
"Liana!"
"Pa! Papa...! Papa ini Liana sama Genta!" kataku dengan tubuh mendekat.
Air mata Papa menetes pelan.
Ibu tiriku mundurkan duduknya. Memberi tempat untukku serta Genta maju ke tubuh Papa.
"Liana! Genta!"
"Ya, Pa!... Ini kami, Pa! Kami datang jenguk Papa!" ujar Genta dengan suara serak. Diam-diam ia juga menangis.
"Maafkan Papa, Nak! Papa sudah jahat sama kalian! Papa... Telah menelantarkan kalian!"
Aku dan Genta tak menjawab. Hanya lelehan air mata yang turun semakin deras membanjiri pipi.
Genta sesekali menyusut air matanya. Dia menunduk dengan tangan menggenggam jari kecil Papa yang dingin.
"Kami sebagai orang tua begitu egois. Kami dulu...tidak memikirkan perasaan kalian. Maaf...!"
Aku menunduk.
Semua telah terjadi, Papa! Andai waktu bisa diputar ulang kembali. Andai semuanya bisa dikembalikan ke masa lalu lagi... Akankah bahagia sesuai harapan jua? Entah, Pa... Entah! Kita ini hanya wayang, Tuhanlah Pengaturnya.
"Lian! Kamu dan Genta adalah putra keturunan Banten. Ingat itu! Kalian punya penjaga dalam tubuh. Jadi, jangan khawatirkan dunia. Ada karuhun yang menjadi tameng kalian sehingga tidak mudah dijahati orang."
"Apa maksudnya, Pa?"
Aku tidak begitu mengerti. Tetapi aku tahu, aku memang putra Papa yang asli kelahiran Banten.
Konon katanya, keturunan putra Banten itu terkenal rata-rata memiliki ilmu kanuragan serta ilmu pemikat yang super ampuh. Tapi aku sendiri tidak merasa memiliki semua yang disebutkan itu.
Ilmu bela diri, aku tidak bisa. Ilmu pelet, pengasihan, apalagi. Papa memang asli keturunan Banten, tetapi sewaktu kecil aku tak pernah mendengar Papa bercerita banyak tentang kota kelahirannya itu.
Kami hanya sering mudik setiap tahun ketika hari Raya Idul Fitri. Itu pun biasanya nyekar ke makam Kakek Nenek, Uyut dan saudara-saudara Papa. Selebihnya, aku hanya ingat kami suka bersenang-senang berenang di kali dekat rumah Nenek yang kini telah berpindah tangan.
Papa yang kutahu adalah pengusaha handal. Pernah memiliki perusahaan tetapi bangkrut dan jadi punya banyak hutang. Itu saja yang kutahu.
"Liana!"
"Ya, Pa!"
"Papa minta tolong, tolong ambilkan daun kelor!"
"Apa, Pa? Daun kelor? Dimana?" tanyaku bingung.
__ADS_1
Tiba-tiba keadaan Papa kembali mengkhawatirkan. Papa kejang-kejang membuat semua yang ada menjadi panik.
Satu persatu saudara Papa berdatangan. Uwak Hardi menuntunku keluar.
"Liana, ayo kita ambil daun kelor di kebun! Ini permintaan Papamu yang terakhir! Semoga jalannya Allah permudah!"
"Wak..."
"Papamu sudah sakit seperti ini selama lima tahun. Satu tahun belakangan ini selalu memanggil-manggil namamu jika ada anak perempuan yang menjenguk. Papamu, merasa sangat bersalah pada masa lalunya karena menelantarkan kamu dan Genta."
"Kenapa harus cari daun kelor, Wak? Untuk apa?"
"Papamu punya susuk. Dan semua susuknya itu baru akan luntur jika sudah diluruhkan. Papamu sepertinya tahu, daun kelor yang kamu ambil adalah pelunturnya. Karena kamu pernah juga beliau mandikan kembang tujuh rupa selama tiga malam jum'at berturut-turut sewaktu kamu bayi! Kamu, memiliki penangkal guna-guna, pelet serta gangguan sihir lainnya termasuk santet. Tubuhmu akan cepat merespon meskipun dalam keadaan diserang secara gaib!"
Penuturan Uwak Hardi membuatku merinding. Semua tak pernah ada dalam benakku tentang ilmu-ilmu menyeramkan seperti itu.
Tapi aku mulai ingat kejadian demi kejadian yang menimpaku beberapa waktu lalu. Soal tubuhku yang sering muntah darah, namun tidak sampai oleng terus-terusan. Mungkin tameng yang Papa maksud adalah kekuatan tubuhku di atas rata-rata kebanyakan orang.
Aku hanya percaya pada kekuatan Tuhan.
Bagiku, cukup hidup lurus berdoa pada Allah Ta'ala jika kita punya hajat. Tidak perlu bantuan guru spiritual apalagi dukun sakti mandraguna, karena efek yang didapatkan jauh lebih dahsyat ketimbang khasiatnya.
Efeknya, yaitu tidak diterima amal ibadah kita selama 40 malam jika melakukan hal yang dibenci Allah dengan mendatangi dukun.
Perdukunan sama artinya kita musyrik karena sirik pada Tuhan. Dosa besar. Dan juga imbasnya, tujuh turunan akan mendapatkan keburukan dari orang tua yang menggunakan ilmu-ilmu hitam seperti itu. Wallahu.
Dengan bimbingan Wak Hardi, aku membaca istighfar, dua kalimat syahadat, lalu Qur'an surat Al-Fatihah semuanya masing-masing tujuh balik.
Wak Hardi bilang, itu untuk melunturkan semua ilmu-ilmu yang ada di tubuh Papa.
Dengan tubuh menggigil karena dini hari pula serta rasa takut yang menguasai jiwa, aku berpasrah pada Allah Ta'ala. Membalur tubuh Papa perlahan, dengan linangan air mata.
Papaku... Terbujur lemah tanpa daya.
Tidak seperti di awal, bibirnya masih sangat jelas mengajakku bicara. Tapi kini... Papa sudah tidak lagi merespon kami.
Matanya terpejam, mulutnya sedikit menganga dan hanya suara mengorok yang keluar dari bibirnya. Seperti orang sedang tertidur pulas.
Setelah kuusapkan cairan daun kelor ke kedua tangan Papa, wajah serta dadanya, tiba-tiba nafas Papa agak tersengal.
"Bantu dengan kalimat syahadat!" teriak Uwak Hardi, membuat kami semua menyebutkan kalimat 'Laa ilaaha illallah Muhammadar Rosulullah'.
Papa meregang seperkian detik.
Lalu... Aku seperti merasa ada angin sejuk yang lewat. Dan..., Airlangga tiba-tiba langsung menangis keras sambil memeluk tubuh Papa.
__ADS_1
"Innalillahi wa inna illaihi rojiuun!!!"
Aku...ikut menangis memeluk tubuh Papa yang hangat tetapi perlahan menjadi dingin.
"Papaaa!!! Hik hik hiks...! Papa! Maafkan Mama, Liana juga Genta ya Papa! Hik hik hiks..."
Genta yang tadi paling tegar pun kini ikut menangis memeluk tubuh Papa.
Teringat kembali masa kecil kami yang begitu bahagia. Sangat bahagia karena Papa dulu adalah Papa yang sangat menyayangi anak-anaknya. Tapi kehidupan yang keras, dunia yang kejam, membuat Papa Mama berubah. Dan kami adalah imbas dari kekecewaan Papa Mama karena keadaan.
Aku membiarkan para kerabat Papa mengurus jasad yang terbujur kaku itu.
Kunyalakan kembali ponsel yang off, untuk mengabari Mama. Biar bagaimana pun, mereka pernah saling cinta dan hidup bersama sampai memiliki kami. Mama adalah orang pertama yang kukabari. Kemudian Jordan Ardian, karena ada pesannya masuk beberapa kali menanyakan kenapa ponselku mati.
Aku kembali mematikan ponsel demi kenyamananku.
Kematian Papa yang baru saja kusaksikan semakin membuatku tersadar. Dunia ini hanya sementara. Pada akhirnya kita semua akan berpulang pada si Empunya, yakni Allah SWT.
Aku baru sadar, ada Boss Gege yang setia disampingku. Hingga tanpa sadar aku butuh bahu untuk bersandar.
Aku merasakan tubuhku rapuh, jiwaku hancur lebur.
Aku tak punya pasangan tempat berkeluh kesah.
Aku tak punya siapa-siapa yang bisa kubagi kesedihan ini.
Airmata ini seakan jadi pertanda, betapa aku sangat kesepian dan ketakutan hidup di dunia ini.
Aku hancur berkali-kali.
Perceraian Papa Mama, itu adalah luka hatiku yang pertama.
Sakit. Sakit sekali rasanya. Hingga aku tak bisa percaya dengan mudahnya pada mulut laki-laki.
Lalu aku mengenal Irsyad. Pemuda yang menolongku bahkan rela baku hantam dengan tiga jambret.
Kupikir Irsyad lelaki baik yang tulus mencintaiku selamanya.
Ternyata aku salah.
Cinta bisa berubah dan berkurang kadarnya. Kemudian menghilang lalu berpindah kemanapun dia mau. Seperti cinta Irsyad yang ternyata diam-diam memilih Katliya jadi belahan hidupnya selain aku.
Mataku buram, kepalaku pusing. Tapi aku masih bisa merasakan sepasang tangan kokoh meraih tubuh ini yang oleng dan pingsan.
Papa..., semoga kau tenang di pangkuan Allah Ta'ala! Aamiin...
__ADS_1
BERSAMBUNG