DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 84 - HARI PERLAHAN KEMBALI CERAH


__ADS_3

Tuhanku... Apa yang sedang terjadi dalam hidupku? Satu persatu orang yang paling kusayangi telah berpulang kepangkuan-Mu. Aku... Tidak mengerti jalan fikiran-Mu, Tuhan!


Aku hanya inginkan kebahagiaan. Bukan bahagia dengan menukar kebahagiaan yang lain. Bukan.


Mimpi buruk ini terasa begitu panjang dan semakin panjang durasinya.


Aku tidak kuat, ya Allah! Bolehkah aku izin lambaikan tangan?


Cukup lama aku histeris. Dan baru tenang setelah dokter jaga memberiku cairan penenang yang disuntikkan lewat selang infus yang mengalir lewat nadi tangan kiriku.


Mataku perlahan terpejam. Dan mengatup dengan rasa tenang yang makin menjalar.


"Lianaa..."


"Kakak! Lihat, lihat... Kupu-kupu itu indah sekali ya?"


"Kak Lian! Lihat, taman bunga aneka warna!"


"I-iya!"


Mataku mengerjap. Sebuah taman yang indah dan asri. Pepohonan hijau dengan aneka jenis bunga-bunga, sedap dipandang mata.


Mama Farida, Intan serta Nadya memperlihatkan aneka ragam keindahan itu dengan wajah cerah berseri-seri.


Tawa renyah mereka membuat bibirku tanpa sadar turut menyunggingkan senyuman.


Mereka bertiga terlihat bahagia. Berpakaian putih panjang dengan mahkota yang tertutup kerudung warna senada.


Mama! Intan... Nadya! Alhamdulillah.


"Lianaaa! Hallo sayang,... Tengok nih Papa bawa buah apa coba?"


Papa? Papa!!!


Aku juga melihat Papa Arga!


Ya Allah... Alhamdulillah. Semuanya dalam keadaan baik-baik saja.


"Buah durian, kesukaanmu! Sini, kita makan berdua saja. Hehehe..., ayo kita habiskan!"


Aku tertawa. Papa membelah sebuah durian besar. Seketika aroma tajam khas raja buah itu menyeruak menyergap penciumanku.

__ADS_1


Buah favoritku.


Baru saja kuambil sebutir, tiba-tiba sebuah tepukan lembut mendarat di bahuku.


"Ayooo! Makan duren tak bagi Wak!"


"Wak Hardi!!!" pekikku girang.


Wak Hardi! Wak Hardi!!!


Sebuah kecupan kecil mendarat dikeningku dari beliau. Mataku berbinar senang.


Tapi... Kenapa tubuhku seperti anak kecil yang berusia lima-enam tahun?


Eh?


Kuperhatikan jari jemari ini. Tampak imut dengan buku-buku tangan yang mungil.


Aku...kenapa jadi gadis cilik imut seperti ini?


"Liana..., makan yang banyak. Biar tumbuh besar dan sehat. Hm?"


"Lihatlah dunia. Indah, bukan? Walau terkadang awan gelap, petir menggelegar, dan hujan turun dengan sangat derasnya. Jangan takut. Allah pasti akan mengganti cuaca buruk hari ini di keesokan harinya dengan cuaca yang lebih baik. Ada senang, pasti ada air mata. Disela tangis, pasti ada tawa. Jangan khawatirkan hari esok, Anakky Sayang! Yang penting, tetap meminta kepada Allah Ta'ala. Betapa kita selalu butuh bimbingannya. Iya, Liana Sayang?"


Aku mengangguk. Wak memberiku banyak nasehat baik. Membuatku makin sadar, bahwa hidup adalah ujian dan ujian.


Seperti yang pernah Wak bilang, semakin tinggi pohon, semakin kencang angin berhembus menerpanya.


Semua berproses. Semua... Tanpa terkecuali. Allah Maha Besar.


Aku... Kembali tersadar pada masa-masa lalu. Saat-saat indah, lalu berganti menderita. Kesedihan yang mendalam, kemudian datang kebahagiaan yang begitu menyenangkan. Semua benar-benar memiliki masa.


Rasa sakit hati yang sangat nyeri, kekecewaan yang menyesakkan dada karena pengkhianatan, perselingkuhan, perlahan seiring waktu membaik. Dan kian membaik karena Allah mengganti yang lebih baik.


Patah satu, tumbuh seribu.


Jangan takut melangkah. Tataplah dunia. Seburuk apapun keadaan yang kini sedang kita dera, pasti ada secercah bahagia dihari esok. Jangan patah semangat. Jangan berputus asa. Walau kenyataan teramat sangat menyakitkan. Tapi waktu jua yang akan mengobati semuanya. Jangan mendendam terlalu lama. Jangan membenci sampai mendarah daging. Karena kita yang akan rugi pada akhirnya.


"Liana! Mau minum?"


Perlahan kubuka mata. Wajah tampan itu masih duduk dengan setia di samping ranjang tidur rawat inapku.

__ADS_1


"Mas..."


"Ya, Sayang?"


Kugenggam jemari hangatnya. Ia tersenyum, manis sekali.


"Makan ya? Biar kusuapi!"


Air mata ini mengalir lagi. Bahagia dan penuh rasa terima kasih yang memuncah karena Allah telah kirimkan seorang pendamping yang mengerti aku.


Walau sempat aku memiliki pemikiran buruk, karena Mas Jonathan terlihat kurang respek pada ajakanku tirakat tempo hari. Tapi kini aku mengerti. Sangat mengerti. Betapa dia menyayangiku sepenuh hati. Dia tidak ingin aku terluka dan sakit kian parah. Sakit tubuh juga jiwa. Terluka badan serta hati.


Mas Jo menjagaku dari keolengan hidup ini.


Kucium punggung tangannya.


"Mas...! Maafkan aku, selalu menyusahkanmu! Hik hiks..."


"No, Liana! Kita ini suami istri. Sudah selayaknya saling berbagi dan saling menjaga. Seperti dirimu, selalu ingin menjaga keluargaku tetap utuh tanpa fikirkan kesehatanmu sendiri. Aku pun ingin seperti itu. Ingin memberimu yang terbaik, walau mungkin dipandanganmu terlihat berbeda. Tapi percayalah... Aku ingin kau, aku, kita semua bahagia seutuhnya. Jalan pemikiran kita tak selamanya sama. Tapi bukan berarti kita harus pergi mencari hati yang lain. Bukan, Liana! Setiap isi kepala manusia berbeda. Sifat, sikap juga karakter setiap orang, tidak ada yang sama. Walau kadang ada kemiripan persamaan hobi dan kesukaan, tetap ada momen yang menyakini kita berbeda. Allah Maha Besar. Menciptakan manusia dengan beragam walaupun jumlahnya terus dan terus bertambah menyesakkan bumi."


Mas Jo tersenyum.


Air mataku menetes lagi. Tapi ini air mata bahagia.


Terima kasih ya Allah! Kau berikan aku pasangan yang menenangkan. Pasangan yang menyenangkan. Alhamdulillah...


Mas Jo mengusap butiran air mata di pipiku. Kemudian ia fokus kembali menyuapiku semangkuk bubur kecil dengan makanan pendamping lainnya yang disediakan pihak rumah sakit.


"Mas...!"


"Iya Sayang?"


"Bolehkah aku mengunjungi tanah leluhurku? Aku ingin ziarah kubur Wak Hardi, juga Papa!"


"Lusa kita kesana. Setelah kesehatanmu pulih, aku yang akan mengantarmu, Sayang!"


"Terima kasih, Mas! Hik hik hiks..."


Aku memeluk tangannya. Senang, bahagia dan sangat terharu. Suamiku begitu dewasa.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2