
"Ada apa? Ada apa, Jordan?"
Sayup-sayup kudengar suara Mama Tiur juga Citra di luar kamar.
Ada apa? Kenapa...
Kupejamkan mata dengan kekuatan batiniah penuh minta pertolongan Allah Ta'ala.
..."Putrimu! Putrimu dibawa kabur seseorang, Liana!" Suara Wak Hardi....
APA???
"Aprillia! April!!! Aprilia Jovanca Harvest! Aprilia Jovanca Harvest! Aprilia Jovanca Harvest!!! Ya Allah ya Allah ya Allah!!! Ya Allah!!! Jangan apa-apakan putriku, ya Allah... Jaga putriku ya Allah!!!"
Seketika aku merasa kepalaku pusing tujuh keliling, teriakan serta tangis yang begitu besar tak lagi kuhiraukan.
Putriku tidak boleh mendapatkan kesusahan ya Allah! Bayi mungil yang baru saja lahir ke dunia, bahkan belum menghirup udara selama 24 jam, kini entah berada di mana! Ya Allah ya Tuhanku,... jaga putriku ya Allah!!!
Entah apa yang terjadi.
Aku tidak tahu.
Aku tidak sadarkan diri setelah itu.
Duniaku gelap.
Hitam tak ada cahaya.
Bahkan di alam bawah sadar pun, begitu gelap.
................
DITEMPAT YANG BERBEDA
Seorang pria mengendap-endap dengan membawa sesuatu di tangan kirinya. Satu tangannya lagi menenteng tas ransel besar yang juga entah apa isinya.
__ADS_1
Jaket parasut yang tebal dan tertutup dengan tudung di kepala membuat orang tidak bisa melihat barang apa yang sedang dibawanya.
Jalanan semakin jauh ke dalam pelosok. Aspal yang tadi rata dan halus mulus, berganti menjadi jalan kecil, setapak berbatu kerikil.
Pria itu mulai berjalan lambat, seiring bebatuan yang cukup besar menghambat langkahnya maju terus ke wilayah yang terlihat masih perawan itu.
Pepohonan besar tumbuh subur dengan tanaman rambat liar yang menjadi benalu pun turut membuat keadaan sekitar menjadi gelap padahal masih siang tengah hari bolong.
"Oa oa oaaa..."
Suara tangis bayi mulai terdengar.
Ternyata pria itu membawa seorang bayi mungil yang dibungkus berlapis kain serta kain tebal besar seperti seprei.
"Oa oaaa...oa oaaa..."
"Diamlah! Jangan buat keributan! Aku yang akan merawatmu, bayi kecil!"
Dia telah sampai pada sebuah rumah besar tapi kosong dan terlihat kumuh.
Gelap dan pengap. Bau tumpukan daun kering juga basah membuat dada orang yang menghisapnya bisa sesak.
Pria itu membuka bungkusan tebal yang melindungi sang bayi. Lalu meletakkan di atas lantai berlapiskan beberapa kardus bekas mie instan yang sudah tergelar di situ.
Dia juga membuka tasnya.
Ternyata ada banyak isi didalamnya.
Sebuah termos air, satu dus susu formula dan juga dua botol plastik lengkap dengan dot-nya. Juga ada satu plastik sedang berisikan pakaian bayi.
Pria ini sepertinya telah mempersiapkan dengan sangat matang pelariannya membawa seorang bayi mungil yang tidak tahu apa-apa.
Bahkan dia sepertinya sudah belajar bagaimana membuat susu formula sesuai takaran dan juga keseimbangan air panas dan air dingin yang menghasilkan suhu hangat kuku.
"Menyusulah yang banyak. Biar kau tidak mati, Nona Kecil!" gumamnya terdengar kasar.
__ADS_1
Bayi tak berdosa itu hanya menatap polos pria kumal yang menatapnya tajam.
Wajahnya dekil dan tidak terurus. Jenggot dan kumis tumbuh lebat tidak teratur.
Rambutnya juga ikal gondrong juga kotor. Sepertinya pria ini jarang sekali mandi dan berganti pakaian.
"Kau tahu? Bapak moyangmu dan keluarganya adalah pengacau dalam hidupku!"
Bayi mungil itu hanya menatap polos dengan mulut terus menyesap air susu formula yang baru pertama kali diminumnya.
Dua bola matanya yang coklat pekat terus menatap pria itu tanpa kedip.
"Bapakmu... membuat hidupku seperti ini. Jadi orang miskin yang kesepian dan dijauhi orang-orang sekitar."
"Kau mana tahu, bagaimana susahnya hidupku setelah bapakmu datang dalam kehidupanku! Makanya kau harus dengarkan curhatku!!!"
Terdengar suara seperti peluit dari botol susu. Ternyata isinya telah tandas habis diminum Sang bayi mungil.
"Hei! Kau sangat haus rupanya! Mau tambah lagi? O tidak tidak. Tidak bisa! Kau harus minum susu dengan teratur! Aku tidak boleh luluh dengan kepolosanmu, bocah keturunan bule gila! Karena Aku masih akan buat perhitungan kepada bapak moyangmu! Kau dengar itu? Bapak moyangmu harus mati ditangan ku!"
Jelegerrr...
Tiba-tiba petir menyambar. Suaranya sontak mengagetkan sampai sang bayi langsung menangis seperti ketakutan.
"Hm... Kau takut ya? Kau takut petir? Atau kau takut kalau bapakmu akan mati kubunuh nanti? Hehehe...! Sini, sini! Kupangku biar kau hangat. Tidur! Jangan banyak gaya dan jangan jadi anak manja! Karena aku ingin kau memanggilku Bapak, bukan..."
Jelegerrr...
Petir kembali terdengar.
Mulut bau pria itu akhirnya bungkam dengan tangan merengkuh Sang bayi dipojokan.
Siapakah pria ini? Mengapa dia membawa kabur seorang bayi mungil yang tak berdosa?
Yang pasti kini jemarinya tertaut dengan jemari mungkin sang bayi yang perlahan tertidur pulas.
__ADS_1
Keduanya kini tertutup rapat matanya. Dan posisi pria kotor itu duduk menyandar ke dinding tembok rumah kosong yang tak terurus itu.
BERSAMBUNG