DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 19 - HARI YANG LUAR BIASA


__ADS_3

"Kamu jadi subur begini, pasti karena hidupmu sangat bahagia!" godanya membuatku tertawa terkekeh.


Ya ampun! Setelah beberapa hari ini wajahku terasa kaku tanpa ekspresi, aku bisa tertawa lebar hanya karena ucapan Jordan yang justru bertolak belakang. Hm... Sangat menyedihkan!


Saking lepasnya tawaku, hingga sakit rahang ini dan luruh satu air mata di pipi kiriku.


"Apa... Ucapanku salah?" tukasnya lagi mencoba meralat penilaiannya.


"Tidak juga. Bisa ya bisa tidak."


"Kenapa jawabanmu jadi mirip kuis jaman dulu yang pernah hits dipandu Uya Kuya sampai Rafi Ahmad?"


Lagi-lagi aku tertawa.


Jordan kaku, tapi ternyata bisa juga melucu.


Dia juga tertawa terbahak-bahak melihat aku ngakak hingga lupa masalah besar yang tengah menyelimuti kehidupanku.


"Ah, sudahlah. Jangan bahas kehidupanku! Asem, pahit, kecut dan mengandung racun!" kilahku mencoba mengalihkan pertanyaannya yang mulai menjurus.


"Hahaha... Maaf, maaf! Tiba-tiba aku jadi penyidik yang membombardirmu dengan pertanyaan kritis!"


Kami tertawa bersama. Lupa dunia. Lupa pada masalah yang ada sampai hari menjelang senja.


"Jordan?"


Ibu Tiur turun dari tangga rumah mewahnya dan tertegun melihat senyuman manis Jordan Ardian.


Beliau lari dan memeluk erat tubuh Sang Putra.


"Akhirnya, Mami bisa melihat senyuman terindahmu lagi yang Mami kira tak akan bisa tersungging sampai Mami tiada!"


Aku termangu. Ibu dan Anak itu saling berpelukan hangat. Membuatku iri dan mengingat Mama nun jauh di luar kota.


Mama... Aku rindu padamu, Ma!


Azan Maghrib berkumandang.


"Sebentar, aku izin ibadah dulu ya?" ujar Jordan setelah kumandang azan selesai.


Aku tercenung.


"Ibadah?" tanyaku membuat wajah Jordan yang tampan semakin unyu walaupun usianya bukan remaja lagi.


"Hm? Maaf, aku kira kamu non muslim!"


"Hehehe... Hampir semua orang mengira seperti itu. Dan..., sewaktu SD memang non muslim. Tapi, sejak tujuh tahun lalu kami sekeluarga menganut agama Islam!"


Aku terkesima. Jordan yang berdarah campuran itu ternyata muslim yang cukup taat menjalankan perintah agama. Malu hati aku yang terlahir sebagai muslimah, seringkali lalai dan malas ibadah. Sedangkan dia, baru tujuh tahun tapi ternyata rajin sholat.


"Aku boleh menumpang sholat?" tanyaku sedikit gugup.


"Tentu saja, Neng! Sholat berjamaah itu lebih mulia, begitu bukan bunyi hadistnya?"


Aku tersenyum malu. Bu Tiur meraih pinggangku yang lebar dan berjalan melangkah bersama menuju musholla rumah mereka.


Ya Tuhan! Ini musholla mirip istana!


Aku tertegun. Betapa kagum karena keluarga Jordan sangat religis. Musholla yang berukuran besar di dalam rumah mewahnya tampak sangat mirip masjid di daerah Uwakku tinggal.

__ADS_1


Subhanallah!


Kami sholat berjamaah. Dengan dipandu seorang pengurus rumah tangga yang ternyata sangat fasih bacaan serta lantunan sholatnya. Lagi-lagi aku terkesima. Terpukau lebih tepatnya.


Jangan menilai buku dari sampulnya. Begitu kira-kira pepatah lama mengatakan.


Jordan Ardian dan keluarganya, tak kusangka hidupnya sangat agamis dan penuh kesederhanaan di balik gemerlap kemewahan pribadi mereka.


Malam itu aku dijamu makan sebelum pulang ke kontrakan Genta.


Aku tidak tahu. Apakah Genta akan panik dan mencariku. Hapeku tertinggal di kontrakan sebelum berangkat ke rumah lamaku bersama Bang Irsyad.


Dan aku yang tadi seolah kosong tiada fikiran, kini kembali ceria seperti tak ada masalah dalam hidup.


Sungguh hari yang luar biasa.


Tuhan Maha Besar.


"Sering-seringlah kesini! Mainlah jika Neng tak sibuk. Tolong tengok Jordan, biar dia punya teman mengobrol! Selama ini putra bungsu Ibu selalu membisu. Hanya bicara seperlunya, dan temannya cuma kanvas, kuas dan cat minyak saja!"


"Mami!"


"Hehehe...! Mami jujur lho orangnya!"


Aku tersenyum. Betapa senangnya mendapatkan kebaikan dari orang yang baru dikenal. Juga bertemu teman lama yang sebenarnya di masa lalu kami tak terlalu kenal satu sama lain.


"Iya, Mami!" jawabku membuat Bu Tiur membulatkan manik indahnya yang berwarna coklat terang.


Secara beliau adalah peranakan Medan-Inggris, otomatis wajahnya juga identik blasteran. Begitu pula dengan Jordan.


Papinya seorang tentara asli Australia. Otomatis wajahnya lebih mirip turis asing yang sudah bertahun-tahun tinggal di Indonesia.


Aku pamit pulang. Rasanya senang luar biasa karena diperlakukan istimewa oleh keluarga Jordan.


Sebenarnya aku sangat nyaman dan kerasan bercengkerama bersama mereka terutama Jordan Ardian. Masih banyak yang ingin kami bincangkan. Masih ingin bercakap-cakap panjang lebar. Namun sayang seribu sayang, waktu jualah yang jadi penghalang. Dan aku pulang dengan diantar sopir pribadi keluarga mereka. Pakai mobil mercedes benz seri GT R. Seperti mimpi rasanya.


"Bapak, turunkan saja saya di depan gang itu!" pintaku yang malu jika para tetangga kontrakan kiri kanan akan mengghibahku karena pulang diantar mobil mewah.


"Neng Liana! Boleh Saya minta nomor pribadinya?"


Aku tercengang, Pak Saleh meminta nomor handphoneku.


"Kenapa, Pak?" tanyaku ingin tahu maksudnya.


"Supaya kalau saya jemput Neng Liana atas perintah Ibu dan Tuan Muda Jordan, saya gampang hubungi Neng Liana!"


"Oh begitu. Baiklah!"


Aku mengambil handphone pak Saleh. Menyimpan nomorku di aplikasi kontak barunya. Dan miscall ke nomorku sebagai tanda kalau itu nomor hape pak Saleh.


Padahal Tuan Muda dan Nyonya Besarnya sama sekali tak minta nomor pribadiku. Tapi... Ya sudahlah ya!


"Terima kasih, Neng!"


"Sama-sama, Pak Saleh!"


"Tunggu, Neng! Ini ada titipan dari Ibu!"


"Apa ini?" tanyaku pada Pak Saleh.

__ADS_1


"Saya juga tidak tahu, Neng!"


Aku mengangguk hormat setelah mengambil sebuah paper bag dari tangan kanannya.


Kami berpisah di ujung jalan tak jauh dari gang kontrakan Genta.


.............


"Kak Lian!!!"


Seperti yang kuprediksi. Genta langsung menghambur ke arahku.


Tetapi mataku langsung tertuju ke wajahnya. Lebam-lebam dengan bibir bengkak dan separuh wajah bonyok.


"Kenapa dengan mukamu, Genta?" tanyaku panik.


"Aku dipukuli orang tak dikenal!"


"Ya Tuhan!"


Tak bisa berkata apa-apa lagi, selain hanya mengusap dada melihat keadaan Genta adikku.


"Genta! Mari kita pindah dari kontrakan ini!" ajakku mencoba berdamai dengan keadaan.


Genta pasti sangat pusing, dia dikejar-kejar penagih hutang bahkan sampai tega menghajar wajah serta tubuhnya.


"Kemana kita, Kak?" tanya Genta dengan suara lemah.


"Ke tempat yang jauh. Pinggiran kota mungkin. Di sana kamu akan lebih aman. Kita coba usaha baru seperti berdagang makanan ataupun mainan, mungkin!"


Aku sudah putuskan, akan memulai hidup baru tanpa Irsyad lagi.


Aku bisa. Aku pasti bisa.


Genta juga kuyakin bisa. Kami bisa saling mendukung satu sama lain.


Kami bisa memulai hidup baru dengan hati yang baru pula. Dengan permohonan maaf atas segala kesalahan kami di masa lalu pada Allah Azza Wazzalla.


Pertemuanku dengan Jordan Ardian semakin membuat mata serta hatiku kian terbuka dan berfikir secara dewasa.


Masa lalu kami, mungkin banyak melakukan kesalahan demi kesalahan. Baik yang disengaja maupun tidak. Untuk itu, memohon ampunan Sang Pencipta atas segala dosa adalah yang terbaik bagiku.


Aku yang dulu bagaikan angsa cantik, kini berubah menjadi kerbau dungu yang hanya bisa mengeluh dan melenguh. Itu karena keangkuhanku sendiri. Karena hatiku yang kotor dan suka membully orang yang kuanggap hina.


Seperti Jordan Ardian. Dulu di mataku dia begitu culun. Bertubuh gendut, berkacamata tebal dan tidak bisa berinteraksi dengan baik karena bahasa Indonesianya yang kurang lancar.


Aku tanpa sadar suka meledeknya. Menjadikannya bahan candaan. Membullynya meskipun tiada niatan jahat dan hanya sekedar iseng.


Ternyata Tuhan punya rencana lain untuk mengingatkanku. Tak selamanya harta, tahta dan juga jabatan akan langgeng abadi selamanya dalam genggaman.


Dengan sekali tepuk, Tuhan membuatku jatuh kelimpungan.


Aku yang sombong dengan banyaknya talenta dan juga wajah cantik serta harta orangtua berlimpah, seketika oleng bahkan nyaris hilang arah.


Genta pula yang jadi bahan pertimbanganku untuk tidak berbuat yang melebihi batas.


Aku merasa, sudah saatnya untuk melindungi Genta lagi. Seperti dulu di masa kecil, aku selalu berusaha jadi kakak terbaik baginya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2