
Setelah keadaan sudah kondusif dan waktu menunjukkan pukul lima sore, Aku akhirnya ikut Mas Jonathan beserta Mama Tiur berangkat ke rumah sakit.
Empat rakaat Ashar-ku menjadi momen yang tepat untuk memohon kebaikan Allah pada kehidupan rumah tanggaku selanjutnya.
Setidaknya, ada Allah tempat bersujud dikala tiada lagi tempat bersandar. Allah adalah Pemilik semua jiwa raga yang Maha membolak-balikkan hati manusia.
Perjalanan ke rumah sakit terasa lama karena kemacetan yang lumayan parah.
"Sayang! Periksa kandungannya lebih dahulu ya?" kata Mas Jonathan lembut sembari mengusap perut gendutku.
"Kita jemput dulu Bianca, Mas! Aku periksa nanti malam saja setelah maghrib! Biar lebih tenang juga karena Bianca sudah ada di rumah!"
Mama Tiur menggenggam jemariku.
"Kamu perempuan hebat yang berhati sangat besar, Liana!" tutur beliau membuat senyuman tipis tersungging di bibirku.
Sebenarnya hatiku tidak sebesar itu, Mama! Sebenarnya hati ini menolak berontak tatkala kalian berdua memutuskan untuk membawa Bianca ke rumah walau hanya beberapa hari saja. Maaf. Aku bukan perempuan hebat seperti katamu, Ma!
Hhh...
Suamiku dan Mama Mertua membereskan administrasi rumah sakit Bianca sebelum mendatangi perempuan itu di kamarnya.
Sementara aku menunggu di depan bangsal sebelum ikutan masuk menjemput Bianca pulang ke rumah kami.
Terkejut sekali tiba-tiba gadis kecil yang pernah menabrakku di toilet duduk tepat disamping.
Tangannya ditaruh diatas tanganku yang melekat di atas bangku panjang. Dingin dan membawa aura kesedihan yang mendalam.
"Nyai Ratu! Tolong aku, Nyai!" katanya terdengar berat dan lirih.
"Apa?" jawabku dengan suara berbisik. Khawatir orang-orang sekitar mendengarku berbicara seorang diri.
Apa???
Seketika aku tersadar. Obrolan kami bisa lewat alam fikiran.
"Nyai...! Aku ingin pulang! Hik hik hiks..."
Pulanglah, Nak jika kau ingin pulang!
"Tidak bisa! Belum bisa! Karena jenazah saya belum diketahui kedua orangtua sejak sebulan yang lalu!"
Ya Allah... Kenapa sampai orangtuamu tidak mengetahui keberadaanmu?
"Saya meninggal dunia karena jadi korban penculikan dan tumbal jalan layang!"
"Astaghfirullahal'adziiim..."
Bulu kudukku merinding. Mencoba menatap mata bocah cantik yang pucat pias tanpa ekspresi itu sesaat.
"Tapi tubuhmu bagus. Tidak dipenuhi dengan luka-luka. Wajahmu juga manis, walau terlihat sangat pucat!" gumamku pelan. Tak bisa mengerti jalan fikiran dajjal berwujud manusia.
"Saya juga tidak tahu, Nyai Ratu! Hik hik hiks..."
Layaknya bocah cilik yang rapuh dan mudah sekali menangis, gadis kecil itu terisak sedih.
"Orang tuamu tidak tahu sampai saat ini, Nak?"
Dia menggeleng. Rambutnya yang lurus dan panjang sebahu ikut berayun ke kanan juga ke kiri.
Anak yang malang!
"Kenapa kamu sampai ada di rumah sakit ini? Biasanya akan berada tak jauh dari lokasi tempat kamu meninggal dunia!" kataku lagi dengan suara setelah berbisik.
"Liana? Kamu sedang bicara apa?"
Terkejut sekali karena tangan Mama Tiur tiba-tiba menyentuh pundakku.
"Sudah selesai, Ma?" tanyaku berusaha mengalihkan perhatian.
"Sudah. Tinggal mendatangi kamar Bianca dan kita bisa membawanya pulang!"
Hhh... Helaan nafas ku rupanya beliau respon juga.
__ADS_1
"Maaf, Sayang! Kami..., hanya akan merawatnya beberapa hari saja! Mama... minta maaf yang sebesar-besarnya pada Liana!"
Akhirnya... Ini yang ingin sekali kudengar dari bibirnya. Kalimat ini yang kutunggu-tunggu sedari dua hari yang lalu.
Gadis cilik itu tiba-tiba menutup hidung Mama Tiur hingga beliau kesulitan bernafas.
"Jangan!!!" pekikku kaget dan spontanitas.
Jangan sakiti Mama Mertuaku, adik Sayang!
Gadis itu masih menekan tangannya dengan keras tetapi kini matanya menatap ke arahku.
Kugelengkan kepala kuat-kuat.
Dia pun menurut dan melepaskan tangannya dari hidung Mama Tiur.
"Mama!!!"
Segera kurangkul bahu Mama Tiur yang panik karena pernafasannya tiba-tiba sesak.
...Dia jahati Nyai Ratu kan?...
Tidak. Ini Mama Mertuaku. Dia tidak jahat. Jangan sakiti!
...Tadi Dia minta maaf....
Iya. Kamu tidak boleh menyakiti orang tanpa sebab, ya? Siapa namamu, anak manis?
...Talitha, Nyai Ratu!...
Nama yang bagus!
...Terima kasih, Nyai!...
"Ayo, Sayang!"
Suamiku telah keluar dari ruang informasi dan sepertinya urusan administrasi biaya rumah sakit Bianca sudah selesai di proses.
Aku dan Mama Tiur saling bergandengan.
Layaknya seorang bocah, tangannya sesekali dengan iseng menarik gaunku dan kadang berpindah ke baju Mama Tiur.
"Saya disini karena ikut mobil itu!" katanya sambil menunjuk ke sebuah mobil ambulance yang terparkir di halaman rumah sakit.
Kenapa kamu ikut mobil itu?
"Ada seorang bapak yang bekerja di jembatan layang tempat saya diguyur adukan semen yang terkejut ketika saya tanya. Dia kaget lalu jatuh ke bawah jembatan. Dia diangkut pakai mobil itu, Nyai!"
Hm. Kamu tidak boleh iseng apalagi jahil seperti itu. Allah akan marah karena perbuatan jahatmu, Talitha.
"Saya ingin pulang. Saya padahal sudah menyiapkan kado ulang tahun Mama Glenca hari ini!" jawabannya begitu polos.
"Mamamu kah? Iya. Tapi bukan Mama yang melahirkan saya!"
"Oh, begitu!"
"Apa, Lian?" tanya Mama membuatku tersipu malu. Aku lupa... harusnya lewat fikiran saja.
"Tidak, Ma!"
Kini langkah kaki kami sudah berada di depan pintu kamar Bianca.
Terdengar suara seseorang sedang bercakap-cakap.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
Seorang pria paruh baya menoleh ke arah pintu. Begitu juga Bianca.
"Jonathan!"
"Pak Rahmat?!"
__ADS_1
Aku dan Mama Tiur hanya diam menatap karena tidak saling mengenal.
"Mama, ini Papa kandung Bianca! Pak Rahmat, ini Mama saya dan ini istri saya!"
Ya Allah, Alhamdulillah wasyukurillah!
"Papa! Saya mau tinggal di kediaman keluarga Jonathan!" sela Bianca dengan wajah panik.
"Maaf, Bianca! Saya tidak bisa membawamu serta. Pak Rahmat jauh lebih berhak untuk merawatmu sampai kamu sehat kembali!"
"Aku mau tinggal sama kamu dan Tante Tiur!"
"Saya menolak, Bianca! Maaf! Oiya, Pak Rahmat... administrasi biaya rawat inap Bianca sudah putra saya urus! Jadi, kami izin pamit pulang. Bianca saya serahkan kepada Bapak sebagai orang tuanya! Permisi!"
"Mari, Sayang!"
Aku menyalami Papanya Bianca dengan perasaan lega. Sangat lega dan bahagia.
Suamiku menuntun tanganku dan kami bertiga berjalan beriringan keluar kamar.
Alhamdulillah ya Allah! Terima kasih banyak atas segala karunia dan mukjizat-Mu padaku, ya Allah!
Kubiarkan gadis cilik itu menaiki ranjang besi Bianca dan menjambak rambut perempuan berusia 38 tahun itu dengan keras.
"Ahhh!!!"
Terdengar teriakan Bianca yang sangat keras.
Tapi kami bertiga tidak terpengaruh oleh Bianca lagi.
Hanya terus berjalan ke luar kamar. Menelusuri lorong rumah sakit yang panjang dan berhawa dingin.
"Nyai tunggu! Bolehkah saya ikut Nyai? Boleh ya? Boleh?"
Aku menatap gadis cilik bernama Talitha yang kini berdiri tepat di hadapan kami.
Akhirnya kuanggukkan kepala seraya berkata dalam hati, "Tapi jangan buat ulah apalagi keonaran! Janji?"
"Janji! Yeaaay... horeee! Terima kasih Nyai Ratu!"
Kini gadis cilik itu mengekorku terus sambil melambaikan tangan ke kiri dan ke kanan. Sepertinya Ia begitu senang sampai sesekali terdengar suara tawanya yang cekikikan.
"Nyai boleh kah saya ikut juga?"
Tidak.
"Nyai, bawa saya juga!"
Tidak. Maaf.
"Nyai Ratu Liana, sembah sujudku,"
Stop! Jangan menyembahku!
Beberapa makhluk lain menyapaku. Mereka seperti merasa iri pada bocah cilik yang tertawa menyeringai di belakangku.
Sudah kubilang jangan usil, Talitha! Mau kusentil telingamu? Hm?
"Ma-maaf..."
Gadis itu menunduk tak berani angkat kepalanya. Membuatku tersenyum tanpa sadar.
"Sepertinya kamu sangat senang karena Bianca tidak jadi ikut tinggal di rumah kita?"
"Eh? Tidak juga!"
Suamiku mencolek pipiku.
"Maaf ya Sayang, kalau kemarin-kemarin tingkahku terkesan menyebalkan. Maaf..., aku terlalu mengkhawatirkan hidup Bianca yang hanya sekedar teman saja bagiku kini! Kau dan anak kita adalah harta paling berharga yang kupunya. Tak kan mungkin kutukar dengan apapun itu."
"Mama juga minta maaf ya, Sayang?!"
Lega rasanya. Seperti baru saja menaruh beban yang sangat berat dari pundak. Dan seketika tubuhku terasa ringan tanpa beban.
__ADS_1
BERSAMBUNG