
Berdebar jantungku. Kompleks perumahan Mama Farida tinggal tampak lebih ramai dari biasanya.
Bahkan parkiran di pinggir jalan dipenuhi mobil patroli polisi. Juga ada... Mobil ambulan juga.
Ya Allah... Ya Allah, jagalah keluargaku ya Allah!
Tanganku basah, keringat mulai bermunculan seiring perasaan yang campur aduk.
"Permisi, Pak... Ada apa ya? Ramai polisi?" tanya suamiku pada salah seorang bapak yang berdiri tak jauh dari tempat kami memarkir mobil.
"Katanya ada pembunuhan, Mas! Istri dan dua anaknya di bantai!"
Astaghfirullahal'adziim...
"Mas..."
Entah mengapa, langkah kakiku semakin berat. Dadaku juga bertambah sesak.
Gang kompleks perumahan Mama! Mama!!!
Seperti bisa menerka isi hatiku, Mas Jonathan kian merapatkan tubuhnya menggandengku.
Kuat, kuat Liana! Kamu harus kuat!!!
Kami mulai menerobos barisan orang yang rapat padat mendekati rumah Mama Farida.
Rumah Mama!!!
Feeling-ku benar! Terjadi sesuatu pada Mama dan adik-adikku!
Polisi sibuk menghalau orang-orang yang mengganggu jalannya proses penyelidikan. Beberapa diantaranya mulai memasang police line di sekeliling rumah Mama.
Wajahku memucat.
"Selamat pagi, Pak! Saya menantu dari Ibu Farida. Dan istri saya ini putrinya. Ada kejadian apa, Pak?"
Aku hanya diam gemetar dengan mata nanar tak berkedip didekapan Mas Jonathan.
"Saudara menantunya? Silakan masuk, sebelum jenazah para korban di bawa ke rumah sakit!"
"Je_jenazah?"
Tanganku makin basah. Mas Jonathan menggenggamnya erat sambil menuntunku melewati garis polisi yang akan di pasang di depan pintu.
Jenazah? Jenazah siapa???
Aku merinding. Aura rumah Mama Farida begitu gelap menakutkan. Padahal semua lampu dinyalakan pihak keamanan. Tapi mata batinku hanya melihat kegelapan.
"Mama!?!" pekikku melihat dua orang berseragam putih sedang mengevakuasi tubuh Mama yang...bersimbah darah.
"Ya Allah Gusti!!!"
Ingin sekali kupeluk, namun pihak reserse menahannya.
"Tolong, jangan dulu sentuh apapun!" ujarnya tegas.
Mas Jo meraih tubuhku yang licin penuh keringat.
Tangisku pecah. Suara raunganku seketika membahana.
__ADS_1
"Intan? Nadia? Adik-adik saya mana?" tanyaku teringat dua adik perempuanku.
"Mereka juga tewas, Mbak!"
"Ya Allaaah!!! Astaghfirullaaah!!! Hik hik hiks..."
"Siapa yang melakukan ini, Pak?" tanya Jonathan dengan suara bergetar.
"Kemungkinan besar orang terdekat. Kami masih menyelidikinya."
Lemas lututku. Campur aduk perasaanku.
Untung saja Mas Jonathan sigap memegang tubuhku yang melemah.
"Mas..." bisikku lirih di telinganya.
"Kuatkan dirimu, sayang! Kamu kuat, kamu perempuan yang kuat!"
Aku merasa mendapatkan doping semangat lewat kalimat lembut yang suamiku ucapkan.
Tangannya terus memeluk bahuku erat meski keringatnya pun mengucur lumayan deras.
Mas Jo mengambil handphone dari sakunya. Ia menelpon seseorang.
"Hallo, Genta? Bisakah kamu kembali segera? Pulanglah lebih dahulu."
Aku hanya bisa menyenderkan tubuh kepada suami. hatiku hancur remuk.
Mama dan kedua adik perempuanku telah tiada, padahal baru tadi pagi mereka pamitan pulang setelah acara pernikahan kami.
"Kami mohon kerjasama, Mas dan Mbak diharapkan untuk ikut kami ke kantor polisi. Kami butuh keterangan saudara!"
"Pak, bagaimana dengan papa Bambang? Suami dari Mama kandung saya?" tanyaku teringat pada Papa Bambang.
Aku dan Mas Jonathan ikut mereka ke markas besar kepolisian wilayah setempat.
Ada hampir dua puluh lima pertanyaan yang mereka ajukan. Dan tentu saja aku serta suamiku menjawabnya dengan jujur.
"Kalian bisa mengurus prosesi pemakaman ketiga korban. Silahkan dikonfirmasi langsung dengan pihak rumah sakit umum daerah! Kami dari pihak kepolisian turut berdukacita atas kejadian yang menimpa Mama dan adik-adik saudara!"
Hanya ucapan terima kasih yang meluncur dari bibirku.
Dengan tubuh lemas, aku dan suami menuju rumah sakit tempat jenazah Mama dan adik-adik diotopsi.
...............
"Mamaaa...!!! Mamaaa!!! Huaaa... hik hik hiks! Mamaaa!!!"
Genta yang datang ke rumah sakit pada pukul dua siang. Tangisnya meledak. Jiwanya terguncang sekali.
Adik laki-lakiku itu histeris tidak percaya pada apa yang kini terjadi. Mama Farida, Intan, Nadya... ketiganya menjadi korban pembunuhan.
Sebilah pisau menjadi akhir kehidupan yang pahit dan sampai kini masih menyimpan misteri.
Polisi masih menyelidiki kasus ini.
Dua hari ini kami sekeluarga begitu akrab sekali. Bahkan Intan juga Nadya bisa berbaur tanpa canggung lagi dengan kami.
Canda tawa serta ledekan satu sama lain seperti masih baru terasa. Kini, mereka telah tiada menjadi korban kebiadaban seorang pembunuh yang belum diketahui identitasnya.
__ADS_1
Aku sendiri hanya duduk lemas di kursi tunggu ruang jenazah. Menunggu prosesi otopsi Mama, Intan dan Nadya selesai.
Papa Bambang sendiri masih belum datang. Kabarnya dia menghilang dari kantor tempatnya bekerja.
Aku merasakan firasat yang buruk pada suami kedua Mama.
Masih teringat di hari pernikahanku kemarin, Papa Bambang dan adiknya memakiku karena tidak punya kesopanan sebab tidak mengundang dirinya dan keluarga.
Aku melakukan itu karena ada sebabnya. Bukan bermaksud menyampingkan status dia sebagai Papa tiri. Tetapi aku lakukan demi menjaga perasaan semua pihak. Apalagi mengingat adik kandungnya yaitu Tante Mirna, Mamanya Bianca.
Hhh...
Apakah mungkin pelakunya adalah Papa Bambang? Setega itukah ia pada Mamaku yang notabene adalah istrinya? Walaupun hati istri kedua. Juga Intan dan Nadya,... mereka adalah darah dagingnya. Bagaimana bisa?
Aku bukan dukun. Bukan pula cenayang.
Aku memiliki kepekaan lebih besar, tapi bukan berarti bisa tahu segalanya. Tidak.
Aku hanyalah manusia ciptaan Allah Ta'ala. Berawal dari perempuan biasa, namun mendapatkan ilmu dari leluhur menjadi sedikit luar biasa.
"Saudara Liana Wulandari?" tanya seorang polisi wanita yang berjalan ke arah kami berdiri.
"Ya, saya sendiri!" jawabku dengan suara bergetar.
Mas Jonathan terus mendampingiku.
Berita pembunuhan Mamaku mulai disiarkan di televisi. Ceritanya cepat menyebar ke seantero negeri.
Mama Tiur dan Citra sampai mendatangi kami ke Polda untuk memberikan support.
"Semangat, Liana! Tetap berfikir husnudzon, Sayang! Kami semua ada bersamamu."
Pelukan hangat Mama Tiur semakin mengingatkanku pada Mama Farida.
"Hik hik hiks... Mama! Mamaaa...!"
Tangisan ini adalah luapan emosi kesedihan hati yang terus menerus didera bertubi-tubi.
Ya Allah..., aku lelah ya Allah!
Tidak, tidak! Kamu tidak boleh lelah, Liana! Jangan lengah! Jangan menyerah! Tuhan begitu menyayangimu. Tuhan selalu ada di dekatmu. Percaya itu! Jangan ragukan kekuatan Allah SWT!
Akhirnya aku hanya bisa berpasrah. Surat Alfatihah, An-Nas dan Al-Ikhlas menjadi pengobat hatiku yang terluka parah.
Ya Allah ya Tuhanku..., aku ikhlas atas semua cobaan yang Kau berikan untukku. Aku ikhlas ya Allah, jika ini Kau berikan untuk penggugur dosa-dosa leluhurku terdahulu. Aku ikhlas Lillahi Ta'ala.
Air mata ini terus menetes.
Sampai sembab dan bengkak kelopak matanya.
Jenazah Mama, Intan dan Nadya malam itu juga kami kebumikan. Kasihan jika terlalu lama menunggu. Pasti roh mereka tersiksa jika kami tidak segera menguburkannya.
Mama..., Mama Farida! Mamaku tersayang, Mamaku tercinta. Semoga Mama tenang di alam sana. Mama bahagia disisi Allah SWT. Intan, Nadya... Kalian adalah adik-adikku yang baik, manis dan juga cantik. Jika ini adalah yang terbaik untuk kalian semua... aku ikhlas. Aku akan berusaha mengikhlaskannya. Tenanglah kalian disana. Allah Maha Segalanya. Aku mengikhlaskan kepergian kalian wahai orang-orang terbaik dalam hidupku.
"Hik hik hiks..., Mama!"
Tanah pemakaman yang merah dan masih basah.
Ketiga orang yang kusayang kini terkubur didalamnya.
__ADS_1
Lelah hatiku, rapuh jiwaku. Tapi aku harus kuat. Aku tidak boleh lemah. Masih ada orang-orang yang mencintaiku yang harus kuperhatikan juga. Suamiku, Genta adik kandungku, juga Mama Tiur serta Jordan juga Citra.
BERSAMBUNG