
Setahun telah berlalu...
Waktu tanpa terasa bergulir tepat untuk satu tahun lamanya.
Aprillia pada akhirnya tinggal di apartemen Jordan bersama Melanie dan Mama Tiur dengan kesepakatan Jonathan yang ingin fokus merawat Liana sepenuhnya.
Seperti sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa, bahwa Ia mengurus Liana yang masih terbaring di atas ranjang rumah sakit ruang ICU dan hidup dengan bantuan alat pernafasan medis.
Banyak rekannya sesama pebisnis meragukan kemampuan Liana untuk terus bertahan hidup hanya dengan bantuan kedokteran dan memberikan nasehat agar Jonathan legowo meminta Dokter untuk melepas alat bantu pernafasan kepada Liana.
Tapi Jonathan tidak bergeming.
Cintanya pada Liana justru semakin besar dan bertambah banyak karena setiap harinya Jonathan hanya mengurusi Liana dan hanya Liana.
Dia mengambil keputusan pensiun di usia 45 tahun dan menyerahkan semua perusahaan-perusahaan kepada Jordan.
Seperti pagi hari ini...
Jonathan telah selesai mandi dan berganti pakaian bersih. Ditangannya sebuah bejana berisi air bersih yang hangat untuk dipakai melap tubuh Liana.
Seperti biasa, Jonathan selalu rajin membersihkan tubuh istrinya dengan serius setiap lipatan demi lipatannya tanpa terlewatkan meski harus dengan penuh hati-hati agar tidak mengganggu alat bantu yang menghubung ke area vital Liana yang bergantung hidupnya disitu.
"Sayang, assalamualaikum... selamat pagi! Apakah tidurmu nyenyak seperti biasa malam ini?" sapa Jonathan dengan suara lembut didekatkan telinga istrinya tersayang.
Sholawat nabi Muhammad, Jonathan lantunkan dengan hati berdebar.
Airmata bergulir satu persatu namun tetap berusaha menyunggingkan senyum di bibir.
"Sayang! Apakah kamu masih ingin tetap tidur seperti ini, Sayang? Tidakkah kamu rindu wajah tampan ku yang semakin tua? Lihat rambutku, Yang! Ubanku tumbuh dengan lebat. Sementara rambutmu tetap hitam mengkilap bahkan wajahmu semakin terlihat muda. Aku seorang saja yang makin tua, Liana!"
Jonathan terisak pelan sendirian.
__ADS_1
Dielusnya rambut panjang milik sang istri.
"Sayang,... Aku tahu kamu marah besar padaku! Kamu membenciku yang telah menyakiti perasaanmu. Aku minta maaf Sayang! Tolong maafkan Aku! Maafkan Aku, Liana! Aku bersalah telah mengucapkan kalimat yang tidak seharusnya walaupun hatiku sedang bingung. Sayang...! Anak kita sudah sekolah TK. Tidakkah kamu rindu pada buah hati kita yang semakin cantik seperti dirimu, Sayang?"
"Putri kita kini tinggal di apartemen Jordan, Sayang! Maafkan Aku yang mengambil keputusan tanpa kompromi denganmu! Sayang...! Aku merindukanmu...! Aku sangat, sangat merindukan dirimu, Liana! Hik hik hiks..."
Jonathan menangis mendekati tubuh Liana yang hanya terbaring saja.
Tangan Jonathan menggenggam erat tangan mungil istrinya.
Kesedihan hatinya, cukup Ia saja yang rasa. Keluarga besarnya tidak boleh melihat penderitaannya yang menyesal pernah mengatakan akan menceraikan Liana ketika Jordan dalam keadaan koma karena overdosis obat tidur yang diminum berbarengan dengan suplemen vitamin yang juga berlebihan.
Aprillia diasuh oleh Jordan. Bahkan kini gadis cantik itu memanggil Omnya dengan sebutan 'Daddy'.
Mereka memiliki kedekatan layaknya anak dan ayah kandung.
Rutinitas keseharian mereka layaknya keluarga karena Jonathan memang menyerahkan semua pada Jordan dan Mama Tiur.
Aprillia menjenguk Ibunya setiap seminggu sekali agar tidak mengganggu pelajaran sekolahnya. Itu adalah peraturan yang sengaja Jonathan berikan pada Sang putri agar tidak terlalu berlarut-larut memikirkan keadaan ibunya yang sampai saat ini masih belum siuman.
Waktu bergulir terasa lambat bagi keluarga kecil Jonathan.
Hari ini hari Minggu.
Hari berharga bagi Aprillia karena Ia bisa menyambangi Ibunya dan bercerita panjang lebar tentang kisah hari-hari sekolahnya selama seminggu.
"Assalamualaikum Ibu! Ibu..., Beby datang! cup."
Aprillia mengecup punggung tangan Ibunya. Lalu beralih ke wajah Liana dan mencium pipi kiri kanan serta kening Sang Ibunda.
__ADS_1
"Bu...! Ibu, Beby punya teman baru di sekolah, Bu! Namanya Opet. Lucu ya namanya? Hehehe..."
Jonathan selalu mendengarkan celotehan Sang putri diam-diam karena tidak ingin mengganggu interaksi keduanya meski hanya satu arah saja.
Bahkan kadang Jonathan seringkali menyembunyikan air matanya jika melihat Sang putri turut menangis meminta Ibunya untuk segera sadar dan bangun dari tidur panjangnya.
Tiba-tiba, akhirnya ada keajaiban Allah Ta'ala.
Jemari Liana bergerak pelan. Sontak Aprilia berteriak.
"Ayaah! Tangan Ibu bergerak!"
Jonathan segera memeriksa keadaan Liana.
"Dokter, Dokter!!! Istri saya merespon, Dok!!!"
Senang hati Jonathan melihat keadaan Liana setelah sekian lama tidak berdaya, hanya tidur di ranjang saja.
Dokter dan para medis berusaha melakukan observasi pada Liana.
Dan akhirnya, Liana membuka kelopak matanya perlahan.
Sorotan mata yang kosong dan hampa penuh kebingungan.
"Sayang! Sayangku, Liana! Istriku, Sayang! Alhamdulillah, Alhamdulillah ya Allah! Alhamdulillahirobbil'alamiin!"
"Ibu...! Terima kasih ya Allah! Ibuku sudah bangun!'
Liana masih dalam kondisi yang belum stabil. Detak jantungnya belum sepenuhnya normal.
Dan tiba-tiba Liana kembali pingsan.
__ADS_1
BERSAMBUNG