
"Liana!... Masalah jodoh, rezeki dan umur memang sudah ada yang mengatur. Dia-lah Sang Maha Pencipta Yang Maha Pengatur seluruh alam jagat raya dan seisinya! Begitu pun jodoh, rezeki serta umurmu dan Wak juga. Kita cukup berpasrah dan berdoa yang terbaik. Tetapi untuk Jonathan dan Jordan, itu bukan penyakit umum biasa."
"Maksud Wak apa?" tanyaku was-was.
"Ada yang sengaja mengirim bola santet melalui perantara dirimu."
"Wak? Apa iya begitu?"
"Sepertinya mantan suamimu dan juga pasangan barunya yang melakukan ini semua!"
Firasatku ternyata tidak salah! Aku merasa ada yang aneh dengan kesehatan jiwa Jordan yang seperti menderita penyakit gangguan kejiwaan skizofrenia! Karena selama ini kondisi kesehatan jiwa mereka cukup kuat meskipun mereka mualaf. Sebab keluarga mereka adalah keluarga yang taat beribadah.
"Mereka memiliki guru spiritual yang tak segan membunuh lawan yang tidak mereka sukai. Bahkan kemungkinan mereka juga mencoba mencari kelemahan dirimu lewat mereka. Wallahu a'lam bishowaf!"
"Jadi, Jordan kondisinya saat ini memprihatinkan karena ulah pasangan gila itu? Kenapa bisa? Jordan rajin ibadah dan tidak pernah tinggalkan sholat, Wak!"
"Kelalaiannya adalah karena hubbul dunya. Dia ternyata memiliki angan-angan tinggi yang cukup lama yaitu bisa dekat dan menikah denganmu. Allah menjadikannya lengah karena kecintaannya terlalu berlebih padamu, Liana!"
Aku menyimak penjelasan Wak Hardi dengan serius. Karena aku merasa itu benar adanya.
"Lalu Liana harus bagaimana, Wak?"
"Liana! Wak ingin kembali meminta kepadamu. Kebesaran hatimu untuk menerima kehendak Ilahi, soal ilmu-ilmu leluhur kita yang bisa kamu bawa serta. Percayalah, itu tidak akan memberatkanmu. Justru kamu akan lebih mudah menghandle semua permasalahan hidup dirimu serta orang banyak, Liana!"
"Wak! Liana ini anak perempuan. Bukankah anak Wak jauh lebih berhak daripada Liana? Atau anak Wak Fatimah, kakak kedua Papa. Diantara mereka ada yang laki-laki, bukan?"
"Kamu adalah keturunan yang terpilih. Dan itu mutlak, Liana!"
Aku menatap mata Wak Hardi. Seperti ada gaya tarik bagaikan sisi magnet yang berlainan. Tetapi pada akhirnya aku kalah juga melawan tatapannya yang mengandung aliran magis yang begitu kuat.
Aku menundukkan kepala. Tak berani menatap lagi.
"Liana! Apa kamu punya niatan balas dendam kepada mantan suamimu?"
__ADS_1
Aku baru berani memandang Wak Hardi lagi. Dan sontak kugelengkan kepala kuat-kuat.
Tak ada keinginan untuk kembali berurusan dengan pria brengsek itu lagi.
Sudah kuputuskan untuk tidak menemuinya lagi. Apalagi untuk melakukan interaksi dalam hal apapun. Karena hati ini terlanjur sakit.
"Kamu bisa melakukan apapun itu demi memuaskan hatimu jika memiliki kemampuan di luar batas!"
"Wak! Liana merasa tidak sanggup membawa kepercayaan sebesar itu! Maaf, Wak! Liana hanya ingin orang-orang sekitar Liana tiada yang tersakiti. Secara batiniah, Liana merasa jadi seperti orang yang memiliki tanda sial sehingga membuat orang di sekitar Liana menjadi terluka!"
"Untuk itu, Wak ingin kamu mewarisi ilmu keturunan leluhur kita. Kamu bisa menolong orang lain. Termasuk mengobati Jordan serta keluarganya terbebas dari belenggu ilmu hitam. Juga bisa jadi ladang pahala karena akan banyak orang yang terbantu, Liana!"
Aku diam. Tetapi ada yang mengganjal di hati.
"Wak!... Bukannya aku tidak menghargai karuhun atau leluhur yang sudah begitu baik memberiku perhormatan besar. Tapi..."
"Tapi kamu adalah keturunan terakhir pilihan Uyutmu, Liana! Dan kamu telah mendapatkannya tanpa bisa menolak karena ini adalah amanat!"
Aku tak lagi berani membantah. Penegasan kalimat terakhir Wak Hardi seperti sebuah perintah. Dan akhirnya aku hanya diam sambil menghela nafas.
Aku mengangguk. Mengiyakan.
..............
Aku akhirnya menerima nasehat Wak Hardi untuk mengambil ilmu warisan keluarga yang turun temurun dari leluhur kami setelah semalam melaksanakan sholat sunnah tahajjud.
Kamis malam Jum'at adalah ritual yang wajib aku lalui untuk penerimaan semua ilmu.
Aku sempat bersikukuh kalau ilmu-ilmu itu bukan ilmu sembarangan dan tidak semua orang bisa begitu saja menyerap kecuali orang yang punya kepekaan sangat tinggi misalnya anak indigo atau punya indera ke-enam.
Ternyata menurut Wak Hardi, ada beberapa orang pilihan termasuk mempunyai garis keturunan kuat yang juga bisa menyerap ilmu tanpa harus bersusah payah belajar bertahun-tahun.
Di situ si ahli waris itu bisa mengembangkan ilmunya lewat ritual puasa empat puluh hari, puasa ni'is, puasa mutih bahkan kalau perlu melakukan tapa selama empat puluh hari. Tidak boleh melakukan interaksi dengan dunia luar, apalagi menonton televisi atau membuka hape. Usahakan jangan sampai lepas wudhu setiap hari. Juga ibadah wajib tak boleh putus. Maka semua ilmu semakin menempel di dalam tubuh dan mengalir di urat nadi menjadi bagian diri sampai sang keturunan itu mati.
__ADS_1
Konon kata Wak-ku itu, berhubung aku adalah garis keturunan terakhir maka aku wajib melakukan tirakat itu semua hingga ilmu yang turun temurun dari leluhur bisa dikuasai dengan maksimal.
Berhubung aku anak perempuan, ritualku lebih di peringan. Sehingga hanya puasa tujuh hari tujuh malam serta bertafakkur mengingat Allah Ta'ala setiap saat dengan menyebutkan asma-Nya.
Aku ditempatkan di sebuah gubuk kecil yang tak jauh dari rumah Wak. Selama menjalankan ritual itu, aku juga dilarang keluar ruangan kecuali kamar kecil yang tersedia di dalam.
Sungguh suatu beban. Pantas saja Papa-ku dulu menolak dan lebih memilih menjadi orang biasa tanpa melibatkan anak serta istrinya. Ternyata, begini berat rupanya.
Aku kadung nyemplung. Karena Uwak bilang, aku bisa menyembuhkan Jordan menjadi normal kembali.
Itu tujuan utamaku pergi menemui beliau selain minta nasehat soal hidupku.
Aku walau dengan berat hati menyetujui kesepakatan ini.
Mandi kembang tengah malam. Dulu kupikir itu hanyalah syair lagu belaka. Ternyata... Kini aku harus melakukannya.
Pukul sepuluh malam setelah selesai yasinan dan juga wirid asmaul husna, aku disuruh tidur dan harus tidur. Karena tepat pukul 00.00 Wak Wati akan membangunkanku dan membawaku ke walungan. Aku wajib mandi bersih, dengan kembang yang terdiri dari tujuh macam. Tentu dengan hati terus mendawamkan asma-asma Allah.
Walau dalam hati ada ketakutan kalau ini perbuatan musyrik yang dibenci Allah Ta'ala, namun aku tak bisa mundur begitu saja. Ada wajah Jordan yang membuatku kuat. Jordan harus sembuh. Tidak boleh terus seperti itu.
Semua ini kulakukan dengan hati terus berpasrah dan ikhlas kepada Sang Pencipta Alam.
Wak bilang, kita tidak menyimpang. Ini adalah ritual leluhur. Dan harus terus turun temurun dilakukan agar warisan tidak punah tergerus jaman dunia. Wallahu.
Aku faham. Ada sebagian orang meyakini kalau tanah kelahiran para leluhurku adalah tanah suci yang mendapat stigma pemilik ilmu kebatinan hebat. Semua untuk menjaga kestabilan dan tatanan hidup masyarakatnya agar lebih mencintai bumi tempatnya berpijak.
Banyak orang lupa daratan. Lakukan hal-hal tanpa mempertimbangkan semua adab, tata krama dan sopan santun hidup di dunia. Mereka adalah orang yang lupa syariat adat istiadat. Hal tabu dibuat menjadi biasa. Hal yang dilarang kini seolah jadi permainan. Aku sendiri bisa melihat dan merasakan betapa dunia ini sudah terkontaminasi keburukan.
Kata Wak, inilah cara kita menyeimbangkan alam. Ada beberapa orang yang memiliki karomah. Dan itu murni Allah Ta'ala turunkan langsung lewat mukzizat ataupun tirakat. Tujuannya adalah untuk mengingatkan para insan ciptaan Tuhan, kalau jalan yang mereka pilih atau ingin dilewati adalah salah. Dan kita punya misi meluruskannya. Begitu tujuan ilmu-ilmu kebatinan itu dipelajari dan diamalkan, kata Wak Hardi lagi.
Hatiku semakin kuat setelah selesai menjalani ritual mandi kembang. Aku dengan berpasrah dan menyebut basmalah, mencoba melepaskan semua beban fikiran di kepala.
Pasrah dan tawaddu. Hanya mengingat Allah saja dengan terus berdzikir tanpa putus hingga pukul tiga subuh dan aku makan sahur setelah Wak Wati menyediakannya meski dengan lauk sederhana. Karena aku tidak diperbolehkan makan makanan enak selama ritual.
__ADS_1
BERSAMBUNG