
Aku percaya, Tuhan Maha Baik. Selalu berhusudzon, tiada yang lebih baik selain dari Ketentuan-Nya.
Setelah selesai menyantap sepiring nasi rames lengkap lauk pauknya, Aku dan Genta dibawa Mas Jonathan Harvest ke pabrik makanan miliknya.
...CV JAVA FOOD HARVEST...
Aku dan Genta ternganga. Ternyata pabriknya bukan pabrik rumahan biasa seperti yang Mas Jo katakan.
Ini sih pabrik besar!
"Ayo! Kutunjukkan mess kalian! Eh tapi... Hari ini hari Sabtu. Pabrik libur, aku lupa! Semua karyawan yang tinggal di mess juga pada pulang semua. Termasuk pak Robin devisi personalia. Hm...! Ya sudah, untuk sementara kalian tidur dulu di rumahku!"
Aku dan Genta sangat beruntung.
Kami dibawa Mas Jo kebagian belakang pabrik. Ada gerbang hitam tertutup rapat. Ternyata dibaliknya berdiri rumah megah yang pemiliknya tempati.
Rumah besar, tapi terasa sangat dingin dan sunyi. Bahkan dimataku rumah mewah itu terkesan angker.
Mas Jo memanggil ART nya.
"Citraaa! Citraaa!"
"Iya Gege?"
"Tolong antar tamu saya ke kamar!" perintahnya dengan vibes yang penuh kharisma.
"Mari silakan, Kaka!"
"Terima kasih, Mbak!"
"Sama-sama!"
Aku berhenti sesaat,
"Mas Jonathan! Terima kasih banyak atas bantuannya! Saya... berhutang budi sekali pada Mas!"
"Jangan terlalu difikirkan, Liana! Istirahatlah dulu! Pukul lima nanti kita minum teh bersama!"
"Ba_baik! Terima kasih banyak, Mas!"
Aku dan Genta terkagum-kagum dengan kamar mewah yang Mbak Citra tujukan untuk kami tempati.
"Kak! Kita sangat beruntung!" bisik Genta membuatku mengangguk.
"Orang baik! Dan kita harus membalas kebaikannya dengan bekerja dengan baik juga!" kataku pada Genta.
Aku percaya, dalam hidup ini sudah Tuhan atur sedemikian rupa. Kita sebagai manusia harus punya rasa syukur dan juga welas asih. Harus punya empati serta usahakan jadi orang yang pandai berterima kasih dan berbalas budi.
Ada ubi ada talas, ada budi ada balas. Begitu kira-kira pribahasanya.
Cukup waktu untukku istirahat.
__ADS_1
Tubuh yang lelah dan penat dengan fikiran mumet serta kacau balau bisa kuistirahatkan sejenak.
Kamarku bersebelahan dengan Genta. Tetapi rasanya seperti tinggal di beda rumah saking luas kamarnya.
Benar-benar orang kaya, tajir melintir.
Aku capek, tapi tak bisa tidur. Hanya rebahan miring ke kanan dan ke kiri sambil main hape.
Treeet... Treeet... Treeet
Ponselku bergetar.
...Pak Saleh is calling...
"Hallo! Assalamualaikum! Pak Saleh!?"
...[Hallo, waalaikumsalam! Ini aku Jordan, Liana! Liana, kamu kemana? Kamu ada dimana? Pak Saleh bilang, tetangga kontrakanmu mengatakan kalau kau pindah. Kemana? Share loc, Liana!]...
Aku memicingkan mata. Tersenyum tipis mendengar suara Jordan dengan nada cemas.
Jordan! Kau benar-benar teman yang baik! Padahal aku dulu jahat padamu. Tapi kamu dengan mudahnya melupakan masa kecil kita dulu! Aku malu sendiri jadinya. Apalagi setelah kubuka paperbag pemberian Mamimu. Ada amplop putih berisi uang senilai lima ratus ribu. Dan uang itulah yang jadi andalan ongkos transport kami pindah ke wilayah pinggiran Ibukota.
"Jordan, maaf! Aku pindah jauh sekali sekarang. Terima kasih telah mengkhawatirkanku. Terima kasih banyak!"
...[Liana! Kalau kau sedang ada masalah, ceritakanlah padaku. Kita bisa diskusi, Liana! Aku senang sekali bisa berjumpa kamu lagi setelah sekian lama! Apa kamu... sebenarnya benci aku?]...
"Tentu tidak, Jordan! Justru aku sangat malu pada kelakuanku padamu dimasa lalu. Aku juga senang sekali bisa bertemu kamu lagi. Sungguh! Tapi... Saat ini aku dan adikku memang sedang punya masalah, Jordan! Semoga Allah masih memberi kita kesempatan untuk bertemu lagi."
"Ya Allah, please Jordan! Tolong jangan salah faham! Aku memang pindah tanpa memberitahumu. Karena keadaan kami tidak sedang baik-baik saja. Kami...sedang melarikan diri lebih tepatnya! Bukan karena tidak mau berteman denganmu yang duduk di kursi roda!"
...[Apa? Apa maksudmu, Liana?]...
"Kuharap pengertianmu. Maaf, aku bukan bermaksud menjauh apalagi menghindar dan tak ingin pertemanan kita kembali terjalin. Tolong sampaikan terima kasihku pada Ibu Tiur! Maaf... Bukan maksudku membuat kamu salah faham. Lain kali kalau aku ada kesempatan kembali ke Jakarta, aku pasti mampir ke rumahmu, Jordan!"
...[Liana kau memangnya dimana? Kamu ada di kota mana?]...
"Aku dan Genta sekarang ada di Cibinong. Kami rencana akan bekerja di pabrik CV JAVA FOOD HARVEST."
...[Cibinong? Pabrik Java Food Harvest? Sungguh?]...
"Iya, Jordan! Kami sudah diterima pemiliknya, dan besok akan langsung kerja!"
...[Syukurlah. Liana! Apakah aku boleh terus menghubungimu? Apa... Apa tidak apa-apa kalau aku...mmm menelponmu malam-malam begini? Apa...kamu sudah menikah? Kemarin aku lupa menanyakannya padamu! Maaf... Aku...ingin berteman akrab denganmu, Liana]...
Aku tersenyum tanpa sadar.
Jordan Ardian, teman SD-ku selama enam tahun. Dulu dia bertubuh gendut, berkaca mata tebal. Jordan pendiam. Super pendiam. Tidak punya teman dan duduknya pun sendirian di deretan paling belakang.
Ternyata sampai sekarang pun kulihat walaupun menjelma menjadi pria tampan, Jordan tetap punya kelemahan tidak percaya diri. Apalagi kini ia dalam kondisi duduk di kursi roda. Entah mengapa Ia sampai tak bisa berjalan dan hanya duduk di kursi roda.
...[Liana? Hallo? Liana??]...
__ADS_1
"Aku masih mendengar suaramu, Jordan!"
...[Oh! Hehehe... Ya ampun aku jadi malu! Apa tingkahku ini kekanakkan dimatamu, Liana?]...
"Hehehe... tingkahmu manis, Jordan! Imut menggemaskan. Rasanya seperti kita kembali jadi berumur 12 tahun! Hehehe..."
...[Liana, kamu belum jawab pertanyaanku yang barusan!]...
"Apa?"
...[Statusmu. Apa masih gadis atau sudah menikah? Apa aku mengganggu?]...
"Aku...baru saja bercerai. Dan saat ini sedang istirahat! Kamu sendiri sedang apa? Bagaimana keadaan Ibu Tiur? Semoga kamu dan Mamimu dalam keadaan baik!"
Entah mengapa. Berbincang via ponsel dengan Jordan seperti diriku kembali muda remaja dan bergairah. Suaranya, nada bicaranya di telepon, terdengar begitu manis manja dan menyenangkan. Aku merasa tubuhku seperti mendapat suntikan semangat dan siap menghadapi hari kedepannya.
...[Liana! Bolehkah aku menelponmu setiap malam? Apa kamu tidak keberatan?]...
"Hahaha... Aku pasti keberatan kalau kamu minta gendong, Jordan! Upsss maaf... Bukan maksudku meledekmu yang duduk di kursi roda. Sumpah demi Tuhan, perkataanku tadi spontanitas. Tidak dari hati dan hanya asal bicara!"
Aduh, Liana! Bodohnya kau! Selalu saja seperti meledek dan menghina keadaan Jordan.
...[Hehehe... Jangan khawatir! Aku sudah bisa mengerti sifatmu yang sebenarnya sekarang. Kamu sebenarnya baik hati, humoris dan suka bercanda. Tidak suka membuat orang lain sedih apalagi ada niatan jahat. Tapi terkadang kamu kebablasan kalau bercanda. Itu yang sering disalah artikan orang yang kamu candai!]...
Ya Tuhan! Jordan benar-benar bisa membaca diriku. Dia kini tahu karakter sifat asliku.
"Jordan! Terima kasih, sudah mau berteman dengan aku yang... Yang punya banyak kekurangan. Yang... Yang kenyataannya adalah orang menyebalkan hingga dijauhi bahkan dibenci orang! Hik hiks..."
...[Liana? Kenapa? Kamu menangis? Liana! Liana ganti mode on video call, boleh? Aku mau melihat wajahmu!]...
"Buat apa Jordan? Buat melihat pipiku yang gembul mirip bakpau? Atau...kamu mau lihat wajahku yang jelek, sembab dan banjir air mata?"
...[Liana! Please... Bukan seperti itu maksudku! Kamu hanya sedang sedih. Sehingga kata-katamu buruk dan menjelekkan dirimu sendiri. Berbeda dengan aku yang cacat fisik. Kamu jauh lebih baik dariku, Liana! Aku... Cacat! Aku, tak bisa bekerja layaknya orang normal. Aku, hanya selalu menyusahkan keluargaku terutama Mamiku. Bahkan Papiku sampai sakit dan meninggal dunia karena memikirkan keadaanku! Kakakku juga kecewa dan jarang pulang demi untuk bekerja keras mencukupi kebutuhanku. Aku...pria dewasa, tapi tak bisa apa-apa!]...
Samar-samar kudengar Jordan terisak.
"Jordan! Jordan...! Hik hiks jangan bersedih, Jordan! Tuhan menyayangi kita. Tuhan mengistimewakan kita karena kita kuat! Hik hik hiks..."
Kini wajah kami saling bertatapan lewat layar benda pipih. Ada tetesan-tetesan air mata jatuh bergulir di pipi kami. Tak ada kata-kata terucap. Hanya saling memandang dan tersenyum getir. Mengapa Tuhan memilih kami jadi orang-orang yang kurang beruntung.
Lama-lama saling bertatapan, Jordan membuat pipiku jadi merah merona.
Usia kami bukan usia remaja. Sudah bukan saatnya jatuh cinta, saling memuji satu sama lain karena timbulnya rasa dan getaran.
Aku menundukkan kepala. Menutup wajah dengan satu tangan sembari tertawa.
...[Kenapa, Liana?]...
"Aku malu! Sudah tua tapi kita koq kayak anak remaja usia belasan tahun. Hahaha..."
[Hahaha... Iya khan? Kubilang juga apa! Bertemu kamu, mengobrol seperti ini, rasanya aku kembali jadi Jordan cupu yang gendut berkaca mata tebal! Iya khan? Hahaha...]
__ADS_1
BERSAMBUNG