DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 9 - SEMUA KARTU TERBUKA


__ADS_3

"Itu rumahnya, Mbak! Cat kuning gading!"


Aku terperangah. Mataku nanar menatap rumah dua tingkat yang bangunannya lumayan besar itu.


Sepertinya bangunan itu masih baru. Dan belum terpasang pagar meski halamannya luas.


Tapi, yang membuatku terkejut bukan main adalah dua buah sepeda motor yang terparkir di halaman rumah itu.


Motor Ayah Idham dan motor Bang Irsyad!!!


Mengapa dua motor itu ada di sana? Sedang apa para pemiliknya di rumah milik orangtua Katliya itu? Bukankah tadi Bang Irsyad ada di rumah? Berarti setelah menampar dan merendahkanku, rupanya dia pergi ke sini. Menemui tunangan rahasianya. Tapi..., kenapa dia juga membawa Ayahnya turut serta? Ada konspirasi apa diantara mereka? Ya Tuhanku!!!


Jantungku berdetak cepat sekali. Ada rasa sakit yang begitu nyelekit.


Aku berjalan pelan sekali bahkan mindik-mindik seperti mau maling.


Samar terdengar suara orang berbincang. Seperti ada beberapa orang lebih dari dua orang.


...Suara Bunda Agis juga?...


Aku mencoba menguping.


Mendengarkan dengan seksama dari balik pintu rumah yang tertutup rapat.


Banyak sandal berserakan di teras. Pertanda tamu yang kumpul didalam cukup banyak juga.


Sesekali terdengar suara tawa membahana, seolah mereka tampak sedang berbahagia.


"Lalu bagaimana rencana pernikahan yang sudah dirancang?" Terdengar jelas, suara seorang pria. Entah suara siapa itu, aku tidak tahu.


"Saya sudah melakukan apa yang Eyang Subur lakukan!"


Aku tercekat. Kerongkonganku terasa kering dan rasa sesak seakan datang menyerang.


Itu suara Bang Irsyad, suamiku!!!


"Apa kalian yakin, kalau perempuan tambun itu akan terprovokasi dan minta cerai lalu pergi dari kehidupan kalian?" tanya pria yang diawal bersuara.


"Saya yakin, putra saya sudah melakukan hal yang benar, Mbah!"


"Benar menurutnya, belum tentu dia melakukan perintahku dengan yang diharuskan!"


Deg deg deg deg


Detak jantungku kian terpacu lebih cepat lagi.

__ADS_1


Ada apa ini sebenarnya? Apa yang sedang mereka lakukan didalam sana?


Aku memasang telingaku dengan baik. Menguping seksama agar tak satu katapun terlewat dari pendengaranku.


Sangat janggal sekali. Mengetahui suami serta kedua mertuaku ada dalam rumah orangtua Katliya tetapi berbicara hal-hal yang tak kumengerti.


"Ingat, Idham! Janjimu padaku, kalau kau akan menyatukan darah Irsyad dan Katliya demi untuk kesejahteraan hidup kalian di masa depan!"


"Tentu, Mbah! Saya justru sangat mendukung pernikahan Irsyad dan Katliya agar segera terlaksana! Saya juga sudah muak dengan menantu gembrot yang tak tahu diri itu!"


"Betul, Mbah! Putra saya juga toh terlihat bahagia sejak bertunangan dengan Katliya! Iya khan, Syad?"


Suara Bunda Agis! Mengapa wanita yang selama ini kuanggap malaikat tak bersayap itu baru terlihat jati dirinya yang jahat dan busuk? Lalu selama ini kedekatan kami apakah hanya sandiwara saja?


"Kalian memang tidak cocok! Kalian harus segera berpisah, karena darah perempuan itu mengandung racun yang menyebabkan aura Irsyad menjadi gelap dan kalah oleh aura perempuan itu. Jika tetap dipertahankan pun, rumah tangga kalian hanya akan bertambah banyak masalah dan masalah. Memang perempuan itu saat ini sedang ada diatas angin, sehingga rezekinya sedang terus bertambah. Tapi dia juga berbahaya, memakan semua aura-aura orang disekitarnya. Termasuk kalian juga!"


Deg deg deg deg deg


Apa ini? Siapa pria yang sedang berbicara panjang lebar itu? Seenaknya dia menjelek-jelekkan aku sedangkan kita sepertinya tak saling kenal.


"Pantas saja! Sejak Irsyad menikahi perempuan bodoh yang gembrot itu, keluarga kami selalu ditimpa masalah dan musibah! Mas Idham kecelakaan kerja, kakinya harus diamputasi. Lalu setengah tahun kemudian kena PHK. Belum lagi putri bungsu kami juga mendapat malu. Menikah hanya lima bulan, lalu diceraikan begitu saja ketika sedang hamil. Irsyad sendiri, dia berhenti kerja karena dituduh menggelapkan uang perusahaan percetakannya sebanyak lima puluh juta!"


Hah?!? Apa??? Apakah cerita ini semua berkaitan dengan diriku?


Apa kecelakaan kerja yang terjadi pada Papa Idham disaat pernikahan kami menginjak setahun itu adalah kesalahanku?


Lalu Riska cerai dan dipulangkan ke rumah mereka tanpa membawa sepotong barang pun itu karena salahku?


Dan Bang Irsyad sendiri,... Berhenti kerja karena dituduh mengambil uang percetakan lima puluh juta itu juga salahku?


Rembes air mataku.


Dari kejauhan Mang Dasri yang menungguku diseberang jalan melambaikan tangan.


Aku berjalan pelan. Agak sempoyongan menuju mobil truk engkel.


"Bapak boleh pulang sekarang!" tuturku dengan suara parau.


"Mbak tak apa-apa khan?" tanyanya cemas.


Mataku pasti terlihat merah. Juga rambut acak-acakan dan tubuh yang sedikit gemetar.


"Tidak apa-apa, Pak! Terima kasih sudah mengantar saya ke sini!"


"Uang yang Mbak beri terlalu besar. Saya kira tadinya Mbak mau ambil barang."

__ADS_1


"Tidak apa. Itu rezeki Bapak! Bapak boleh pergi sekarang! Terima kasih banyak atas bantuannya!"


"Mbak?..."


Aku tahu, Mang Dasri tampak kebingungan. Tapi aku tak mau kesedihanku semakin orang tahu.


Aku kembali ke rumah keluarga Katliya. Masih bertahan untuk menguping walaupun sebenarnya jiwa raga ini sudah tak kuat mendengar celotehan pedas mereka tentang aku.


Sungguh tak habis fikir. Bunda Agis, Ayah Idham juga Bang Irsyad ternyata memiliki pandangan berbeda di belakangku.


Padahal selama ini mereka selalu baik dan menampakkan wajah yang manis.


Aku, juga selalu berusaha membantu keuangan mereka sebisaku. Setiap bulan, dengan suka rela karena ekonomi keuangan kami yang lumayan baik, aku -kami maksudnya- mengirimi mereka uang bulanan empat juta rupiah. Itu setiap bulan. Rutin.


Juga adiknya Bang Irsyad, Riska. Aku seringkali berbuat baik padanya. Menawarkan diri untuk ikut tinggal bersama kami dan bekerja membantu bisnis online bersama walau selalu ia tolak dengan alasan bukan pasionnya bekerja rumahan seperti itu.


Riska lebih memilih bekerja sebagai waitres di sebuah kafe yang gajinya bahkan lebih kecil dari yang kutawarkan untuk bergabung di toko online kami.


Tak habis fikir aku, padahal setiap bulannya Riska sering merengek meminta bantuan keuangan demi untuk membeli susu Satya putra semata wayangnya.


Lalu Bang Idham,... Kasus tuduhan tak beralasan yang menimpanya tujuh tahun lalu memang menyisakan tanda tanya.


Aku sudah mencoba memberinya saran, untuk maju ke depan dan mendatangi langsung boss percetakan karena memang tuduhan itu hanyalah fitnah yang menyakitkan.


Aku memberinya dukungan untuk membela diri serta kehormatannya dan mengungkap fakta bahwa suamiku bukanlah orang yang suka makan hak orang.


Tapi, alih-alih mengatakan kalau boss-nya itu adalah orang yang super duper egois dan tak suka dibantah omongannya, Bang Irsyad lebih memilih resign daripada membela harga diri meluruskan tuduhan yang menyakitkan.


Aku tak bisa berbuat apa-apa kala itu.


Masih teringat ucapannya, katanya "Aku yang mengalami kejadian itu! Kamu tidak tahu kondisi yang sebenarnya, Yang! Suasana di sana itu sangat panas. Aku tidak terima dituduh menggelapkan uang percetakan lima puluh juta! Daripada batin tersiksa selalu dituduh dan dituduh, aku lebih baik keluar dari kerja. Lagipula bisnis usaha online kita juga maju pesat. Pemasukan bulan ini saja bersih sekitar sepuluh juta rupiah. Jadi, daripada mengabdikan diri pada orang yang tak tahu terima kasih lebih baik aku membesarkan toko online yang selama ini kita jalankan, bukan?"


Aku... Kembali duduk di bawah jendela rumah orangtua Katliya.


"Katliya sudah empat tahun bekerja dengan si gembrot itu. Sejak usianya 24 tahun sampai sekarang 28 tahun. Keponakanku itu susah jodoh karena auranya disedot oleh perempuan gembrot itu?"


A_apa???


Sejak kapan aku suka menyedot aura orang? Apalagi menghalangi jodoh orang hingga susah dapat jodoh? Aku bahkan tidak tahu apa itu aura dan bagaimana bisa bapak-bapak itu mengatakan kalau auraku sudah menyedot aura semua orang yang ada di sekitarku?


Sungguh tidak masuk akal logika!!!


Kreeek...


"Ka...k Liana?"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2