sudah malas berhubungan dengan orang-orang yang membawa masalah, kami juga tidak ingin kembali memiliki hubungan apapun itu. Karena sudah tidak ada lagi yang harus diperbaiki. Putus hubungan adalah yang terbaik.
Makan bakso memang segar. Tapi setelah itu perutku jadi sakit dan mual-mual ingin muntah.
Beberapa kali mas Jonathan kuminta berhenti di pinggir jalan karena aku ingin muntah. Tapi anehnya tidak. Hanya meludah sesekali dengan keadaan sadar dan bismillah mohon perlindungan Allah Ta'ala.
Suamiku bahkan sampai membaluri leher dan pundakku dengan minyak obat aromaterapi. Biar lebih enakan katanya.
Malam hari tidurku pun tak nyenyak. Hawa panas, gerah juga gelisah tak enak hati. Tapi tidak tahu apa yang membikin hati ini seperti mengambang.
Sholat Subuh pun agak berkurang waktu dzikirnya karena kondisi tubuh kurang fit.
Mas Jonathan mulai khawatir melihat aku yang seperti ini.
Berita pagi pukul tujuh mengabarkan berita mengejutkan. Berita pengeroyokan seorang perempuan hamil besar sampai tewas berikut bayi dalam kandungannya.
"Astaghfirullahal'adziiim...!!!"
Dan yang paling mengejutkan lagi ialah, perempuan hamil itu adalah Katliya. Dia meninggal dunia tepat di depan restoran seafood tempat kami bertemu semalam.
Ya Allah!!! Pantas saja aku mencium bau darah segar semalam ketika baru saja tiba di restoran itu semalam! Rupanya...
__ADS_1
Aku dan Mas Jonathan hanya bisa saling bertatapan. Tak banyak suara juga bingung hendak bereaksi apa.
Hanya diam dan berdoa dalam hati, semoga Katliya husnul khatimah serta di terima amal ibadahnya.
Tangan kami saling menggenggam. Berusaha menguatkan satu sama lain.
Umur, jodoh dan takdir tiada yang tahu.
Katliya, harus meninggal dunia di usia muda.
Ada sedikit penyesalan di lubuk hati. Andaikan semalam aku meresponnya, pasti akan lain ceritanya.
Tapi...,
grep.
Lagi-lagi suamiku faham isi hatiku.
Ia segera merangkul bahuku sembari menggeleng cepat. Bisa kudengar jerit hatinya yang berteriak, "Ini bukan salahmu, Sayang!"
Aku pun hanya bisa berpasrah pada Yang Maha Kuasa. Hidup mati seseorang sudah Allah atur tanpa kesalahan sedikit pun. Ini memang sudah menjadi garis tangan hidup Katliya.
Sementara Irsyad kabarnya sudah ditahan pihak kepolisian atas kasus penipuan dan judi online yang booming setahun lalu. Sedang menunggu ketuk palu hakim menjatuhkan vonis.
Sejak kejatuhan Eyang Subur sebagai dukun sakti yang dikenal mumpuni juga dukun jahat yang rendah akhlak hingga berani terima permintaan pasiennya asalkan cuan mahar nya sesuai keinginannya, seluruh pasien setianya tumbang satu persatu.
Ada yang berakhir tragis berujung kematian. Seperti Bambang yang memang sengaja melenyapkan nyawanya sendiri.
Bahkan sampai kini keadaan si dukun mesum dan sadis itu keadaan fisik serta psikologisnya goyang parah.
Kini bahkan si dukun yang telah cacat mental jiwa raga. Mata buta, tubuh hanya tergeletak di atas pembaringan lusuh, bau pesing, kotoran bertebaran di mana-mana.
Benar-benar hidup menjijikkan.
Rumah besar yang dahulu penuh perabot mahal buatan luar negeri punya, satu persatu raib hilang di angkut keturunannya yang haus harta tapi tak peduli.
Subur setiap hari, setiap jam bahkan setiap detik hanya bisa teriak. Menjerit dan juga meraung kesakitan dalam kesendirian.
Begitulah. Kejahatannya menjadi bumerang bagi hidupnya sendiri.
Maha Suci Allah dengan segala firman-Nya.
................
Hari kedua, keadaanku bukan bertambah baik. Malah semakin tidak enak badan ini terasa.
Suamiku yang mulai faham dengan kelebihan yang kumiliki baru-baru ini langsung menjagaku begitu protektifnya.
Apalagi ia mulai parno dan takut kalau keadaanku saat ini ada kaitannya dengan kematian Katliya serta bayi dalam kandungannya.
Mas Jonathan khawatir kalau sakitku jadi berkepanjangan.
"Kita ke dokter, Yang! Harus general check up. Kondisi kamu bikin aku cemas!"
Begitulah dia. Suamiku yang paling kusayang dan kucinta.
__ADS_1
Dengan hati setengah ogah-ogahan karena aku memang kurang suka mendatangi rumah sakit, akhirnya kuturuti juga ajakan Mas Jonathan.
Pemeriksaan yang agak lamban padahal pasien cukup banyak serta bau obat yang menyengat membuatku semakin tak kuat. Wajahku pucat pasi. Bibirku bungkam menahan rasa yang tambah tak karuan.
"Dokter, apa istri saya perlu rawat inap?"
Bahkan yang berinteraksi banyak tanya banyak bicara justru adalah Mas Jonathan, bukannya aku Sang Pasien.
Dokter umum yang memeriksa justru memberikan rujukan ke dokter obgyn alias dokter spesialis kandungan.
Tentu saja jantungku berdetak lebih kencang. Kecemasan mulai melanda jiwa.
Aku pernah operasi kantung rahim karena kista di ovariumnya berubah menjadi serangan tumor ganas dan harus segera diangkat. Kini, apa... rahimku kembali bermasalah? Tapi..., aku tidak punya keluhan walaupun hubungan badan sampai tiga kali. Hanya badan sakit dan lutut lemas karena bergaya berbagai cara.
Malam itu juga aku diantar suami melanjutkan pemeriksaan di ruang Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi yang umumnya disebut dokter kandungan.
Alhamdulillah, dokternya seorang perempuan. Aku cemas kalau mendapat dokter pria. Sungkan sekaligus tidak bisa enjoy menanyakan hal-hal kewanitaan yang agak spesifik.
"Ibu Liana Wulandari,... selamat ya, ada janin berusia enam minggu dalam rahim Ibu. Memang masih masa penyesuaian, sehingga rasa yang tak biasa seperti perut kembung, mual, muntah, kram dibagian otot perut juga perubahan suasana hati adalah reaksi normal di awal kehamilan."
Hah?!?
Fikiranku blank seketika.
"Dok, apa dokter tidak salah diagnosa?" tanyaku tidak percaya.
"Kenapa, Bu? Apa selama ini ibu dan bapak menggunakan pengaman setiap melakukan hubungan intim?"
Aku dan Mas Jonathan saling berpandangan.
Lalu dengan cepat aku menggeleng.
"Bukan. Tapi saya pernah operasi pengangkatan kista tumor kista di kantung rahim sekitar tujuh tahun yang lalu, Dok!"
"Alhamdulillah berarti, Bu! Apa Ibu memang memprogram kehamilan?"
"Tidak, Dok! Saya justru pesimis bisa hamil dan melahirkan. Masalahnya saya belum punya anak juga padahal sudah lama dan sangat ingin memiliki. Saya pikir, kondisi rahim saya kurang sehat sehingga agak sulit mendapatkan anak."
Dokter Tisa SpOG tersenyum kecil.
"Berarti kabar ini adalah kabar baik untuk keluarga Ibu Bapak pastinya! Hehehe... Selamat ya, sehat-sehat selalu dan tetap menjaga kesehatan serta rajin periksakan kandungan untuk mengecek kondisi dede janin yang ada dalam perut Ibu."
"Terima kasih banyak, Dokter! Terima kasih!"
Seperti mimpi. Mas Jonathan tersenyum lebar hingga deretan gigi putihnya nampak indah dipandang mata.
"Yang! Alhamdulillah..., aku senang sekali!"
"Tunggu, Mas! Kumohon jangan dulu senang sampai kita coba periksakan ke dokter lain. Aku khawatir cuma salah diagnosa saja!" selaku masih tak percaya.
Ini benar-benar seperti mimpi di siang bolong. Aku takut hanya sekedar halusinasi saja.
Ya Allah.... Kumohon lindungilah kami dari kejahatan fitnah dunia. Aamiin...
BERSAMBUNG
__ADS_1