
"Ada apa, Boss?"
Aku tentu saja langsung membukakan pintu kamarku karena Boss Gege mengetuknya. Tidak sopan rasanya membiarkan beliau menunggu terlalu lama.
"Aku...mmm... Masih ingin mengobrol denganmu! Apa... boleh? Maksudku... Mmm... Liana masih belum mengantuk?"
Aku terkejut mendengar penuturan Boss Gege yang malu-malu.
"Bisa, Boss! Saya juga belum tidur!"
Kami berjalan beriringan menuju balkon rumah besarnya.
Suasana rumah teramat sepi. Citra dan Genta sudah masuk ke kamar masing-masing sehingga keadaan benar-benar sunyi.
"Rumah ini terlalu sepi, bukan?"
Aku mengangguk mengiyakan. Ternyata kita sepemikiran.
"Rumah ini terlalu besar untuk diisi oleh Boss dan Mbak Citra saja!" timpalku dengan suara pelan.
"Dulu tak sesepi ini. Ada sekitar lima-enam orang yang tinggal di sini termasuk aku dan Citra!" cerita Boss Gege membuatku mengernyitkan dahi.
"Lantas kemana mereka, Boss?"
"Dua orang meninggal dunia!"
Deg.
Jantungku serasa berhenti berdetak. Ternyata...
Seketika bulu kudukku meremang. Aku sedikit penakut juga orangnya, meskipun tidak terlalu. Tapi mendengar cerita Boss Gege membuat jantungku berdebar kencang dan merapatkan kaki serta tubuh sedikit mendekat padanya.
"Keluarga Boss apakah tidak tinggal di sini?"
"Keluargaku...ada di kota Jakarta. Sengaja tidak kuizinkan mereka untuk tinggal di sini karena terlalu horror!"
Seketika aku tersadar akan sesuatu.
Kenapa Boss malah mengajakku dan Genta tinggal di rumah ini sementara dia tidak mengizinkan keluarganya tinggal di sini? Aneh sekali. Apa... Apakah dia kaya karena pesugihan? A apakah aku dan Genta akan jadi tumbal berikutnya?
"Liana? Hehehe... Jangan anggap serius cerita ngasalku!"
"Aih, Boss!!! Aku hampir saja punya fikiran buruk padamu! Haaa!!!"
Tentu saja aku langsung keceplosan meradang. Lupa posisi kalau pria tampan yang ada di sampingku ini adalah Boss besar.
Aku tertawa juga mendengar dia terkekeh senang.
"Tapi memang benar, dua orang karyawanku ada yang meninggal dunia. Satu orang karena faktor umur. Kakek Yusril sudah 82 tahun dan memang sakit-sakitan. Beliau sudah bekerja di pabrik ini jauh sebelum aku tinggal di sini! Lalu Hilda, hhh... Hilda meninggal dunia tapi bukan di rumah ini, melainkan di kampung halamannya dua hari setelah pulang kampung."
Aku tertegun serius mendengar cerita boss Gege yang cukup menegangkan itu.
"Sejak itu, satu persatu karyawan meninggalkan pabrik ini dengan berbagai alasan. Rumor buruk begitu cepat menyebar. Bahkan gosip-gosip sumbang tentang Aku dan perusahaan jadi cerita viral diantara para karyawan yang makin berkurang. Katanya, pabrik ini suka minta tumbal setiap tahunnya. Dan itu mulai terjadi sejak tiga tahun yang lalu... Kini pabrik ini menuju kebangkrutan!"
Ya Tuhan! Seperti itu ceritanya.
"Apa keluarga Boss tahu tentang keadaan pabrik?"
__ADS_1
"Hm...! Aku adalah tulang punggung keluarga. Siap tidak siap, mau tidak mau...aku harus bisa menjaga semua aset warisan almarhum Papi dan Papa Tiriku!"
Eh? Papanya dua?
"Kamu pasti bingung ya Liana! Hehehe..."
Boss Gege seperti mengetahui jalan fikiranku.
"Mau dengar kisahku, Liana?"
Suara khas Boss Gege yang agak serak-serak basah terdengar lembut mengasyikkan. Walaupun ceritanya agak menyeramkan, tetapi aku penasaran dan ingin lanjutan kisahnya. Tentu saja aku mengangguk cepat.
"Kita buat kopi dulu, bagaimana?"
Kopi? Di pukul sembilan lewat malam-malam begini? Apa... Tidak buat tambah jadi susah tidur, Boss?
"Aku saja. Kamu susu coklat panas saja. Mau?"
Ini lucu. Dia itu CEO dan Boss Besar. Tapi saat ini justru dia yang melayaniku dengan membuatkan minuman. Aku tidak tahu cara membuat kopi dari mesin canggih yang ada di sudut meja mini bar di dekat balkon lantai dua rumahnya.
"Ma_maaf, Boss! Saya tidak faham cara meramu kopi dengan mesin pembuat kopi manual!"
"Tidak apa. Lagipula aku yang menawarkannya padamu, Liana! Jangan sungkan! Diluar jam kerja kita adalah teman!"
Aku suka sekali mendengar perkataannya itu. Rasanya kepala ini jadi besar dan jiwaku seperti terbang melayang.
Hebat! Boss Gege adalah CEO yang super santui rupanya!
"Sebelum aku cerita, boleh aku tahu kenapa kamu bercerai dengan suamimu?"
"Liana? Maaf... Sekiranya aku membuka luka lamamu!"
"Suami Saya selingkuh dan ingin menikahi selingkuhannya. Saya tentu saja menolak dan itu membuatnya marah lalu menceraikan Saya."
Aku hanya bercerita singkat saja. Tak ingin berlama-lama mengenang kembali rasa sakit ini.
"Maaf...!"
"Selingkuhannya ternyata sudah hamil sedangkan saya sepuluh tahun menjadi istrinya tapi tak kunjung hamil!"
Aku tak ingin banyak bercerita. Tetapi justru mulut ini malah bablas mengeluarkan semua unek dan keluh kesah bahkan sampai menangis.
"Dasar laki-laki bajing*n! Hik hik hiks... Dia ternyata main gila dan main dukun juga untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Selingkuhannya juga sebelas dua belas. Sama-sama penganut ilmu hitam dan aliran sesat! Semoga mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan di neraka jahanam sana!"
Aku kebablasan sampai tanpa sadar mengumpat dan menyumpahi mantan suamiku di depan Boss Jonathan.
Wajahku merah, tanganku basah. Hati ini menjadi berdarah lagi membuka luka yang sudah kututup rapat-rapat.
"Minumlah dahulu, Liana!"
Aku baru tersadar setelah Boss menyodorkan gelas keramik berisi susu coklat hangat buatannya padaku.
"Maaf... Maafkan Aku membuatmu jadi sedih!"
"Hik hiks... Terima kasih, Boss! Boss adalah orang yang paling berjasa dalam hidup saya dan juga Genta. Kami pasti sudah jadi gelandangan jika tidak Boss tolong beberapa hari lalu di restoran deket terminal itu!"
"Sudahlah. Lupakan masa lalu yang pahit, Liana! Buka lembaran baru. Hidup kita jauh lebih berarti ketimbang terus menangisi hal-hal buruk yang pernah terjadi. Bangkitlah! Kau beruntung, Tuhan membuatmu jauh dari orang jahat itu. Jika tidak, kau bisa saja kurus kering batin bersuamikan dia!"
__ADS_1
Aku menatap wajah Boss Gege cukup lama.
"Saya diselingkuhi olehnya dengan alasan bodoh dan GENDUT. Apakah Saya bisa kurus kembali seperti ketika masih remaja?"
Kami sama-sama saling berpandangan.
"Kenapa tidak? Pasti bisa. Dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Kau tahu, Liana? Lima tahun lalu aku juga pernah berjuang membuat adik semata wayangku yang obesitas menjadi ramping dan keren seperti sekarang ini. Apa kamu mau aku jadi trainer-mu?"
"Mau! Mau, Boss!!!"
Kami tertawa. Boss Gege ternyata orang yang lucu juga, walau sedikit kaku karena dia adalah CEO. Tentu saja setiap hari dituntut serius menjalankan tugasnya sebagai pimpinan perusahaan.
"Kau tahu, Liana? Hari ini dua tenderku berhasil. Aku merasa ini berkat kehadiran kalian. Kau dan Genta! Itu sebabnya aku sengaja mengajakmu mengobrol malam-malam begini untuk mengucapkan terima kasih padamu secara pribadi!"
"Boss? Itu semua atas izin Allah. Dan yang pasti berkat kerja keras Boss sendiri melobi para supliyer itu. Saya turut senang atas keberhasilan yang Boss dapatkan!"
Boss Gege tersenyum sembari menggelengkan kepala.
"Dua tender itu justru sudah lama mengendap dan tak ada kabar berita apalagi tembusan setelah nyaris setahun lebih digantung. Tapi tadi sore setelah angin besar menghantam rumah dan dapurku, kabar bahagia itu tiba-tiba seolah berbaris mendatangiku. Besok pukul sepuluh, aku diminta datang ke perusahaan mereka untuk teken kontrak."
"Alhamdulillah!" jawabku sangat senang.
"Liana,... Maukah besok kamu mendampingiku? Febri sekretarisku tidak bisa masuk karena besok adalah hari Minggu. Kumohon, tolong bantu aku hanya mencatat hal-hal penting nanti di sana dan membuat dokumentasi perjanjian. Bagaimana?"
"Boss?"
Aku tercekat. Semua ini begitu cepat dan tidak pernah ada dalam fikiranku.
Kebahagiaan ini... Begitu tiba-tiba. Membuatku tak bisa menutup mulut yang tersenyum begitu lebar.
"Tapi saya tidak punya baju bagus, Boss!" ungkapku sejujurnya.
"Jangan khawatir. Besok pukul tujuh kita ke butik dan ke salon dulu! Mau ya?"
"Baik, Boss!"
"Ya sudah. Sekarang kamu pergi ke kamarmu. Tidur. Besok pagi-pagi bangun dan temui aku di ruang makan!"
"Baik, Boss! Tapi..., bukannya Boss mau menceritakan kisah Boss pada Saya?"
"Hehehe... Masih banyak waktu, Liana! Aku pasti akan ceritakan kisahku setiap malam jika kamu mau mendengarnya!"
"Hehehe... Iya. Saya mau mendengarnya. Saya penasaran sekali dengan kisah Boss!"
"Ayo, tidur. Sekarang sudah pukul sepuluh lewat. Aku tidak mau kamu terlambat bangun!"
"Ba_baik. Permisi, Boss! Selamat malam. Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam. Selamat malam, Liana! Semoga mimpi indah!"
"Terima kasih banyak Boss!"
Entah seperti apa warna hatiku saat ini. Semburat merahnya begitu jelas pasti. Karena aku begitu bahagia. Tuhan Maha Baik. Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang.
Terima kasih ya Allah. Terima kasih atas nikmat yang Kau berikan padaku ini.
BERSAMBUNG
__ADS_1