DURI DI DALAM PERNIKAHAN

DURI DI DALAM PERNIKAHAN
BAB 111 - Kisah Talitha, Bocah Jembatan Layang


__ADS_3

"Wah, ini sudah pembukaan satu, Pak!"


"A_apa?"


Aku dan Mas Jonathan langsung panik. Ternyata calon bayi kami sudah begitu ingin melihat dunia.


"Jadi? Bagaimana, Dok? Istri saya sudah waktunya melahirkan?"


"Tenang, Pak, Bu! Baru pembukaan satu. Hehehe... Bisa pulang dulu koq kalau bosan menunggu lama di rumah bersalin."


"Memangnya proses lahiran itu ada tahapannya, Dok?"


"Tentu, Pak! Diawali dengan kontraksi yang mulai intens berkala dan semakin kuat. Kemudian perlahan mulai keluar lendir kental seperti keputihan hingga berwarna merah darah. Rasa nyeri yang semakin sedikit jeda kontraksinya, hingga pecahnya cairan ketuban. Itu semua adalah indikasi istri bapak telah siap melakukan proses persalinan dan buah hati mulai launching otewe keluar dari pintu rahim."


Mas Jonathan termangu mendengar penjelasan Dokter.


Ia menoleh ke arahku. Menyelidik raut wajahku yang terlihat biasa karena memang belum ada tanda-tanda rasa sakit yang hebat mendera.


"Kalau lendir-lendir seperti keputihan, Saya sudah mulai mengalami itu, Dok!" tambahku membuat genggaman tangan Mas Jonathan semakin erat.


"Pergerakan putri Saya bagaimana, Dok?" tanya suamiku lagi.


"Alhamdulillah, Dede bayi sangat sehat kondisinya. Pergerakan mencari jalan keluar sepertinya sudah menemukan titik terang. Hehehe..., ini sudah mulai bersiap sepertinya!"


"Mamanya sepertinya suka gerak jalan ya?"


Aku dan Mas Jonathan saling senyum.


"Baiklah, Ibu Liana! Perkiraan saya, debay akan lahir sekitar besok pagi. Kemungkinan besar, aamiin!"


"Amiin ya Allah! Hehehe..."


"Papanya mohon dukungannya ya untuk Mama tercinta. Tolong dijaga kebersamaannya agar tercipta kenyamanan bumil dan melahirkan secara normal sesuai keinginan. Juga untuk ASI, Papanya boleh pancing-pancing menyusu supaya cairan kolostrum bisa keluar tepat di saat kelahiran. Dan si Adek bisa langsung menyusu ke dada Mamanya."


"Uhuk, uhuk!"


Mas Jonathan terbatuk-batuk.


Kami tersipu malu dengan wajah bersemburat merah.


.............


Selama perjalanan pulang ke rumah, kami semua seperti sepasang kekasih yang malu-malu dan saling lempar senyuman sesekali jika mata berpandangan. Padahal ada Mama Tiur duduk di jok belakang. Dan satu lagi penumpang gelap. Yakni Talitha.


Terlihat gadis cilik itu rebahan di pangkuan Mama.

__ADS_1


Kasihannya dirimu, Nak! Sepertinya kamu begitu merindukan sosok wanita yang sering kamu panggil 'Bunda'.


..."Nyai, Saya senang ikut keluarga Nyai. Tidak pulang pun tidak apa-apa."...


Kenapa begitu?


"Sebenarnya,... Saya rindu Ayah Bunda. Tapi, ketika melihat Papa Jo memperhatikan Mama Ratu, Saya lebih suka tinggal bersama kalian! Apalagi sebentar lagi kalian akan punya adik bayi yang lucu!"


Tempatmu bukan disini, gadis manis! Jangan khawatir, nanti adikku Airlangga yang akan mengantarmu pulang!


Raut wajah Talitha terlihat agak suram.


Berapa usiamu, Sayang?


...Enam tahun, Nyai...


Pantas, kamu imut sekali!


...Terima kasih...


Aku hanya bisa memperhatikan Talitha lewat kaca tengah spion mobil.


Meninggal dunia karena diculik dan dibunuh untuk jadi tumbal pembangunan jembatan layang.


Ya Allah Gusti... Kisah hidup yang sangat tragis untuk bocah manis yang baru berumur enam tahun itu.


Bahkan para orang dewasa melakukan hal-hal yang diluar nalar demi untuk kebahagiaan diri sendiri tanpa memikirkan efek samping hidup orang lain maupun hidup dirinya sendiri.


Bahkan rela bersekutu dengan jin dan setan demi mencapai tujuan yang mereka inginkan.


Nauzubillah tsumma nauzubillah.


"Aduh!"


Aku meringis kesakitan sambil memegang perut.


Kontraksi sepertinya sudah mulai terasa.


"Apa kita baiknya ke rumah sakit lagi, Yang?" tanya mas Jonathan dengan wajah panik karena khawatir.


Aku segera melambaikan tangan.


"Jangan! Ini cuma kontraksi ringan saja, Mas!"


"Liana yakin?" Mama Tiur turut cemas melihat keadaanku yang sesekali mulai merasakan sakit.

__ADS_1


"Iya. Hehehe..."


"Berarti nanti malam kita kembali ke rumah sakit untuk langsung pesan kamar opname!"


Aku mengangguk mengiyakan perkataan suamiku.


Kini kami sudah sampai di rumah.


Aku ikut tersenyum melihat Talitha yang terpukau melihat luasnya rumah kami dengan bangunan besar tak jauh di depannya.


"Waaah! Rumah Nyai Ratu bagus sekali!" serunya dengan dua bola mata terlihat membulat.


Agak sedikit aneh ketika wajah putih pucat tetapi mata dan bibir begitu kentara keterpukauannya.


Jujur saja, Aku mulai terbiasa melihat makhluk pucat dengan raut wajah dingin dan datar.


Bahkan kini lebih bisa mengendalikan diri ketika melihat sosok hitam tinggi besar menyeramkan atau pun makhluk lainnya yang tampak mengerikan.


Aku mulai bisa belajar menutupi keterkejutanku pada orang-orang sekitar. Sehingga tidak berbuat aneh seperti menjerit tiba-tiba atau langsung mengucapkan kalimat istighfar secara spontanitas yang orang normal justru tidak mengetahui apa-apa.


Airlangga menatap bocah cilik yang memegangi dress ku.


"Si-siapa, Kak?" tanyanya dengan suara pelan.


"Tolong ya, Angga?" jawabku juga dengan suara setengah berbisik.


"Darimana anak kecil ini?" tanya Angga lagi.


"Dari rumah sakit. Dia adalah korban tumbal jembatan layang!"


Wajah Airlangga berubah tegang.


Talitha, kamu ikut Kakak Angga ya? Nanti Kakak Angga yang akan membantumu.


Tidak mau, Nyai. Saya mau tinggal sama Nyai Ratu saja.


Hai adik kecil yang imut. Siapa namamu? Aku Angga, Airlangga. Kamu namanya Talitha ya? Nama yang bagus! Kak Angga punya banyak mainan di kamar. Kamu mau ikut? Kita bisa bermain bersama.


Inilah sebabnya mengapa aku memilih Angga untuk tetap tinggal bersamaku. Seperti ini. Disaat darurat seperti ini, Angga akan jadi penyelamat juga. Walaupun kadang juga sebaliknya, Aku lah penyelamat Angga seperti saat menolong Stella.


Angga juga ternyata bisa membuat Talitha mau ikut dengannya.


Alhamdulillah.


Aku tidak bisa menolong Talitha apalagi di saat menjelang persalinan. Sangat tidak mungkin untuk pergi ke tempat tinggal keluarga Talitha untuk memberitahukan keadaan putri cilik mereka yang menghilang sebulan lalu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2