
Melihat wajah Mama Tiur, Citra, Genta dan Jordan rasanya hidupku kembali bergairah.
Inilah realita hidup yang sebenarnya.
Keluarga yang hangat dan penuh canda. Tawa riang serta gurauan humor membangkitkan rasa saling menguatkan yang ada dalam dada.
Aku bahagia.
Terima kasih ya Allah.
Hari demi hari, minggu pun berganti minggu.
Walau ilmu spiritual leluhur yang ada di tubuhku telah wak Hardi bagi kepada tiga saudaraku lainnya, tetapi di saat-saat tertentu aku masih suka melihat hal-hal tak kasat mata.
Seperti kali ini, ada beberapa makhluk berdiam diri di depan pagar rumah dan pabrik.
Sesekali mereka mengganggu para karyawan yang bolak-balik pabrik dan mess mereka di pagi serta jam istirahat.
Awalnya, seperti halnya manusia yang suka bercanda.
Mereka jahil dan iseng dengan membuat sedikit keonaran seperti tiba-tiba mendorong pintu pagar, menggoyang-goyang pepohonan yang tak terlalu besar, sampai memainkan saklar listrik hingga membuat beberapa karyawan panik ketakutan.
Aku masih mencoba cuek. Tidak menghalau karena itu hanyalah keisengan mereka saja yang sepertinya sedang gabut atau numpang lewat. Lagipula mereka tidak bisa masuk juga ke dalam pabrik dan rumah besar yang kami tinggali. Wak Hardi sudah memagarinya secara ghaib tempo hari.
Sehari, dua hari..., perlakuan iseng mereka makin menjadi.
Kuperhatikan lama-lama mereka seperti tidak hanya sekedar lewat. Tetapi menetap di pintu pagar dan depan gerbang seperti pindahan.
Bahkan ketiga harinya, jumlah mereka semakin banyak. Seperti, ada yang mengkoordinir untuk mencoba bertahan tinggal di depan pabrik.
Aku mulai merasa tidak nyaman. Karena bentuk mereka juga beragam. Bahkan banyak yang rupanya menakutkan.
Setiap malam mereka berisik sekali. Tertawa dan bernyanyi. Mengobrol seperti layaknya manusia sedang hang out dengan para bestie.
__ADS_1
Aku... Yang awalnya diam, kini mulai gerah dan mencoba melakukan sesuatu. Terus terang aku khawatir kalau nanti mereka makin menjadi dan sampai berani merasuki tubuh karyawan pabrik suamiku yang kian banyak.
Garam dan merica merupakan salah satu mediasi pengusir makhluk halus, setahuku. Wallahu a'lam, tetapi aku ingat dulu Papa sesekali memberikan semprotan air cucian beras berisi garam dan merica yang dilarutkan.
Kini aku mulai jalankan aksi.
Ini hari minggu. Sepertinya hari baik pula untuk kami semua bekerja bakti membersihkan jalan dan selokan depan pabrik.
Makhluk halus menyukai tempat yang kotor.
Mereka paling betah tinggal di tempat-tempat gelap, bau, juga posisinya yang agak tersembunyi.
Setelah semalam mengaji yasin tiga balik dan sholawat nabi beberapa ratus kali, aku mencampur air doa itu dengan campuran air cucian beras, garam dan merica yang dihaluskan.
Setelah para lelaki penghuni rumah dan sebagian karyawan pabrik selesai bergotong royong membersihkan rerumputan dan selokan, aku dibantu Mama Tiur dan Citra memercikkan air racikan yang kubuat dengan membaca basmalah serta dua kalimat syahadat.
Bismillah, semoga para makhluk halus yang berdiam di depan gerbang pabrik merasa kegerahan dan pergi mencari tempat tinggal baru.
Tiba-tiba tanganku ada yang memegang.
Maaf..., sebaiknya kalian segera cari tempat baru. Aku tidak ingin kalian tinggal di sini bahkan bergerombol semakin banyak!
...Kami tidak tahu harus pergi kemana. Tuan kami sakit dan tak lagi bisa mengurus makanan kami. Tolonglah, Nyai Ratu!...
Aku menelan air ludah dengan wajah serius.
Kembalilah ke tempat asalmu! Gunung dan hutan, disana masih banyak makanan tanpa perlu kalian menjadi peliharaan manusia durjana!
...Nyai...! Peliharalah kami! Kami pasti akan mengikuti apapun yang Nyai Ratu perintahkan!...
Ada sesosok makhluk lain yang mengagetkanku. Kepala manusia, berwajah tampan tetapi bagian tubuhnya melata menggelosor bercorak kuning keemasan.
Aku semakin merinding, sesosok lainnya berdiri sangat dekat denganku meskipun wajahnya menunduk.
__ADS_1
Sosok itu berwajah manusia tetapi moncongnya bulat besar dan berlendir.
Sesekali keluar suara 'segrok-segrok' dari mulutnya yang kadang menganga.
Pergilah, kalian! Aku tidak membutuhkan kerjasama dengan kalian! Kita berbeda alam. Tempatmu adalah gunung dan hutan. Maaf..., aku harus keras pada kalian!
Aku berusaha memejamkan mata.
Kelemahanku adalah rasa tidak tega. Tetapi untuk hal yang diwajibkan tegas, aku juga bisa tegas.
Suara isak tangis dan teriakan lirih minta tolong membuat telingaku sakit.
Ya Allah Penguasa Jagat Raya, Sang Pemilik Seluruh makhluk di muka bumi ini baik yang terlihat maupun yang tak kasat mata, aku hanya mohonkan bantuanmu!
...Nyai Ratu...! Nyai Ratu,... Jangan kembalikan kami ke gunung! Kumohon, Nyai! Nyai Ratu Liana Wulandari! Hik hik hiks......
Maaf...!
Aku, Mama Tiur juga Citra terus memercikkan air doa yang kubuat. Sempat terjadi insiden, Citra nyaris terjelembab ke dalam selokan karena ulah usil para lelembut yang kesakitan terkena percikan air Citra.
Untungnya aku sigap dan langsung menarik kaos oblong yang dipakai Citra hingga robek bagian pangkal tangannya.
Beberapa makhluk seperti hendak menemplok di tubuh Mama Tiur. Tetapi segera kutarik tungkai lengan mereka sampai terpatah dan kulempar masuk ke dalam air doa hingga mengebulkan asap yang hanya aku saja yang bisa melihat.
...Ampuunnn! Ampun Ratu, ampun! Iya, kami pergi, kami pergi dari sini! Nyai Ratu lihatlah Tuan kami! Dia sekarang sudah tidak bisa melihat kami lagi. Dia sudah tinggal kerangka manusia yang terbujur kaku tapi masih bernafas dan makan banyak seperti manusia normal. Dia berteriak-teriak layaknya orang gila. Semua keluarganya mulai tidak peduli padanya dan terkesan mengabaikan Tuan Subur-ku, Nyai! Tolong dia, Nyai! Tolong kami juga! Kami akan pergi dan tinggal di gunung seperti yang Nyai Ratu inginkan!...
Aku tahu, itu hanyalah rayuan para setan saja. Mereka sudah terbiasa bicara A padahal kenyataannya B. Seringkali mengaku C namun aslinya D. Begitulah kelakuan setan. Dan aku hanya tersenyum tipis sambil berkata, "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, kumohonkan ridho dan izin Allah Ta'ala untukku mengirim para lelembut ini ke alam yang seharusnya! Bismillah!"
Teriakan, pekikan serta jerit tangis yang memekakkan telinga perlahan menghilang seiring kilatan api dan cahaya yang merebak bak kembang api yang dinyalakan di malam tahun baru.
Alhamdulillah...
Kini semua kembali aman. Hingga tiba-tiba mas Jonathan yang sedang istirahat di teras rumah berteriak keras.
__ADS_1
Ada apa? Ada apa lagi?
BERSAMBUNG