
Grep.
Aku terkesiap. Jemari Jordan menggenggam kepalan tanganku.
"Aku senang, akhirnya kamu mau jujur padaku tentang perasaanmu. Aku senang, kamu memilih kakakku tanpa rasa takut kehilanganku. Aku sempat khawatir, kamu menjatuhkan pilihan padaku, Liana...karena aku sempat marah dan tidak terima kenyataan yang ada."
"Jordan..."
"Aku bahagia, jika kamu bahagia. Aku juga sangat bahagia, jika kakakku jauh lebih bahagia. Gege berhak bahagia. Kamu juga. Dan aku menerima keputusanmu. Jangan khawatir! Menjadi saudara ipar jauh lebih menyenangkan ketimbang jadi pasangan. Bukan begitu, Liana?"
"Jordan? Huaaa...hik hik hiks!"
Senang rasanya, semua beban di jiwa terasa terangkat begitu mudahnya.
Alhamdulillah, keputusanku tiada salah.
Ya Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Bimbinglah aku kejalan kebenaran!
Wak Hardi tersenyum sembari menepuk-nepuk bahuku.
Mama Tiur, Mama Farida, juga Wak Wati bergantian memelukku. Terharu bahkan sampai ikut menangis.
Aku sendiri tak menyangka diriku yang jadi dewasa dan bijaksana seperti ini.
Jonathan tersenyum malu saat mata kami beradu pandang.
Ya Allah... Pria tampan inikah jodohku yang kau kirim untukku? Terima kasih ya Allah! Semoga rumah tangga kami nanti langgeng sampai akhir hayat. Aamiin ya Allah.
"Baiklah. Berarti kini sudah jelas ya, Jonathan! Apa jawaban Liana, kamu sudah dengar sendiri barusan. Langkah selanjutnya bagaimana?"
"Jonathan akan melamar Liana, Wak! Secepatnya! Kalau bisa, sekarang pun boleh. Mumpung keluarga kumpul semua."
"Bagaimana? Farida? Genta?"
"Boleh, Wak! Genta setuju sekali. Lebih cepat lebih baik. Mumpung Wak Hardi masih disini juga." Genta langsung menyambutnya.
"Ya sudah. Jonathan...! Pergilah ke rumah aparatur setempat. RT wilayah sini dan beberapa orang tetangga untuk jadi saksi, kamu bisa undang hadir pukul empat sore ini. Kita adakan syukuran lamaran kamu pada Liana. Bagaimana?"
"Baik, Wak!"
Rasanya, hidupku ini bagaikan drama sandiwara. Lamaran diadakan sangat mendadak. Hari ini juga karena ada Wak Hardi yang turut menyaksikan.
Mama Tiur dibantu Mama Farida, Intan, Nadia dan juga Citra bahkan pergi berbelanja untuk keperluanku nanti sore.
Setelah menyepakati tiga kata, ingin yang sederhana. Akhirnya Para Mama belanja hal-hal yang penting saja. Yaitu untuk suguhan para tamu saja.
__ADS_1
Untuk hal lain, ternyata Mas Jonathan sudah mempersiapkannya.
Ya Allah, subhanallah. Rupanya calon suamiku itu sudah cukup serius memikirkan ini semua.
Acara berjalan khikmat.
Mas Jo memberiku sebuah cincin emas berbatu berlian asli satu karat.
Bagaikan mimpi, mengkhayalpun nyaris aku tidak pernah.
Kupikir itu hanyalah untuk para orang-orang kelas atas saja. Membuatku gemetar dan gugup tatkala menerima benda berbentuk lingkaran itu lewat jemari kokoh mas Jonathan.
Sebuah Al-Qur'an cantik di tengah wadah hantaran seperangkat alat sholat makin membuatku semakin terharu.
"Agak beratnya, secara seperangkat alat sholat! Ini wajib digunakan setiap hari ya, Lian?!" bisik Jonathan membuatku tersipu.
Kami membahas hari baik untuk kelanjutannya.
Setelah ada kesepakatan, pernikahan akhirnya di gelar satu bulan kemudian. Untuk waktu kami berbenah menyiapkan segalanya.
Aku sendiri meminta Mama Tiur untuk membuat acara pernikahan sederhana saja. Aku malu. Status janda membuatku minder dan takut menjadi omongan para tamu undangan.
Tetapi Mama Tiur bilang, aku tidak perlu memikirkan terlalu dalam. Semua budget diatur dan diurus pihak mempelai pria. Jadi aku beserta keluarga hanya perlu mendoakan semua urusan lancar sampai hari H.
Mama Farida hanya memberiku nasehat, untuk belajar ilmu sabar dan ikhlas lebih banyak lagi. Karena hidup itu tak lepas dari ujian juga cobaan. Asam garam kehidupan terkadang wajib pula kita rasakan, untuk kedewasaan serta cara berfikir kita di masa mendatang.
Hari demi hari terus berjalan.
Mendekati waktu pernikahanku dan Mas Jonathan yang sudah ditentukan.
Aku dan Jonathan malah sengaja menjauh sampai kami sama-sama duduk di kursi pelaminan nanti. Bahkan komunikasi pun hanya lewat ponsel saja. Selain memang ada acara pingitan, beliau juga sibuk urusan bisnis dan juga sibuk mengurus acara pernikahan kami.
Seminggu sebelum acara digelar, Mas Jonathan jatuh sakit. Padahal persiapan pesta pernikahan sudah hampir rampung. Bahkan surat undangan sudah disebar kepada kerabat, rekan dan relasi.
Badan Mas Jo panas tinggi bahkan sampai mengigau setiap kali tidur. Begitu kata Mama Tiur.
Setiap kali Mama minta agar pergi ke dokter, tetapi mas Jo menolaknya. Katanya hanya masuk angin biasa saja.
Tentu saja aku turut cemas. Pikiranku kalut dan jadi kacau.
Memang sudah beberapa hari ini udara menurutku agak kurang baik. Disebut panas, tapi cuacanya adem sejuk. Di sebut tenang, tapi gendang telingaku seolah menangkap suara-suara angin menderu-deru.
Ada apa ini, ya Allah? Mengapa seperti ada kendala menjelang pernikahanku ini?
Baru saja aku memikirkan hal yang tak kumengerti, Wak Hardi telepon. Katanya baru akan datang di H-1. Ada sesuatu yang harus dikerjakan.
__ADS_1
Wak Hardi menanyakan keadaan kami semua. Tentu saja aku langsung ceritakan kondisi Mas Jonathan, sekaligus minta bantuannya juga. Semoga penyakit calon suamiku segera Allah angkat. Secara pernikahan kami tinggal hitungan hari lagi.
Malam H-3, aku bermimpi di datangi makhluk cantik berpakaian putih yang terbang kian kemari tepat di atasku.
"Hei, kamu! Ada apa menggangguku? Aku tidak pernah mengusikmu, jadi jangan ganggu aku!" kataku menanyainya yang cekikikan di atas tubuhku.
Rambut hitam legamnya bahkan sesekali mengenai kulit wajahku. Bau melati menyengat sampai membuat kepalaku pusing tujuh keliling.
"Hihihi hihiii... Hi hihi hihiii... Tuanku ingin sekali bercinta dengan Nyai Ratu! Hi hihi hihiii..."
"Siapa Tuanmu?"
"Tuanku adalah Tuan Eyang Subur! Hi hihi hihiiii... Hi hihi hihiii...!"
"Mau apa dia?"
"Tuan sangat menyayangkan pernikahan Nyai Ratu dengan orang biasa! Hihihi hihiii..."
"Katakan pada Tuanmu, jangan ganggu hidupku! Jangan halangi kebahagiaan orang lain demi untuk mendapatkan materi. Bilang padanya, bertobatlah! Minta ampun pada Allah Ta'ala! Jangan lupa, umurnya sebentar lagi game over!"
"Hi hihii hihiii... Hi hihi hihiii...!"
Tujuh balik ayat kursi yang kudawam dengan hati penuh kekhusu'an serta tiga balik surat An-Nas dan tiga balik surat Al-Ikhlas cukup ampuh untuk membuat makhluk itu menghilang dari pandangan.
"Astaghfirullahal'adziiim... Astaghfirullahal'adziim..."
Peluh mengucur membasahi sekujur tubuh ini.
Mimpi yang membuat dadaku sesak karena harum aroma bunga melati yang menyengak.
Pukul dua tepat. Aku mencoba mendawamkan doa untuk kesembuhan Mas Jonathan. Meminta dengan sungguh-sungguh pada Allah Ta'ala. Serta perlindungan-Nya dari gangguan sihir yang jahat.
Tok tok tok
"Mama! Mama Tiur! Assalamualaikum! Maaf, Ma... Ini Liana!"
"Liana..."
Aku terkejut, wajah Mama basah air mata. Ini malam kedua beliau menemani putra pertamanya tidur karena kondisinya masih sakit. Mama khawatir kalau mas Jo tidur sendirian. Sementara Jordan kini juga mulai sibuk melebarkan sayap pabrik ke wilayah selatan Ibukota. Terkadang Jordan tidak pulang karena tidur di rumah yang di Jakarta.
"Mama? Kenapa menangis?"
"Gege..., Lian! Gege!!!"
"Kenapa, Mas Gege???"
__ADS_1
BERSAMBUNG