
Hari ketiga kepergian Wak Hardi, aku dan suami baru bisa pergi ta'ziah. Tepatnya setelah Mama Tiur, Genta, Jordan dan Citra pulang dari sana. Kami bergantian pergi. Setelah aku keluar dari rumah sakit.
Wak Wati memelukku erat.
Airmata beliau tumpah ruah menceritakan kejadian perginya Wak-ku tercinta.
"Wak memang sejak pulang dari pernikahan kalian kondisi tubuhnya agak kurang sehat. Selain sudah lanjut usia, beliau memang mengidap hypertensi sejak sepuluh tahun lalu, Liana! Selesai Isya, Wak meninggalkan langgar dan minta makan sama Wak Wati. Lalu... Beliau juga pegang hape. Wajahnya cerah karena sinyal malam itu lancar dan dia menelpon Liana!"
"Ya. Wak telepon Liana pukul delapan malam! Kami banyak bercerita. Liana juga mendapat banyak nasehat dari Wak Hardi malam itu. Hingga... Akhirnya kami...,"
Aku berhenti bercerita. Air mataku kembali jatuh dan Mas Jonathan menguatkan dengan menggenggam hangat jemari ini.
Maaf, Wak! Aku tidak bisa ceritakan semua kejadian yang kami alami. Kejadian mistis sekaligus gaib yang tak bisa kupecahkan karena itu bagian dari misteri Illahi.
Aku menyusut air mata.
"Kamu tahu, Liana? Wak Hardi sangat menyayangimu. Bahkan melebihi sayang kepada putra-putrinya sendiri. Dia bahkan berpesan, kita tidak boleh putuskan tali silaturahim tujuh turunan harus terus berpegangan tangan. Ini amanahnya, katanya sebelum pergi. Liana,... Senyum Wak begitu manis ketika ajal menjemput. Wak bilang, Wak senang... Akhirnya leluhur kita tidak lagi pergi kemana-mana. Ada keturunannya yang memiliki ilmu leluhur kami, yaitu kamu. Tapi dia juga bilang, kamu perempuan... tidak bisa menanggung beban semuanya. Jadi, Wak membaginya kepada saudara-saudaramu yang lain. Itu katanya lagi. Jadi Liana tidak perlu lagi terbebani. Tidak perlu merasa resah lagi menjalani hidup. Ada Allah yang selalu menjaga kita. Begitu katanya. Dan ini... Satu lagi amanat beliau, sebuah surat sehari beliau tulis khusus untukmu. Ada lima surat semuanya, tapi... yang punyamu sampulnya biru, bukan putih."
Aku menatap wajah Wak Wati.
Aku bisa mengerti setiap ucapannya. Aku lega, walaupun ada kesedihan di relung hati. Karena orang yang selama ini mendampingiku dalam urusan supranatural telah pergi.
Wak Hardi! Semoga wak tenang di haribaan Allah Ta'ala! Aamiin...
Assalamualaikum Wr. Wb
Liana, anakku Sayang! Wak tahu, dalam hati kecilmu pasti menyimpan kesedihan juga penyesalan yang dalam.
Kamu pasti bertanya-tanya, mengapa semua ini terjadi. Mengapa semua ini begini. Semua tidak sesuai espektasi dan harapanmu di awal.
Betul. Semua memang tidak bisa seperti yang kita mau. Karena yang kita inginkan belum tentu yang Allah Kehendaki.
__ADS_1
Liana...
Wak mengerti dirimu. Sifat, karakter juga sikap yang kau ambil dalam setiap langkah. Kau berhak memilih kebahagiaanmu sendiri. Lengkap dengan resiko dan konsekuensi yang siap kau tanggung juga.
Liana...
Ada empat saudaramu kini yang berbagi kemampuan spiritual sama layaknya dirimu. Pada akhirnya kau akan mengetahui sendiri siapa-siapa saja mereka. Yang pasti, mereka adalah saudara sedarahmu.
Wak harap, kalian tetap menjaga ukhuwah tali persaudaraan sampai kapanpun. Karena saudara tetaplah saudara. Saling jaga, saling lindungi. Satu jatuh ke tanah, yang lain bantu menariknya kembali berdiri. Itulah hakekatnya saudara. Ambil pelajaran dari kegagalan kami dalam menjaga tali silaturahmi.
Wak minta maaf... Karena tidak menolong Papa dan Mama-mu kala itu. Wak bersalah. Tolong maafkan Wak ya!?
Wak memang sudah waktunya harus pergi dari dunia ini. Usia Wak sudah tua juga. Nyaris 90 tahun dan Wak bahagia di akhir hidup Wak! Kamu... Adalah salah satu pembawa kebahagiaan itu.
Terima kasih, Anakku!
Teruslah berjuang. Untuk masa depan yang lebih baik lagi dan lebih gemilang lagi.
Jangan pernah tinggalkan kewajiban. Tetap jauhi larangan Allah Ta'ala. Karena Dia-lah Yang Maha Memiliki Semua Isi Jagat Raya ini.
Wak-mu
Tubagus Hardi Alamsyah
Jatuh air mataku. Surat Wak panjang dan lebar. Isinya semua penuh petuah yang membangkitkan jiwa.
Setelah membaca surat Wak Hardi, aku dan Suamiku diantar Wak Wati ke makam tempat peristirahatan terakhir almarhum.
Mataku menatap sedih batu nisan yang mengukir indah nama Wak Hardi.
Wak... Ini Liana, Wak! Terima kasih, Wak sudah sangat membantuku di saat diri ini diambang kehancuran. Wak! Jasamu tidak akan pernah Liana lupa sepanjang usia.
__ADS_1
Sebuah untaian doa ahli kubur dan yasinan aku serta Mas Jonathan haturkan untuk ketenangan beliau.
Seketika beban berat yang menghimpit dada juga perasaanku seakan hilang, menguap entah kemana.
Terlebih, ketika mataku menangkap tiga sosok pemuda tanggung serta satu wanita yang berdiri tak jauh dari hadapan kami.
Airlangga adik tiriku, Jumanta anak bungsu Wak Hardi dari istri terakhirnya yang di pesantren, dan Teh Neyna putri bungsu dari istri kedua Wak.
Wak-ku itu memang memiliki lima istri. Tiga diantaranya pernah tinggal bersama Wak Wati. Tapi pada akhirnya semua istri diceraikan Wak. Hanya Wak Wati istri pertama beliau yang tetap dipertahankan.
Mataku menatap mereka bertiga tak berkedip.
Airlangga dan Jumanta tampak nyaman-nyaman saja ketika Ki Jalu serta Ki Maung mengelus-elus keduanya dengan ekor masing-masing.
Jadi... Mereka bertiga adalah keturunan yang memiliki kemampuan leluhur seperti aku!
Aku menyalami ketiganya.
Teh Neyna tersenyum. Tetapi matanya tidak menatap mataku.
"Maaf, Liana! Teteh memang seorang tuna netra!"
Subhanallah, Maha Suci Allah...
Aku mencium lagi punggung tangannya. Meminta maaf tanpa bersuara. Hingga hati kami saling mencair dan menghangat satu sama lain.
Siapakah satu lagi keturunan yang mendapatkan kemampuan ilmu spiritual dari leluhur kami?
Semua tersenyum. Saling tatap dan saling menggeleng.
Ini adalah pertemuan pertamaku dengan Teh Neyna juga Jumanta.
__ADS_1
Sementara Airlangga adalah adik tiriku dan darah kami kuat dari Papa.
BERSAMBUNG