
Liana bertanya pada Aprillia yang baru empat tahun, mengapa Ia begitu menyayangi Jordan melewati batas bahkan terkesan lebih mencintai Omnya ketimbang kedua orang tuanya.
Jawaban Aprilia ialah, " Ibu! Aku tidak bisa bilang kenapa! Karena aku juga tidak tahu kenapa! Yang pasti Aku ingin selalu dekat Om Didi!"
Jawaban yang polos tanpa semakin membingungkan hati Liana.
Meskipun Dia juga memiliki indera keenam sama seperti Aprillia, tapi tidak bisa melihat masa depan dan tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.
Jonathan seringkali mengumpat bahkan kali ini sampai mengatakan hal yang buruk membuat Liana berani membentak sang suami agar tidak berfikir terlalu buruk.
"Sayang! Jaman sekarang ini hampir separuh penghuni bumi dihinggapi pikiran gila dan seperti orang yang tidak punya iman! Aku khawatir jika kita tidak mengerem Aprillia yang terus menerus membuntuti Jordan, lama-lama dia akan semakin sulit berjauhan tinggal dengan Omnya itu!"
"Tapi jangan bilang anak kita nanti jatuh cinta pada Omnya sendiri, Mas!" sentak Liana dengan mata membulat dan bibir mencebik kesal.
Jonathan tersadar kalau omongannya memang sudah kelewat batas. Dia segera merangkul bahu istrinya dan meminta maaf segera.
"Tarik ucapan ngasalmu! Aku tidak mau ucapanmu jadi doa dan dicatat malaikat Raqib dan Atit!"
"Maaf! Maaf, Sayang! Aku kebablasan, Sayang!"
"Aku juga khawatir, dan tidak mau Aprillia terus menempel Jordan bahkan selalu mengekor adikmu sampai ingin ikut tinggal di apartemen Tangerang segala! Aku juga panik. Tapi bukan berarti kita bisa berkata-kata seenaknya! Kita ini adalah orangtuanya, Mas! Ucapkan yang baik-baik untuk anak kita!"
Jonathan semakin menundukkan kepala. Malu karena emosinya yang terlalu sampai berkata yang membuat istrinya marah.
"Maaf, Sayang!"
"Dia adikmu. Aprillia adalah putri kita. Kalau kau sendiri membuat nasib putri kita menjadi berubah hanya karena ucapanmu yang menjadi doa, sungguh Aku tidak rela. Dan lagi tidak mungkin juga Jordan sampai membiarkan putri kita jatuh cinta padanya. Jordan punya etika. Dan jangan berfikir terlalu jauh seolah kau fikir hidupmu seperti di film Twilight!"
(Untuk penggemar film Twilight, pasti mengetahui maksud ucapan Liana karena melihat akhir cerita filmnya)
"Astaghfirullah..."
"Makanya! Jangan berfikir begitu, Mas!"
Ini adalah pertama kalinya Liana memarahi Jonathan sampai sekeras itu.
Padahal hati Liana sebenarnya jauh lebih was-was dari hati Jonathan.
Putrinya lebih memilih untuk pulang ikut Jordan di apartemen ketimbang tinggal di rumah besar mereka.
Bahkan Aprillia menyuruh suster perawatnya untuk membawa sebagian pakaian kesayangannya demi bisa tinggal lama di apartemen Jordan.
Anak itu baru berumur empat tahun, tapi kepintarannya berkata dan mengatur hidup orang sudah seperti orang dewasa. Dan kita semua terpaksa harus mengikuti kemauannya yang kadang tidak masuk akal dan membuat semua orang gemas sekaligus cemas!
Liana tidak bisa melihat masa depan putrinya sendiri. Tidak ada clue sama sekali.
Airlangga juga tidak bisa melihat meskipun dengan penglihatan mata batinnya.
__ADS_1
Ia tidak bisa menerobos kekuatan batin putri kecil Kakak tirinya itu. Baginya tingkah imut Aprilia masih dibatas kewajaran.
Aprilia memang memiliki kemampuan dalam hal penglihatan lebih tajam dibandingkan keempat keturunan Tubagus Wetan pilihan leluhur mereka. Tetapi sesuai umurnya yang masih sangat muda pula, Aprilia agak sulit dikendalikan dan tidak bisa diajak berbicara walaupun dengan bahasa yang halus sekalipun.
Kecerobohan putri Liana adalah lebih suka melakukan hal mistis tanpa kompromi atau diskusi dahulu dengan Liana maupun Airlangga.
Seperti ketika kisah Talitha si gadis jembatan layang, tiga tahun setengah yang lalu.
Saat itu Aprilia bahkan hanyalah seorang bayi yang baru berusia delapan bulan.
Tapi Aprillia justru bertingkah seperti orang dewasa dengan meninggalkan jasadnya dan melawan makhluk-makhluk halus peliharaan Bundanya Talitha yang ternyata melakukan pesugihan, perjanjian dengan raja siluman ular demi untuk menjadi orang kaya raya, banyak uang dan makmur sentosa.
Roh Aprillia ternyata mendatangi kerajaan siluman ular yang sudah beratus-ratus tahun tidak pernah didatangi makhluk bernama manusia tanpa 'undangan'. Mengobrak-abrik kerajaan siluman ular itu dengan kemampuan Supranatural nya.
Aprilia mati suri hampir lima jam lamanya. Bahkan jenazahnya sudah dimandikan dan sudah dikafani dengan cucuran air mata kesedihan nan pilu Liana, Jonathan dan keluarga besar mereka.
Tetapi tepat ketika semua sudah siap untuk meninggalkan rumah menuju pemakaman, terdengar tangisan keras dan membuat Jordan yang duduk tepat disamping Jonathan langsung membuka ikatan tali pocong Aprillia.
Mata Aprilia pertama kali menatap wajah Jordan. Mungkin itu sebabnya Aprillia begitu mencintai Jordan sampai seperti tidak ingin lepas jika Jordan ada dirumahnya.
Semua orang tahu kisah awal kedekatan Aprilia dengan Jordan. Liana dan Jonathan juga tidak bisa berkata yang menyakiti hati putrinya, selain mengikuti keinginan demi keinginan yang terkadang bagi orang normal adalah suatu kejanggalan.
Tapi hari ini, semuanya semakin memusingkan kepala Liana juga Jonathan.
Putrinya ingin tinggal bersama Jordan setelah mereka pulang dari liburan keliling pulau Jawa selama hampir sebulan lamanya.
...Jordan, ini Aku, Liana....
Iya. Aku tahu. Kamu pasti sedang mencemaskan putrimu.
...Tentu saja. Putriku tiba-tiba ingin menginap di apartemenmu bahkan sebelum kami tiba di rumah. Sekarang Melanie juga dia suruh bereskan pakaian untuk satu bulan....
Hehehe... Aku juga bingung (emoji kepala dipenuhi bintang-bintang) Haruskah kuusir putrimu dari apartemenku?
...Haish...!!!...
Hahaha... Lalu Aku harus bagaimana?
...Buat putriku tidak betah tinggal di sana dalam kurun waktu dua hari saja....
Oke
...Maaf, Jordan. Kami hanya cemas dengan sifatnya yang keras kepala. Bukan punya fikiran terlalu buruk juga padamu....
Kalaupun kau punya fikiran buruk padaku, itu hal yang wajar. Kalian pasti cemas putri kalian lebih ingin tinggal denganku. Semua orang tua pasti akan melakukan hal yang sama.
...Terima kasih atas pengertianmu....
__ADS_1
Aku selalu mengerti dirimu, Liana!
...Jangan berkata apapun yang akan membuat kesalahpahaman antara aku dan Mas Jonathan....
Hahaha... Ternyata kau takut suamimu cemburu? Hehehe... iya juga sih! Gege bisa membunuhku jika mendengar Aku merayumu. Hahaha...
Dasar pria aneh! Sungut Liana dalam hati.
Liana menghentikan chattan yang mulai membuat resah hatinya jika dilanjutkan.
Cinta Jordan pada Liana memang tak pernah pudar.
Walau ia sudah mengikhlaskan, tapi hati kecil Jordan selalu ada nama Liana terselip dengan indah di relung hatinya.
Walaupun tetap sebagai manusia, Jordan senantiasa berdoa pada Sang Kholiq untuk memberinya kebahagiaan dan cinta yang tulus suci murni.
Liana selalu ada dalam hatinya.
Sementara Jordan, menatap layar ponselnya dengan senyuman yang mengembang.
"Ibu pasti chat Om, ya?" tanya Aprillia dengan wajah serius.
"Iya, Beby Sayang! Ibumu sangat mengkhawatirkanmu! Dia menyuruh Om menjaga betul Beby dan tidak boleh berbuat jahat! Hehehe..."
"Mana ada! Ibu terlalu berlebihan!"
"Ibu manapun pasti akan seperti Ibumu, Nak!"
Aprilia menatap tajam wajah Jordan.
Tangannya yang mungil memegangi kedua belah pipi Jordan yang sedikit tirus.
"Om kurusan!" gumamnya laksana orang dewasa. Sontak Jordan tertawa keras.
Cup.
"Terima kasih, kamu begitu mengkhawatirkan Om Didi!" tutur Jordan setelah mengecup pipi kiri keponakannya dengan gemas.
"Hiduplah bahagia, Om!"
"Tentu! Apakah Om terlihat tidak bahagia?"
Mata keduanya saling berpandangan. Lalu mereka tersenyum lalu tertawa bersama.
Entahlah, chamistry itu semakin terlihat begitu erat.
Ada suatu rahasia hidup yang sepertinya Aprilia simpan dihatinya. Wallahu a'lam. Semoga saja bukan suatu hal yang buruk. Tapi bocah berumur empat tahun itu seperti memiliki ketakutan besar yang menjadi beban bagi hidupnya saat ini.
__ADS_1
BERSAMBUNG