
Kejadian langka terulang.
Jordan siuman, sementara Liana pingsan tak sadar-sadar.
Sepertinya terjadi pertukaran roh diantara mereka. Wallahu a'lam.
Jonathan yang hanya bisa menangis pasrah melihat istri tercinta terbaring lemah tak berdaya dengan mata terpejam seperti orang yang tidur dengan nyenyak.
Jordan sudah bangun dari tidur panjangnya. Ia juga sudah bisa berinteraksi dengan orang yang datang menjenguknya di kamar.
Aprillia, bocah cilik itu kini hanya terdiam tak bisa lagi berkata-kata. Bahkan meskipun Jordan sekaligus yang bertanya.
Jiwanya shock, mentalnya ambruk.
Seketika teriakan hardiknya pada Sang Ibunda terngiang-ngiang.
Kemarin Ia memaki Ibunya. Kini Sang Ibu justru hanya terbaring di ranjang ICU rumah sakit yang sama dengan tempat dirawatnya Jordan dalam keadaan koma.
Jordan akhirnya mengetahui juga keadaan Liana setelah berkali-kali mendesak Tiur untuk mengatakan yang sejujurnya sampai Aprilia menjadi sependiam itu.
Liana tidak memiliki riwayat penyakit apapun. Kondisi tubuh serta tekanan darah dan jantungnya juga stabil. Para Dokter ahli mensinyalir Liana mengalami stroke penyumbatan sel saraf. Dan sampai saat ini masih dalam penelitian tim medis.
..............
"Ibu..., Ibu..."
Bocah empat tahun itu menggenggam jemari Ibunya yang terkulai.
Airmatanya jatuh perlahan namun berusaha menahan isak tangisnya agar tidak membuat kegaduhan.
"Ibu..., hik hik hiks..."
Jemari mungilnya dingin dan basah.
"Ibu..., maafin aku Ibu! Ibu bangun! Om Didi juga sudah bangun. Seharusnya Ibu juga bangun! Beby tidak akan pernah berkata kasar lagi pada Ibu. Beby janji, Ibu! Hik hik hiks..."
Jonathan yang mengetahui sang putri diam-diam menyelinap masuk kamar rawat ICU Liana menghampiri dengan memeluk Aprilia dari belakang.
Ia membenarkan wajahnya di ceruk leher sang Putri yang masih kecil. Tangisnya turut pecah. Seiring rasa bersalah yang memuncah.
"Hik hik hiks... Maaf, Ayah! Apakah Ibu marah pada Aprilia karena jadi anak yang durhaka? Ayah... Maafin Aku, Ayah!"
Bapak dan Anak itu saling berangkulan. Menangis berbagi kesedihan. Tenggelam dalam lautan duka yang dalam. Hanya Liana yang tidak tahu apa-apa karena jiwanya sedang melayang entah kemana.
....
....
....
Tuhan...! Tuhanku Allah Azza Wazzalla! Dimana aku ini?
Roh Liana mengembara melintasi ribuan dimensi partikel kehidupan.
Jaring-jaring warna-warni terlewati silih berganti. Ia tidak mampu menarik tubuhnya yang sangat ringan hingga seperti tersedot dalam vacum cleaner berdinding tertutup.
__ADS_1
Sesekali gelap dan hanya hitam yang menguasai, membuat Liana hanya terus menggumamkan asma Allah dalam hati juga lisannya.
Liana kembali teringat ketika ia dan Wak Hardi berjalan di langit hitam yang gelap beberapa jam sebelum Wak Hardi meninggal dunia.
Liana seperti de javu tapi bedanya kali ini Ia berjalan sendiri tanpa Wak Hardi yang menemani.
Orang-orang berwajah dingin tanpa ekspresi sedang bersusah payah mencari nafkah. Namun sangat disayangkan, usaha kerja keras mereka harus terkotori oleh nafsu duniawi yang tinggi. Hingga akhirnya di pertengahan justru memilih melakukan perjanjian dengan makhluk gaib penguasa kegelapan.
Memang, harta dengan mudah didapatkan.
Namun kenyataannya, hidup dan kehidupan keturunan mereka akan terus menanggung beban penderitaan serta dosa-dosa perbuatan syirik kepada Allah Ta'ala Sang Pencipta Alam dan seisinya.
Begitulah nafsu sesaat. Hanya bisa dinikmati sekejap tapi dosanya akan terus berlanjut bahkan hingga tujuh turunan. Nauzubillah...
Liana kembali melihat orang-orang yang dulu pernah berbuat dzalim seperti Tante Mirna, Bianca juga yang kini terlihat sangat kurus karena mengidap penyakit lupus. Mereka kini tinggal bersama di sebuah kota kecil dengan di urus oleh orang baik yang masih kerabatnya.
Mirna dan Bianca kadang masih bersikap sesuka hati seperti waktu muda jaya dulu, membuat saudaranya terkadang berfikir ingin membuang mereka ke jalanan saja.
Tapi tidak jadi, karena masih memiliki sisi kemanusiaan di hatinya yang bersih.
Liana juga melihat mantan suaminya, Irsyad Fadel Islami.
Pria itu kini menderita gangguan jiwa yang cukup serius.
Kini berkeliaran di jalan raya tanpa ada rasa malu lagi bahkan kondisinya mengenaskan. Irsyad menjadi gelandangan dan pengemis di perempatan lampu merah.
Rambut Irsyad yang gondrong lebat nyaris tak pernah tersentuh shampoo dan sepertinya tidak pernah juga disisir rapi. Helai demi helainya menyatu persis seperti di lem hingga menempel.
Liana hanya bisa menghela nafas dan mendoakan kesembuhan serta kebaikan untuk hidup Irsyad selanjutnya.
Dari orang yang dzalim hingga orang baik yang pernah singgah di hidup Liana seperti sengaja Allah tunjukkan padanya keadaannya sekarang ini.
Nyonya Besar pemilik restoran di awal Ia dan Genta kerja pertama kali memulai hidup baru setelah diusir Irsyad hidupnya kini juga tidak seperti dulu.
Hanya berdagang masakan dipinggir jalan depan gang dengan meja kecil seadanya. Padahal dahulu restoran barunya begitu besar dengan karyawan sekitar tujuh orang termasuk Liana dan Genta.
Inilah hidup. Berputar bagaikan roda pedati. Kadang di atas, tak jarang dibawah.
Hidup tidak selamanya senang dan penuh tawa bahagia. Ada kalanya kesedihan serta air mata harus menjadi derita bahkan untuk waktu yang lama.
Tapi bukan berarti kita harus menyerah kalah dengan keadaan dan ujian yang mendera.
Tidak.
Justru harus terus fight dan semakin semangat untuk mengubah hidup lebih baik dari sebelumnya.
Liana tersenyum melihat bocah laki-laki tampan yang pernah ditemui di terminal bus Banten tempo hari disaat pertama kali Ia mendapatkan ilmu leluhur dari Wak Hardi.
Kini bocah laki-laki itu sudah besar dan ternyata memiliki bakat yang luar biasa. Bahkan kini Mamanya yang sebaya dengan Liana sedang mengarahkannya kepada lomba-lomba adu bakat karena kemampuan bernyanyi sang putra serta paras tampannya yang menunjang.
Semoga kamu jadi artis terkenal tiga sampai lima tahun kedepan, Anak Tampan!
Liana tersenyum senang. Ternyata dunia ini isinya begitu beragam. Ternyata tidak hanya kejahatan demi kejahatan saja yang merajai dunia.
Pak sopir bis antar kota yang pernah menggratiskan ongkosnya karena merayakan hari bahagia pernikahannya yang ke-25 kala itu pun Allah perlihatkan keadaannya.
__ADS_1
Ternyata, malaikat maut sudah datang menjemput.
Beliau meninggal dunia dengan keadaan husnul khatimah. Sedang sujud tahiyatul akhir di waktu Subuh.
Sungguh kematian yang membuat Liana berlinang air mata, menangis saking terharunya.
Ia berdoa khusu' dalam hati. Berharap Allah juga memanggilnya dalam keadaan seperti pak sopir tadi. Dalam keadaan sedang bersyukur dan berterima kasih pada Sang Pemilik Kehidupan.
Kini Liana kembali melanglang buana.
Kali ini, dirinya seperti dilemparkan mundur ke masa lalu.
Ia melihat masa lalu Jordan, Jonathan dan Mama Tiur.
Jordan, dengan segala kesakitan serta kesulitannya bergaul dan berbaur dengan teman baru selepas SMP.
Liana melihatnya seperti potongan film dokumenter kehidupan Jordan.
Liana kini bisa mengerti mengapa Jordan bisa sebegitu dalamnya mencintai dirinya.
Jordan Ardian, seorang anak laki-laki yang kaku dan tidak pandai mengekspresikan jiwanya itu ternyata bertahun-tahun mencari dirinya yang menghilang tanpa kabar.
Liana memang pindah ke pinggiran Ibukota dan melanjutkan sekolah menengah pertamanya di kota Bekasi setelah perceraian kedua orang tuanya terjadi.
Jordan yang tidak tahu keadaan dan keberadaan Liana, masih terus berusaha mencari informasi lewat internet juga bertanya pada beberapa teman SD yang ia temui.
Jordan bahkan bertekad untuk merubah penampilan demi untuk bertemu dengannya suatu hari nanti.
Jordan yang cupu, Jordan yang gendut berkaca mata juga kawat gigi itu benar-benar telah berubah menjelma menjadi pria tampan.
Banyak gadis tergila-gila dan mengejar cinta Jordan.
Tapi pria itu tak bergeming. Hanya mencari dan mencari Liana tanpa rasa lelah hingga kehidupan keluarganya semakin memburuk karena buhul-buhul dukun jahanam berhasil mengacaukan cita-cita juga cinta keluarga itu.
Jonathan, Jordan dan Tiur pindah agama. Islam memanggilnya menjadi seorang muslim dan muslimah yang baik.
Tetapi ternyata kejahatan masih membuat kehidupan keluarga mereka semakin dalam kondisi mengenaskan.
Petir yang menyambar membuat Jordan harus cacat untuk waktu yang cukup lama.
Kepercayaan diri yang perlahan dibangunnya demi bertemu Liana ambruk sudah.
Jordan harus menggunakan kursi roda setelah wisuda gelar sarjana ekonomi disandangnya.
Miris dan mengenaskan.
Hingga Tiur juga sakit, yang kata dokter adalah sakit kanker otak stadium dua.
Jordan dan Jonathan benar-benar sedang diuji kesabaran serta keimanan dan ketawakalannya.
Hingga Liana masuk ke kehidupan mereka.
Bagaikan embun pagi yang menyejukkan. Begitulah Liana dimata keduanya.
BERSAMBUNG
__ADS_1