DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 72 - MENJELANG HARI BAHAGIA


__ADS_3

Hhh... Akhirnya, tiba juga aku di rumah Mas Jonathan.


"Liana? Darimana?"


Jordan mengejutkanku dengan muncul dari balik pintu.


"Habis ziarah ke makam Kakekku, Jordan! Mama yang mengajak!"


"Oh... Hehehe...!"


Ya ampun anak ini. Kukira dia akan marah-marah dan memakiku bla bla bla. Hm.



"Liana...! Kamu bahagia?" tanyanya tiba-tiba.


"Kenapa?"


"Kalau tidak bahagia, mumpung belum ijab kabul... Kamu bisa batalkan pernikahannya. Kita kabur jalan-jalan ke Bali, Jogja, Raja Ampat,"


"Hei, hei...! Apa maksudmu, hah?!?"


Aku terkejut. Rupanya Mas Jonathan sudah ada di ruang tamu. Menarik tangan adiknya yang tertawa senang karena berhasil membuat sang kakak jadi kesal.


"Hahaha...! Kenapa, Ge? Kamu takut ya, gagal nikah?"


"Bukan takut gagal nikah! Tapi takut Liana jadi goyah karena ocehan ngasalmu!"


Mereka pura-pura saling berkelahi.


Sama-sama berakting sedang baku hantam dan lancarkan serangan tinju dengan bibir tersenyum menyeringai. Keduanya adalah penyuka ilmu bela diri.


Sekarang aku tidak terlalu kaget dengan gaya bercanda mereka, karena pernah melihat keduanya tanding boxing serius di ruang gym tempo hari.


Kedekatan Jonathan dan Jordan sebagai kakak adik tak lagi kupungkiri. Rasa sayang keduanya tak bisa diragukan. Keduanya saling kompak meskipun sempat agak merenggang karena keadaan ekonomi dan kesehatan Jordan yang sempat terkena guna-guna.


"Mas sudah sembuh? Sudah makan? Sudah minum obat?"


Aku teringat pada keadaan suamiku. Bahkan subuh dini hari tadi tubuhnya dalam kondisi mengkhawatirkan.


Mas Jonathan langsung menatapku lembut. Jemarinya menarik tanganku hingga menempel di atas kening mulusnya.


"Sudah sehat khan?"


Aku tersipu. Wajahku bersemu. Membuat Jordan berdehem dan berteriak menggoda.


"Hei kalian! Aku tahu kalian saling jatuh cinta. Tapi please...jangan bermesraan di depanku juga!"


Mas Jo tertawa. Aku hanya tersenyum saja.

__ADS_1


"Tadi pagi, Genta mengatakan 'cinta' pada si Citra. Sekarang, calon pengantin malah sudah berani tampil pamer kemesraan dihadapanku. Hiks! Adakah yang bisa mengerti keadaanku!?"


Jordan terlihat kesal meskipun dengan akting pura-puranya.


"Maaf, Jordan! Maafkan kami!" ucapku tulis dari dalam hati.


Jordan tersenyum padaku.


"Don't worry, aku tidak apa-apa. Hanya gurau saja, Liana! Aku senang kalian bisa cepat beradaptasi. Bangunlah rumah tangga yang bahagia. Lahirkan putra putri keturunan Gege yang cantik dan tampan!"


Seketika wajahku merah padam.


Jordan pun tersentak karena mengingat kekuranganku yang bahkan sampai menyebabkan Irsyad selingkuh dari aku.


Aku... kemungkinan sulit punya anak.


"Liana, maaf..."


Kedua bola mataku membias dan merebak. Mulai berkaca-kaca bila mengingat masa-masa pahit itu lagi.


Ya Allah..., seperti yang sudah kuduga. Keturunan yang belum bisa kuberikan akan jadi kendala rumah tanggaku menuju bahagia.


Tidak. Aku tidak boleh berkata yang buruk-buruk. Tidak boleh.


Sebaik-baik perkataan adalah doa mustajab.


Semoga Allah memberi kami keturunan yang Sholeh Sholehah seperti ucapan Jordan tadi.


Jordan yang tadi agak khawatir dan cemas melihat raut wajahku yang jadi pucat, kini bisa tersenyum lega.


Jonathan mendekati. Tangannya gercep meraih pinggangku.


"Jangan bicarakan anak, Jordan! Malam pertama pun aku masih gugup jika harus difikirkan. Apalagi memikirkan anak? Jangan ngaco! Memangnya kamu siap untuk jadi Om yang baik buat anak kami nanti"


Jordan tertawa. Tangannya menggaruk kepala meskipun tidak gatal.


"Iya, Boss... maaf! Hehehe..."


Aku kembali tersenyum. Keadaan ini tidak lagi kami risaukan. Urusan anak, biar Allah saja yang mengatur.


Mama Tiur dan Citra baru pulang dari toko makanan. Rupanya mereka sangat sibuk menyiapkan acara pernikahan kami yang akan digelar tiga hari lagi.


"Kalian ini! Mama bilang jangan dulu ketemuan, malah asyik mengobrol dan bercanda! Ish, kalian sedang masa pingitan!" goda Mama pada kami.


Jonathan memeluk tubuh Mama Tiur dari belakang. tersenyum manis sekali lalu mengecup pipi sang Mama.


"Liana, lihat calon suamimu! Manjanya masih besar. Badannya saja yang besar tapi kelakuannya masih seperti bocil!"


Kami tertawa bersama. Rasanya bagaikan mimpi bisa akur dan tinggal satu atap dengan mertua serta adik ipar. Subhanallah.

__ADS_1


................


Hari demi hari bergerak cepat. Jarum jam pun kian mendekati waktu yang ditentukan untuk kami naik pelaminan.


H-2 dan H-1 aku berpuasa. Meminta pada Allah, agar diberikan kelancaran di Hari H.


Bismillah. Walaupun hati terus berdebar bahkan semakin kencang mendekati waktunya.


Aku jauh lebih lega tatkala Wak Hardi beserta keluarga datang di H-2.


Beliau melakukan ruwatan untuk pagar penjaga agar tidak ada makhluk yang mengganggu nanti.


Sepertinya Wak sudah merasakan aura negatif yang disebarkan oleh si dukun mesum itu padaku.


Aku kembali bergidik bila mengingat perkataan Eyang Subur kemarin.


"Liana!"


"Ya, Wak?"


"Ternyata akan ada sedikit hambatan nanti di hari H! Yang kuat ya?"


Deg.


Tentu saja aku degdegan.


Hambatan di hari H? Hambatan apa ya Allah... Kumohon mudahkan jalanku menuju kebahagiaan.


"Ada pepatah, semakin tinggi pohon semakin kencang anginnya. Seperti itulah dirimu, Liana!"


Aku sedikit kurang mengerti.


Apa maksudnya Wak Hardi? Pohon semakin tinggi? Apakah aku si pohon itu? Tapi..., aku tidak merasa semakin tinggi pula. Siapalah diri ini. Hanya perempuan sederhana yang mencari kebahagiaan saja.


Berdebar terus jantung ini, mengingat pesan Wak Hardi.


Ada bagusnya juga, karena aku jadi lebih rajin ibadah. Lebih tawaddu dan lebih takut lagi kepada Allah.


Pelataran pabrik seketika berubah menjadi gedung pernikahan yang anggun dan mewah.



Sangat indah, dipenuhi bunga-bunga hidup yang semerbak wanginya. Sampai membuat semua orang takjub terkesima.


Aku bahkan terpesona dengan dekorasi pelaminannya yang syahdu dengan lampu taman agak redup sehingga menonjolkan kesan sisi romantisnya.


Sesuai sekali dengan karakter Mas Jonathan yang kalem tetapi lembut dan penuh perhatian.


Aku berharap, pernikahan esok berjalan tanpa kendala. Allah meridhoi dan merestui ikatan suci ijab kabul kami. Aamiin...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2