DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 74 - HARI PERNIKAHAN YANG DITUNGGU


__ADS_3

"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Jonathan Harvest bin Bapak Leonard Harvest Junior kepada kemenakan saya yang bernama Liana Wulandari binti almarhum Bapak Tubagus Arya Wardana dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan cincin berlian satu karat dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Liana Wulandari binti almarhum Bapak Tubagus Arya Wardana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"


"Bagaimana? Sah?"


"Sah?"


"Saaah!!!" Serempak semua saksi nikah antara Jonathan dan Liana menjawab sumringah.


"Alhamdulillahirobbil'alamiin..."


Hanya dengan satu kali tarikan nafas, Mas Jonathan mengucap ijab kabul yang diserahkan Wak Hardi sebagai wali nikahku.


Doa-doa dipanjatkan pak penghulu dan para saksi menjadi penutup yang indah di waktu yang sakral ini.


Pukul sembilan tepat, Mas Jonathan kini telah resmi menjadi suamiku. Setelah aku menjanda lima bulan dari pernikahan terdahulu.


Harapan dan doaku, ini yang terakhir. Rumah tangga langgeng sampai akhir hayat. Tiada lagi gangguan. Tak ada lagi duri yang merusak taman rumah tangga pernikahanku.


Aku hanya meminta kesetiaan, cinta dan kasih sayang tulus dari suamiku, Jonathan Harvest.



Allah Maha Baik. Kini aku telah bersuami lagi. Seorang pria tampan, dewasa dan juga pengertian, telah Allah kirimkan untukku.


Masa-masa pahit itu kini telah hilang dari hidupku.


Kesakit-hatianku pada penghianatan Irsyad Fadel Islami kini telah Allah ganti dengan yang lebih baik lagi.


Aku tidak mendendam perlakuan mereka. Tidak. Tidak boleh. Karena aku kini sadar, jika aku salah jalan dan melakukan hal-hal bodoh demi membalaskan rasa sakit yang begitu menyesakkan ini, imbasnya adalah anak keturunanku nanti yang menanggung beban dosa.


Aku tidak mau itu.

__ADS_1


Cukup aku yang merasakan sakit hati. Lalu kuobati sendiri dengan memohon pertolongan Allah untuk mengangkat sakit serta deritanya.


Urusan perbuatan mereka yang jahat padaku, biar itu urusan Allah. Aku percaya, apa yang mereka tabur pasti akan mereka tuai hasilnya. Tak perlu mendoakan balik keburukan. Hanya akan membuat sakit di hati menjadi dendam.


Roda berputar, Tuhan tidak tidur. Tuhan mendengar doa-doa umatnya yang selalu berpasrah pada-Nya.


...............


Baru saja hatiku lega karena ijab kabul Mas Jo lancar hanya dengan satu tarikan nafas saja.


Ternyata...apa yang Wak Hardi kata semalam padaku untuk tetap waspada akhirnya kejadian juga.


Papa Bambang datang dengan Tante Mirna serta Bianca. Rupanya mereka marah, Mama Farida tidak mengundang mereka.


Keributan dan keonaran seolah sengaja Tante Mirna lakukan demi mempermalukan keluarga kami di muka umum.


Aku sendiri, melihat makhluk-makhluk yang dibawa Papa Bambang dan Tante Mirna seperti tidak bisa melewati garis pagar yang Wak Hardi pasang kemarin.


Seperti halnya manusia, para makhluk tak kasat mata itu pun bertingkah membuat kekacauan yang membuat orang normal jadi bingung dan ketakutan.


Hhh... Bahkan Genta adikku sempat kerasukan walau tidak lama karena segera ditangani Wak Hardi.


Ini yang paling kutakutkan jika diadakan pesta pernikahan. Khawatir nama baik Mas Jonathan tercoreng dan jadi omongan para tamu undangan.


"Tidak perlu cemas, Liana...! Kita hadapi semuanya dengan hati ikhlas dan pasrah pada Allah Ta'ala!"


Ini yang paling kusuka dari Jonathan. Kedewasaan serta bimbingannya padaku. Membuat pribadiku jauh lebih baik lagi.


Alhamdulillah.


Aku bersyukur sekali, memiliki suami yang baik hati.


Aku juga bersyukur, ada wak Hardi yang menjaga kami. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, tetapi beliau benar-benar kuat dan hebat berjalan kesana kemari menjaga pesta pernikahan kami agar tetap berjalan lancar.

__ADS_1



Walau lelah, tapi wajah tampan Mas Jonathan tak berubah sedikitpun. Senyumnya terus mengembang. Binar matanya memancarkan hati yang bahagia. Itu membuatku jauh lebih bahagia.


Aku memutuskan berganti pakaian pengantin lebih dahulu, karena merasa kurang nyaman. Suamiku masih stay bertahan duduk dipelaminan menerima para tamu undangan yang semakin banyak.


"Mas..., aku di kamar apa tidak apa-apa?" tanyaku gugup.


"Tidak apa, Liana! Istirahatlah. Aku yang akan menerima para tamu. Tidurlah sebentar, kesehatanmu jauh lebih utama daripada pesta nya."


Uufffhhh, manisnya! Aku tertunduk malu dengan wajah merona karena terkena panah cintanya yang penuh kelembutan.


"Aku tidak menemanimu di kamar ya, Lian? Kamu minta temani Intan atau Nadia saja kalau merasa kesepian sendirian. Atau aku panggil Citra biar menjagamu di kamar?"


"Tidak usah, Mas... tidak apa-apa. Justru aku tidak enak pada kalian semua. Karena kondisi tubuhku tidak fit untuk tetap duduk di pelaminan!"


Cup.


Merah padam wajahku.


Suamiku memberi kecupan mesra di kening sembari mengangkat jari telunjuknya ke bibir mengisyaratkan aku untuk diam.


Dia menuntunku masuk kamar. Lalu membantuku rebahan di kamar tidurnya yang indah penuh bunga mawar merah perlambang cinta yang membara.


"Istirahatlah. Jangan lupa doa tidur, Sayang!"


Ya Allah ya Tuhanku... Suaranya begitu lembut.


Cup.


Lagi-lagi bibir Mas Jo mengecup keningku setelah ia menarik selimut ke atas dadaku.


Jantungku seperti mau meledak menerima perlakuan manisnya.

__ADS_1


Ya Allah, tolong jaga kami selalu ya Allah. Lindungi suamiku dari hal-hal yang buruk. Aamiin...


BERSAMBUNG


__ADS_2