DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 58 - KEMBALI PULANG


__ADS_3

"Mereka dibuang karena memiliki kelainan struktur pada tulang belakang selain berkulit hitam gesang. Orang lebih sering menyebut keduanya 'Bongkok Satu' 'Bongkok Dua'. Begitulah kejamnya dunia! Kyai Abah buyut Anom menemukan keduanya tergeletak di tengah hutan. Kemudian dibawa ke rumah untuk diurus dan dirawat. Abah Anom menyayangi keduanya sama bagai menyayangi anak-anak kandung sendiri. Itu yang membuat keduanya sangat loyal dan menyayangi Abah lebih. Bahkan keduanya sangat rajin dalam apapun apalagi jika Abah yang menyuruh. Keduanya berjanji, akan terus menjaga Abah dan keluarga sampai kapanpun. Begitu janjinya."


Aku membantu Wak Wati yang keluar membawa nampan baki berisi kopi dan teh sambil terus menyimak cerita Wak Hardi yang seru.


"Tapi sayangnya, hati mereka juga begitu rapuh karena seringnya dihina oleh masyarakat sekitar. Mereka diolok-olok karena bentuk tubuh yang berbeda. Mereka melakukan tapa geni empat puluh hari empat puluh malam. Melakukan tirakat dengan tujuan, ingin memiliki ilmu kedigjayaan serta ilmu-ilmu lainnya yang bisa membuat nama mereka disanjung dan dihormat. Tidak seperti sekarang ini yang selalu dicemooh. Allah mengabulkan permintaan keduanya. Ilmu-ilmu sihir, kebal, kebatinan sampai dengan ilmu pelet ajian semar mesem pun berhasil mereka kuasai."


"Mereka berubah jadi pria-pria tampan, Wak?"


"Mereka memang berubah. Tampan-tampan dan berwibawa. Mereka juga membasmi semua kejahatan di bumi Banten tercinta ini. Tapi mereka mencintai satu orang gadis yang sama sehingga nyaris terjadi pertumpahan darah. Tetapi keduanya kembali menyadari, kalau hubungan darah tidak dapat dipisahkan meskipun itu oleh cinta seorang wanita. Mereka izin pamit pada Abah Anom. Mengasingkan diri dan tinggal diperbukitan untuk melakukan tapa suci. Setahun kemudian keduanya kembali pulang menemui Abah karena mengingat janji kalau akan menjaga Abah sampai kapanpun. Tetapi tak lama kemudian mereka sakit dalam waktu bersamaan. Lalu, meninggal dunia dalam pelukan Abah. Setelah jenazah keduanya dimandikan dan dikafani, tetapi peristiwa aneh pun terjadi. Dalam perjalanan menuju tempat pemakaman, Abah Anom yang memiliki ilmu kebatinan melihat tubuh Ki Jalu dan Ki Maung melompat dari pasaran/keranda mayat. Mereka berubah bentuk, menjadi hewan berkaki empat yang tinggi besar, berbulu dan bertaring. Mereka...menjadi macan putih demi melindungi Abah Anom dan tujuh keturunannya. Begitu ceritanya!"


Aku menelan saliva. Agak sedikit tertohok mendengar kisah Ki Jalu dan Ki Maung yang mencintai satu wanita.


Ya Allah Gusti... Begitu banyaknya peristiwa besar yang tak masuk akal di tanah leluhurku terutama pada diriku ini! Tetapi kini aku percaya, Allah Maha Kuasa. Allah bisa membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin! Allah bisa menjadikan hal yang sulit menjadi mudah. Semua adalah Kuasanya.


...............


Hari kedelapan. Aku membuka kembali benda pipih kecil ajaib yang selama ini kumatikan. Ternyata daya baterenya juga sudah habis. Sehingga ponselku itu error dan tidak bisa difungsikan lagi.


Aku akan pulang ke kota Cibinong. Aku ingin pulang dan membereskan semua masalah yang ada.


Aku juga harus menemui kembali Genta, Jonathan serta Jordan.


Feelling-ku mengatakan, mereka ada di pabrik. Berharap aku kembali. Dan aku...pasti kembali.


Setelah berpamitan dengan Wak Hardi dan Wak Wati, bahkan sampai aku tangis-tangisan dengan istri pertama Wak yang selalu setia dan bertahan menerima takdir menjadi perempuan dimadu, aku pulang kembali ke kota.


Cukup lama juga aku harus menunggu bis yang akan membawaku ke ibukota. Karena hampir semua bis trayek Banten-Serang-Bogor belum tiba dan masih diperjalanan.


Sehingga aku harus sabar duduk menunggu di stanplas terminal hingga bis datang.


Benar kata Wak. Hidupku terasa jauh lebih ringan dan lebih enjoy walau mata batinku kini terbuka sehingga dunia terasa luasnya dengan berbagai makhluk yang dapat kulihat.

__ADS_1


Ada bapak-bapak paruh baya dengan menggendong bocah kecil botak dekil telanjang tanpa busana di punggungnya. Ada juga ibu-ibu yang berjalan terseret-seret karena ada makhluk kurus kering yang memegangi erat buah betisnya.


Semua membuatku menghela nafas dan kembali menyebut asmaul husna demi kewarasan jiwaku yang masih terkaget-kaget.


Banyak juga makhluk-makhluk halus yang sudah meninggal tetapi masih berseliweran di dunia. Mereka seperti masih memiliki beban sehingga belum bisa sampai di alam yang seharusnya, alam baka.


Aku sendiri, hanya bisa diam dan mengamatinya saja. Terkadang memejamkan mata ketika melihat jelas makhluk yang menyeramkan. Tetapi aku kini jauh lebih kuat dan tegar dari sebelumnya.


Aku menoleh pada seorang Ibu Muda (mungkin seusia denganku) tengah menenangkan putranya yang menangis dalam gendongan. Kulirik sepintas mungkin sekitaran usia dua tahun, tebakku dalam hati.


Sekali lagi kutekankan, aku bukan DUKUN. Hanya perempuan keturunan Banten yang diberi kelebihan ilmu leluhurnya hingga dapat melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat kebanyakan orang.


Anak batita yang dipangkunya terus menangis membuat sang Ibu mulai panik dan terlihat kesal.


Aku berinisiatif memberikan beberapa butir permen yang kubeli tadi di warung depan jalan menuju terminal.


Terperanjat aku, ketika sesosok makhluk anak kecil ternyata juga ikut berada dalam gendongan sang Ibu. Tangan makhluk itu memegangi batang leher putra sang Ibu membuatku sedikit terpekik, namun tersadar kalau hanya aku saja yang bisa melihat ketidak normalan itu.


"Sakit, Teh! Sudah sebulan lebih. Sakitnya gak sembuh-sembuh!"


"Belum sembuh!" ralatku mencoba membetulkan ucapannya karena ucapan adalah doa.


"Iya. Belum sembuh. Padahal sudah berobat kesana kemari. Tapi masih belum sembuh. Saya dan suami sudah bingung, Teh! Nangis terus tiap hari siang malam seperti ini. Bingung saya jadinya!"


Aku melihat raut wajah seorang ibu yang lelah. Aku bisa merasakan betapa sangat tersiksanya jiwa raga wanita ini ketika buah hati sedang diuji penyakit oleh Allah. Tapi aku melihat kalau itu bukan penyakit umum.


"Ibu... Boleh aku pegang dedenya?" tanyaku ingin mengetahui kondisi tubuh sang anak.


Anak laki-laki yang tampan sekali. Gumamku dalam hati seraya memegang dahinya. Padahal niat hatiku menghalau anak kecil yang sedari tadi mencekik leher putra sang Ibu.


Aku menelan saliva. Bersiap untuk mencoba kemampuanku sebisanya.

__ADS_1


Dengan tatapan mata dan percakapan lewat batin, aku mencoba meminta makhluk anak kecil itu untuk pergi.


"Aku juga putranya! Aku lahir dari rahimnya walaupun tidak diinginkan!"


"Tapi kamu sudah berbeda alam, De! Mamamu sedih, adikmu kau ganggu terus. Pulanglah ketempat yang seharusnya! Jangan ganggu Mama dan Adik jika kamu sayang mereka!"


"Mereka tidak sayang aku. Mereka mengeluarkanku paksa ketika enam bulan dalam kandungan. Mereka, jahat padaku!"


Ya Allah ya Karim! Sepertinya makhluk anak kecil ini adalah janin yang digugurkan sang ibu. Mungkin tercipta tanpa sengaja akibat hubungan terlarang atau hubungan tanpa status. Wallahu a'lam!


"Pulanglah ke tempatmu yang selayaknya, Adik Sayang! Saya akan minta ibumu untuk menyedekahkan dirimu dan memantaskanmu dengan membelikan pakaian bagus. Kamu mau khan? Kasihan adikmu, De! Lihat... Suatu hari nanti Adikmu akan mengirimkan doa untukmu di sisi Allah Ta'ala! Mau ya?"


"Baju baru?"


"Iya. Mbak akan bilang Mamamu untuk beli baju bagus untukmu. Mau ya?"


"Iya!"


Aku menghela nafas. Tersenyum tipis sembari mengangguk pelan.


"Mbak sudah sarapan?" tanyaku halus pada Sang Ibu muda yang mulai dibanjiri keringat karena sang putra tiada berhenti jua tangisnya.


Dia menggeleng.


"Mau saya traktir nasi uduk di warung itu? Yuk, saya juga belum makan! Mau ya? Siapa tahu ada teh manis hangat juga buat adik ganteng ini. Mungkin kehausan!"


Aku senang. Sang Ibu Muda tersenyum dan mengangguk. Aku mempersilakan ia jalan di depan. Kemudian mengikutinya dengan doa-doa kalam Al-Qur'an sebisaku. Meminta keridhoan Allah Ta'ala untuk membantuku menyembuhkan putranya.


Bismillah... Semoga bisa.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2