
Hari ketiga kepergian Mama. Kami mengadakan tahlilan di rumah keluarga suamiku.
Sampai saat ini, suami Mama beserta adiknya masih buron. Semakin menguatkan alibi kalau merekalah dalang di balik kematian Mama dan adik-adikku.
Hhh...
Wak Hardi juga melakukan tahlilan di Banten. Beliau sengaja mengirimkan doa untuk ketenangan almarhumah Mama dan adik-adik.
Sampai kini baik aku maupun Genta masih tak percaya. Bahkan kami seperti masih merasa Mama, Intan dan Nadya masih ada.
Pernikahanku baru saja satu hari. Namun kejadian mengerikan menimpa lagi. Membuat kami berfokus dahulu untuk melakukan pengajian.
Aku dan Mas Jonathan juga tidak dulu membahas tentang 'malam pertama' yang gagal.
Untuk sekarang ini, urusan itu kami kesampingkan dulu.
Malam-malam berikutnya kami hanya tidur seranjang dengan tangan saling berpegangan. Tidak melakukan hal yang lebih.
Hanya saling bertatapan, berusaha saling menguatkan. Hati kami yang terpenting saling bertautan. Itu saja sudah merupakan kebahagiaan bagiku.
Dalam diam, kami jauh lebih dekat. Tanpa kata, tanpa bicara. Hanya tatapan mata. Biarlah hati yang bicara. Bahwa kita inginkan hidup bahagia. Baik aku maupun Mas Jonathan, kita sama-sama ingin hidup tenang dan bahagia. Inginkan rumah tangga yang tentram, saling mengasihi satu sama lain. Bukan rumah tangga yang lagi penuh drama dan airmata.
Kesedihan bagi kami bagaikan lalapan. Dan aku sangat bersyukur memiliki suami Mas Jonathan. Dia adalah tempatku bersandar setelah Allah Ta'ala.
Kini hanya dia-lah tempat berbagi kedua sesudah sujudku pada Sang Maha Pencipta. Dengannya, dengan saling berpegangan tangan, bertatapan mata dan pelukan erat yang hangat, sudah lebih dari cukup bagiku saat ini.
Aku senantiasa mengingatkan Mas Jonathan untuk tidak kosongkan fikiran. Aku khawatir, setan dajjal aki-aki tua itu kembali datang dan merasuki jiwanya lagi.
Aku khawatir jika suamiku kembali mengalami hal menakutkan seperti tempo hari.
..............
Malam ketujuh Mama tiada. Papa Bambang ditemukan dalam keadaan gantung diri di sebuah motel kecil di daerah Jawa Tengah.
Sungguh amat disayangkan. Padahal aku sangat ingin melihat wajahnya yang telah berubah menjadi iblis jahanam, membunuh Mama serta kedua adikku yang adalah darah dagingnya sendiri.
__ADS_1
Masya Allah tabarakallah... Naudzubillah tsumma naudzubillah.
Sementara Bianca dan Mamanya ditangkap polisi di Bandara Ngurah Rai Bali. Mereka pikir bisa dengan aman setelah bersekongkol membuat kegaduhan bahkan sampai terjadinya pembunuhan yang dilakukan Bambang.
Rupanya Tante Mirna berhasil menghasut Papa tiriku karena Mama dan dua putrinya seolah tidak menghargai dirinya.
Mama pulang disambut amarah sang suami yang sudah gelap mata. Sempat cekcok adu mulut, hingga terjadilah peristiwa berdarah itu.
Papa Bambang menusuk Mama beberapa kali. Intan dan Nadia yang berusaha menolong tak luput dari kekejamannya yang sudah bagaikan kerasukan setan.
Intan dan Nadya pun turut tewas di tempat dengan luka tusuk yang sama. Yakni dibagian perut dan dada.
Pagi yang mencekam...
Seharusnya tadi aku melarang mereka bertiga untuk pulang. Seandainya aku mengantar mereka sampai rumah, mungkin akan lain cerita.
Seharusnya bisa kugagalkan kejadian sadis itu jika saja aku meminta Mama untuk tidak cepat-cepat pulang.
Berkali-kali aku menyesali diri dengan fikiran seandainya- seandainya.
Pilu rasanya melihat rumah Mama berantakan dan juga ceceran darah dimana-mana. Apalagi ketika melihat tiga tutebag pemberianku pada mereka. Masih utuh dan belum dibuka isinya.
Lagi-lagi aku hanya bisa menangis dalam rangkulan Mas Jonathan.
..............
Hari ini pihak kepolisian memintaku datang ke kantor untuk pemeriksaan tersangka dan juga saksi.
Aku lelah. Sangat lelah, tapi harus menjalani sampai akhir.
Di kantor kepolisian mau tak mau aku bertemu Bianca dan Mamanya. Mereka sudah ditetapkan sebagai tersangka. Walau bukan tersangka utama, tetapi keduanya berperan penting membuat keadaan semakin panas.
Bahkan disaat kejadian keduanya sempat berada di sana. Namun meninggalkan rumah Mama dengan entengnya tanpa berfikir panjang kalau Papa Bambang akan beringas melakukan hal-hal yang diluar batas.
"Liana!... Liana, maafkan aku!"
__ADS_1
Plak!
Aku menamparnya sekali. Dan baru tersadar kalau pipinya Bianca langsung merah dan... agak menghitam gosong.
Kenapa? Kenapa tanganku jadi punya kekuatan seperti itu juga? Apakah tidak apa-apa nanti pipi Bianca?
Tante Mirna hanya menunduk. Tak berani mengangkat wajahnya dan menatap mataku yang menyimpan amarah yang besar.
"Dendam kalian sudah berubah menjadi kesumat! Kalian sendiri yang akan mendapatkan pembalasan atas perbuatan kalian! Ingat, Allah tidak tidur! Allah pasti akan mengembalikan apapun yang kalian lakukan. Kejahatan kalian sudah tidak bisa diterima nalar. Dan kalian pantas membusuk di penjara!"
Aku tanpa sadar mengucapkan sumpah serapah pada pasangan Ibu dan Anak itu.
Aku sudah terlanjur tenggelam di lautan amarah yang dalam. Sehingga mengeluarkan unek-unek tanpa kupikir imbasnya nanti.
Ya Allah, maafkan perkataanku barusan ya Allah!
Aku cukup puas, memberi noda di pipi kiri Bianca. Anggap saja itu adalah balasan kontan yang di dapat karena telah melakukan kejahatan bertahun-tahun bahkan belasan tahun bersama Mamanya.
Mas Jonathan sendiri shock dan ikut terpancing emosi. Bagaimana tidak, kebencian mereka pada keluarganya begitu besar sampai tega melakukan hal-hal yang menakutkan.
Tapi suamiku itu bukan orang yang mudah melampiaskan amarah tanpa pikir panjang. Mas Jonathan juga tidak bisa menghajar mereka yang berjenis kelamin perempuan.
Kini Tante Mirna dan Bianca menerima hukuman atas kejahatan sendiri.
Mama Tiur juga turut senang. Rivalnya sedari muda kini mendekam di penjara untuk waktu yang lama.
Meski yang jahat telah mendapat ganjaran, tetapi Mama sudah tiada lagi. Kesedihan hatiku terasa lebih nyeri mengingat kini aku dan Genta yatim piatu.
Genta sendiri masih seringkali menangis mengingat peristiwa berdarah yang menewaskan Mama.
Impiannya menikah, diurus dan disaksikan Mama hanya mimpi belaka.
Mama telah berpulang keharibaan Sang Kholiq. Tiada lagi yang dapat kami lakukan selain mendoakan arwahnya agar tenang di alam sana.
Doa anak yang soleh dan soleha kini sangat Mama butuhkan. Semoga Mama juga Papa, tenteram di alam baka.
__ADS_1
BERSAMBUNG