
Pria dikursi roda itu menjabat hangat jemari tangan kananku. Tatapannya serius penuh pada wajah bulatku. Aku menunduk malu. Merasa panas ditatap sedemikian rupa oleh pria berwajah tampan.
"Liana Wulandari? Sepertinya, nama itu familiar di telingaku!"
Aku mendongak. Mata kami kini saling bertatapan.
Apakah aku mengenal pria tampan ini?
"Kamu pasti lupa sama Aku!" katanya lagi dengan senyum dikulum.
Jordan Ardian? Siapa ya? Apakah salah satu temanku di masa lalu? Jordan Ardian?
"Betewe terima kasih, sudah mengantarkan Mamiku pulang. Aku sangat berterima kasih. Mami kini sudah minum obat dan istirahat. Maaf ya, kalau Mamiku jadi membuat kacau aktivitasmu, Liana!"
Aku masih termangu. Mengingat-ingat siapa pria tampan yang misterius ini.
"Mi_minum obat? Apa... Ibu Tiur sedang sakit?" tanyaku setelah tersadar pada ucapannya.
"Ya. Kanker otak stadium 2."
"Saya turut prihatin pada keadaan Ibu Tiur. Semoga secepatnya sembuh dan sehat seperti sedia kala!"
"Terima kasih doa tulus Liana. Walau sebenarnya aku ingin tertawa juga melihat dirimu yang sekarang, Liana?"
Aku bingung melihat senyum pria itu yang manis legit bak martabak super spesial terus-terusan mengembang dibibir seksinya.
"Apakah... Anda betul-betul mengenal Saya?" tanyaku gamang.
Dia lagi-lagi hanya tersenyum.
"Aku mengenalmu, tapi mungkin kamu tidak. Tetapi tidak apa-apa. Hehehe..."
Jawabannya yang misterius semakin membuatku penasaran.
"Jordan Ardian? Dimana kita pernah bertemu? Maaf, maaf Saya benar-benar lupa ingatan!" kataku tak enak hati. Sumpah aku lupa sama sekali kalau diantara kita pernah saling kenal. Dimana? Kapan? Aku benar-benar tidak ingat.
"Tentu saja kamu tak ingat aku. Circle pertemananmu hanyalah ketua kelas, wakil dan sekretaris serta bendahara kelas. Murid-murid teladan dan yang memiliki ranking lima ke atas, juga cowok-cowok tampan saja. Yang standar dan tidak berprestasi, pasti tidak kamu kenal. Hehehe..."
Aku makin bingung.
__ADS_1
Mengingat kembali diriku di masa lalu.
Sepertinya, Dia adalah teman sekolahku. Tapi... Sekolah yang mana? Di umurku berapa tahun? Kenapa aku sama sekali lupa pada wajah pria tampan dihadapanku ini?
"Kamu yang dulu, ternyata sangat jauh berbeda dengan kamu yang sekarang ya?"
Wajahku merah merona seketika.
Tentu saja. Ketika masih kecil sampai usia remaja, wajahku cantik mempesona bagaikan boneka India. Itu kata kebanyakan orang yang mengenalku.
Sekarang... (aku hanya menunduk dan menelan saliva)
Tubuhku berubah drastis 180 derajat walau wajahku masih memperlihatkan sisa-sisa kecantikan yang perlahan memudar di masa muda dulu.
Usiaku kini 32 tahun. Tetapi sangat berubah dari penampilan serta keadaanku yang dahulu.
"Kamu pasti masih mengingat Maulana Berto, Ferdinan Ali, juga Leonel Agatha. Pasti khan?"
Ucapannya yang terakhir langsung membuatku mendelik kaget. Itu semua adalah nama-nama teman SD-ku di sekolah elit TARKI.
"Kamu alumnus TARKI? Ya ampun... Maaf, aku lupa, itu sudah 20 tahun yang lalu! Maaf..."
"Jordan Ardian..., Jordan si cupu, gendut, berkaca mata tebal yang duduk di pojok paling belakang dan tak suka bergaul itu?"
Aku keceplosan.
Kututup mulutku yang ember dan seenaknya mengatai masa lalu pria tampan yang ada dihadapanku ini.
"Hahaha... Aku senang, kau ternyata mengingatku dengan sangat spesifik!"
Gigi putihnya yang berbaris membuatku terpana dan lupa pada dunia di luar sana.
"Kamu beneran Jordan Ardian?" gumamku sekali lagi. Memastikan karena sungguh aku tak percaya pada penglihatanku sekarang.
"Aku Jordan Ardian, yang pernah kau tertawai karena tak suka pelajaran olah raga apalagi saat harus pemanasan lari keliling lapangan basket tiga putaran. Ingat, Liana?"
"Ma_maaf! Maafkan kekonyolanku di masa kecil dulu! Dan Tuhan kini membayar kontan karmaku padamu. Tertawalah, Jordan! Tubuhku kini bulat, gendut dan bahkan hidupku menyedihkan karena dulu sering sekali meledekmu!"
"Hehehe... Sudahlah, saat itu kita hanyalah anak-anak yang polos apa adanya!"
__ADS_1
Aku tertegun. Pria tampan bernama Jordan Ardian itu begitu besar hatinya. Dia bahkan tidak membalas bullyanku di masa lalu padahal saat ini sangat bisa untuk dia lakukan.
"Aku waktu SD cewek jahat pastinya dimatamu, ya Jor?"
Aku menunduk malu. Meremas jari jemariku yang basah karena slice demi slice kenangan masa sekolah dasarku yang teramat menyenangkan kembali terbayang.
Masa paling menyenangkan, tetapi masa itu pula yang paling tak ingin kukenang.
Kenapa? Karena aku sadar, masa itu justru adalah masa yang pahit penuh kenistaan yang justru berbanding terbalik dengan kehidupanku di pertengahan SMP hingga lanjut SMU.
Usia 13 tahun, rumah tangga kedua orangtuaku mulai goncang. Bisnis usaha Papa bangkrut dan kami jatuh miskin.
Ketika SD, tingkahku memang agak tengil. Sombong juga angkuh. Suka pilih-pilih teman karena masa itu adalah masa-masa menyenangkan dan semua orang menyanjungku setinggi langit.
Aku cantik. Lahir dari keluarga berada yang memiliki perusahaan sendiri walau masih taraf menengah.
Aku juga populer meskipun usiaku masih kecil. Itu karena Mama terobsesi untuk membuat putri cantiknya ini jadi terkenal, malah kalau bisa jadi artis sekalian.
Hhh...
Ternyata, hidup tak seindah khayalan Mama Papa.
Ternyata, dunia tak sebegitu bersahabatnya dengan kami setelah kejatuhan usaha Papa dan rumah tangga mereka berubah menjadi seperti neraka.
Pertengkaran demi pertengkaran mereka menjadi sarapan dan makanan Aku serta Genta setiap hari. Ekonomi yang lemah, ternyata juga melemahkan kekuatan cinta keduanya yang dulu begitu besar dan indah.
Hingga, pilihan bercerai menjadi puncak keegoisan Papa Mama. Dan tragisnya lagi, mereka lebih memilih menitipkan dua putra putri yang dulu begitu mereka sayang dan manjakan pada kakak Mama yang kehidupannya lebih mereka percayai.
Sontak kehidupan naifku berubah total.
Si angsa emas yang dulu begitu dielu-elukan langsung turun derajat, berubah menjadi upik abu yang menyedihkan.
Aku, langsung berubah. Dari si cantik yang suka dunia sosial media, menjadi si lusuh yang menutup diri bahkan tak berani memajang foto diri dan cerita sehari-hari seperti masa-masa keemasanku di waktu SD dahulu.
"Liana! Liana?"
Aku tersentak dari lamunan. Wajah Jordan Ardian yang tampan ada di depan wajahku. Sangat dekat, sampai aku bisa melihat pori-pori halus di wajahnya dan juga bulu-bulu indah yang menghiasi cambang di bawah telinganya.
Tampannya kamu sekarang, Jordan! Maafkan aku di masa lalu, ya? Ini adalah pembelajaran hidup yang semakin mendewasakanku. Bahwa hidup terus berjalan. Roda terus berputar. Kadang di atas kadang di bawah. Tak perlu risau dan gundah gulana. Namun juga janganlah terlalu pongah. Karena suatu saat nanti, kita yang sombong akan jadi sangat malu karena kesombongan di masa lalu. Kita yang lemah akan sangat kuat di suatu saat. Tuhan Maha Adil. Tuhan Maha Kuasa.
__ADS_1
BERSAMBUNG