
Mataku perlahan terbuka karena ada rangsangan kehangatan cahaya matahari yang menyeruak masuk ke sela-sela jendela.
"Kakak..."
Jumanta dan teh Neyna?!
Alhamdulillah... Aku kedatangan kedua saudaraku dari tanah Banten!
"Liana..."
"Teteh! Hik hik hiks..."
Pelukan hangat Teh Neyna, sepupuku putri almarhum Wak Hardi membuat hatiku menghangat.
"Yang sabar ya, Lian... Kami semua sedang bergerak mencari Aprilia," ucap Teh Neyna dengan suara seraknya.
Air mataku kembali tak terbendung.
Ya Allah ya Tuhanku... Bagaimana keadaan putriku?!? Ya Allah... Dzat Yang Maha Karim, tolong kembalikan segera putriku pada kami. Hik hiks... Jangan sampai terjadi sesuatu pada Aprilia Jovanca Harvest-ku ya Allah.
Aku meraba bagian payud*raku. Tidak terasa sakit dan membengkak seperti kemarin. Mungkinkah putriku perutnya tidak kelaparan?
"Teh Neyna! Siapa orang yang tega membawa kabur anakku, Teh? Orang gila yang kejam!"
"Dia,... dia adalah mantan suamimu, Liana!"
"Astaghfirullah! Si Bangs*t itu? Dia sudah keluar dari penjara?"
Irsyad?!? Benar-benar pria Bangs*t!!!
"Untuk apa dia menculik putriku? Untuk apa? Untuk balas dendam? Kenapa tidak bunuh aku saja, daripada dia menculik bayiku yang baru saja lahir ke dunia? Hik hik hiks..."
Kesal di dada membuncah hingga membuatku teriak histeris tanpa sadar.
"Irsyaaaad!!! Toloooool! Laki-laki gobloooog!!! Semoga Allah menjadikan kau kayu bakar di dasar kerak nerakaaaaaa!!!"
"Istighfar Liana, istighfar! Mari kita lantunkan sholawat minta kebesaran Allah agar putrimu segera ditemukan!"
"Teteeeh!!! Teteeeh!!! Aku ini wanita biasa! Aku sama seperti perempuan di luaran sana yang bisa hilang akal sehat jika terus-terusan diuji seperti ini!!! Aku ingin hidup bahagiaaaa!!! Ya Allaaaah!!! Dimana kebesaran-Mu ya Allaaaah!!!"
Aku meraung, menangis dan meracau.
Seperti manusia yang hilang akal fikiran. Aku terus menerus mencaci dan mencerca Tuhanku Yang Maha Agung.
"Tuhaaan!!! Tunjukkanlah kebesaran-Mu, Tuhaaan!!! Aku tidak bisa hidup jika Kau coba dengan diambilnya putriku, darah dagingku yang kuharapkan bertahun-tahun lamanya!!!
"Astaghfirullahal'adziiim... Astaghfirullahal'adziiim... Astaghfirullahal'adziiim..."
Kepalaku diraup Teh Neyna dan Jumanta juga mencoba menenangkanku yang kian histeris menerima cobaan ini.
Mama Tiur, Citra juga Habibah menangis dipojokan. Bingung tak tahu harus bagaimana.
Suamiku beserta para pria lainnya yang ada di rumah ini sepertinya sedang menelusuri keberadaan Irsyad dan Aprilia.
Sudah pasti mereka sedang melakukan yang terbaik dengan berkoordinasi pada aparat kepolisian.
Lantunan ayat suci Al-Qur'an yang Jumanta dawamkan berhasil membuat hatiku tersadar akan ketentuan nasib dan takdir yang Tuhan berikan.
Tangisan kesedihan masih begitu merasuk jiwa. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa selain beristighfar memohon kebaikan Allah Ta'ala untuk hidupku dan putriku Aprillia Jovanca Harvest.
Azan Ashar berkumandang. Aku semakin larut dalam kesedihan. Terlebih satu persatu saudara melipir pamit meninggalkanku untuk sholat.
Kini aku hanya ditinggal berdua dengan Habibah saja.
Hingga tiba-tiba,...
__ADS_1
Talitha mencekik leher Habibah.
"Mati kau, mati!" serunya membuatku berteriak menyebut nama Talitha.
"Nyai! Dia tahu siapa yang melakukan penculikan Dede Aprilia!"
"Hah?!?"
"Itu benar! Aku lihat sendiri, perempuan ini berbincang dengan suster yang membawa Aprilia sebelum kejadian!"
"Hah? Apa? Jangan bohong Talitha!!!"
"Aaagh akk.. aark!" Habibah terlihat semakin sulit bernafas karena tangan mungil Talitha masih mencekiknya.
"Lepaskan dulu, Talitha! Aku harus menginterogasi Habibah!!!" pekikku berteriak memerintah Talitha.
Talitha segera melepaskan cekikan tangannya di leher Habibah.
"Habibah! Habibah!!!"
Pucat pias wajah gadis muda yang 24 tahun usianya.
"K kak! Leherku..., seperti ada yang mencekik!" katanya dengan nada suara yang bergetar ketakutan.
"Ceritakan saja apa yang kamu ketahui kalau kamu tidak mau mati tiba-tiba, Bibah!"
Matanya membulat. Bibirnya menganga mendengar ucapanku.
"Bibah! Bukankah kamu kenal suster yang membawa putriku Aprillia, bukan?"
Habibah masih menatapku tak berkedip.
"Bicara! Atau..., kau mati!!!" ancamku tak main-main.
"Aaagh akkk... ka..ka, i iya! Akkk...iyya."
Talitha kembali melepaskan tangannya.
Habibah menangis. Ia menjatuhkan wajahnya di pangkuanku.
Tetapi seketika aku menepis kepalanya dengan kejam.
Menjijikkan! Padahal kau tahu yang sebenarnya, tapi kau malah bertingkah seperti gadis polos yang tak tahu apa-apa!!!
Aku beringsrut.
Kudawamkan semua doa hafalan ajian-ajian yang pernah kupelajari dari buku warisan Wak Hardi tempo hari.
Habibah menangis kian menjadi.
Satu persatu sanak keluarga yang telah selesai sholat Ashar berdatangan dan kaget akhirnya mendengar cerita yang meluncur dari bibir mungil kekasih Jordan itu.
"Kakak, maaf...! Hik hik hiks... Maaf Kak! Saya, saya... saya memang mengenal perawat yang membawa Aprilia!"
"Kenapa kau diam saja seolah kau tak tahu apa-apa? Kenapa? Apa niat yang tersembunyi di hatimu, Bibah?"
"Aku, aku hanya... hanya,"
"Hanya apa? Hanya apa, ayo bilang, dimana anakku yang temanmu culik itu?!!"
"Ehh eh eh eh... Katanya, dia hanya akan membawanya dua kali dua puluh empat jam. Katanya tidak akan menyakiti dede Aprilia. Hanya untuk, hanya untuk... sekedar mencoba memberikan kebahagiaan kepada boss nya yang sudah sepuluh tahun berumah tangga tapi belum juga diberikan keturunan!"
Plak
Plak
__ADS_1
Dua tamparanku mendarat di pipi mulus Habibah.
"Astaghfirullah..."
"Itu adalah tindakan kriminal, Habibah!!!" pekik Mama Tiur tak kalah emosi dari aku.
"Sekarang katakan di mana anakku? katakan!!!" teriakku penuh amarah.
Habibah menangis tersungkur di ujung kakiku kemudian berpindah ke ujung kaki Mama Tiur.
Bisa-bisanya gadis ini dengan santainya menjadikan putriku mainan percobaan kriminalnya!!!
Kutendang tubuhnya tanpa pikir panjang lagi. Amarah dan dendamku seperti sudah diubun-ubun.
"Saya tidak tahu keberadaan Aprilia. Tapi teman saya menjanjikan akan mengembalikannya tepat pukul sebelas malam ini dengan uang seratus juta rupiah. Hik hik hiks..."
"Satu miliar, satu triliun pun takkan pernah kusewakan apalagi kuizinkan orang tak dikenal membawanya!!! Teganya kau Habibah!!!"
Plak
"Kau kenapa Habibah? Kau butuh uang? Untuk apa? Bukankah kau bisa minta bantuan Jordan?" pekik Citra ikut kesal dan geram. Berkali-kali kepalan tangannya hampir meninju wajah cantik Habibah yang bertopeng kepolosan.
Bisa-bisanya aku tertipu dengan kepolosanmu, gadis pemain sandiwara!
Aku kesal sekali hingga tak tahu lagi harus berkata apa.
"Habibah...ya Allah! Kenapa kamu jadi seperti ini?!" tangisan Mama membuat hatiku tambah tak karuan.
"Hubungi temanmu itu! Sekarang!!! Kalau tidak, kalian berdua akan kulaporkan ke kantor polisi saat ini juga!"
"Hapenya tidak aktif, Kak! Hik hik hiks..."
"Rumahnya dimana? Dimana dia tinggal? Ayo katakan! Citra, telepon Genta! Suruh pulang untuk membawa gadis cantik ini kerumah temannya yang menculik anakku!!!"
Citra yang geram segera mengikuti perintahku. Ia menelpon Genta.
Genta sedang meluncur dalam perjalanan pulang.
"BossJordan harus tahu, seperti apa calon istrinya ini kelakuannya! Menjijikkan!!!" hardik Citra setelah mengakhiri sambungan teleponnya dengan Genta.
"Kau kerjasama dengan temanmu itu untuk sejumlah uang seratus juta rupiah? Untuk apa, Bibah?" tanyaku masih tak percaya pada kelakuan gadis yang terlihat manis polos tanpa noda itu.
Habibah yang terisak dengan kepala tertunduk Di lantai mengkisahkan semuanya.
Ternyata, gadis ini terlilit hutang dengan pinjaman online. Masya Allah, astaghfirullah...
Seketika aku seperti kembali de javu mengingat kisah Genta yang pernah terperosok ke dalam lubang kenistaan bernama pinjaman online.
"Dia... adalah teman kampus saya, Kak! Kami, butuh uang untuk biaya hidup dan lain sebagainya!"
"Bohong! Biaya kuliah mu bukannya ditanggung Jordan?" sela Mama meradang.
"Mas Jordan memang menanggung semua biaya kuliah Saya, Ma! Tapi tidak dengan biaya hidup! Saya..., keluarga saya adalah orang miskin!"
"Sudah tahu miskin, kenapa malah berhutang? Harusnya kalian bisa hidup berhemat. Mensyukuri nikmat dengan keadaan yang seadanya!"
"Bibah butuh uang untuk menunjang gaya hidupnya yang sekarang!"
Aku terkejut.
Suara Jordan menggema di depan pintu kamar.
Mas Jonathan, Jordan dan Genta sudah datang dan kini sedang menatap wajah Habibah seakan hendak menelannya bulat-bulat.
BERSAMBUNG
__ADS_1